Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Kasih Sayang Palsu
Di tengah perjalanan pulang, Jendra mendapat telepon dari anak buahnya yang lain. Mereka mengantarkan Sheza pulang ke rumah, lalu mereka segera pergi.
Baru mau membuka pintu, Sheza merasa ada seseorang yang memperhatikannya dari samping. Begitu Sheza menoleh, itu adalah ibunya. Sheza terdiam cukup lama, sebelum akhirnya mengijinkan ibunya masuk ke dalam rumahnya itu.
"Ini, rumah yang kamu sewa..."
"Rumah yang aku beli!" sela Sheza.
Nella melihat ke sekeliling, semuanya barang-barang mahal. Furniture yang ada di rumah itu terlihat sangat mahal.
Sheza tidak menawarkan ibunya untuk duduk, dia sendiri berjalan ke arah meja dan mengambil gelas. Dia menyangkan air, dan meminum air yang dia siapkan untuk dirinya sendiri.
Sementara mata Nella masih menyapu seluruh ruangan. Ruang tamu yang bergabung dengan ruang tengah, tak jauh juga ada ruang makan. Rumah ini memang tidak besar, tapi semua perlengkapan dan furniture sungguh barang yang bagus. Sebagai wanita sosialita, tentu saja Nella paham barang bagus dan tidak.
"Kamu pandai menghemat uang jajan..."
"Jangan pikir, aku membeli rumah ini dari uang kalian!" sela Sheza lagi, dia meletakkan gelas yang ada di tangannya di atas meja.
Nella menghela nafas panjang. Kalau bukan suaminya yang memaksanya membawa Sheza datang di acara pertunangan. Dia mungkin sudah emosi. Sheza sungguh bicara dengan nada yang kasar dan sangat acuh padanya. Seperti bukan cara bicara seorang anak pada ibunya.
Dan Sheza sendiri, dia menolak bicara dengan lembut pada ibunya. Bukankah ibunya adalah orang yang selalu lebih membela Karen daripada Sheza. Insiden jatuh dari tangga saat itu, Sheza hanya ingin ibunya melihat rekaman kamera pengawas. Tapi, ibunya benar-benar tidak mau melakukannya. Mengatakan itu hanya kecelakaan, dan minta Sheza berbesar hati.
Dari situ, sejak itu, Sheza berpikir kalau mungkin dia memang bukan anak kandung Nella dan Pras.
"Selama kuliah aku kerja paruh waktu, ini hasil kerjaku!"
"Kerja? Sheza, kamu bekerja?" tanya Nella.
Sheza terkekeh pelan. Ibunya bahkan tidak mengetahui hal itu. Tapi, mau bagaimana mau tahu, yang selama ini di urus dan dipikirkan oleh ibunya hanya Karen.
"Tidak usah menunjukkan kalau ibu sangat terkejut seperti itu! Katakan! kenapa ibu sampai repot-repot datang mencari dimana aku tinggal?" tanya Sheza yang entah kenapa merasa tidak senang, meski wanita yang berada di depannya itu adalah ibunya, ibu kandungnya.
Dan, Sheza yakin sebenarnya ibunya itu datang pasti karena ada sesuatu yang ingin dia katakan. Jika tidak, kenapa Sheza sudah menghilang beberapa lama, ibunya baru mencarinya sekarang.
Nella masuk berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia juga bukan tidak perduli pada Sheza. Tapi ada rasa bersalah yang membuatnya tidak bisa memprioritaskan Sheza.
"Besok malam, adalah acara pertunangan kamu dengan Alex..."
"Alex selingkuh dengan Karen!" sela Sheza.
Dia berusaha memberitahu ibunya. Kalau Alex memang sudah mengkhianatinya. Dan yang membuat Alex mengakhiri Sheza adalah Karen.
Namun begitu mendengar ucapan Sheza. Nella malah langsung menampik fakta yang Sheza katakan itu.
Nella perlahan maju dan melambaikan tangannya di depan wajahnya beberapa kali.
"Sheza, kamu salah paham. Karen tidak seperti itu...!"
Sheza benar-benar sangat emosi. Kenyataan sudah di depan mata. Tapi tetap saja bahkan ibunya sendiri tidak mempercayai ucapannya, malah begitu percaya pada Karen. Dan langsung membela Karen.
Sheza meraih gelas yang ada di atas meja, di hadapannya itu.
Prangg
Langkah Nella berhenti, karena Sheza membanting gelas itu di depannya. Jarak itu juga sebenarnya tak jauh dari ibunya. Namun Sheza membanting gelas itu tepat di depannya. Hingga pecahannya mengenai kakinya.
Nella terjingkat dan mundur beberapa langkah. Nella terdiam dengan mata merah dan berkaca-kaca. Sementara Sheza, bahunya naik turun. Dia sungguh emosi. Tapi, ada satu hal yang kini dia sadari. Meskipun dia emosi. Tapi dia sama sekali tidak ingin menangis.
Dadanya penuh sesak dengan amarah. Tapi tidak dengan rasa sedih. Sepertinya dia mulai sadar, kalau dia memang sudah bisa melepaskan kasih sayang ibunya yang selalu berat sebelah untuk Karen itu.
"Sheza..." lirih Nella.
"Pintu keluarnya di sana!" kata Sheza yang berbalik dan hendak meninggalkan Nella.
"Sheza, datanglah besok malam di hotel Intan. Jika tidak, keluarga Alex akan menarik investasi...!"
Semakin ibu kandungnya itu bicara, rasanya semakin Sheza ingin tertawa. Rasanya sungguh lucu, ibunya datang karena takut investasi untuk perusahaan ditarik keluarga Alex.
"Kenapa kalian tidak nikahkan saja putri kesayangan kalian itu dengan Alex. Mereka sudah selingkuh. Asal kalian tahu, jika aku ingin sebarkan apa yang aku rekam di villa saat itu. Perselingkuhan mereka pasti tidak ada yang membantah lagi. Ya, kecuali beberapa orang yang memang sengaja buta dan tidak mau melihat betapa menggatalnya Karen!"
"Sheza, yang dijodohkan dari kecil adalah kamu dan Alex. Dan Alex hanya mau menikahi kamu!"
Lagi-lagi Sheza ingin terkekeh. Dia berpikir, sebenarnya kalau Alex memang mau menikah dengan Karen. Ibunya pasti tidak akan repot-repot datang padanya seperti ini. Sungguh ironis.
"Ibu harap kamu datang, mengingat hubungan ibu dan anak antara kita. Ibu harap kamu datang! Sheza, anggap saja ini permintaan ibu yang terakhir! setelah ini ibu tidak akan pernah minta apapun padamu lagi!"
Sheza hanya diam, dia bahkan tidak berbalik untuk melihat ibunya. Nella berdiri beberapa saat, sebenarnya dia melihat pecahan kaca itu mengenai kaki Sheza. Tapi dia sama sekali tidak berusaha menawarkan bantuan untuk membersihkan dah mengobati luka itu.
Setelah beberapa saat, Nella bahkan melangkahkan kakinya keluar dari rumah Sheza itu.
Mendengar pintu tertutup, Sheza menarik kursi yang ada di dekat meja makan. Lalu duduk dengan tatapan kosong. Entah kenapa dia merasa seperti bukan ingin menangis. Tapi lebih merasa ingin menghancurkan atau membakar sesuatu untuk menghilangkan amarahnya.
Jarum panjang dan pendek di jam dinding yang ada di ruang makan itu terus bergerak. Hari juga sudah mulai gelap. Hingga pintu rumah Sheza itu kembali terbuka, tapi suasana di dalam rumah sangat gelap.
"Sheza..."
Jendra yang baru masuk menekan panel lampu. Begitu lampu menyala, wajahnya terlihat cemas melihat ada banyak pecahan kaca di lantai.
"Sheza!"
Jendra segera mendekati Sheza yang terduduk diam di meja makan.
"Kamu..."
Tatapannya terhenti pada pecahan kaca yang masih ada di kaki Sheza. Membuat kaki itu terluka dan cairan merah yang sudah mulai mengering membuat satu jalur yang membuat tangan Jendra terkepal.
"Vins! telepon Devan!" pekik Jendra dengan emosi.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Sheza pelan ketika Jendra menggendongnya dan memindahkannya ke sofa.
"Apa itu masih perlu kamu tanyakan?"
Sheza tersenyum,
"Kalau begitu, mulai sekarang aku hanya akan patuh padamu!"
Tatapan Jendra berubah, dia menjadi lebih khawatir dari sebelumnya.
"Siapa yang datang?" tanya Jendra pelan.
***
Bersambung...