Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Benih-Benih Badai Baru
Lantai 50 gedung Dirgantara-Mahardika Tbk malam itu masih benderang benderang di bawah siraman lampu LED putih yang dingin, kontras dengan kegelapan malam Jakarta yang diselimuti kabut tipis. Meskipun Tuan Besar Albert Dirgantara telah resmi diseret ke balik jeruji besi dengan pengawalan taktis kepolisian, atmosfer di ruang kerja utama Adrian tidak lantas mendingin. Di atas meja kaca tempered raksasa miliknya, beberapa berkas tebal berlogo lembaga keuangan internasional menumpuk berantakan. Kejatuhan sang singa tua ternyata memicu efek domino yang jauh lebih destruktif dari perkiraan tim manajemen risiko; konsorsium Eropa dan beberapa manajer investasi dari Amerika Serikat mulai menarik dana mereka secara sepihak, meragukan stabilitas tata kelola perusahaan baru ini.
Adrian berdiri diam di dekat jendela kaca besar yang menampilkan panorama lanskap metropolis. Ia melepas kancing teratas kemeja hitamnya dengan kasar, melonggarkan tekanan tak kasat mata yang mencekik lehernya sejak rapat dewan komisaris ditutup dua jam lalu. Guratan lelah tercetak jelas di rahang tegasnya yang kembali ditumbuhi rambut-rambut halus tipis, namun sepasang mata elangnya tetap memancarkan kilatan tajam yang tidak mengenal kata menyerah.
Langkah kaki yang ringan dan teratur terdengar mendekat. Renata berjalan menghampiri suaminya dengan sebuah tablet berbingkai titanium di tangan kirinya. Layar gawai itu menampilkan grafik pergerakan saham yang bergerak liar, berfluktuasi secara tidak wajar dalam grafik lilin berwarna merah darah.
"Adrian, kita menghadapi serangan terstruktur," ujar Renata, suaranya terdengar jernih namun sarat akan ketegangan analis yang mendalam. "Sebuah perusahaan cangkang bernama Blackwood Capital—yang setelah aku lacak merupakan salah satu akun bayangan bentukan paman Bram yang sempat bersembunyi di balik dana perwalian—baru saja melakukan penjualan massal (dumping) di bursa efek London. Mereka sengaja melempar jutaan lembar saham kita ke pasar dengan harga di bawah standar hanya untuk memicu kepanikan investor. Tujuannya jelas, mereka ingin membuat nilai Dirgantara-Mahardika terlihat tidak stabil di mata konsorsium Singapura yang berencana masuk minggu depan."
Adrian membalikkan tubuhnya perlahan. Alih-alih menatap layar tablet yang disodorkan Renata, tatapannya langsung terkunci pada sepasang mata cokelat istrinya yang memancarkan kecerdasan mutlak. Dengan satu gerakan lambat namun penuh dominasi, Adrian merengkuh pinggang ramping Renata, menarik tubuh wanita itu hingga menempel erat tanpa jarak pada dada bidangnya yang hangat. Aroma parfum esensial mawar dan vanila yang menguar dari kulit leher Renata selalu menjadi penawar instan yang paling ampuh untuk menjinakkan isi kepala Adrian yang nyaris pecah karena tekanan korporasi.
"Biarkan para serigala kelaparan itu bermain dengan sisa uang mereka, Sayang," bisik Adrian rendah, suara baritonnya yang serak khas pria yang kelelahan bergetar tepat di pelipis Renata, memberikan rasa aman yang menghanyutkan. "Mereka mengira kita lemah dan kehilangan taji karena Albert sudah tumbang. Mereka lupa bahwa otak sesungguhnya di balik bertahannya seluruh lini keuangan perusahaan ini selama masa transisi krisis adalah istriku sendiri. Sang genius yang tidak bisa mereka sentuh."
Renata melingkarkan lengan mungilnya di leher tegap Adrian, membiarkan jemarinya bermain di rambut bagian belakang suaminya yang sedikit berantakan. Sepasang matanya berbinar berani, membalas tatapan intens Adrian tanpa ada keraguan sedikit pun. "Aku tidak hanya tinggal diam melihat mereka merusak pasar kita, Adrian. Aku sudah menyusun algoritma serangan balik bersama tim siber Phoenix Holding. Tepat pukul empat subuh nanti, saat bursa London dibuka kembali untuk sesi kedua, kita akan melakukan pembelian kembali seluruh saham yang mereka buang menggunakan akun-akun kustodian rahasia kita. Kita akan mengunci kepemilikan mutlak hingga mencapai angka 75 persen, membuat sisa saham mereka tidak lagi memiliki hak suara di dalam rapat umum pemegang saham."
Adrian terkekeh rendah, sebuah getaran kepuasan maskulin yang langsung merambat masuk ke dalam pori-pori kulit Renata. "Kamu selalu tahu bagaimana cara membuatku terpesona sekaligus merasa tidak salah memilih sekutu hidup, Nyonya Dirgantara."
Tatapan mata Adrian mendadak berubah. Kilatan dingin sang CEO seketika meleleh, digantikan oleh pendar gairah panas yang pekat yang langsung menyulut atmosfer ruangan kerja yang tadinya sunyi dan menekan. Tangan kokoh Adrian merayap turun dari pinggang Renata, mencengkeram pinggul istrinya dengan cengkeraman posesif yang absolut. Dengan satu sentakan kuat, ia mengangkat tubuh ramping Renata sedikit ke atas, memaksa wanita itu mundur beberapa senti hingga bagian belakang tubuh Renata terbentur dan bertumpu pada tepi meja kerja kaca yang dingin.
Kontras yang ekstrem antara dinginnya permukaan meja kaca tempered dan panasnya sentuhan telapak tangan Adrian yang menyusup di balik blazer kerja Renata mengirimkan sengatan listrik yang dahsyat, membuat napas Renata seketika tercekat di tenggorokan.
"Adrian... kita... kita masih di dalam area kantor," bisik Renata lirih, mencoba mengerahkan sisa akal sehatnya yang mulai menguap, meskipun dadanya sudah naik-turun menahan debaran jantung yang menggila akibat kedekatan fisik mereka yang teramat intim.
"Pintu ruangan ini memiliki sistem penguncian ganda yang kedap suara, dan seluruh staf divisi keuangan sudah kupulangkan sejak satu jam yang lalu, Renata," sahut Adrian dengan nada bariton yang semakin rendah, sarat akan tuntutan dan hasrat kepemilikan yang tidak menerima bantahan.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Renata untuk mengeluarkan argumen logisnya lagi, Adrian langsung menundukkan kepalanya dengan kasar, membungkam bibir manis ranum Renata dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, menuntut, dan penuh rasa kepemilikan yang absolut. Ciuman itu bukan sekadar pelepasan hasrat, melainkan sebuah bentuk katarsis dari seluruh tekanan emosional, ketakutan akan kegagalan, dan pergulatan panas yang sempat mereka bendung selama berminggu-minggu demi membersihkan nama perusahaan.
Renata melenguh pelan di dalam pautan bibir mereka, meremas pundak tegap Adrian saat suaminya memperdalam hisapan dan pagutan mereka tanpa memberikan celah sedikit pun untuk menghirup udara. Di tengah intrik korporasi internasional yang siap menerkam dan menguji kekuatan mereka besok pagi, malam ini di atas meja kerja CEO, mereka kembali menegaskan dengan tubuh dan jiwa mereka bahwa aliansi cinta ini adalah sesuatu yang terlalu suci untuk bisa dihancurkan oleh musuh mana pun.