NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Palu Amber, Paduan Suara Bintang, dan Kereta yang Membelah Langit

Di kedalaman bengkel utama Hephaestus Familia yang terletak di Menara Babel, udara selalu berbau keringat, arang, dan lelehan logam. Malam itu, bengkel sudah kosong. Hanya tersisa satu orang yang masih berdiri di depan perapian raksasa.

​Tsubaki Collbrande, Kapten Hephaestus Familia.

​Palu di tangan kirinya—yang tidak tertutup penutup mata—berayun naik turun dengan ritme konstan. Trang! Trang! Trang! Ia sedang mencoba menempa paduan logam baru untuk perisai kelas atas. Baginya, senjata yang baik adalah senjata yang bisa membunuh, tapi karya agung sejati adalah sesuatu yang bisa melindungi penggunanya hingga titik darah penghabisan.

​Namun, tepat pada ayunan palu ke-seratus, sesuatu yang ganjil terjadi.

​Saat palu Tsubaki menghantam landasan besi, suara dentumannya bergema dua kali.

​Trang! ... TENGGG!

​Tsubaki menghentikan ayunannya. Suara kedua itu tidak berasal dari dalam bengkel. Suara itu terasa... masif. Seolah-olah ada raksasa tak kasatmata yang baru saja memukulkan godam sebesar gunung ke kerak bumi.

​Suhu perapian mendadak anjlok, tapi logam di atas landasan Tsubaki tidak mendingin. Sebaliknya, logam itu mulai mengkristal, berubah warna menjadi kuning keemasan yang transparan dan padat. Amber.

​Tsubaki mundur selangkah, insting pandai besinya menjerit. Di udara kosong di atas landasan tempa, ruang dimensi melengkung. Sebuah bayangan raksasa terproyeksi di dalam pikirannya: sesosok entitas purba bertangan besar yang tubuhnya terbuat dari bebatuan kosmis dan amber abadi, terus-menerus membangun tembok raksasa untuk memisahkan alam semesta dari kehampaan.

​Qlipoth. Sang Aeon Preservation (Pelestarian).

​"Pondasi yang kau bangun rapuh, namun tekadmu kokoh," sebuah resonansi berat, seperti gesekan dua lempeng tektonik, bergema di tengkorak Tsubaki. "Dunia ini akan segera dilanda badai yang meruntuhkan bintang. Jika kau ingin melindungi apa yang ada di belakangmu... angkatlah batuku."

​Sebelum Tsubaki bisa menjawab, palu di tangannya hancur menjadi debu emas, lalu membentuk ulang dirinya menjadi sebuah palu tempur besar yang terbuat dari kristal amber murni. Bersamaan dengan itu, sebuah stigmata berbentuk palu dan perisai berlapis menyala dengan warna emas redup di lengan kanan Tsubaki.

​Kapten yang tangguh itu jatuh berlutut, napasnya tersengal. Saat ia menyentuh lengan kanannya, ia tidak merasakan sihir Falna biasa. Ia merasakan kepadatan absolut. Sebuah pertahanan kosmis yang bahkan tidak akan tergores oleh sihir tingkat tertinggi Riveria.

​Qlipoth telah memberinya berkah Pelestarian.

​Di Waktu yang Sama – Halaman Belakang Hearth Manor (Markas Hestia Familia)

​Angin malam berhembus lembut, menggoyang dedaunan pohon di halaman. Sanjouno Haruhime sedang duduk sendirian di bangku kayu, menatap bulan purnama. Ekor rubah emasnya bergoyang pelan, menyapu debu di sekitarnya.

​Gadis ras Renart itu tidak bisa tidur. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Sihirnya, Uchide no Kozuchi—sihir langka yang bisa menaikkan level petualang lain untuk sementara—berdenyut aneh di dalam darahnya, seakan mencoba merespons sebuah nyanyian yang tidak bisa ia dengar.

​"Apa yang terjadi padaku?" gumam Haruhime, memegang dadanya.

​Lalu, udara malam Orario mendadak berdengung.

​Bukan dengungan serangga, melainkan ribuan suara manusia... tidak, jutaan suara makhluk hidup dari berbagai belahan alam semesta yang menyanyikan satu nada yang sama. Harmoni murni.

​Haruhime mendongak. Bulan purnama di atasnya seolah berkedip. Di baliknya, muncul siluet samar dari tiga wajah wanita cantik yang menyatu menjadi satu tubuh, bersinar dengan cahaya prismatik yang sangat menenangkan.

​Xipe. Sang Aeon Harmony (Harmoni).

​Cahaya itu turun menyelimuti tubuh Haruhime layaknya selimut sutra yang hangat. Rasa takut dan trauma masa lalunya di Distrik Hiburan Ishtar mendadak memudar, tergantikan oleh rasa empati yang sangat luas. Ia bisa merasakan detak jantung Bell Cranel yang tertidur di lantai atas, tarikan napas Welf, dan kegelisahan Mikoto. Ia terhubung dengan mereka semua.

​"Siapa pun yang meninggikan sesamanya, adalah keluargaku," suara Xipe terdengar seperti paduan suara surgawi di telinga Haruhime. Lirih, merdu, dan penuh kasih sayang mutlak. "Sihirmu adalah benih dari persatuan. Kegelapan dan perpecahan sedang turun ke dunia ini, anakku. Bernyanyilah. Jadikan suaramu sebagai tali yang mengikat jiwa-jiwa fana menjadi satu kekuatan yang tak terpatahkan."

​Di dahi Haruhime, di balik poni emasnya, sebuah stigmata berbentuk tiga mahkota cahaya yang saling terkait muncul dan meresap ke dalam kulitnya. Uchide no Kozuchi miliknya baru saja berevolusi. Kini, ia tidak hanya meningkatkan level, tapi menghubungkan jiwa dan Mind setiap orang yang ia buff menjadi satu entitas kolektif di bawah Path of The Harmony.

​Dewa-Dewi Orario sama sekali tidak menyadari bahwa malam itu, dua bidak kosmis baru telah diletakkan di atas papan catur mereka.

​Di Sebuah Gua Tersembunyi – Lantai 18 Dungeon

​Aku menggosok kedua telapak tanganku, mencoba mencari kehangatan dari api unggun kecil yang dibuat Kafka. Kami telah turun menembus lantai-lantai atas Dungeon dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Monster-monster di jalan kami lenyap seketika, di-delete oleh kode-kode retasan Silver Wolf sebelum mereka sempat meraung.

​"Kau kedinginan, Penulis?" suara Kafka terdengar lembut dari seberang api. Ia sedang membersihkan laras senapannya dengan santai.

​"Sedikit," jawabku, meraih kembali perkamen dan pena buluku. "Tapi aku tidak bisa berhenti sekarang. Aku bisa merasakan realitas dunia ini semakin goyah. Kalau aku tidak segera memberikan arah pada ceritanya, kekacauan yang kubuat tadi akan menghancurkan Orario sebelum kita menemukan Stellaron itu."

​Aku menarik napas panjang. Waktunya melanjutkan awal mula game itu. Waktunya memperkenalkan fraksi yang akan menyeimbangkan kebringasan Path of The Destruction dan The Hunt.

​Ujung penaku menyentuh perkamen.

​"Ketika Menara Pengetahuan Herta hancur dan jatuh menembus langit Orario bagai meteor, cangkang kosong yang membawa Kanker Semua Dunia di dadanya ikut terlempar ke kedalaman labirin raksasa. Ia tertidur di atas reruntuhan baja dan kristal es di lantai yang tak tersentuh cahaya matahari.

​"Namun, alam semesta tidak membiarkannya sendirian. Dari balik lautan bintang yang tidak bisa dilihat oleh dewa-dewa dunia fana ini, terdengar suara peluit panjang yang membelah ruang hampa."

​Aku membayangkan wujud Astral Express dalam ingatanku, lalu menerjemahkannya dengan kata-kata agar selaras dengan dunia fana ini.

​"Itu bukanlah naga bersayap atau kereta dewa matahari. Itu adalah kendaraan kosmis yang melintasi rel bintang: Kereta Astral (Astral Express). Kereta mesin uap raksasa yang terbuat dari emas putih dan baja meteor, meluncur turun dari langit, merobek awan, dan masuk ke dalam celah raksasa labirin Orario tanpa bisa dicegah oleh siapa pun.

​"Kereta itu adalah lambang dari Path of The Trailblaze (Perintisan). Mereka mengikuti jejak Akivili sang Aeon Penjelajah, menelusuri dunia-dunia yang terputus untuk menghubungkannya kembali."

​Silver Wolf melirik dari balik layar hologramnya. "Kau memasukkan faksi Nameless (Tanpa Nama)? Bagus. Ceritanya akan terlalu membosankan kalau hanya kita berdua yang turun gelanggang."

​Aku mengangguk pelan dan kembali menulis.

​"Pintu kereta itu mendesis terbuka di atas reruntuhan. Dua sosok melangkah keluar untuk mencari sumber anomali yang menjatuhkan Menara Herta.

​"Yang pertama adalah seorang gadis ceria berambut merah muda. Ia membawa busur yang terbuat dari es abadi di tangannya. Ia tidak memiliki ingatan tentang masa lalunya, diselamatkan dari balok es yang mengambang di luar angkasa. Namanya adalah March. Dengan panahnya, ia bisa membekukan bahkan konsep waktu itu sendiri selama beberapa detik.

​"Yang kedua berjalan di sisinya dengan ekspresi tenang dan dingin. Seorang pemuda berambut hitam yang memegang tombak penembus awan. Ia adalah sang penjaga arsip, Dan Heng. Di balik mata tajamnya, tersimpan garis keturunan naga purba yang memegang kekuatan membelah lautan dan menembus ilusi.

​"Mereka menyusuri reruntuhan, menyingkirkan sisa-sisa iblis Kehancuran, hingga langkah mereka terhenti. Di tengah puing-puing itu, mereka menemukan sang cangkang kosong—wadah dari Kanker Semua Dunia—terbaring pingsan. March mengulurkan tangannya yang hangat, menarik sang wadah kembali ke alam sadar."

​Aku menghembuskan napas pelan. Tinta di atas perkamenku berpendar sejenak, menandakan bahwa hukum dunia ini baru saja memvalidasi dan menerima karakter-karakter tersebut ke dalam jalinan realitas Orario.

​"Selesai," bisikku. "Kereta Astral kini telah tiba di dasar Dungeon. Mereka yang akan pertama kali berinteraksi dengan Wadah Stellaron itu."

​Kafka tersenyum anggun. Mata ungunya memantulkan nyala api unggun.

​"Kau benar-benar penenun nasib yang brilian, Anonym. Sekarang, mari kita lihat bagaimana Familia-Familia besar di kota atas sana bereaksi saat mereka menyadari bahwa mereka bukan lagi pemeran utama di labirin mereka sendiri."

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!