NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka, Darah, Pertanyaan

Di panel alarm kebakaran dekat tangga, Jaemin menarik tangannya. Wajahnya tegang. Rencananya berhasil-separuh. Alarm menyala, mengacaukan sensor Klepek-Klepek. Tapi suara itu juga gema di seluruh gedung, sebuah teriakan umum tentang posisi mereka.

Mark melepaskan tombol pada tabung pemadam api yang mereka bawa, yang ternyata memiliki selang pendek untuk disambungkan ke alarm. "Mereka kabur! Gue liat mereka lewat celah tangga!"

Yeri menarik lengan Jaemin. "Sekarang kita! Alarm ini bakal narik SEMUA yang di gedung ini ke sini!"

Mereka berbalik untuk berlari ke arah ruang linen, tapi sudah terlambat.

Dari ujung koridor yang berlawanan dengan tangga basement, tiga sosok lainnya muncul. Bukan Klepek-Klepek. Tapi Giselle, Renjun, Anton, Sion berlari terbirit-birit dengan wajah penuh kengerian, diikuti oleh Oh Sion yang pincang dan berdarah di lengannya.

"JANGAN KE SITU!" teriak Giselle begitu melihat mereka.

"ADA YANG NGEJAR KITA DARI LANTAI EMPAT! BANYAK!"

Pilihan mereka habis. Ke ruang linen? Terhalang oleh Tim Intel yang sedang dikejar. Ke tangga basement? Penuh dengan Klepek-Klepek yang mungkin sedang pulih. Ke arah lain? Mereka tidak tahu jalannya.

Di tengah kepanikan itu, Jaemin melihat sesuatu. Sebuah papan denah evakuasi kebakaran di dinding, diterangi lampu darurat merah. Matinya cepat menyusuri garis-garisnya.

"Gue tau! Ikut gue!" teriak jaemin, memecah kebingungan.

jaemin tidak lari ke ruang linen. Dia berlari ke arah koridor samping yang gelap, menuju area laundry dan sterilisasi. Menurut denah, ada pintu servis di sana yang langsung ke taman dalam rumah sakit, dan dari sana mungkin ada jalan ke luar kompleks.

"PERCAYA AJA SAMA GUE!" teriak jaemin lagi, melihat keraguan di mata Mark dan yang lain.

Tidak ada waktu untuk berdebat. Suara kepakan sayap dan decitan marah sudah terdengar dari dua arah-dari tangga basement dan dari koridor tempat Giselle datang.

Dengan putus asa, mereka semua-Jaemin, Mark, Yeri, Giselle, Renjun, Anton, Sion-berlari mengikuti Jaemin masuk ke koridor samping yang sempit dan gelap, meninggalkan sirene yang masih meraung-raung dan ruang linen yang semakin jauh, dengan harapan bahwa Jimin dan yang lain di dalamnya mendengar alarm dan menyadari bahwa mereka harus segera bergerak juga.

...

DI RUANG LINEN

Di dalam ruang linen, suara sirene yang tiba-tiba meraung membuat semua orang menjerit ketakutan.

"APA ITU?!" teriak Sunkyung, bersembunyi di balik rak.

"Alarm! Alarm kebakaran!" jawab Jimin, matanya terbakar. "Itu pasti tanda dari Jaemin atau yang lain! Mereka dalam bahaya besar!"

Minjeong berdiri, wajahnya pucat tapi tegas. "Kita gak bisa nunggu lagi. Itu bukan cuma alarm, itu sinyal. Kita harus keluar. SEKARANG."

"Tapi Ningning dan Eunseok!" protes Chenle, masih memeluk tangan Ningning yang panas.

"Kita bawa mereka! Gendong atau Bopong!" Jimin sudah mengambil tindakan.

"A-na, Stella, bantu Eunseok berdiri. Minjeong, Chenle, bantu dengan Ningning. Yang lain, bawa semua barang yang bisa dibawa, terutama air dan obat dari tadi."

Kekacauan terorganisir pun terjadi. Mereka yang mampu mengangkat. Mereka yang lemah membawa barang. A-na dan Stella mendukung Eunseok yang mengerang kesakitan tetapi mengangguk berusaha kuat. Minjeong dan Chenle dengan hati-hati mengangkat Ningning yang setengah sadar, mengeluh kesakitan.

Jimin membuka pintu ruang linen. Koridor merah oleh lampu darurat, sirene meraung-raung. Kosong-untuk sekarang.

"Kita ikut denah kebakaran! Ke tangga darurat terdekat, turun ke lantai satu, cari jalan keluar!" perintah Jimin. "Jangan pisah! Apapun yang terjadi, JANGAN PISAH!"

Mereka tumpah ruah ke koridor, sebuah barisan manusia yang terluka, ketakutan, tetapi masih bergerak. Mereka meninggalkan ruang linen, ruang perlindungan semu mereka, menuju ketidakpastian yang lebih besar.

Dua kelompok sekarang terpisah: Kelompok Jaemin yang berlari ke arah yang tidak diketahui menuju taman dalam, dan Kelompok Jimin yang membawa yang terluka menuruni tangga darurat. Keduanya dikejar oleh waktu dan makhluk pemangsa yang pasti telah mendengar keributan besar ini.

Nasib 28 siswa SMA Nambu yang tersisa kini tergantung pada dua jalur pelarian yang berbeda, dengan satu harapan yang sama: untuk bertemu lagi di tempat yang aman, atau setidaknya, tidak mati sendirian di kegelapan rumah sakit yang telah berubah menjadi labirin kematian ini. Pertaruhan terbesar mereka baru saja dimulai.

Koridor sempit menuju laundry seperti terowongan penyiksaan. Lampu darurat merah yang berkedip membuat bayangan mereka terpantul aneh di dinding basah. Bau deterjen busuk dan jamur menusuk hidung.

"Pintu servis! Di ujung!" teriak Jaemin, memimpin dengan napas tersengal.

Tiba-tiba, dari saluran pembuangan di lantai, sebuah cakar hitam menyembul dan mencengkeram pergelangan kaki Oh Sion yang sedang pincang!

"AAAAGH! TOLONG!" Sion menjerit, tubuhnya terseret ke lantai basah.

Anton berbalik, tanpa berpikir, menendang sekuat tenaga ke arah cakar itu. Thump! Cakar itu melepaskan, tetapi dari saluran itu, seekor Klepek-Klepek berukuran lebih kecil merayap keluar dengan gerakan seperti serangga raksasa!

"Bangsat! Yang kecil bisa masuk saluran!" raung Renjun, menarik Sion yang kesakitan.

Giselle yang ketakutan melihat sekeliling. Di belakang mereka, suara kepakan sayap semakin keras. Mereka terjepit lagi.

"Mark! Tabungnya!" teriak Jaemin.

Mark dan Yeri mengangkat tabung pemadam api yang berat. Mark menarik pinnya, mengarahkan selang. "Tutup mata!"

PSSSSSSHHHHHHH!!!!

Awan putih tebal busa kimia menyembur keluar, memenuhi koridor sempit. Klepek-Klepek kecil itu mendesis kesakitan, mundur terhuyung ke dalam saluran. Asap putih pekat juga membutakan dan memenuhi paru-paru mereka.

"LARI! LEWATI ASAP!" teriak Jaemin, sambil menyeret Sion yang kini pincang lebih parah, darah mengalir dari luka di pergelangan kakinya.

Mereka berlari, tersedak, mata perih, menerobos tirai busa kimia yang panas. Yeri tersedak keras, jatuh tersungkur.

"YERI!" Mark menjatuhkan tabung kosong dan berbalik.

"Aku... aku gak bisa Mark..." Yeri terbatuk-batuk, matanya berair.

Jaemin melihat pintu servis hanya sepuluh meter lagi, tapi Yeri jatuh dan Sion pincang. Dari belakang, melalui asap, dua pasang titik biru besar sudah muncul. Klepek-Klepek dewasa mendobrak masuk.

"Anton, RENJUN, BANTU SION! MARK, BAWA YERI! GUE HALANGIN MEREKA!" teriak Jaemin, dengan nekad mengambil palu darurat dari pinggangnya dan berdiri di antara kelompoknya dan para pemangsa.

"Jaemin, jangan! Lo gak bisa sendirian!" teriak Giselle.

"JALAN! SEKARANG! ITU PERINTAH!" pekik Jaemin, suaranya parau namun tak terbantahkan. Matanya bertemu dengan Mark. Dalam sekejap, ada percakapan tanpa kata: Lindungi dia. Aku percaya lo.

Mark menggigit bibirnya hingga berdarah, lalu mengangkat Yeri ke pangkuannya. "Maafin gue, Jaem" gumamnya sebelum berlari sekuat tenaga menuju pintu servis, diikuti Anton dan Renjun yang menyeret Sion.

Jaemin berdiri sendirian di koridor berasap, menghadapi dua bayangan besar yang mendekat. Dadanya berdebar kencang, tapi sebuah ketenangan aneh menyergapnya. Ini untuk mereka, pikirnya. Untuk Minjeong. Untuk semua.

....

Tangga darurat terasa seperti spiral menuju neraka. Ningning mengerang setiap kali tubuhnya terhentak di pundak Chenle dan Minjeong. Eunseok hampir pingsan, disangga oleh A-na dan Stella.

"Lantai dua! Separuh jalan!" teriak Jimin dari depan.

Tiba-tiba, dari lorong lantai dua yang terbuka, sebuah kursi roda meluncur keluar dan menabrak pagar tangga dengan suara keras! Bram!

Sunkyung menjerit. Semua berhenti.

Dari balik kursi roda itu, seorang pria tua berkulit pucat dengan seragam dokter yang compang-camping muncul. Matanya liar.

"Jangan ke bawah! Bawah sudah penuh sama mereka! Mereka berkumpul di lobby!" teriak pria itu, suaranya parau dan putus asa.

"Siapa... siapa anda?" tanya Jimin, waspada.

"Kenalin, Aku Dokter Kim. Aku... aku yang tidak sempat evakuasi. Aku sembunyi di ruang radiologi." Dokter itu melihat kondisi Ningning dan Eunseok. "Kamu butuh ruang steril. Dan obat. Aku tau tempatnya."

"Kami gak bisa percaya siapa-siapa," kata Minjeong dengan dingin.

"Lihat ini!" Dokter Kim membuka jasnya, menunjukkan luka bakar mengerikan di perutnya. "Mereka yang kasih ini. Dengan cairan mereka. Aku juga mau selamat. Tapi aku gak bisa jalan jauh. Bawa aku, aku tunjukkin jalan rahasia. Ke ruang isolasi lama di basement, dekat generator. Kuat. Bisa dikunci. Ada persediaan."

Jimin bimbang. Mata Dokter Kim memancarkan kegilaan, tapi juga kebenaran yang dalam.

"Jimin, kita gak punya pilihan lain," bisik Stella.

"Dia dokter. Dia mungkin bisa bantu Ningning dan Eunseok."

Dari bawah, terdengar lengkingan Klepek-Klepek yang ramai. Dokter Kim benar. Lobby penuh.

"Oke. Tunjukkin jalannya. Tapi satu langkah salah, kami tinggalin anda," ancam Jimin.

Dokter Kim mengangguk cepat, lalu menunjuk ke lorong gelap di lantai dua yang berbeda dari denah kebakaran. "Lewat sini. Turun tangga servis tua."

Kelompok Jimin, dengan tambahan seorang dokter yang mungkin penyelamat atau pengkhianat, mengubah arah, menuruni tangga sempit yang berdebu menuju kegelapan basement yang lain, meninggalkan jalan utama yang sudah menjadi jalur maut.

....

Dua Klepek-Klepek itu mengelilingi Jaemin seperti serigala. Busa kimia masih menggantung di udara, mengaburkan pandangan.

"Ayo aja, kaleng terbang!" teriak Jaemin, berusaha terdengar berani, meski tangannya basah oleh keringat. Dia melambaikan palunya. "Kalo mau makan, harus lewat gue dulu!"

Salah satu Klepek-Klepek, mungkin yang lebih agresif, menyerang. Cakarnya menyambar seperti kilat. Jaemin menghindar, tapi cakar itu mengoyak lengan bajunya, meninggalkan goresan merah yang dalam. Rasa sakit yang panas menjalar.

"SIAL!" Jaemin menjerit kesakitan, tapi dia membalas dengan memukulkan palunya ke 'pergelangan' cakar makhluk itu. Krak! Suara tulang atau chitin yang retak.

Makhluk itu mendengus marah, mundur. Yang satunya, lebih besar, menggunakan kesempatan itu. Dia tidak menyerang langsung, tapi melompat ke dinding, lalu memantul, dan dengan kecepatan luar biasa, menabrak Jaemin dari samping.

Jaemin terlempar ke dinding, kepala membentur beton. Dunia berputar. Dia mendengar suara langkah cepat dari arah pintu servis-Mark kembali?

Tapi bukan. Sungchan yang muncul dari balik asap, muka penuh keringat dan darah! Di belakangnya, Jeno, Shotaro, Haechan, dan Sohee!

"JAEMIN!" teriak Sungchan, dan tanpa ragu, dia melompat ke atas punggung Klepek-Klepek besar yang sedang mendekati Jaemin yang pusing, dan dengan kedua tangan, mencekik bagian di antara 'kepala' dan 'bahu' makhluk itu, mengalihkan perhatiannya.

"Ambil dia dan LARI!" teriak Jeno pada Haechan dan Shotaro, sambil melemparkan sebuah kaleng makanan sekuat tenaga ke arah Klepek-Klepek yang terluka. Kaleng itu mengenai dengan keras, membuatnya terhuyung.

Haechan dan Shotaro meraih Jaemin yang setengah sadar, menariknya ke arah pintu servis. Sohee melihat luka di lengan Jaemin. "Ini dalam! Perlu dijahit!"

"Nanti! Sekarang keluar!" balas Jeno.

Mereka semua berhamburan keluar pintu servis, masuk ke taman dalam rumah sakit yang sunyi dan berantakan, dihiasi bangku-bangku rusak dan tanaman liar. Matahari pagi yang cerah menyinari mereka, sebuah kontras yang ironis dengan neraka yang baru mereka tinggalkan.

Di belakang, di dalam koridor, mereka mendengar lengkingan marah dan suara tabrakan. Sungchan belum keluar.

"SUNGCHAN-" teriak Jeno, hendak berlari kembali, tapi Shotaro menahannya.

"Dia bela kita! Jangan sia-siakan!"

Pintu servis dari dalam didorong dengan keras. Sungchan terlempar keluar, berguling di tanah, seragamnya robek dan berdarah. Tapi dia hidup. Dia berhasil melepaskan diri.

Dengan napas terengah-engah, dengan tubuh penuh luka dan jiwa yang luluh lantak, mereka semua-Kelompok Jaemin dan Kelompok Pencari yang bertemu-berada di taman terbuka. Mereka selamat dari labirin, tapi mereka sekarang terpapar di area terbuka, dengan musuh yang mungkin mengintai di setiap jendela gelap yang mengelilingi taman itu.

Dan yang paling menghantui: Mana Kelompok Jimin? Apakah ruang isolasi itu ada? Apakah dokter itu bisa dipercaya? Atau apakah mereka baru saja mengantar teman-teman mereka ke perangkap yang lebih dalam?

Dua kelompok terpisah. Dua jalan yang berbeda. Dan di atas mereka semua, matahari yang tak lagi menyambut hangat, tetapi menyinari panggung baru untuk pertaruhan hidup dan mati mereka selanjutnya.

Matahari pagi menusuk mata mereka yang sudah lama beradaptasi dengan kegelapan. Taman dalam rumah sakit itu seperti oasis yang ganjil-burung berkicau di pepohonan yang tak tersentuh, namun bau besi dan kematian masih menggantung di udara. Mereka, sebelas orang yang berlumuran darah, debu, dan busa kimia, terpana sejenak.

Jaemin bersandar pada Shotaro, mencoba menahan pusing dari benturan di kepala. Luka di lengannya mengucurkan darah yang membuat lengan bajunya menghitam. "Sungchan... lo gak apa-apa?" suaranya serak.

Sungchan duduk di tanah, memeriksa goresan dalam di dadanya. "Masih bisa napas. Itu yang penting." Sungchan menatap Jaemin. "Lo gila jaem. Sendirian nahan mereka."

"Gue juga mikir gue gila," jawab Jaemin, nyaris tersenyum getir sebelum mendesis kesakitan.

Sebuah senyuman getir yang pahit muncul di bibirnya sebelum segera sirna oleh desisan napas. "Tapi waktu itu... waktu gue liat mereka mendekat, dan di belakang gue ada Mark, Yeri, Giselle... otak gue cuma bisa mikir satu hal: tahan. Cuma tahan."

Sohee sudah membuka kotak P3K-nya. Dia merogoh perban dan antiseptik. "Duduk. Ini harus dibersihin sekarang sebelum infeksi." sohee menarik lengan Jaemin dengan tidak terlalu lembut, membuatnya mengerang. "Diem. Ini bayaran lo sok sok an jadi pahlawan."

Di seberang mereka, Oh Sion mengerang lebih keras. Kakinya yang baru saja dicengkeram Klepek-Klepek di koridor laundry sudah membengkak tidak wajar, warna kulitnya berubah menjadi biru kehitaman yang mengerikan. Giselle dan Renjun berusaha membalutnya dengan kain sobekan dari baju Renjun, tapi jelas itu tidak cukup.

"Ini... ini kayaknya lebih dari sekadar keseleo Sell," bisik Renjun, suaranya bergetar. Tangannya gemetar saat menyentuh pergelangan kaki Sion yang sudah berubah bentuk.

Giselle mengangguk, wajahnya pucat seperti lilin. "Tulangnya... kayaknya patah. Atau paling gak retak parah. Dia gak bisa jalan." Mata giselle berkaca-kaca, bukan hanya karena Sion, tapi karena kelelahan dan beban yang semakin berat.

Jeno tidak duduk. Dia berdiri seperti patung penjaga, matanya yang tajam terus bergerak memindai perimeter taman. Dari jendela-jendela lantai satu yang gelap dan pecah, hingga atap-atap gedung yang membentuk siluet terhadap langit biru yang sinis.

"Kita gak bisa tinggal diam di sini," ucap jeno, suaranya rendah namun tegas, memotong erangan Sion dan desahan Jaemin.

"Kita keliatan kayak... kayak sasaran empuk di tengah lapangan. Ditinggalin begitu aja. Mereka bisa datang dari mana aja."

"Terus kita mau ke mana jen?" tanya Haechan, suaranya kehilangan semua kelucuannya. haechan melihat ke arah pintu servis yang terkunci otomatis di belakang mereka. "Kita gak bisa balik. Udah kayak kuburan di sana. Dan kita juga gak tau di mana yang lain."

Mark masih duduk di tanah, memeluk Yeri erat-erat. Yeri sudah berhenti batuk, tapi tubuhnya masih menggigil. Wajahnya terkubur di bahu Mark, bahunya naik turun oleh isakan yang tertahan.

Mark menatap ke arah Jeno, lalu ke Jaemin yang sedang dibalut. "Jimin pasti punya rencana," kata mark, mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan yang lain. "Dia... dia pasti udah nemuin tempat aman, atau jalan keluar. Dia gak akan ninggalin kita."

Yeri mengangkat wajahnya, pipinya basah oleh air mata dan kotoran. "Tapi... tapi kalo mereka ketemu Klepek-Klepek juga? Kalo mereka... mereka..." yeri tidak sanggup melanjutkan. Imajinasi tentang apa yang mungkin terjadi pada kelompok Jimin terlalu mengerikan untuk diucapkan. Ketidakpastian itu seperti tali yang mencekik leher mereka semua.

.....

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!