Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukit Senja: Masa Lalu yang Indah
Entah mengapa sore itu Angkasa mengendarai motor sportnya menuju kampus Nia. Fakultas Seni masih cukup ramai meski hari sudah menunjukkan pukul empat sore.
Angkasa berhenti sebentar di depan fakultas sebelum akhirnya memarkirkan motornya di area parkir FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain). Angkasa menatap bangunan di samping area parkir dengan wajah datarnya.
"Dia udah pulang atau masih di kampus?" gumamnya sambil merogoh ponsel di saku jaket kulitnya.
Ibu jari Angkasa menggantung di udara saat membuka riwayat obrolan di aplikasi chatnya. Logikanya ingin menjauh dari Nia. Namun hatinya selalu mencari senyum ceria itu.
Angkasa kembali memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya, lalu menyalakan kembali mesin motor sportnya.
"Dunia!" sebuah teriakan spontan membuat Angkasa menoleh.
"Aku anterin ke kos ya?" Bumi menawarkan jasa antar pada Nia.
"Nggak usah, Bumi. Makasih. Aku jalan aja. Kebetulan Rasi mau jajan seblak depan kos ku," kata Nia sopan.
"Dia biar jalan sendiri aja. Aku sama kamu," kata Bumi sambil melempar tatapan sinis namun meledek ke arah Rasi.
"Heh! Tau diri! Udah ditolak secara halus masih nyosor aja. Mau ditolak secara kasar juga nih?" kata Rasi kesal sambil mengangkat satu tangannya ke udara.
"Lah, gue nggak nawarin elo, ngapain mau nolak?" kata Bumi semakin meledek. Nia tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Nia," Angkasa sudah berdiri beberapa meter dari tempat Nia berdiri, dengan satu tangan dimasukkan ke saku celananya.
"Eh?" Nia terkejut.
"Aku anter kamu pulang,"
Suasana hening sepersekian detik.
"Nah. Karena Nia udah ada ojeknya. Lo nganterin gue ke Kang Seblaknya. GO!!" kata Rasi sambil menggaet dan menarik paksa lengan Bumi yang masih memproses keadaan.
"Eh? Lhoh? Kok jadi lo?" kata Bumi saat sudah tersadar dan Nia telah jauh dari jangkauan.
"Udaaah... Mereka tunangan. Lo inget? Kalian beda level," kata Rasi sambil berjalan menuju motor Bumi.
"Beda? Gue Bumi dia Dunia. Kita sinonim. Cuma beda huruf aja. Artinya sama," kata Bumi. Rasi memutar bola mata, jengah.
"Serah lo deh! Yang jelas, lo stop pdkt ke Nia dari sekarang. Daripada makan ati se-ampelanya," kata Rasi mengingatkan. Bumi hanya bisa menghela napas panjang.
Sementara itu, di depan gedung satu FSRD, Nia berdiri terpaku melihat sosok Angkasa yang tiba-tiba muncul di kampusnya.
"Ada tugas?" tanya Angkasa sambil berjalan mendekati Nia.
"Eh? Oh, nggak ada," jawab Nia.
Angkasa melihat ke arah smart watch di tangan kirinya.
"Cepat. Aku rasa kita masih sempat," kata Angkasa sambil berlalu menuju motornya.
"Eh?"
Angkasa berhenti, menoleh ke arah Nia.
"Sebelum menghilang," katanya, membuat Nia bingung sekaligus penasaran.
Tanpa banyak bertanya, Nia menaiki motor Angkasa setelah mengenakan helm yang sudah dipersiapkan Angkasa.
"Pegangan," kata Angkasa saat menyalakan mesin motornya. Nia memegang jaket Angkasa, ragu-ragu.
"Bukan di jaket," kata Angkasa sambil menarik kedua lengan Nia hingga melingkar di perut Angkasa.
"Eh?"
Jantung Nia berdetak lebih kencang. Nia yakin, Angkasa pasti dapat merasakan debaran jantungnya yang menempel di punggung Angkasa. Angkasa tersenyum tipis di balik helmnya, lalu melajukan motornya perlahan keluar dari area parkir FSRD.
'Jantung mu terlalu riuh, Nia,'
***
Awalnya Nia tak tahu kemana Angkasa akan membawanya. Namun, semakin jauh Angkasa melajukan motornya, semakin Nia tahu kemana tujuan Angkasa.
Langit masih menyisakan semburat warna senja yang apik saat Angkasa menghentikan motornya di sebuah tanah lapang di sebelah bukit.
Ya. Bukit Senja. Tempat kenangan Angkasa dan Nia saat masih kanak-kanak.
Bukit itu masih sama. Hanya saja sekarang terlihat lebih kecil daripada saat mereka kanak-kanak dulu.
"Kamu inget?" tanya Nia saat turun dari motor Angkasa sambil berusaha melepas helm —yang entah mengapa tak ingin dilepas dari kepala Nia.
"Inget," jawab Angkasa singkat sambil membantu melepaskan helm Nia. Jantung Nia kembali heboh, setelah tadi sempat tenang saat menikmati pemandangan di sepanjang jalan.
Angkasa berjalan ke arah bukit setelah meletakkan helm Nia di atas motor. Nia masih terpaku, menatap pemandangan sekitar setelah delapan tahun tak menapaki kawasan bukit itu. Tak banyak berubah.
Nia masih sering berkunjung ke panti bersama Bayu, terkadang bersama Nyonya Lestari dan Tuan Laksono. Namun, Nia tak pernah sempat ke Bukit Senja.
Terakhir Nia ke Bukit Senja adalah sehari sebelum dirinya dijemput Nyonya Lestari untuk ikut tinggal bersamanya. Dia sendirian, menikmati senja yang dia pikir adalah senja terakhirnya disana.
"Nia," panggil Angkasa, menyadarkan Nia dari lamunan masa lalunya.
Nia menoleh, lalu berjalan mengikuti Angkasa yang sudah lebih dulu berjalan mendaki bukit itu. Tak butuh waktu lama untuk mendaki Bukit Senja yang memang tak terlalu tinggi. Dua puluh menit sudah membawa Nia dan Angkasa berada di puncak bukit.
Langit senja sedang pada puncaknya. Matahari tepat di garis horizon. Nia menatap pemandangan yang telah lama dia rindukan.
"Wah! Indah!" kata Nia sambil terpaku menatap cahaya senja.
Angkasa menoleh, menatap Nia. Matanya terkunci pada wajah Nia yang diterpa cahaya senja.
"Hm. Indah," gumamnya sambil menatap Nia.
Nia menoleh, menatap Angkasa yang masih menatapnya. Tatapan Angkasa yang dingin dan dalam membuat jantung Nia kembali bergemuruh.
Angkasa memalingkan wajahnya ke arah senja setelah puas menatap Nia. Nia masih terpaku, menatap sisi wajah Angkasa yang masih dingin menatap senja.
"Sebelas tahun," kata Angkasa. Matanya masih terkunci pada senja yang perlahan turun di garis horizon.
"Dan tempat ini masih sama," lanjut Angkasa. Nia tersenyum lalu memalingkan pandangannya ke arah senja.
"Bukankah kita masih sama?" tanya Nia sambil menatap langit senja di hadapannya.
Hening.
Angin senja menyapu lembut kedua wajah yang terpaku menatap sisa-sisa senja.
"Hanya tempat ini yang masih sama," kata Angkasa memecah hening di antara mereka. Nia menoleh. Matanya menangkap Angkasa yang masih menatap matahari yang sudah tenggelam.
"Kita sudah berubah," lanjut Angkasa. Dia menoleh menatap Nia yang terdiam menatapnya.
"Aku... Kamu... Kita tak lagi sama seperti sebelas tahun yang lalu," kata Angkasa dengan nada dan tatapan dingin seperti biasa.
Hening.
Entah mengapa, tatapan Angkasa terasa lebih dingin dari biasanya bagi Nia. Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Nia.
"Semua orang berubah, Ang. Tak ada yang benar-benar sama setelah bertahun-tahun," kata Nia, mencoba menghilangkan rasa dingin dari tatapan Angkasa.
Angkasa berjalan mendekati Nia. Dia melepas jaketnya lalu menyelimutkannya pada Nia. Nia tertegun sekaligus terkejut. Dalam sikap dan kalimat Angkasa yang selama ini dingin kepadanya, ada setitik kehangatan yang masih tersisa.
"Sudah gelap. Ayo pulang," kata Angkasa lalu berjalan perlahan meninggalkan puncak bukit.
"Aang," panggil Nia. Langkah Angkasa berhenti. Namun tubuhnya tidak berbalik sama sekali.
"Makasih udah inget tempat ini," ucap Nia dengan seulas senyum di wajahnya. Angkasa terlihat menunduk lalu kembali melanjutkan langkahnya perlahan menuruni bukit.
Nia menoleh sesaat ke arah horizon. Tersenyum. Langit sudah menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Namun, hatinya terasa lebih terang karena sisa cahaya senja dan secuil memori masa lalu yang masih membekas.
'Kami akan datang lagi. Dengan versi kami yang berbeda. Tunggu kami, Bukit Senja!'
***