NovelToon NovelToon
Kebangkitan Meridian Naga

Kebangkitan Meridian Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ichsan Ramadhan

Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.

Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Malam yang Dingin Berbagi Selimut dan Cerita

Malam telah larut. Mereka berdua sudah meninggalkan Kota Azure dan berkemah di sebuah bukit hijau yang tenang, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota.

Angin malam bertiup cukup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Langit di atas kepala mereka bersih tanpa awan, menghiasi hamparan ribuan bintang yang berkelap-kelip indah, seolah sebuah kanvas perak yang megah.

Di bawah sebuah pohon besar yang rindang, api unggun kecil menyala hangat. Cahaya oranye memantul di wajah kedua anak muda itu, membuat suasana terasa begitu damai dan romantis.

Setelah pertarungan sengit dan drama emosional seharian, tubuh mereka memang lelah, namun hati mereka terasa sangat ringan dan bahagia.

Ren duduk bersandar pada batang pohon, matanya memandang nyala api yang menari-nari. Di sampingnya, Xue Ying sedang memijat lembut kakinya sendiri yang terlihat sedikit bengkak akibat berjalan jauh seharian.

"Dingin sekali ya malam ini," gumam Xue Ying sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk mencari kehangatan. Bajunya memang tipis, didesain untuk memudahkan gerakan bertarung, bukan untuk menahan cuaca.

Ren segera menyadari hal itu. Ia tanpa berpikir panjang melepaskan jubah tebal yang ia kenakan, lalu menyelimutkan tubuh gadis itu dengan penuh perhatian.

"Pakai ini. Badan aku panas kok, tidak perlu," kata Ren lembut.

"Tapi kau juga kedinginan kan?" Xue Ying ingin menolaknya, tapi tangannya sudah memegang kain yang hangat.

"Aku punya energi Naga di dalam tubuh. Dingin begini tidak mempan buat aku," Ren tersenyum meyakinkan. Memang benar, suhu tubuhnya jauh lebih tinggi daripada manusia biasa berkat Batu Prasejarah di dalam dirinya.

Xue Ying tersenyum manis, lalu ia menyamping sedikit, dan dengan berani menarik ujung jubah itu hingga menutupi bahu Ren juga.

"Kalau begitu... kita pakai bareng saja. Jadi hangatnya jadi dua kali lipat," bisiknya malu-malu.

Jantung Ren berdegup kencang lagi. Jarak mereka kini sangat dekat. Bahu mereka bersentuhan. Aroma tubuh Xue Ying yang harum bercampur dengan aroma asap kayu bakar membuat suasana menjadi semakin intim.

Mereka duduk diam begitu saja, menikmati kebersamaan yang tenang itu.

"Ren..." Xue Ying memecah keheningan pelan.

"Ya?"

"Hari ini... kau sungguh hebat. Melihat kau berdiri tegak menghadapi paman dan sepupumu itu... aku sampai merinding. Kau benar-benar mengubah rasa sakit menjadi kekuatan."

Ren menghela napas panjang, menatap bintang-bintang di langit.

"Aku tidak akan bohong, Xue Ying. Saat melihat wajah mereka tadi, tanganku gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang meluap-luap. Selama bertahun-tahun aku bertanya-tanya, kenapa Tuhan begitu tidak adil? Kenapa aku harus lahir dengan nasib seperti itu?"

Ren menunduk, memainkan ranting kecil di tangannya.

"Tapi sekarang aku mengerti. Kalau aku tidak dibuang, kalau aku hidup enak di klan seperti mereka, mungkin aku hanya akan menjadi pemuda manja yang biasa saja. Aku tidak akan pernah bertemu denganmu, dan aku tidak akan pernah menemukan kekuatan sebesar ini."

Ia menoleh menatap gadis di sampingnya.

"Jadi... rasa sakit itu tidak sia-sia. Itu adalah jalan yang harus kulalui untuk sampai ke sini, ke tempat di mana aku bisa berdiri di sampingmu."

Xue Ying terharu mendengarnya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Ren, memejamkan mata dengan nyaman.

"Kau pandai sekali bicara sekarang. Dulu kau pendiam dan penakut," candanya lembut.

"Itu dulu. Sekarang aku punya alasan untuk berani. Aku punya seseorang yang harus dilindungi," jawab Ren tegas, lalu ia tersenyum. "Tapi kalau sama Xue Ying, aku tetap mau jadi Ren yang manis saja."

Xue Ying tertawa renyah. Suara tawanya memecah kesunyian malam.

"Dasar manis... Eh Ren, boleh aku tanya sesuatu?"

"Tanya apa saja."

"Tentang Leluhur Naga di dalam kepalamu itu... dan tentang Batu Prasejarah. Apa kau tidak takut? Memiliki kekuatan sebesar itu rasanya seperti memegang pedang bermata dua. Apa suatu hari nanti... kau bisa kehilangan dirimu sendiri? Atau jadi jahat?"

Pertanyaan itu membuat Ren terdiam sejenak. Itu adalah pertanyaan yang sangat dalam dan serius.

Ren memandang ke dalam api unggun, lalu berbicara pelan.

"Aku tidak bohong, kadang aku juga takut. Kadang saat bertarung, ada suara di kepalaku yang menyuruh membunuh, menyuruh menghancurkan segalanya. Darah Naga itu liar dan kuat."

"Tapi..." Ren menggenggam tangan Xue Ying di bawah selimut, merasakan kehangatan dan kelembutan kulit gadis itu. "...selama aku masih bisa merasakan ini. Selama aku masih bisa merasakan detak jantungku berdebar karena melihatmu tersenyum, selama aku masih ingat rasanya sakit dan rasanya bahagia... aku yakin aku tidak akan hilang."

"Kau adalah jangkarku, Xue Ying. Kau yang membuatku tetap menjadi manusia, bukan menjadi monster yang haus darah. Kau adalah cahayaku saat kekuatan gelap itu mencoba menguasai diriku."

Air mata menetes lagi dari sudut mata Xue Ying. Ia mengangkat wajahnya, menatap mata Ren dalam-dalam di bawah cahaya api unggun.

"Janji ya? Apa pun yang terjadi, kita tetap seperti ini. Kita tetap menjadi kita," bisiknya bergetar.

"Aku janji," Ren mengangkat jari kelingkingnya. "Sumpah setia pada langit dan bumi. Selama napas ini masih ada, hatiku hanya milikmu."

Mereka saling menyentuhkan kelingking, mengikat janji suci di bawah sinar bulan.

Suasana kembali hening, namun kali ini penuh dengan kehangatan yang tak terucapkan. Xue Ying kembali menyandarkan kepalanya, kali ini lebih nyaman dan lebih erat.

"Tidurlah, Xue Ying. Aku akan jaga malam ini. Biarkan aku yang menunggui api dan menunggumu," bisik Ren.

"Kau juga jangan begadang terlalu lama..." gumam Xue Ying dengan mata mulai terpejam, suaranya semakin pelan dan melayang. "...selimutnya jangan dilepas... hangat..."

Tak lama kemudian, suara napas teratur terdengar dari samping. Gadis itu sudah tertidur pulas, kelelahan namun damai.

Ren menatap wajah polos gadis itu saat tidur. Ia tersenyum lembut, lalu dengan sangat hati-hati ia mengencangkan selimut agar tidak ada angin yang masuk menyakiti kekasihnya.

'Leluhur...' panggil Ren dalam hati.

'Ada apa, bocah? Sedang romantis ya?' jawab Naga Emas dengan nada santai.

'Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua. Terima kasih sudah membuatku cukup kuat untuk melindungi kebahagiaan ini.'

'Hahaha. Itu karena kau pantas mendapatkannya. Istirahatlah, besok perjalanan masih panjang. Dunia ini luas, dan masih banyak rahasia yang menunggu kita pecahkan.'

Ren mengangguk setuju. Ia mendongak menatap langit malam yang luas dan misterius.

Ya, perjalanan ini masih jauh. Masih ada musuh yang lebih kuat, rahasia yang lebih besar, dan tantangan yang lebih menakutkan di depan mata.

Tapi selama mereka berdua bersama-sama, membagi hangat, membagi cerita, dan membagi cinta... tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki, dan tidak ada lautan yang terlalu dalam untuk diseberangi.

Malam yang dingin ini... justru menjadi saksi kehangatan terindah dalam hidup mereka.

1
Jade Meamoure
😍😍😍
Jade Meamoure
novel yg bagus...moga kedepannya anda tetap berkarya
Jade Meamoure
kisah percintaan d balut kultivasi tp aq salut Krn tk ada adegan yg vulgar hanya d novel anda lho Thor 👍👍👍 sukses n sehat selalu
Didit Nur
terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan
Didit Nur
MC nya terlalu sombong dan terlalu pamer kekuatan, biasanya air beriak tanda tak dalam. harusnya seperti laut yg tenang Namum memiliki ombak yg ganas
Cahya Laela Tsaniya
kata keren kayaknya kurang pas 🙏🏾🙏🏾🙏🏾mungkin kata luar biasa sedikit cocok.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭
Cahya Laela Tsaniya
terdengar aneh kata Mbak 🙏🏾🙏🏾,mungkin kata Mbak diganti Nona ,biar enak didengar🤭
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪
Cahya Laela Tsaniya
Kayaknya ada yg terlewat / tidak terbaca ya🤔🤔🤔🤔??? Tingkatan kultivasi apa saja Thor??
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪💪!!!!
T28J
semangat thor✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!