Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 1 Kembalinya sang Cahaya
Suatu hari di dalam kamar yang cukup mewah dan warnah yang serba biru, seorang anak laki-laki berumur 17 tahun yaitu Alvaro Zaidan Alexander anak pemalas tapi juga pintar secara bersamaan dan ia anak paling ceria di antara papah dan juga para saudaranya yang memiliki sifat yang sangat dingin dan kaku seperti kutub utara setelah meninggalnya sang mamah.
Di luar kamar ada suara ketukan yang memanggil namanya.
“Tuan muda apakah anda sudah bangun?” Tanya seseorang itu.
“Iya uncle Sam Alvaro sudah bangun, kenapa uncle?” Tanya Alvaro dengan suara seraknya.
Ya orang yang mengetuk pintu kamar Alvaro itu adalah uncle Sam bodyguard yang selalu menjaga Alvaro atas perintah sang mamah.
“Sebaiknya anda bersiap-siap tuan muda, tuan besar dan tuan muda yang lain sedang menunggu anda di meja makan” ucapnya lagi.
“Tumben sekali uncle, ada apa mereka menungguku untuk sarapan bersama?” Tanya Alvaro lagi dengan nada bertanya-tanya.
“Saya kurang tau tuan muda, sebaiknya anda cepat bersiap” ujar uncle Sam.
“Ok uncle” jawab Alvaro singkat dan apa adanya.
Lalu ia bangun dari tempat tidurnya dengan perasaan yang sangat malas karena hari ini hari minggu yang seharusnya ia hanya bermalas-malasan di dalam kamarnya, sambil ia menghilangkan rasa malasnya sekaligus nyawanya untuk beberapa menit, kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan diri dan juga bersiap-siap untuk turun kebawah menuju keruang makan.
20 menit kemudian, ia keluar dari dalam kamarnya sambil di ikuti oleh uncle Sam dan turun kebawah menggunakan lift karena ia malas menggunakan tangga menurutnya jika ada yang mudah kenapa harus cari yang sulit dan hidup juga hanya satu kali bukan pikir Alvaro.
Sesampainya di lantai satu, lalu ia berjalan menuju keruang makan dan berjalan ke arah meja makan yang sudah ada 3 saudaranya dan juga sang papah.
Di sana ada 3 saudaranya dan sang papah yaitu abang pertamanya yaitu Arlan Sky Alexander anak tertua Alexander dan disampingnya ada kembarannya sekaligus kakaknya yaitu Erlan Skyler Alexander dan didepan kak Erlan ada Elvano Zeidar Alexander adik kembar alvaro dan di tempat duduk paling ujung ada sang papah yaitu Alaric Arthur Alexander.
Alvaro berjalan kearah tempat duduknya yaitu di samping sang papah dan Elvano, Alvaro dan Elvano memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Alvaro memiliki sifat yang ceria, pemalas tapi juga pintar secara bersamaan dan ia sangat mirip dengan sang mamah dari segi bentuk wajah dan tingginya dan sementara itu Elvano memiliki sifat yang dingin, jail, tapi juga pintar sifat dinginnya sangat persis dengan kedua abangnya dan juga sang papah standar sifat dan tinggi dari Alexander sendiri dan sementara sifat ceria dari Alvaro sangat persis dengan sifat sang mamah yang sangat ceria dan hangat.
Saat alvaro akan beranjak dari tempat duduknya karena sudah menyelesaikan sarapannya, ia yang akan berjalan menuju kekamarnya pun mendengar sang papah mengucapkan sebuah kalimat yang ia lontarkan kepada dirinya.
“Boy, nanti setelah makan siang pergi keruangan papah ya” ucap sang papah.
“Baik pah” jawab Alvaro singkat.
Lalu ia pergi kekamarnya sambil di ikuti oleh uncle Sam dari arah belakang dan mereka berjalan menuju ke arah lift untuk naik ke lantai atas menuju kekamarnya sebagai separuh hidupnya.
"Pah, sejak kapan papah dekat dengan anak itu?" Tanya Elvano kepada sang papah.
"Papah juga tidak tau, papah rasa kita harus melindungi dia karena ia adalah harta satu-satunya kita yang sangat mirip dengan mamah kalian" jelas sang Papah.
"Baiklah" jawab mereka bertiga singkat.
"Baiklah, Papah pergi dulu ada sedikit pekerjaan di ruangan yang harus papah selesaikan" ucap sang Papah.
"Ya" jawab mereka singkat.
Beberapa menit kemudian
Arlan pun sudah menyelesaikan sarapannya pun ingin beranjak dari meja makan.
"Abang pergi ke atas dulu" ujar Arlan.
"Ya" jawab mereka berdua.
"Selesaikan sarapan kalian dengan cepat dan jangan lupa pergi keruangan papah nanti selesai makan siang" ucapnya.
"Baiklah/ya" jawab Erlan dan juga Elvano.