Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Lorong Prajurit Serangga Beracun
Dinding batu yang lembap terasa dingin, dan bau apak tanah kuno menyeruak di udara. Di dalam ruangan kontrol darurat, hanya cahaya layar drone yang menerangi wajah-wajah tegang tim eksplorasi. Falix, dengan jemari terampil, mengendalikan drone mini yang melayang pelan menembus kegelapan.
Di layar, pemandangan itu terbentang, sebuah lorong panjang yang tampaknya tak berujung, diselimuti kesunyian yang mengerikan. Di sepanjang lorong, berdirilah patung-patung prajurit kuno, terbuat dari batu hitam pekat. Patung-patung itu diposisikan seolah-olah mereka sedang berjaga, senjata batu mereka siap diayunkan.
"Oke, drone sudah mencapai Lorong Keenam. Visual stabil," lapor Falix, suaranya pelan dan fokus. Ia memperbesar gambar pada salah satu patung terdekat. "Mereka terlihat seperti pajangan museum. Hanya menghalangi jalan saja."
Namun, saat ia menajamkan fokus drone pada detail mata patung, kerutan muncul di dahinya. Ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak hidup sekaligus terlalu hidup pada tatapan kosong itu. Mata patung itu seharusnya lubang, tapi justru memancarkan kilau kehijauan yang sangat halus.
Tiba-tiba, Aura, yang selama ini hanya mengamati dengan santai dari belakang, berucap tanpa mengubah ekspresinya yang tenang.
"Prajurit serangga beracun."
Seketika, semua orang menoleh ke arahnya. Keheningan yang ada terasa pecah oleh kata-kata tak terduga itu.
"Apa?" tanya Jack, salah satu tentara, suaranya dipenuhi keheranan. "Prajurit serangga beracun? Apa itu?"
Kieran, seorang ahli artefak, segera mendekat ke layar, matanya menyipit saat mengamati kilau aneh di mata patung. Wajahnya berubah pucat pasi.
"Itu adalah... serangga yang menggerakkan patung prajurit sebagai pajangan," kata Kieran, suaranya bergetar karena ngeri. "Mereka adalah koloni parasit yang masuk ke dalam rongga patung dan mengendalikan strukturnya. Jika kita menyentuh serangga itu secara langsung, kita juga bisa dikendalikan olehnya, menjadi seperti prajurit patung itu!"
Ketakutan menyebar di ruangan. Menjadi budak serangga, dipaksa bergerak tanpa kehendak, adalah nasib yang jauh lebih buruk daripada kematian.
Falix menarik napas dalam, memaksakan dirinya untuk tidak panik. Ia tetap fokus pada layar, menganalisis formasi patung-patung tersebut.
"Tapi bagaimana kamu bisa tahu, Aura, tentang prajurit serangga beracun itu? Apa kamu pernah melihatnya?" tanya Falix, nadanya penuh kecurigaan. Intuisi Aura terkadang terlalu akurat untuk dianggap kebetulan.
Aura mengangkat bahu, senyum kecil yang misterius terukir di bibirnya. "Aku hanya menebak saja. Aku suka berfantasi, jadi jangan kaget kalau ada pemikiran itu muncul." Ia membalas tatapan Falix, ada kilau menantang di matanya. "Tapi... memang benar ada di ruangan itu Prajurit Serangga Beracun, kan?" tanyanya balik, mencari konfirmasi.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Falix. Ia memperluas tampilan drone untuk menunjukkan seluruh lorong. Patung-patung itu tersebar rapat. "Untuk melewatinya, kita harus bisa mengalahkan mereka semua untuk bisa ke tempat lain. Atau... kita menghindarinya satu per satu. Tapi itu tidak mungkin," Falix menyimpulkan dengan frustrasi. Lorong itu sempit dan patung-patung itu terlalu banyak.
"Jadi bagaimana kita melewati ruangan itu?" tanya Jack, suaranya penuh keputusasaan.
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Atmosfernya kental dengan keputusasaan. Mereka telah berhasil melewati lima lorong jebakan maut, tetapi Lorong Keenam ini tampaknya menjadi penghalang tak tertembus.
Kieran, pemimpin tim, tidak ikut panik. Ia mengambil alih peta digital lorong keenam dan mulai memindai setiap detailnya. Dia mencari pola, celah, atau area yang terlewatkan. Matanya menelusuri setiap denah.
"Tunggu sebentar," gumam Kieran. "Ada sebuah ruangan kosong tertentu, di tengah lorong, yang tidak memiliki pasukan prajurit."
Semua orang mengerubungi layar. Memang, di tengah lorong yang panjang itu, ada sebuah ruangan kecil, tersembunyi di balik lekukan dinding, yang tampak bersih.
"Itu ruangan istirahat kuno," kata Kieran. "Mungkin jalur suplai."
"Masalahnya," lanjutnya Kieran, menunjuk ke peta, "untuk mencapai ruangan itu, kita harus berhadapan dengan sekelompok besar Prajurit Serangga Beracun yang berjaga di pintu masuknya."
Mereka kembali terperangkap. Ruangan kosong itu adalah pelabuhan, tetapi ombaknya adalah kematian.
Tepat ketika suasana tegang mencapai puncaknya, Aura kembali ke depan. Ia merogoh kantong kecil di balik jubahnya dan mengeluarkan sejumput bubuk aneh berwarna putih, berkilauan seperti debu peri.
"Apa kita bisa menggunakan bubuk ini?" tanya Aura. Wajahnya terlihat polos, seolah ia baru saja menemukan benda tak berguna. "Aku juga tidak tahu sih ini berguna atau tidak. Aku iseng membuat bubuk aneh ini dari berbagai bahan saat kita menunggu," katanya.
Semua mata menatap bubuk putih itu dengan campur aduk antara skeptisisme dan secercah harapan. Jack menatapnya dengan curiga. "Itu bubuk apa? Jangan-jangan itu racun baru!"
Kieran, tanpa mempedulikan keraguan Jack, mengambil bubuk itu dari tangan Aura. Ia mendekatkannya ke hidung dan mencium baunya dengan hati-hati. Aromanya tajam, campuran herbal kuno dan sesuatu yang berbau logam.
Wajah Kieran yang semula tegang, tiba-tiba terlihat aneh. Ia menoleh ke arah Aura, matanya memancarkan keterkejutan yang nyata. Itu bukan keterkejutan karena bahaya, melainkan keterkejutan karena penemuan.
"Bubuk ini..." Kieran terdiam, menimbang kata-katanya. "Ini bukan racun. Ini adalah... penawar bau. Dibuat dari jamur penghalang sensorik yang sangat langka."
Ia menatap Aura dengan ekspresi yang tak bisa dibaca. "Kita bisa melewati lorong itu dengan aman dengan bubuk ini," kata Kieran, nadanya penuh keyakinan. "Serangga itu mengandalkan bau untuk mendeteksi gerakan dan keberadaan. Bubuk ini akan menyelimuti aroma kita dan membuat kita tidak terdeteksi selama beberapa saat."
Wajah Aura langsung berseri-seri, matanya berbinar senang. "Lihat! Fantasiku berguna juga, kan!"
Jack hanya bisa menggelengkan kepala, tercengang melihat Kieran begitu mudah percaya pada 'bubuk iseng' yang dibuat oleh orang aneh seperti Aura.
Kieran segera menjelaskan rencananya. Bubuk itu akan ditebarkan di sekeliling tim. Mereka harus bergerak dengan sangat perlahan, memanfaatkan efek penghilang bau untuk menyelinap di antara patung-patung.
"Ini kesempatan kita. Tapi kita harus cepat dan hening. Jangan ada suara, jangan ada sentuhan," perintah Kieran, nadanya tegas dan mendominasi.
Kiera mengambil bungkusan kecil berisi bubuk itu. Dengan hati-hati, ia menaburkannya ke udara di sekitar mereka. Udara langsung terasa dingin dan berbau aneh, seperti hutan purba yang beku.
Dipimpin oleh Kieran, tim itu memasuki Lorong Prajurit Serangga Beracun. Lorong itu terasa jauh lebih dingin dan gelap dari yang terlihat di layar. Patung-patung prajurit, yang kini mereka yakini bergerak, berdiri seperti malaikat maut.
Setiap langkah terasa seperti guntur. Falix berjalan di belakang, jantungnya berdebar kencang, setiap serat tubuhnya tegang. Ia melihat dengan jelas kilau hijau di mata patung-patung itu seolah memindai ruang, namun berkat bubuk aneh Aura, mereka tetap tidak terdeteksi.
Mereka melewati patung-patung itu, hanya berjarak sehelai rambut dari ujung senjata batu mereka. Bau aneh dari bubuk itu membuat udara terasa sesak, tetapi itu adalah satu-satunya pelindung mereka.
Akhirnya, setelah berjalan seabad dalam keheningan, mereka berhasil mencapai ruangan kosong yang ditunjukkan Falix. Begitu pintu batu kecil tertutup di belakang mereka, semua orang menghela napas lega yang panjang dan bergetar.
"Kita... kita berhasil," bisik Jack, bersandar di dinding, kakinya terasa lemas.
Kieran menatap Aura, pandangan antara rasa terima kasih dan keheranan. "Bubuk itu... luar biasa," katanya.
Aura hanya tersenyum lebar. "Aku bilang juga apa. Jangan remehkan kekuatan keisengan."
Mereka telah melewati Lorong Keenam, tapi mereka tahu, lorong berikutnya mungkin menuntut lebih dari sekadar bubuk iseng. Pertanyaannya sekarang: mengapa ruangan kosong ini ada, dan apa yang menanti mereka di baliknya?