Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketidaksempurnaan
Perjalanan menuju gedung museum hanya berisi kilatan lampu kota yang berlalu cepat dalam diam. Lucien bersandar pada kursi mobilnya, mencoba mengalihkan pikiran dari negosiasi bisnis yang gagal siang tadi.
Biasanya, ia akan langsung pulang ke kediamannya yang sunyi setelah bekerja.
Ia memikirkan warna biru kobalt itu. Ia memikirkan bagaimana rupa Aurora saat sedang tenggelam dalam dunianya di dalam studio.
Begitu mobil berhenti di depan gedung museum yang megah, Lucien melangkah masuk melewati koridor yang sudah mulai sepi. Ia berdiri diam sejenak di depan pintu studio yang tertutup, matanya meredup.
Lucien mendorong pintu kayu besar tersebut. Aroma minyak linseed langsung menyambutnya. Aurora masih di sana, berdiri di depan kanvas dengan celemek kebesaran yang membuatnya terlihat jauh lebih kecil di tengah ruangan luas itu.
Hanya ada satu lampu yang menyala, menyinari kanvas di mana warna biru kobalt itu tampak berputar-putar. Warnanya sangat dalam, seolah-olah siapa pun yang menatapnya bisa tersedot ke dalamnya.
Lucien berhenti tepat beberapa langkah di belakang Aurora.
Ia tidak mengeluarkan suara. Ia hanya membiarkan keheningan itu menyelimuti mereka, sementara matanya menelusuri setiap inci lukisan itu dengan intensitas yang terasa menyesakkan.
Lukisan ini bukan sekadar soal teknik yang rapi. Ini terasa... liar. Seolah untuk pertama kalinya, Lucien bisa melihat badai yang selama ini disembunyikan Aurora di balik topeng kesopanannya.
"Kau tidak membuang-buang pigmen itu," gumam Lucien. Suaranya rendah, terdengar sangat dekat di telinga Aurora.
Aurora terlonjak. Kuas di tangannya tergelincir, meninggalkan goresan biru bergerigi di tepi kanvas.
Ia langsung berbalik, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada.
Matanya yang membulat bertemu dengan tatapan abu-abu Lucien yang sulit dibaca.
"Kau mengejutkanku!" napasnya tersengal, satu tangannya refleks menekan dada.
Aurora menunduk melihat noda cat yang berantakan itu lalu mengerang kecil, merasa kesal. "Lihat! Aku baru saja merusak bagian tepinya!"
Lucien tidak bergerak.
Ia tetap berdiri di sana, sosoknya tampak seperti bayangan yang menjulang di bawah cahaya remang studio. Matanya beralih perlahan, dari lukisan itu menuju wajah Aurora yang tampak panik.
Lucien melangkah maju. Gerakannya pelan dan sangat terhitung.
Alih-alih mengkritik kesalahan itu, ia justru mengulurkan tangan. Ujung jarinya mengusap tepian kanvas, tepat di sebelah goresan biru tadi.
Jarak di antara mereka mendadak terasa begitu tipis. Aroma parfum maskulin milik Lucien bercampur dengan bau tajam cat minyak yang menyengat, menciptakan suasana yang menyesakkan.
"Itu tidak rusak," gumam Lucien. Suaranya rendah, bergetar lembut seperti beludru.
Ia menatap Aurora. Sorot matanya melunak, berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya—sesuatu yang hampir menyerupai rasa kagum.
"Cacat itu justru membuatnya terasa... manusiawi. Itu menambahkan lapisan kekacauan yang sebelumnya hilang dari kesempurnaanmu."
Lucien tidak menjauh. Mata abu-abunya mengunci tatapan Aurora, menghapus sisa jarak yang ada sampai Aurora bisa merasakan hangat napas suaminya di atas kulitnya.
"Mungkin sedikit ketidaksempurnaan adalah hal yang memang kau butuhkan."
Aurora mengerjap, napasnya tertahan di tenggorokan.
Ia menatap silih berganti antara goresan biru yang berantakan itu dengan tatapan tenang suaminya. Sebuah tawa kecil yang bingung lolos dari bibirnya.
"Sejak kapan aku meminta pendapatmu tentang seniku?" bisik Aurora, suaranya sedikit gemetar.
"Kau adalah pria yang melihat dunia lewat angka dan kontrak. Sekarang kau tiba-tiba menjadi kritikus tentang 'kekacauan manusia'?"
Aurora memiringkan kepalanya, mencari jejak pria yang ia pikir ia kenal di dalam mata itu.
"Apa ini bagian dari kontrak? Atau kau benar-benar melihat sesuatu di sini yang bukan sekadar aset finansial?"
Lucien tidak bergeming. Ekspresi wajahnya tetap tenang seperti topeng yang sempurna, bahkan saat tangannya bergeser, ujung jarinya menyentuh kain celemek yang dikenakan Aurora.
Ia melangkah lebih dekat, mengunci posisi Aurora di antara penyangga lukisan dan tubuhnya yang menjulang. Suaranya merendah, berubah menjadi gumaman yang dalam.
"Kau terlalu melebih-lebihkan komitmenku pada kontrak itu," bisik Lucien, tatapannya turun perlahan menuju bibir istrinya.
"Kontrak itu memastikan kelangsungan hidup museum. Tapi ini..."
Ia memberi isyarat samar ke arah lukisan, lalu kembali menatap Aurora dengan intens. "...ini adalah masalah selera pribadi."
Lucien terdiam sejenak. Udara di sekitar mereka terasa semakin berat oleh ketegangan yang begitu nyata.
"Aku menyadari bahwa aku mulai menyukai hal-hal yang tidak bisa ditebak."
Aurora memutar bola matanya. Mantra ketegangan itu pecah seketika saat ia melangkah menyamping untuk menjauh. Ia mendengus, melipat tangan di depan dada sambil menatap Lucien dengan tatapan skeptis yang terang-terangan.
"Oh, tolong. 'Selera pribadi'?" Aurora mencibir, suaranya kembali pada nada nakal yang sedikit menantang.
"Kau terdengar seperti sedang mendeskripsikan merek kopi mewah yang baru. Jangan harap kau bisa mengucap kalimat puitis lalu mengharapkanku pingsan karena terpesona. Bagiku, kau tetaplah sebuah tabel angka yang bisa berjalan."
Aurora berbalik kembali ke kanvasnya.
"Sekarang, kalau kau sudah selesai dengan 'inspeksi' dan teka-teki misteriusmu ini, aku punya pekerjaan nyata yang harus dilakukan."
"Shoo. Kembali sana ke angka-angkamu." Ia mengibaskan tangannya yang ternoda cat ke arah pintu dengan nada mengusir.
Ekspresi Lucien tetap datar seperti danau yang membeku. Tidak ada satu otot pun di rahangnya yang bergerak meski baru saja diusir. Ia tidak tampak tersinggung; justru sebaliknya, percikan perlawanan di suara Aurora seolah memenuhi sebuah standar tak terucapkan dalam dirinya.
Ia terdiam sesaat, mata abu-abunya terus mengikuti pergerakan Aurora yang kini terang-terangan mengabaikannya.
Kemudian, dengan ketelitian yang sistematis, ia mengulurkan tangan dan mengambil serpihan cat kering yang menempel di bahu Aurora.
"Sesuai keinginanmu," jawabnya dengan suara monoton yang dingin.
Lucien berbalik, langkah kakinya bergema dengan otoritas yang kaku saat ia menghilang dari studio. Keheningan yang ia tinggalkan terasa berbeda—tidak lagi mencekik, melainkan terasa seperti sebuah tantangan.
Aurora mencoba fokus pada kanvasnya, tapi sisa-sisa sentuhan Lucien di bahunya seolah masih tertinggal di sana. Ia menatap warna biru kobalt itu, menyadari bahwa untuk pertama kalinya, ia tidak melukis demi sebuah warisan atau demi museum.
Ia melukis untuk melihat apakah ia bisa menciptakan retakan lain di dinding es suaminya.
Aurora menggelengkan kepala, sebuah hembusan napas bingung lolos dari bibirnya.
Ia menatap pintu tempat Lucien menghilang, jantungnya masih memukul ritme yang tidak beraturan dan kembali menatap biru kobalt itu, lalu pada goresan bergerigi yang tercipta saat Lucien mengejutkannya tadi.
Entah kenapa, ia tidak memperbaikinya. Ia membiarkan cacat itu tetap di sana—sebuah tanda kecil yang kacau atas intrusi suaminya di dalam dunianya.
Aurora mencelupkan kembali kuasnya ke dalam pigmen pekat, pikirannya berkecamuk.
Ada perasaan aneh dan berbahaya yang menyergap—menyadari bahwa di balik topeng tanpa ekspresi itu, seorang Lucien Valehart ternyata benar-benar memperhatikannya.