Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Terjebak.
"Kenapa baru diangkat?" tanya Gallelio, memperhatikan gadis di layar ponselnya yang hanya mengenakan tanktop dengan wajah natural khas baru bangun tidur.
"Maaf... maaf, Tuan. Tadi ketiduran," jawab Aurin tergagap.
Gadis itu buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu bersandar di kepala ranjang sambil merapikan rambut panjangnya yang tergurai acak-acakan. Gerakan kecil itu tak luput dari perhatian mata tajam Gallelio di seberang sana.
"Hm, putri saya gimana?" tanya pria itu kemudian.
Aurin langsung mengarahkan kamera ke arah Geanetta yang tertidur pulas di sampingnya dengan posisi memeluk guling.
"Dia sudah tidur dari tadi, Tuan," jawab gadis itu sopan.
Gallelio mengangguk singkat. Setelah itu suasana mendadak hening. Hanya suara napas pelan dan dengungan AC yang terdengar samar dari sambungan video call mereka.
"Aurin, kamu sudah paham cara pakai ponsel, kan?" tanya Gallelio tiba-tiba.
Alis Aurin langsung terangkat di seberang sana. Wajahnya jelas tampak sedikit tersinggung mendengar pertanyaan itu.
"Tuan, meski saya miskin bukan berarti saya bodoh soal pengetahuan. Pakai ponsel begini bukan hal susah, kan? Pertanyaan Tuan seolah-olah saya nggak bisa apa-apa dengan benda ini!" ujar Aurin dengan bibir yang tanpa sadar mulai manyun kesal.
"Nah, berarti paham?"
"Ya pahamlah. Anda mau menguji saya sekarang? Saya bisa!" jawab Aurin cepat.
"Berarti kamu bisa menelepon orang, kan?" ulik Gallelio lagi.
Aurin mengangguk. "Buktinya ini kita telepon," jawab gadis itu polos.
"Hm, tapi kenapa selama seminggu ini kamu nggak ngabarin saya?" ujar Gallelio akhirnya. "Tidak menelepon saya, padahal jelas-jelas saya sudah menyimpan nomor ponsel saya di sana."
Mata Aurin langsung mendelik tajam. Gadis itu sampai mengubah posisinya dari duduk bersandar menjadi telungkup di atas kasur, dagunya bertumpu di atas bantal sambil memperhatikan wajah Gallelio di layar dengan sangat serius.
"Soal itu, bukannya Anda sendiri yang bilang saya boleh menghubungi Anda kalau ada apa-apa di rumah dan kalau kangen?" tanya Aurin mengingatkan kembali ucapan pria itu seminggu lalu.
"Hm," jawab Gallelio singkat.
"Nah itu masalahnya, Tuan." Aurin mengangkat alisnya pelan. "Saya nggak kangen dan di sini juga baik-baik saja, aman!" jawab gadis itu santai.
Kalimat itu sukses membuat Gallelio membulatkan matanya tidak percaya. Pria itu sampai terdiam beberapa detik sambil menatap layar ponselnya datar. Entah kenapa, jawaban Aurin terdengar begitu menyebalkan di telinganya.
"Sudahlah!" Gallelio memijat alisnya pelan. "Kalian hari ini ngapain saja?" tanyanya mengalihkan topik, tidak mau gadis itu sadar lalu merasa besar kepala.
"Saya hari ini setelah mengantar Anet ke sekolah, kemudian diajak sama Ayuna ke kafe, Tuan," jawab Aurin jujur.
"Terus?"
"Terus saya bantu bekerja di sana buat ngisi rasa bosan."
"Mengisi rasa bosan atau mau menggoda mahasiswa yang datang ke sana?" tanya Gallelio dengan suara yang mulai terdengar datar dan dingin.
Mata Aurin langsung membulat. "Eh, mana mungkin. Saya bukan orang seperti itu. Tapi kalau yang menggoda saya sih ada..." jawabnya refleks sebelum mendadak tersadar, "...EH!!" Aurin buru-buru membekap mulutnya sendiri, sadar dirinya terlalu banyak bicara. Gadis itu langsung menatap layar ponselnya hati-hati, memperhatikan reaksi Gallelio yang kini mendengus pelan.
"Kamu senang digoda?" tanya pria itu lagi, mengotot.
"Maksud saya, kalau mereka tergoda sama saya itu resiko nggak sih, Tuan?" jawab Aurin tersenyum tipis, Senyum yang menyebalkan menurut Gallelio. "Secara saya ini cantik dan masih muda, jadi wajar saja. Asalkan bukan saya yang menggoda duluan—"
"Shit!! Besok-besok jangan pernah datang ke sana lagi!" potong Gallelio tiba-tiba dengan suara yang mulai terdengar kesal.
Tatapannya tajam menembus layar ponsel, sampai Aurin yang melihatnya spontan mengarahkan kamera ke langit-langit kamar beberapa detik, seperti benar-benar takut terkena amukan pria itu.
.
.
.
"Aurin!! Kamu dengar saya tidak?!" panggil Gallelio saat beberapa detik hanya langit-langit kamar yang terlihat di layar.
"Sebentar-sebentar..." Aurin kembali mengarahkan ponselnya ke wajahnya sendiri. Gadis itu memperhatikan Gallelio dengan teliti, menatap pria itu lekat-lekat seperti sedang menyelidiki sesuatu.
"Ini kenapa saya merasa Tuan lagi cemburu ya?" tanyanya tiba-tiba.
Gallelio langsung mengeraskan rahangnya.
"Huh, cemburu?" dengusnya sinis. "Salah kalau seorang suami mengingatkan istrinya? Ingat, kamu sudah punya suami!"
Mata Aurin langsung berbinar jahil mendengar itu. "Oh, jadi ceritanya saya sudah diakuin istri nih?" goda gadis itu berani. Kepalanya bahkan sedikit dimiringkan sambil mengedipkan mata berkali-kali ke arah layar. Selagi pria itu jauh, rasanya Aurin jadi lebih berani mencari masalah.
Sedangkan di seberang sana, Gallelio langsung berdehem pelan. Wajahnya menegang beberapa detik sebelum akhirnya tanpa aba-aba pria itu mematikan sambungan telepon begitu saja.
Tuttt.
Mata Aurin membulat melihat panggilan video yang mendadak terputus.
"Hah, dimatiin?!" Aurin tersenyum kecut. Gadis itu kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu meletakkan ponsel di samping bantal.
"Mana mungkin dia menganggap kamu istrinya, Aurin. Jangan terlalu percaya diri!" gumamnya pada diri sendiri. Langit-langit kamar kembali dia tatap kosong.
'Dia hanya butuh waktu. Mama berharap kamu bisa jadi orang yang membuatnya melupakan mendiang istrinya, sayang.'
Kalimat mama Amanda saat datang berkunjung beberapa hari lalu kembali terngiang di kepalanya. Meminta Aurin membuat Gallelio jatuh cinta padanya terasa seperti sesuatu yang mustahil. Melihat bagaimana pria itu memperlakukannya selama ini, ucapan-ucapan pedasnya, tatapan dinginnya, semua membuat Aurin tidak yakin.
"Bagaimana cara memulainya? Aku bahkan takut jadi cewek centil..." gumam Aurin ragu. Gadis itu mendesah pelan lalu menarik selimut sampai dada.
"Dahlah, tunggu dia balik saja..."
Drettt!!
Ponselnya kembali berdering tiba-tiba, membuat Aurin refleks menoleh.
Nama Suamiku kembali muncul di layar. Nama kontak yang disimpan sendiri oleh pria itu seminggu lalu.
Aurin buru-buru mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, Tuan."
"Jangan ditutup, lepas selimutnya!" ujar Gallelio tiba-tiba.
"Hah?" Mata Aurin langsung membelalak. Gadis itu malah menarik selimutnya semakin rapat.
"Dilepas saja. Kamu tidak gerah pakai selimut setebal itu? Saya yang melihatnya merasa sangat gerah!" tanya Gallelio datar dari seberang sana.
"Iya gerah sih, Tuan..." jawab Aurin setuju.
Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung menepis selimut dari tubuhnya. Namun berikutnya, dengan sadar Aurin juga ikut melepaskan tanktop yang dipakainya.
"AURIN, APA YANG KAMU LAKUKAN?!" suara Gallelio langsung naik beberapa oktaf. Mata pria itu membulat lebar, namun sialnya tidak juga beralih dari layar ponselnya.
"Gerah, Tuan. Jakarta panas banget. Saya tidur begini saja, kan nggak ada siapa-siapa di rumah," jawab Aurin santai tanpa rasa bersalah.
Gadis itu bahkan sudah kembali rebahan dengan posisi nyaman.
"Sudah dulu ya, Tuan. Saya mau tid—"
"Tidur saja, biarkan sambungan teleponnya menyala!" potong Gallelio cepat. Tatapannya masih terpaku lurus ke layar ponselnya tanpa berkedip sedikit pun. Jakunnya naik turun.
'Habislah, aku salah langkah!' gumam Aurin menggerutu dalam hati. Dia sama sekali tidak menyangka semuanya malah berakhir seperti ini. Bukannya marah atau langsung mematikan sambungan telepon seperti sebelumnya, Gallelio justru menyuruhnya tetap menyalakan video call itu.
Dan sekarang Aurin tidak bisa menarik perbuatannya lagi.
Wajah gadis itu memerah sampai ke telinga. Dengan canggung, dia menuruti permintaan pria di seberang sana yang menyuruhnya meletakkan ponsel di sisi ranjang, dengan kamera yang masih mengarah jelas ke tubuhnya.
Kini tubuh bagian atas gadis itu hanya tertutup bra hitam sederhana yang melekat pas di tubuhnya.
'Ini nekat sih... lagian aku nggak pernah mikir bakal jadi begini. Aku kira dia bakal risih, langsung matiin telepon kayak tadi terus marah-marah karena aku lancang. Ternyata malah—'
'Hais!'
Aurin buru-buru membalikkan tubuhnya membelakangi kamera. Rambut panjangnya terurai menutupi sebagian punggung putihnya saat gadis itu menghela napas berkali-kali mencoba menenangkan diri.
Jantungnya bahkan berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.
"Apa nggak mati kedinginan aku kalau begini semalaman?" gumam Aurin lirih, merutuki kebodohannya sendiri. Apalagi dinginnya AC kamar benar-benar menerpa kulitnya.
Gallelio menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Tatapannya makin dalam melihat Aurin yang justru membelakanginya seperti sekarang.
"Hadap kamera, sayang," ujarnya pelan dengan suara rendah yang terdengar jauh lebih berat dari biasanya. "Tidak sopan membelakangi suami."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...