"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Kesunyian di dalam penthouse malam itu terasa jauh lebih tajam daripada sebelumnya. Sejak pertengkaran hebat di ruang tengah beberapa jam yang lalu, atmosfer rumah mewah itu berubah menjadi medan perang dingin yang mencekam.
Arvin masih berada di ruang kerjanya yang terletak di lantai atas, sementara Zoya masih mengurung diri di kamar bawah, mengunci pintu dan membiarkan air matanya membasahi bantal yang kini terasa begitu dingin.
Di dalam kamar yang gelap, Zoya memeluk lututnya. Kata-kata Arvin yang menyebutnya wanita murahan dan hanya barang miliknya masih berputar-putar seperti pisau yang terus mengiris harga dirinya.
Zoya merasa martabatnya sebagai seorang wanita, seorang mahasiswi, dan seorang istri telah hancur berkeping-keping.
"Ya Allah... jika ini adalah ujian kesabaran, kuatkan hamba. Namun jika ini adalah tanda bahwa aku tak diinginkan, beri aku jalan untuk pergi dengan cara yang baik," bisik Zoya lirih di tengah isak tangisnya.
Di lantai atas, ruang kerja Arvin hanya diterangi oleh lampu meja yang redup dan cahaya dari monitor komputer yang masih menyala, menampilkan grafik saham yang fluktuatif. Arvin duduk di kursi kerjanya, menyandarkan kepala pada sandaran kursi yang empuk, namun pikirannya sama sekali tidak tenang.
Dahinya berdenyut hebat. Rasa sakit itu seperti ribuan jarum yang menusuk saraf kepalanya.
Sejak kejadian di kampus tadi siang, jantungnya berdebar tidak keruan, bukan karena takut, tapi karena rasa cemburu yang ia sangkal mati-matian. Ia terus terbayang wajah Zoya yang menangis, mempertanyakan martabatnya sebagai istri.
"Sialan," geram Arvin pelan. Ia mencoba meraih gelas air minum di atas meja, namun tangannya bergetar hebat.
Penglihatan Arvin mulai mengabur. Cahaya monitor yang tadinya jelas kini berubah menjadi bintik-bintik putih yang menari-nari. Ia mencoba berdiri, berniat mencari obat pereda nyeri di laci, namun kakinya terasa seperti jeli. Dunianya tiba-tiba berputar 180 derajat.
Bruk!
Tubuh tegap Arvin ambruk ke lantai marmer. Kepalanya sempat membentur pinggiran meja jati sebelum akhirnya ia tergeletak tak berdaya. Napasnya pendek-pendek, dan kesadarannya perlahan tertelan oleh kegelapan yang pekat.
Zoya yang berada di kamar bawah mendongak. Di keheningan malam yang sunyi itu, suara benda jatuh yang cukup keras di lantai atas terdengar hingga ke kamarnya.
"Suara apa itu?" gumam Zoya pelan.
Ia menghapus sisa air matanya. Awalnya, egonya berkata untuk mengabaikannya. 'Mungkin dia sedang membanting barang lagi untuk meluapkan amarahnya,' pikir Zoya pahit. Ia kembali membaringkan tubuh, mencoba menutup mata, namun perasaannya tidak enak.
Lima menit berlalu. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara pintu tertutup. Hanya ada kesunyian yang terasa mati.
Zoya bangkit, ia mendekati pintu kamarnya. Tangannya gemetar saat memegang kunci. Ia teringat bagaimana Arvin memaksanya masuk lewat pintu belakang perusahaan hari ini.
Ia teringat hinaan itu. Namun, di sisi lain, ia juga teringat saat ia sakit beberapa waktu lalu, Arvin adalah orang yang tetap terjaga untuk mengompresnya, meski pria itu tetap bersikap kasar.
"Kemanusiaan di atas segalanya, Zoya. Ingat pesan Ayah," bisiknya pada diri sendiri.
Dengan napas yang tertahan, Zoya memutar kunci.
Ceklek.
Ia melangkah keluar. Ruang tengah kosong. Lampu-lampu sudah mati, menyisakan keremangan dari cahaya lampu kota yang menembus jendela kaca raksasa.
Zoya menaiki tangga melingkar menuju lantai dua dengan langkah hati-hati. Begitu sampai di depan ruang kerja Arvin, ia melihat pintu yang sedikit terbuka.
Zoya mengintip ke dalam. Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat melihat sosok pria berjas itu tergeletak di samping meja kerja.
"Tuan Arvin?!"
Zoya berlari masuk, mengabaikan rasa sakit hatinya. Ia bersimpuh di samping tubuh Arvin yang tampak sangat pucat. Saat Zoya menyentuh leher pria itu untuk mencari denyut nadi, ia tersentak. Kulit Arvin terasa dingin dan lembap oleh keringat dingin yang membanjiri pelipisnya.
"Tuan! Bangun! Tuan Arvin!" Zoya mengguncang bahu Arvin, namun tidak ada reaksi.
Zoya panik. Ia segera mencari ponsel Arvin di atas meja dan mencari nomor dokter pribadi keluarga Dewangga yang pernah datang ke sini sebelumnya. Tangannya gemetar hebat saat menekan tombol panggil.
"Halo? Dokter Hendra? Tolong... Tuan Arvin pingsan di apartemen. Cepat, Dok!"
Sembari menunggu dokter, Zoya mencoba memberikan pertolongan pertama. Ia melonggarkan dasi Arvin yang mencekik lehernya, membuka kancing kerah kemejanya agar pria itu bisa bernapas lebih lega.
Ia mengambil bantal sofa dan menyanggah kepala Arvin agar tidak langsung menyentuh lantai yang dingin.
Zoya menatap wajah Arvin yang tertidur dalam kondisi tidak sadar. Di bawah cahaya lampu meja yang remang, gurat-gurat kelelahan di wajah suaminya terlihat jelas. Lingkaran hitam di bawah mata, wajah yang mulai tirus, dan raut ketegangan yang bahkan tidak hilang saat pingsan.
"Seberapa keras Anda memaksakan diri, Tuan?" bisik Zoya. Ia mengambil kain kecil dan air, menyeka keringat dingin di dahi Arvin dengan penuh kelembutan.
Kemarahan Zoya seolah menguap begitu saja melihat sosok penguasa sombong ini kini terlihat begitu rapuh dan tidak berdaya. Di atas lantai ini, Arvin bukan lagi CEO hebat yang ditakuti ribuan karyawan, ia hanyalah seorang pria yang tampak sangat kesepian dalam kesuksesannya.
~~
Satu jam kemudian, Dokter Hendra sampai. Setelah melakukan pemeriksaan intensif di dalam kamar utama, sang dokter keluar dengan raut wajah yang serius. Zoya menunggunya di depan pintu dengan cemas.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Stres akut, kelelahan fisik yang ekstrem, dan dia sepertinya tidak makan dengan benar beberapa hari terakhir. Asam lambungnya naik drastis dan tekanan darahnya sangat rendah. Dia butuh istirahat total, Nyonya Zoya," jelas Dokter Hendra. "Saya sudah memberikan cairan infus dan obat penenang agar dia bisa beristirahat setidaknya 12 jam ke depan."
Dokter Hendra menatap Zoya dengan penuh simpati. "Dia butuh seseorang yang menjaganya. Jangan biarkan dia bangun dan langsung bekerja lagi, atau kondisinya bisa lebih buruk."
"Saya akan menjaganya, Dok," jawab Zoya mantap.
Setelah dokter pergi, Zoya masuk ke dalam kamar Arvin. Ini adalah kedua kalinya ia masuk ke kamar pribadi pria itu. Kamar yang luas, modern, namun terasa sangat dingin dan tanpa sentuhan kasih sayang.
Zoya duduk di kursi di samping ranjang king-size Arvin. Ia menatap selang infus yang terpasang di tangan kokoh suaminya. Malam itu, Zoya tidak kembali ke kamarnya.
Ia menghabiskan sisa malam dengan terjaga, mengganti kompres Arvin, dan sesekali membacakan ayat-ayat suci dengan suara sangat rendah, berharap itu bisa menenangkan alam bawah sadar Arvin yang sedang gelisah.
Pagi harinya, cahaya matahari mulai menyelinap masuk lewat sela-sela gorden otomatis yang terbuka sedikit. Arvin perlahan membuka matanya. Rasa sakit di kepalanya sudah sedikit berkurang, namun tubuhnya terasa sangat berat.
Ia mengerjapkan mata, menyadari ada sesuatu yang menumpu di sisi ranjangnya.
Di sana, Zoya sedang tertidur dengan posisi duduk di kursi, kepalanya bersandar pada tumpuan lengannya di tepi ranjang. Zoya masih mengenakan mukena dan cadar yang tampak sedikit berantakan. Tangannya yang kecil tampak masih memegang tasbih.
Arvin tertegun. Ingatannya kembali pada kejadian semalam, amarahnya, hinaannya, dan bagaimana ia mengusir Zoya. Dan sekarang, wanita yang ia lukai sedalam itu justru menjadi orang pertama yang ia lihat saat terbangun dari ambang maut.
Arvin mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa sakit dari jarum infus membuatnya mendesis.
"Ssh..."
Suara kecil itu membuat Zoya langsung terjaga. Ia mendongak, matanya yang sembab karena kurang tidur dan bekas tangis langsung bertemu dengan mata Arvin.
"Tuan? Anda sudah bangun? Ada yang sakit? Sebentar, saya ambilkan air hangat," Zoya bangkit dengan sigap, namun Arvin meraih ujung mukena Zoya dengan gerakan lemah.
"Zoya..." suara Arvin parau, nyaris tidak terdengar.
Zoya berhenti. "Iya, Tuan?"
Arvin menatap Zoya cukup lama. Ada sejuta kata yang tertahan di tenggorokannya, kata maaf, kata terima kasih, atau sekadar pengakuan bahwa ia senang Zoya ada di sana. Namun, egonya yang sudah mendarah daging kembali mengambil kendali.
Arvin melepaskan mukena Zoya dan memalingkan wajah ke arah jendela. "Kenapa kau di sini? Kenapa tidak di kamarmu saja?"
Zoya terdiam. Ia menarik napas panjang, mencoba tidak sakit hati dengan sambutan dingin itu. "Dokter bilang Anda butuh pengawasan. Saya hanya menjalankan kewajiban saya."
"Kewajiban?" Arvin tertawa sinis, meski suaranya masih lemah. "Atau kau hanya ingin terlihat seperti pahlawan agar aku memaafkan kelakuanmu dengan pria itu?"
Zoya memejamkan mata sejenak, menahan emosi yang kembali naik. "Saya tidak butuh dimaafkan untuk hal yang tidak saya lakukan, Tuan. Tapi jika menurut Anda merawat suami yang sedang sekarat adalah cara untuk mencari muka, maka silakan Anda berpikir begitu. Sekarang, minum air ini."
Zoya membantu Arvin minum dengan sedikit memaksa. Arvin ingin menolak, namun rasa haus yang amat sangat membuatnya terpaksa menurut. Setelah minum, Arvin kembali bersandar pada bantal.
"Pergilah kuliah. Aku tidak butuh belas kasihanmu," usir Arvin lagi, namun matanya tetap mengikuti gerakan Zoya.
Zoya tidak menjawab. Ia justru mengambil mangkuk bubur yang tadi pagi ia siapkan. "Saya sudah minta izin tidak masuk kuliah hari ini. Saya akan di sini sampai infus Anda habis. Jika Anda ingin marah, silakan, tapi pastikan perut Anda terisi agar Anda punya tenaga untuk memaki saya lagi."
Arvin terdiam seribu bahasa. Ia menatap Zoya yang kini sedang meniup-niup bubur dengan sabar. Ada sebuah retakan kecil di dinding es hatinya yang semakin lebar.
Untuk pertama kalinya, Arvin merasa rumah megahnya tidak lagi hampa, meski suara lembut yang terdengar di sana adalah suara wanita yang sedang ia zalimi.
Ia benci perasaan ini. Ia benci betapa ia mulai bergantung pada kehadiran Zoya. Dan yang paling ia benci adalah kenyataan bahwa di balik cadar itu, Zoya memiliki hati yang jauh lebih luas daripada seluruh kekayaan yang ia miliki.
...----------------...
**To Be Continue** .....