Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan di Balik Tirai Kamar
Malam telah mencapai puncaknya, menyisakan keheningan yang mencekam di seluruh penjuru istana. Di dalam kamar Putri Aurelia, cahaya lilin yang mulai meredup menari-nari di dinding, menciptakan bayangan panjang yang tampak kesepian. Lady Elara masih setia di sana.
Ia terduduk di sebuah kursi kayu berukir tepat di samping tempat tidur. Kepalanya terkulai lemas, matanya terpejam karena kelelahan yang luar biasa, namun jemarinya masih menggenggam erat tangan Aurelia yang terasa dingin. Elara seolah takut jika ia melepaskan genggaman itu, nyawa adik sepupunya akan terbang terbawa angin malam.
Tiba-tiba, pintu kamar yang besar itu berderit sangat pelan. Sesosok pria dengan jubah kebesaran yang tampak berat melangkah masuk. Itu adalah Raja Valerius. Tanpa pengawal, tanpa kemegahan, ia hanyalah seorang pria tua yang tampak hancur oleh rasa bersalah.
Raja melangkah mendekat, kakinya berhenti tepat di sisi ranjang yang berseberangan dengan Elara. Ia memandangi wajah Aurelia—wajah yang biasanya penuh dengan api keberanian, kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya. Perlahan, Raja membungkuk. Suaranya yang biasanya menggelegar di ruang sidang, kini hanya berupa bisikan parau yang sarat akan kepedihan.
"Maafkan ayah, Nak..." ucapnya lirih. Getaran dalam suaranya menunjukkan betapa hancurnya dinding ketegasan yang selama ini ia bangun. "Ayah tidak becus menjagamu. Ayah terlalu sibuk dengan urusan takhta hingga lupa bahwa kaulah harta paling berharga yang ayah miliki."
Ia menyentuh ujung jemari Aurelia dengan sangat hati-hati, seolah takut sentuhannya akan melukai kulit putrinya yang pucat. "Lekaslah pulih... Ayah berjanji, nanti akan aku berikan semua yang kau minta. Apa pun itu. Aku tidak akan lagi memaksamu mengikuti kehendakku."
Hening sejenak. Raja Valerius memejamkan mata, dan memorinya tiba-tiba terseret ke masa lalu yang kelam. "Jangan tinggalkan aku... jangan pergi seperti ibumu meninggalkanku," bisiknya lagi. Kalimat itu adalah luka lama yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh dari sudut matanya, membasahi pipinya yang kasar sebelum mendarat di atas selimut beludru Aurelia. Sang Raja, penguasa yang ditakuti banyak kerajaan, menangis di tengah kegelapan malam.
Merasa emosinya hampir tak terkendali, Raja segera menyeka wajahnya dan berbalik. Ia keluar dari kamar itu dengan langkah cepat namun tetap berusaha tidak menimbulkan suara.
Suara klik pelan dari pintu yang tertutup membuat Lady Elara mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia terbangun dari tidur singkatnya. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Elara menoleh ke arah pintu. Ia sempat menangkap siluet sang Raja yang menghilang di balik kegelapan koridor. Elara terpaku sejenak; ia merasa melihat bayangan basah di pipi sang Raja dan mendengar isakan yang tertahan.
*“Apakah Ayahanda Raja baru saja menangis?”* pikir Elara dalam hati. Namun, ia segera menggelengkan kepala. Mengingat betapa kerasnya watak Raja Valerius selama ini, ia mencoba menepis pikiran itu. *“Mungkin hanya perasaanku saja karena terlalu lelah. Ayahanda Raja tidak mungkin menunjukkan kelemahan seperti itu.”*
***
Keesokan harinya, suasana di paviliun kesehatan berubah drastis. Setelah berhari-hari bekerja tanpa henti di bawah ancaman dan tekanan, tim tabib terbaik yang dikerahkan Raja akhirnya menunjukkan hasil. Dengan ramuan dari akar langka dan ketelatenan yang luar biasa, keajaiban itu terjadi.
Kelopak mata Aurelia bergerak pelan. Sebuah erangan halus keluar dari bibirnya yang kering. Saat mata itu akhirnya terbuka dan menatap langit-langit kamar, Elara yang sedang memberikan kompres langsung berteriak memanggil bantuan.
Raja Valerius tiba di sana hanya dalam hitungan menit. Saat melangkah masuk, ia melihat Aurelia sudah bisa bersandar di tumpukan bantal, meskipun wajahnya masih sangat pucat. Tatapan mereka bertemu. Secara lahiriah, ekspresi Raja tetap dingin dan kaku. Ia berdiri di ujung ruangan dengan tangan bersedekap, tidak mendekat untuk memeluk atau menunjukkan afeksi yang hangat.
Namun, di dalam hatinya, sebuah badai kebahagiaan sedang berkecamuk. *“Akhirnya kamu pulih kembali, Nak. Terima kasih karena telah bertahan,”* ucapnya dalam diam. Dadanya terasa lapang, seolah oksigen baru saja kembali memenuhi paru-parunya.
Sebagai bentuk rasa syukur yang tidak ia tunjukkan secara verbal, Raja memanggil kepala tabib ke ruang pribadinya tak lama setelah itu. Tanpa ada pengumuman resmi atau pujian di depan publik, Raja meletakkan sebuah kantong besar yang berdenting berat di atas meja.
"Ini untuk kalian," ujar Raja singkat.
Kepala tabib itu terperangah saat membuka kantong tersebut; isinya adalah kepingan emas murni yang sangat banyak. Tidak hanya itu, Raja juga memerintahkan pengawal untuk mengirimkan pasokan makanan pokok, gandum bermutu tinggi, dan daging ke rumah masing-masing tabib yang terlibat.
"Bawalah. Jangan katakan pada siapa pun bahwa ini dariku. Katakan saja ini adalah upah atas kerja keras kalian untuk kerajaan," tambah Raja dengan nada datarnya, menyembunyikan sisi lembutnya di balik topeng kewibawaan yang abadi.
Hari itu, istana kembali bernapas. Sang Putri telah kembali, dan meskipun hubungan ayah dan anak itu masih penuh rahasia, harapan baru mulai tumbuh di antara dinding batu yang dingin.