NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: DIBALIK LAYAR LAPTOP DAN KERAGUAN YANG TUMBUH

Ketegangan di restoran itu masih menyisakan hawa panas di dada Vanya. Dengan gaya angkuhnya yang biasa, ia berjalan menuju kasir mendahului Reyhan. Ia ingin membuktikan bahwa meski ia sedang terpuruk, ia tetaplah seorang putri konglomerat yang tak butuh belas kasihan seorang ojek online.

​Vanya mengeluarkan kartu kredit berlogo platinum miliknya dengan gerakan elegan. "Satukan semuanya," ucapnya dingin pada kasir.

​Namun, saat kartu itu digesek, mesin EDC mengeluarkan bunyi bip panjang yang menyakitkan telinga. "Maaf, Ibu, kartunya ditolak. Transaksi tidak dapat diproses," ujar kasir dengan sopan namun tegas.

​Vanya mengernyit, jantungnya berdegup kencang. "Coba lagi. Mungkin mesinmu yang rusak."

​Sekali, dua kali, tetap sama. Wajah Vanya memucat. Ia mencoba kartu lainnya, kartu yang biasa ia gunakan untuk belanja tas bermerek. Hasilnya nihil. Seluruh akses keuangannya telah diputus.

​"Papa... aduh, Papa tega sekali sama aku!" bisik Vanya dengan suara bergetar. Ia merasa dunia benar-benar runtuh. Di depan banyak orang, di tempat mewah seperti ini, ia dipermalukan oleh kenyataan bahwa ia tidak lagi memiliki sepeser pun kekuatan finansial.

​Di saat Vanya hampir menangis karena malu, sebuah tangan kokoh menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam pekat yang tampak sangat terawat.

​"Biar Nona ini saya yang bayar," ucap Reyhan datar.

​Kasir itu menerima kartu Reyhan, menggeseknya, dan dalam hitungan detik, transaksi berhasil. Vanya terpaku. Ia menatap Reyhan dengan tatapan yang sulit diartikan. Bagaimana mungkin seorang pria yang menarik ojek seharian memiliki kartu yang tidak terblokir dan saldo yang cukup untuk membayar makan malam mewah mereka?

​"Kamu... kamu punya banyak uang, Rey?" tanya Vanya pelan saat mereka berjalan menuju parkiran.

​"Itu uang tabunganku," jawab Reyhan singkat tanpa menoleh. Ia tidak ingin menjelaskan bahwa kartu itu adalah akses ke rekening pribadinya yang belum sempat dilacak oleh pamannya atau memang sengaja ditinggalkan ibunya sebagai peluru terakhir.

​Perjalanan pulang di atas motor matik itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Tidak ada lagi perdebatan tentang "begal mesum" atau "nona manja". Reyhan terdiam, pikirannya melayang pada Sherly. Ia masih tidak percaya bahwa wanita yang ia jaga kesuciannya, wanita yang ia beri rasa hormat tertinggi, justru mengkhianatinya dengan pria seperti Derian.

​Vanya pun hanya diam. Ia sebenarnya tidak tahu bahwa Derian ada di sana tadi, dan ia sama sekali tidak tahu bahwa pria yang paling ia benci itu sedang merencanakan sesuatu yang jahat terhadap dirinya dan aset ayahnya. Ia hanya merasa bingung, kenapa Reyhan terlihat begitu hancur setelah bertemu wanita bernama Sherly itu.

​MISTERI DI BALIK CAHAYA LAYAR

​Sesampainya di kontrakan kecil Gang Kelinci, suasana masih canggung. Reyhan membuka pintu, mempersilakan Vanya masuk lebih dulu.

​"Nona, tidurlah. Aku tahu kamu lelah," ucap Reyhan sambil meletakkan jaketnya di kursi kayu. "Mungkin beberapa hari lagi kita tidak akan berada di kontrakan ini. Aku akan mencari tempat yang lebih aman."

​Vanya tertegun. "Maksudmu kita pindah? Ke mana?"

​"Nanti kamu akan tahu," jawab Reyhan pendek.

​Vanya masuk ke dalam kamar, namun hatinya dipenuhi ribuan pertanyaan. Siapa sebenarnya Reyhan? Dia bukan begal biasa. Cara bicaranya, ketenangannya saat dihina, kartu kreditnya yang ajaib, dan wangi parfumnya... semuanya tidak selaras dengan identitas seorang ojol. Ia ingin bertanya, namun melihat guratan lelah dan kesedihan di wajah Reyhan, Vanya merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat.

​Reyhan tidak langsung tidur. Ia duduk di meja kayu kecil di ruang depan, di bawah cahaya lampu lima watt yang temaram. Ia mengeluarkan sebuah laptop tipis bermerek mahal dari tas ranselnya—benda yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat.

​Reyhan menyalakannya. Layar laptop itu memantulkan cahaya biru di wajahnya yang tegas. Ia mulai masuk ke dalam sistem data keuangan publik, memantau pergerakan saham Dirgantara Group. Matanya menyipit saat melihat grafik yang mulai menunjukkan penurunan. Tanpa kepemimpinannya, dan dengan sabotase diam-diam dari paman serta sepupunya, perusahaan itu mulai kehilangan arah.

​Jemarinya menari dengan lincah di atas papan ketik. Ia bukan lagi Reyhan si tukang ojek, melainkan Reyhan sang ahli strategi bisnis. Ia mulai menyusun sebuah proposal proyek masa depan—sebuah rencana cadangan yang akan ia gunakan untuk bangkit kembali, entah itu untuk merebut kembali Dirgantara atau membangun kerajaan baru dari nol.

​Dari balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Vanya mengamati. Ia melihat profil samping wajah Reyhan yang tampak begitu fokus dan cerdas. Gaya mengetiknya, caranya menganalisis data, semuanya menunjukkan bahwa pria ini terbiasa dengan keputusan-keputusan besar.

​Dia benar-benar bukan begal sembarangan. Gayanya, caranya... dia kelihatan sangat cerdas, batin Vanya.

​Vanya kemudian mencoba mengingat kembali kejadian malam nahas saat ia hampir diperkosa. Ia ingat jaket ojol itu, ingat pria yang memakai masker yang menyelamatkannya (atau yang dia kira akan memperkosanya).

​Tunggu... kalau Reyhan memang benar begalnya, kenapa dia terlihat begitu berwibawa sekarang? Lalu, teman satunya lagi mana? Vanya baru menyadari sesuatu. Malam itu ada dua orang. Satu yang menyerangnya, dan satu yang kemudian bertikai dengan pria pertama. Apa mungkin pria pertama itu kabur dan sengaja meninggalkan Reyhan untuk menjadi kambing hitam? Ataukah mereka bekerja sama tapi pecah kongsi?

​Logika Vanya mulai berperang dengan rasa bencinya. Jika Reyhan adalah orang jahat, kenapa dia memberinya tempat berteduh? Kenapa dia membelikan gamis mahal? Kenapa dia melindunginya dari Sherly?

​"Rey..." Vanya memanggil pelan dari ambang pintu.

​Reyhan menutup laptopnya dengan cepat, seolah sedang menyembunyikan rahasia negara. "Belum tidur, Nona?"

​"Tadi... wanita tadi itu, Sherly... dia siapamu?" tanya Vanya, akhirnya memberanikan diri.

​Reyhan terdiam sejenak. Matanya menatap langit-langit plafon yang kusam. "Bukan siapa-siapa lagi. Hanya bagian dari masa lalu yang baru saja mati," jawabnya dengan nada melankolis yang mendalam.

​Vanya bisa merasakan kepedihan itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa kasihan pada suaminya. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di kursi seberang meja. "Kenapa kamu tidak melawannya tadi? Kamu punya bukti rekaman itu, kan? Kenapa kamu biarkan dia menghinamu sebagai orang miskin?"

​Reyhan tersenyum tipis, sebuah senyum pahit. "Dia benar..., aku memang orang miskin, aku hanya punya tekad dan mimpi,"

​Vanya tertegun. Kalimat itu sangat dalam, sebuah kalimat yang tidak mungkin keluar dari mulut seorang penjahat jalanan. Di bawah cahaya lampu yang redup, Vanya mulai menyadari bahwa ia mungkin telah salah menilai pria ini sejak awal. Namun, rasa curiganya belum hilang sepenuhnya. Masih ada kabut misteri yang menyelimuti identitas Reyhan yang sebenarnya.

​"Vanya," panggil Reyhan lembut, menyebut namanya tanpa embel-embel 'Nona' untuk pertama kalinya. "Tidurlah. Besok kamu harus pagi biar badan kamu segar dan bugar."

​"Terserah aku dong?"mau bangun pagi atau siang.. Gak ada yang boleh larang-larang aku..!" kata vanya yang masih menunjukkansifat kekanakannya.

​"Ya, terserah nona manja saja, kalau gak mau nurut" jawab Reyhan misterius.

​Vanya kembali ke kamarnya dengan perasaan dilematis. Di satu sisi, ia merasa mulai bergantung pada pria ini. Di sisi lain, ia takut jika semua kebaikan ini hanyalah bagian dari sandiwara besar "Begal Syariah" yang sedang menunggu waktu untuk menerkamnya. Namun satu hal yang pasti, malam itu Vanya tertidur dengan memikirkan wajah Reyhan yang sedang serius di depan laptop, bukan lagi wajah ketakutan saat dituduh begal di balai desa.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!