NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Kamu Akan Menyesal

Pagi yang diharapkan cerah oleh Dira, masih tetap mendung hingga jam istirahat berbunyi. Hati Dira tidak ada di kelas. Hatinya berada di kolong laci meja. Menatap tas bekal berisi dua kotak nasi miliknya. 

Kriiing! 

“Sekian untuk pertemuan hari ini. Ibu akhiri, selamat siang semuanya.” 

“Selamat siang, Bu.” 

Setelah guru mata pelajaran keluar dari kelas. Dira buru-buru mengeluarkan dua bekal makanan yang dirinya bawa dari dalam laci. 

Satu untuknya, sedangkan satunya lagi ditujukan untuk Faza. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengantar pulang ke rumah dengan selamat kemarin. 

“Fa…” 

“Faza!” 

Kata-kata Dira langsung terhenti saat Sisil memanggil sekaligus mendekati Faza. Membuat Dira harus memasukkan kembali bekal khusus Faza di kolong lacinya. Malas berurusan dengan Sisil yang ujung-ujungnya membuat dirinya malu. 

“Ayo, kita ke kantin!” ajak Sisil sambil bergelayut manja di lengan Faza. 

Senyum manja yang diberikan Sisil untuk Faza. Menandakan jika saat ini Sisil mencoba mendapatkan hati Faza. 

Sedangkan reaksi diam Faza menandakan jika laki-laki itu memang belum memiliki tambatan hati. Jadi, siapapun bisa untuk meraih hatinya termasuk Sisil. 

“Ayo, Faza!” rayu Sisil kembali.

“Aku akan mentraktir semua makanan yang kamu mau,” ajak Sisil sambil berjalan melewati Dira begitu saja. 

Diamnya Faza membuat Sisil merasa menang. Apalagi Faza mengikuti keinginan Sisil untuk menuju ke kantin. 

Pemandangan seperti ini langsung meruntuhkan hati Dira yang baru saja merasakan jatuh cinta pada lawan jenis. 

‘Eh, jatuh cinta?’ 

Entahlah Dira pun belum yakin tentang hal itu. Hanya tangan menggenggam erat roknya. Kini mulutnya pun ikut terdiam, serta matanya hanya tertuju pada kotak bekal yang sepertinya akan dibawa pulang kembali oleh Dira. 

“Aku tadi kan sudah mengatakan padamu untuk fokus ke tujuan awal. Lulus dengan nilai tinggi agar masuk ke fakultas kedokteran favorit. Kamu itu bagaimana sih, Dira,” gerutu Dira pada dirinya sendiri. 

Rasa kesal pada dirinya sendiri membuat Dira mengerutkan wajahnya. Mencoba sekuat tenaga agar perasaan kesal sekaligus tidak mempengaruhi dirinya. Belum saja berkembang sudah patah hati. 

“Kamu tuh juga aneh. Dia kan orang kaya, mana mungkin dia mau makanan murah bikinanmu. Sadar Dira! Sadarkan dirimu dari khayalan tingkat tinggi,” gerutu Dira pada dirinya sendiri. 

“Lebih baik aku makan saja. Ngapain juga aku mikirin dia.” 

Dengan perasaan gondok, Dira mulai menikmati bekal yang dirinya buat secara spesial. Namun, entah kenapa rasanya hambar. Padahal biasanya makanan bikinannya enak. 

“Jadi, kata-kata ‘Tetap Semangat’ hanya sebatas basa-basi?” gumam Dira. 

Sedangkan di kantin saat ini Sisil yang tengah bergelayut manja di lengan Faza menjadi pusat perhatian. Wajah tampan, kaya raya, dan postur tinggi yang dimiliki Faza. Sudah menjadi standar dan syarat terpenuhi menjadi idola para murid perempuan. 

“Faza, kamu mau makan apa? Biar sekalian aku pesan buatmu.” 

“Gak perlu, aku pesan sendiri.” 

“Oke, kita duduk di bangku ini ya.” 

“Heam.” 

Dengan senyum berkembang Sisil memesan makanan. Sedangkan Faza mengawasi sekitar sambil menuju ke showcase untuk mengambil air mineral kemasan botol. 

“Hem, jadi seperti itu,” gumam Faza saat melihat orang-orang yang ada di kantin memilih diam sambil mengawasi interaksi Faza dan Sisil. 

Meskipun para murid perempuan ingin sekali menggoda untuk berkenalan dengan Faza. Namun, keberadaan Sisil di sekitarnya. Membuat para murid merasa enggan mencari masalah dengan Sisil. 

Tidak butuh waktu lama untuk Sisil mengambil makanannya. Karena Sisil tidak ingin kehilangan waktu berdua dengan Faza. Sisil buru-buru menghampiri Faza sambil membawa nampan berisi banyak makanan.

“Eh, Za. Kenapa meja kamu masih kosong?” tanya Sisil saat melihat meja di hadapan Faza hanya ada air mineral kemasan botol. 

“Kosong? Nih ada sebotol air mineral. Memangnya botol ini tidak terlihat olehmu?” 

“Maksudku makanan, Za. Belum datang ya makananmu? Ya sudah biarkan aku yang memesan khusus untuk…” 

“Tidak perlu,” potong cepat Faza. 

“Eh, maksudnya?” 

“Cukup minum saja. Aku sudah kenyang. Sekarang kamu makanlah!” pinta Faza. 

Meskipun ada rasa kesal menyelimuti diri Sisil karena penolakan Faza untuk makan bersama. Tapi, rasa kesal itu langsung hilang saat bisa makan ditemani sosok laki-laki keren seperti Faza. 

“Apakah wajahku tampak seperti piring?” 

Uhuk! 

“Maksud kamu apa, Za?” 

“Apakah di wajahku ada makanan? Sampai kamu makan sambil melihat ke arah wajahku.” 

Bukannya menjawab pertanyaan dari Faza. Justru Sisil tersenyum malu karena merasa ucapan Faza lucu. 

“Apakah ada hal lucu tergambar di wajahku?”  tanya Faza kembali yang hanya dijawab senyum. 

“Hei, kenapa kamu tersenyum saja?” tanya Faza kembali yang lagi-lagi dibalas oleh Sisil tatapan penuh kagum ke Faza. Membuat Faza hanya geleng-geleng kepala. 

Tidak ada obrolan lagi di antara keduanya. Sisil selalu tersenyum, karena hatinya merasa bahagia bisa makan ditemani oleh crushnya. Sedangkan Faza lebih memilih mengawasi sekitar. 

Toh percuma saja mengajak bicara Sisil. Karena Sisil hanya tersenyum saja selayaknya seseorang kesurupan. 

“Entah kenapa menu makanan hari ini terasa sangat enak sekali,” ucap Sisil setelah menghabiskan makanan yang jumlahnya cukup banyak. 

Melihat Sisil sudah tampak kenyang. Faza yang sebelumnya mengawasi sekitar. Kini menatap ke arah Sisil. 

“Mungkin karena faktor ditemani kamu kali, Za,” goda Sisil sambil tersenyum malu. 

Ditatap seperti itu oleh Faza. Membuat wajah Sisil kembali memerah. Faza memang bukan laki-laki pertama yang Sisil inginkan. Namun, entah kenapa Sisil merasa ada aura lain pada diri Faza yang tidak dimiliki oleh deretan mantannya. 

“Sudah selesai makannya? Mau nambah makan lagi?” tanya Faza tanpa ekspresi sama sekali. 

“Maunya sih makan yang manis-manis sebagai penutup. Tapi, sepertinya aku gak perlu makanan manis.”

“Kenapa?” 

“Karena di hadapanku ada yang lebih manis,” ucap Sisil mencoba merayu Faza yang hanya dibalas palingan wajah mengawasi sekitar. 

“Karena kamu sudah selesai makan. Aku langsung ke intinya saja. Kenapa aku mau kamu ajak duduk di meja yang sama seperti saat ini.” 

“Memangnya kenapa, Za? Kamu ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Sisil tidak sabar. Berharap Faza mengutarakan rasa tertarik padanya. 

“Iya,” jawab Faza yang lagi-lagi membuat hati Sisil merasa sangat bahagia. 

“Tanya apa, Za? Aku pasti akan menjawab pertanyaan itu.” 

“Baiklah, jika memang seperti itu. Aku langsung saja. Kenapa kamu menyuruh orang membuntuti Dira kemarin siang?” 

Deg! 

Senyum yang sebelumnya menyelimuti wajah Sisil langsung hilang berganti dengan kegugupan. Tangannya berkeringat saat tingkah lakunya diketahui oleh orang lain. Dan sialnya orang itu adalah Faza. 

“Maksud pertanyaan kamu apa, Za? Aku gak paham.” 

“Jangan mengelak. Aku melihat sendiri keberadaanmu di dalam mobil Jeep hitam yang sengaja membuntuti Dira,” jelas Faza.

“Di dalamnya tidak hanya ada kamu saja. Melainkan ada empat orang berbadan besar yang kesemuanya memfokuskan Dira sebagai targetnya.” 

Sisil jelas benar-benar merasa sulit bernapas saat ini. Dirinya sama sekali tidak menyangka jika tindakannya untuk mencelakai Dira diketahui oleh Faza. Padahal saat itu dirinya hanyalah melihat sekilas keberadaan Faza. 

“Apakah perlu aku sebutkan plat nomor kendaraan itu?” tanya Faza kembali membuat Sisil tidak berkutik. 

“Baiklah, karena kamu memilih untuk diam aku akan menyebutkan ciri-ciri Jeep hitam itu.” 

Jantung Sisil benar-benar dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tangannya hanya bisa menggenggam erat roknya. 

“Plat nomor kendaraannya B 23 … SJZ, ada penyok di bagian ujung kap mesin, serta goresan di pintu kanan belakang.” 

Keringat Sisil semakin deras keluar. Jantungnya seperti terhenti saat ini. Dirinya memang berada di dalam Jeep hitam yang disebutkan oleh Faza. Sisil jelas tidak menyangka jika Faza sangat teliti melebihi perkiraannya. 

“Aku peringatkan padamu. Jangan pernah sekalipun menyakiti Dira! Atau kamu akan menyesal,” ancam Faza pada Sisil.

Tanpa menunggu tanggapan Sisil atas peringatannya. Sambil membawa botol air mineral Faza berdiri dari tempat duduknya, pergi meninggalkan Sisil yang hanya bisa diam sambil mengepal kuat tangannya.

“Sial! Awas kamu, Dira,” geram Sisil karena tahu alasan utama Faza mau ikut menemaninya ke kantin. Itu semua hanya untuk Dira. 

‘Ingat sekali lagi.’

‘Faza mau menemaninya makan hanya untuk Dira seorang. Bukan untuk perempuan lain apalagi dirinya.’ 

Ancaman sekaligus perhatian yang diberikan oleh Faza untuk Dira. Membuat Sisil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata kekesalan menetes membasahi punggung tangannya. Apalagi dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang di kantin. 

“Ingat, Faza. Kamu telah berani mempermalukanku demi perempuan rendahan bernama Arundaya Dirandra. Dan demi perempuan rendahan itu. Aku akan membuatmu jijik terhadapnya,” ancam Sisil sambil menghapus sudut matanya yang basah. Lalu mengambil handphone miliknya untuk menghubungi seseorang. 

“Ma, SEKARANG! Aku tidak bisa berlama-lama. Jika Mama tidak melakukan sekarang juga. Maka, aku yang akan menghancurkan perempuan rendahan itu detik ini juga,” ucap Sisil cepat lalu mematikan handphone miliknya. 

Rentetan kekesalan yang memuncak. Membuat siapapun termasuk Sisil gelap mata. Rasa tidak terima bisa kalah saingan dengan Dira. Sosok yang diyakini memiliki kekurangan. Jelas sebuah penghinaan untuk Sisil. 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!