"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31 Bertemu
"Ayo turun," perintah Ryuga pelan sambil membuka sabuk pengamannya.
"Tarik napas. Jangan tunjukin kalau lo lemah. Mama Raina peka, Vier. Kalau lo kelihatan sakit parah, beliau bakal curiga dan nanya macem-macem."
Xavier mengangguk samar. Ia merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut, lalu membuka pintu mobil.
Di luar gerbang, Ducati Panigale V4 warna hitam legam yang membawa Haidar dan Nara sudah berdiri kokoh. Dua insan yang kini telah resmi menjadi sepasang kekasih itu sengaja menunggu di sana agar tidak membuang waktu terlalu lama.
Sebelum membuka pintu utama, Xavier terdiam sejenak. Meraup udara, menenangkan gejolak rasa--mengempas rasa takut dan keraguan.
Pintu terbuka.
Aroma masakan khas Raina menyambut mereka. Aroma yang dulu selalu sukses membangkitkan nafsu makan, kini justru memicu lonjakan adrenalin. Membuat perut Xavier kembali mual.
Lelaki bermata elang itu segera menarik napas dalam-dalam, membusungkan dada, dan berusaha berdiri tegak.
"Vier? Ryu?" suara lembut terdengar dari dalam.
Raina muncul dari arah dapur, tangannya masih memegang lap dan spatula. Matanya membulat saat mendapati wajah putranya 'pucat'.
Ia segera melangkah mendekat, kecemasan tampak jelas di sepasang mata teduhnya. "Kamu pucat sekali, Vier. Sakit?"
Sebelum Xavier sempat memberi jawaban, Ryuga cepat mengambil alih keadaan dengan sapaan dan senyum khasnya.
"Assalamu'alaikum, Ma," ucapnya, lalu menjabat tangan Raina dan mengecup takzim punggung tangan mama mertuanya, sebagai penghormatan seorang menantu.
"Wa'alaikumsalam, Ryu," balas Raina, menyematkan sebaris senyum tulus dan mengalihkan perhatiannya penuh pada sang menantu, meski kecemasannya belum hilang.
"Vier agak kurang enak badan, Ma. Mungkin semalam kurang tidur gara-gara mikirin Edo. Tapi, dia maksa mau ikut ke Desa W untuk observasi. Insya Allah, kami anak-anak BEM Cakrawala mau ngadain proyek terakhir di sana. Mengedukasi warga mengenai hukum sekaligus bakti sosial."
"Benarkah?" tanya Raina memastikan. Tatapannya beralih pada Xavier yang terlihat kurang fit, tidak mendukung untuk melakukan aktivitas apapun. Terlebih menempuh perjalanan yang cukup jauh.
"Iya, Ma. Vier yang punya inisiatif. Dia pengen banget turun langsung melihat kondisi di sana," jelas Ryuga lancar, melemparkan tatapan peringatan halus pada Xavier untuk ikut bermain peran.
Xavier menelan ludah, memaksa otot-otot wajahnya membentuk senyuman tipis. "Iya, Ma. Xavier... pengin bantu anak-anak BEM, daripada diajak nongkrong nggak jelas sama temen-temen nggak ada akhlak sejenis Edo."
Kalimat terakhir itu terdengar begitu jujur dan berhasil meyakinkan Raina. Ia menghela napas, lalu membelai pipi putranya dengan usapan hangat.
"Mama sebenarnya berat melepas kamu ikut ke Desa W. Tapi karena Mama percaya Ryuga bisa menjagamu, Mama izinkan. Yang terpenting: jangan telat makan, jangan terlalu memaksakan diri beraktivitas, dan langsung hubungi Mama begitu kalian sampai di Desa W," tuturnya.
Xavier mengangguk, mengindahkan ucapan mamanya.
"Papa ada, Ma?" tanya Ryuga, sengaja mengalihkan pembicaraan sembari melirik Xavier yang terlihat tengah berusaha menahan mual.
"Ada, di kamar. Mau dipanggil?"
"Iya, Ma. Kami cuma mau pamit sebentar. Nggak akan lama."
Tepat saat Raina berbalik menuju tangga, Xavier merasa kakinya terasa sangat lemas. Sandaran dinding menjadi satu-satunya penopangnya.
Ryuga sigap mengulurkan botol kecil berisi obat anti-mual dan sebotol air mineral. "Minum ini," bisiknya lirih.
Xavier mengangguk pelan, menelan pil pahit itu bersama air mineral. Rasanya pahit, persis seperti kenyataan yang harus ia hadapi nanti di Desa W. Tapi setidaknya, kini ia punya alasan untuk pergi. Alasan untuk menebus dosa.
Tak lama kemudian, langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Raditya muncul dengan kaos rumahan santai, tatapannya tajam namun teduh.
"Kamu sakit, Vier?" tanya Raditya singkat, matanya meneliti wajah putranya.
Xavier menggeleng pelan. "Cuma kurang tidur, Pa. Xavier pengin ikut kegiatan BEM ke Desa W."
Raditya menghela napas, lalu beralih menatap Ryuga. "Jaga kakak iparmu baik-baik, Ryu. Papa percayakan Xavier padamu."
"Siap, Pa," jawab Ryuga tegas.
Setelah mendapat restu dari kedua orang tuanya, Xavier merasa bebannya sedikit berkurang. Meski hanya sesaat, karena ia tahu badai sesungguhnya masih menantinya di Desa W.
.
.
Selama berada di perjalanan, Xavier memejamkan mata. Mengistirahatkan tubuhnya yang masih terasa lemas seolah baru saja mengangkat beban seberat dunia. Rasa mual yang tadi mendera sudah sedikit mereda setelah Ryuga memberinya obat anti-mual.
Dari head unit mobil sporty putih, alunan lagu Rendy Pangalila berjudul "Lewat Semesta" melantun merdu, mengisi keheningan kabin.
Lirik-lirik tentang penyesalan dan keinginan untuk bertemu seolah menjadi soundtrack sempurna bagi kondisi batin Xavier saat ini.
Di depan kemudi, Ryuga memainkan setir dengan satu tangan, sementara matanya sesekali melirik sekilas ke arah kakak iparnya yang terlihat begitu rapuh--tertidur.
Di dalam benak, monolog lirih penuh empati mengalir pelan. "Gue harap, Sukma mau maafin lo, Xav. Meski... sebenarnya gue nggak yakin. Karena kesalahan yang lo lakuin ke dia... sangat fatal. Bukan sekadar hal sepele, tapi penghancuran harga diri seorang wanita. Dan luka yang terlanjur lo torehin, butuh waktu bertahun-tahun buat sembuh, kalau memang bisa sembuh."
Semburat jingga keemasan mulai menghias langit senja, menciptakan siluet yang terlukis indah di balik pepohonan rindang saat roda mobil sporty putih dan Ducati Panigale hitam akhirnya menginjak gapura Desa W.
Udara desa terasa berbeda. Lebih segar, lebih tenang, namun bagi Xavier yang masih terlelap, udara itu hanya menjadi selimut dingin yang meninabobokannya.
Kedatangan Ryuga dan rombongan disambut ramah oleh beberapa warga desa yang sedang bersantai di beranda rumah. Mereka tersenyum tulus dan memberi sapaan hangat.
Di dalam mobil, Xavier tidak menyadari keramahan itu. Ia hanya mendengar suara-suara samar yang masuk lewat jendela mobil yang sedikit terbuka, bercampur dengan alunan lagu yang kian pelan.
Suara tawa anak-anak kecil yang berlarian, derit pintu pagar kayu, dan aroma tanah basah setelah hujan siang tadi, semuanya menyusup ke dalam mimpi buruk Xavier, membuatnya menggeliat gelisah tanpa benar-benar bangun.
Ia merasa kecil, bahkan dalam tidurnya. Firasat buruk bahwa ia sedang memasuki wilayah di mana ia tidak lagi dihormati sebagai "The Unbeatable", melainkan sebagai pria yang telah merusak marwah seorang gadis tak berdosa.
Begitu tiba di depan pagar kayu rumah joglo yang dihuni oleh Sukma dan Bi Jayanti, Ryuga mematikan mesin mobil.
Hening sejenak menyelimuti kabin sebelum Ryuga bergegas membangunkan Xavier yang terlihat lelap dalam gelisah.
"Vier... bangun. Kita udah sampai," bisik Ryuga pelan, menepuk-nepuk pipi Xavier.
Lima menit. Waktu yang dibutuhkan Xavier untuk mengumpulkan nyawa dan keberanian sebelum benar-benar membuka matanya. Ia mengerjap, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya senja.
"Udah sampai?" Suaranya terdengar serak khas bangun tidur.
"Udah. Lo siap ketemu doi?" Ryuga menarik sudut bibirnya tipis, menggoda Xavier yang kini terlihat kian pucat, kontras dengan langit jingga di luar sana.
Xavier hanya mengangguk samar, lalu meraup udara dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu kencang.
"Ya udah, buruan keluar."
"Temenin," pinta Xavier, tangannya gemetar saat meraih gagang pintu.
"Ck, udah mo jadi bapak, masih aja minta ditemenin. Kayak anak TK aja lo," cibir Ryuga, namun ia tetap membuka pintu mobilnya dan turun terlebih dahulu.
"Gue... deg-degan," aku Xavier jujur, kakinya terasa seperti ditancapkan paku saat menyentuh tanah merah desa.
"Takut digampar sama Sukma?"
Xavier menggeleng pelan, matanya menatap nanar ke arah pintu kayu jati yang tertutup rapat. "Takut ditolak, terus diusir. Takut kalau dia bilang, dia benci gue dan nggak bakalan maafin gue."
Ryuga menatap tajam, lalu meletakkan tangannya di bahu Xavier. Kalimat berikutnya jatuh pelan, namun penuh penekanan, mencambuk keteguhan Xavier yang sempat goyah.
"Dicoba dulu. Kalau beneran ditolak dan diusir, ya lo mesti usaha terus, sampai Sukma luluh. Kecuali, kalau lo rela ibu dari darah daging lo, dinikahi sama Ustaz Reinan."
Mendengar nama Reinan, mata Xavier membulat. Ancaman itu bukan sekadar kata-kata, melainkan realitas mengerikan yang menunggu jika ia gagal.
Dengan sisa tenaga, Xavier memutuskan untuk segera melangkah menuju teras rumah joglo.
Ryuga, Haidar, dan Nara berdiri beberapa langkah di belakang, memberikan ruang namun tetap siaga.
Xavier mengangkat tangannya, ragu-ragu, lalu mengetuk pintu kayu itu tiga kali.
Hening.
Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Pintu itu akhirnya terbuka perlahan.
Satu detik, dua detik, tiga detik, hingga sepuluh detik berlalu dalam keheningan yang mencekam.
Tatapan Xavier beradu dengan manik indah Sukma.
Xavier mematung. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Sukma terkesiap. Ia bergeming. Wajah cantiknya seketika berubah pucat. Matanya melebar.
Bibir mereka sama-sama membisu, terkunci oleh ribuan kata yang tak terucap dan luka yang belum kering.
Namun, detik berikutnya, realitas menghantam Sukma. Ingatan tentang malam kelam itu kembali menyerbu.
Dengan gerakan cepat, Sukma membuang muka. Ia mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah, menghindari tatapan penuh penyesalan Xavier. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah dan membanting pintu.
Suara pintu yang terbanting terdengar seperti vonis mati bagi hati Xavier.
Di balik pintu yang kini tertutup rapat, Sukma menyandarkan tubuhnya yang gemetar hebat. Kakinya lemas, membuatnya hampir luruh.
Ia memejamkan mata erat-erat dan merapal nama Tuhannya.
"Allah... kuatkan aku..."
🍁🍁🍁
Bersambung
intinya..Sukma itu sebenarnya sdah tidak marah. sudah memaafkan. hanya belum disadari. belum dirasakan. atau justru sdah disadari, tapi ditolak..
pertanyaannya, dgn itu, dia lagi menghukum sapir, atau menghukum dirinya sendiri...
apa nyampek beringharjo..diam bentar. trus ngomong gitu..aja..ya udah terserahlah..
Aku suka ini Sapirr
sukma itu lagi menemukan salah satu tanda kebesaran Allah..harusnya bertasbih dia, bukan disuruh baca istighfar
sekarang kau dh nggk benci lho ma kamu🤭