NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat Dimulai

Suci tidak memedulikan makian ibu mertuanya. Ia menyambar pegangan kedua kopernya, membalikkan badan dengan gerakan menyentak, lalu melangkah lebar menuju pintu depan. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang mantap dan angkuh.

"Mama! Mamaaa!!" Arka merangkak, mencoba mengejar bayangan ibunya yang kian menjauh. Air mata dan ingus mengalir di wajahnya, tangannya menggapai-gapai udara kosong. "Mama balik, Ma! Arka janji tidak nakal lagi! Mamaaa!"

Namun, sang ular telah membulatkan tekadnya. Suci Wahyuni terus berjalan keluar melintasi halaman, membanting pintu pagar besi, dan masuk ke dalam mobil jemputan yang sudah menunggunya tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Baginya, anak maupun suami hanyalah beban masa lalu yang harus segera diamputasi demi kelangsungan ambisi barunya yang jauh lebih berkilau.

****

Dua minggu berlalu bagai siksaan neraka bagi Rian. Hari yang paling ia takuti akhirnya tiba. Ruang sidang utama Pengadilan Agama Jakarta Selatan terasa sangat pengap, meskipun pendingin ruangan berembus dengan kencang. Aroma kayu tua dan kertas dokumen memenuhi udara, menciptakan atmosfer formal yang sakral sekaligus mematikan bagi sisa-sisa harapan Rian.

Di kursi penggugat, Sintia Arunika duduk dengan tegak, didampingi oleh Bramantyo, pengacaranya yang berwajah dingin dan tegas. Sintia mengenakan blazer formal berwarna putih bersih, rambutnya disanggul rapi, menampilkan wajahnya yang tenang namun sedalam samudra. Tidak ada lagi gumpalan air mata atau raut kesedihan di wajah wanita itu; yang tersisa hanyalah keteguhan seorang ratu yang siap mengambil kembali takhtanya.

Di seberangnya, Rian duduk dengan bahu yang merosot dalam. Di sampingnya, pengacara sewaan Rian hanya bisa menunduk sambil membolak-balik berkas yang sudah tidak ada gunanya lagi. Proses mediasi yang digelar minggu lalu telah dinyatakan gagal total karena Sintia menolak mentah-mentah semua tawaran damai yang diajukan Rian.

Ketua Majelis Hakim, seorang pria paruh baya berkacamata dengan gembong rambut beruban, mengetukkan palu kayunya sekali ke atas meja.

Tok!

"Sidang putusan perkara perceraian dan gugatan rekonvensi antara Sintia Arunika melawan Alfandi Rian Mahesa dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua dengan suara bariton yang menggema di setiap sudut ruangan.

Rian merasakan jantungnya berhenti berdetak. Keringat dingin mengucur deras di balik kemeja batiknya.

Hakim mulai membacakan amar putusan yang tebal secara bergantian. Setiap lembar yang dibalik terdengar seperti hitung mundur menuju eksekusi mati bagi Rian. Hingga akhirnya, Hakim Ketua memperbaiki posisi kacamatanya dan menatap lurus ke arah kedua belah pihak.

"Menimbang, bahwa berdasarkan bukti-bukti aliran dana, sertifikat kepemilikan tanah, serta saksi-saksi yang dihadirkan di persidangan, terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa seluruh aset berupa satu unit rumah mewah di kawasan Mampang dan 70 persen saham PT Mahesa Perkasa adalah murni hak milik dari Penggugat, Sintia Arunika, yang bersumber dari harta bawaan dan warisan almarhum orang tuanya..."

Napas Rian memburu kasar. Dunianya serasa berputar hebat.

"Mengingat pasal-pasal hukum yang berlaku, Mengadili: Satu, mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Dua, menyatakan putus ikatan pernikahan antara Alfandi Rian Mahesa dan Sintia Arunika karena perceraian. Tiga, memerintahkan kepada Tergugat untuk menyerahkan seluruh aset sengketa dalam keadaan kosong dan tanpa syarat kepada Penggugat selambat-lambatnya empat belas hari sejak putusan ini berkekuatan hukum tetap!"

TOK! TOK! TOK!

Tiga ketukan palu hakim itu berbunyi sangat nyaring, merobek sisa kesadaran Rian. Ketukan itu adalah lonceng kematian bagi status sosialnya, hartanya, dan masa depannya. Rian merosot di kursinya, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang gemetar hebat. Ia menangis tanpa suara, meratapi kebodohannya yang telah menukar emas murni seperti Sintia dengan seekor ular berbisa yang kini telah merampas segalanya dan pergi meninggalkannya.

Sintia bangkit dari duduknya dengan anggun. Ia mengangguk hormat kepada majelis hakim, lalu melangkah keluar dari ruang sidang tanpa melirik sedikit pun pada mantan suaminya yang sedang hancur lebur di atas kursinya. Keadilan telah ditegakkan, dan babak pembalasannya telah selesai dengan kemenangan mutlak.

****

Sore harinya, kediaman Mahesa yang megah terasa seperti kuburan massal bagi kebahagiaan. Surat salinan putusan pengadilan tergeletak begitu saja di atas meja kaca ruang tamu, bertindak sebagai surat pengusiran resmi yang kejam.

Di sudut kamar utama yang kini terasa kosong, Anne Wahyuandini duduk bersimpuh di atas lantai karpet beludru. Kacamata tebalnya sudah diletakkan di sampingnya, matanya yang bengkak dan merah tak henti-hentinya meneteskan air mata pilu. Perempuan paruh baya yang dulunya selalu tampil angkuh dengan perhiasan emas di jemarinya itu, kini tampak begitu rapuh dan menua sepuluh tahun lebih cepat.

Di dalam pelukannya, Arka sedang tertidur pulas karena kelelahan menangis sejak siang tadi. Bocah kecil itu masih sesekali sesenggukan di dalam tidurnya, memeluk erat leher neneknya seolah takut jika pelindung terakhirnya itu juga akan lenyap seperti ibunya.

"Ya Tuhan... apa yang sudah kita lakukan..." ratap Anne, suaranya parau dan bergetar hebat. Ia mencium pucuk kepala Arka dengan penuh rasa bersalah yang teramat dalam.

Anne teringat bagaimana marahnya ia dulu saat Sintia dinyatakan mandul, bagaimana ia menghasut Rian untuk mencari wanita lain yang bisa memberikannya cucu. Kini, Tuhan telah memberikan cucu laki-laki yang ia dambakan, namun melalui rahim seorang wanita iblis yang tega membuang anaknya sendiri demi memburu harta. Rumah mewah yang selama ini ia bangga-banggakan di depan teman-teman arisannya akan segera disita dalam waktu dua minggu. Mereka akan diusir, keluar dari gerbang rumah ini sebagai gembel yang tak punya arah tujuan.

"Maafkan Nenek, Arka... Maafkan Nenek, Nak..." bisik Anne di sela isak tangisnya yang memilu, meratapi puing-puing kehancuran keluarga Mahesa yang runtuh akibat keserakahan mereka sendiri.

****

Sementara keluarga Mahesa sedang meratapi nasib di dalam kuburan kemiskinan mereka, di sebuah restoran rooftop mewah yang menghadap langsung ke arah pemandangan gedung-gedung pencakar langit ibu kota, suasana romantis dan berkelas begitu terasa. Alunan musik jazz lembut mengalun pelan, berpadu dengan gemerlap lampu kota di malam hari.

Di salah satu meja VVIP yang menghadap dinding kaca raksasa, Kenzi Hutama sedang duduk dengan santai, menikmati segelas wine merah berumur puluhan tahun. Wajah oriental tampannya tampak begitu tenang namun memancarkan aura kekuasaan yang mutlak.

Beberapa meja dari posisi Kenzi, Suci Wahyuni sedang duduk menyendiri. Malam ini, ia menjelma menjadi sosok wanita yang teramat memikat. Ia mengenakan gaun malam tanpa lengan berpotongan rendah berwarna hitam legam yang kontras dengan kulit putih mulusnya. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai indah, bergerak lembut setiap kali ia memiringkan kepalanya.

Suci memegang segelas cocktail, matanya yang tajam bak mata elang tak pernah lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Kenzi dari kejauhan. Sebuah seringai kelicikan yang teramat mengerikan—sebuah seringai iblis—perlahan-lahan terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala.

"Sintia... kamu pikir setelah memenangkan sidang itu kamu bisa hidup bahagia di samping pria sekelas Kenzi Hutama?" bisik Suci pada dirinya sendiri, suaranya berupa desisan halus yang dipenuhi kedengkian yang teramat pekat.

Suci meminum cocktail-nya sedikit, lalu meletakkan gelas itu kembali di atas meja dengan gerakan yang anggun. Ambisinya kini telah mencapai puncaknya. Kegagalannya di hotel kemarin tidak membuatnya jera; justru drama itu memberikannya ide baru yang jauh lebih kotor. Ia akan memanfaatkan status "korban kekejaman Rian" untuk menarik simpati Kenzi. Ia tahu pria seperti Kenzi menyukai tantangan, dan ia sangat yakin dengan daya pikat sensual tubuhnya yang belum pernah gagal menaklukkan pria mana pun.

"Aku akan membuat Kenzi berpaling padaku," gumam Suci, matanya berkilat penuh konspirasi jahat di bawah temaram cahaya lampu restoran. "Aku akan mendepakmu dari sisi pria itu, Sintia. Aku akan merebut posisimu, mengambil alih seluruh perhatian Hutama Group, dan membiarkanmu merangkak kembali ke selokan tempat asalmu. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Dengan keyakinan iblis yang membakar dadanya, Suci bangkit dari duduknya, memperbaiki posisi gaunnya, lalu mulai melangkah perlahan menghampiri meja tempat Kenzi Hutama sedang duduk menyendiri, siap melepaskan bisa racunnya yang paling mematikan.

1
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!