Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Pengantin
Tiga hari telah berlalu sejak malam berdarah di gudang dermaga. Di dalam kamar rawat rumah sakit yang sunyi, Nora Leone berdiri di depan cermin kecil di kamar mandi, menatap pantulan wajahnya. Bekas memar yang dulunya biru keunguan kini telah memudar menjadi kuning samar. Bengkak di bibirnya sudah mengempis, menyisakan garis luka kecil di sudut mulut yang akan menjadi pengingat abadi. Secara fisik, ia mulai membaik. Namun, di dalam rahimnya, ada keheningan yang tak terbendung—sebuah ruang kosong yang terus berdenyut dengan rasa sakit yang tak terlihat.
Nora baru saja menyelesaikan sarapan hambar rumah sakit ketika pintu kamarnya terbuka. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma parfum maskulin yang tajam dan langkah kaki yang berwibawa itu sudah cukup menjadi pertanda.
Adrian masuk, diikuti oleh Theo yang membawa sebuah kotak besar berlapis beludru hitam. Adrian menatap Nora dengan pandangan yang mencoba mencari celah untuk masuk kembali ke dalam hidup wanita itu. Ada sedikit kelegaan di matanya melihat wajah Nora yang sudah mulai pulih, namun ia segera disambut oleh tatapan Nora yang sedingin kutub utara.
"Dokter bilang kau sudah boleh pulang hari ini," ujar Adrian, memecah keheningan yang kaku.
Nora hanya mengangguk kecil tanpa suara, jemarinya sibuk merapikan tas kecilnya. Ia tidak menatap Adrian; baginya, pria itu kini hanyalah objek yang tak sengaja berada di satu ruangan dengannya.
Adrian memberi kode pada Theo. Tangan kanannya itu melangkah maju, meletakkan kotak besar itu di atas ranjang rumah sakit dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya, terhampar sebuah mahakarya. Gaun pengantin sutra bertahtakan berlian putih yang dimenangkan Adrian di pelelangan malam itu. Gaun itu berkilau tertimpa cahaya lampu, memancarkan kemewahan yang sanggup membuat wanita mana pun menjerit kegirangan.
"Tuan Adrian mendapatkannya dengan perjuangan keras di pelelangan lusa kemarin, Nona," Theo angkat bicara, mencoba mencairkan suasana. "Gaun ini dimenangkan seharga dua ratus juta dolar. Tuan ingin Nona memakainya di hari pernikahan kalian dua hari lagi."
Adrian berdiri dengan tangan di saku celananya, matanya tertuju pada Nora, menanti sebuah reaksi. Setitik binar, sebuah senyum, atau setidaknya keterkejutan. Ia berharap dua ratus juta dolar dan kemilau berlian bisa menjadi jembatan permohonan maaf yang cukup untuk menghapus memori tentang gudang dermaga. Di dalam logikanya yang dangkal, ia pikir kemewahan adalah penawar bagi luka.
Namun, Nora hanya melirik gaun itu sekilas. Tidak ada binar di matanya. Tidak ada napas yang tertahan karena kagum. Ekspresinya tetap datar, seolah Theo baru saja menunjukkan selembar kain lap kotor.
"Dua ratus juta dolar," gumam Nora pelan, suaranya hambar. "Harga yang mahal untuk sebuah topeng."
Adrian mengerutkan kening, rasa kecewa mulai merayap di dadanya. "Nora, aku tahu aku bersalah. Tapi aku ingin pernikahan ini menjadi yang termegah. Aku ingin kau menjadi wanita tercantik. Pakailah gaun ini sebagai tanda kita memulai lembaran baru."
Nora akhirnya menatap Adrian. Tatapannya begitu kosong hingga Adrian merasa seolah ia sedang menatap ke dalam jurang.
"Lembaran baru?" Nora tersenyum miring, sebuah senyum yang tampak mengerikan dengan bekas luka di bibirnya. "Kau sungguh percaya bahwa kain dan berlian bisa menjahit kembali apa yang sudah kau robek, Adrian?"
Adrian terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Bawa gaun itu," perintah Nora dingin, ia beralih pada Theo. "Tapi jangan bawa ke mansion Thorne. Kirimkan langsung ke kediaman ayahku, ke rumah keluarga Leone. Aku akan pulang ke sana hari ini."
"Apa maksudmu?" Adrian menyela dengan nada protektif. "Kau calon istriku. Kau seharusnya pulang ke mansion bersamaku untuk mempersiapkan semuanya."
"Aku masih putri Antonio Leone sampai janji suci itu diucapkan, Adrian," sahut Nora tajam. "Dan setelah apa yang kau lakukan, aku tidak sudi menghabiskan satu malam pun lagi di bawah atapmu sebelum aku terpaksa melakukannya. Aku butuh ketenangan, dan rumah ayahku adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu melihat wajahmu setiap detik."
Adrian mengepalkan tangannya. Ia ingin membantah, ingin memerintahkan pengawalnya untuk menyeret Nora kembali ke mansionnya, namun ia sadar posisinya sedang lemah. Jika ia memaksa sekarang, Nora mungkin benar-benar akan menghancurkan kesepakatan pernikahan itu, dan aliansi dengan Leone bisa terancam.
"Baiklah," ujar Adrian dengan rahang mengeras. "Jika itu yang kau mau. Theo akan mengantarmu dan gaun itu ke rumah Antonio. Tapi ingat, dua hari lagi, aku akan menjemputmu sebagai pengantinku."
Nora mengambil tasnya dan berdiri, meskipun tubuhnya masih terasa sedikit lemas. Ia berjalan melewati Adrian, namun berhenti tepat di samping pria itu. Bau parfum Adrian yang dulu ia cintai kini membuatnya mual.
"Adrian," bisik Nora.
Adrian menoleh, berharap ada kata-kata manis atau minimal sebuah pengampunan.
"Kau sangat sibuk menyiapkan kejutan untukku... gaun dua ratus juta dolar, perhiasan, pesta mewah," Nora menatap lurus ke depan dengan senyum misterius yang menyimpan kegelapan murni. "Jangan khawatir. Aku juga punya hadiah spesial untukmu. Sebuah kado yang akan kuberikan tepat saat kita sah menjadi suami istri di depan altar nanti. Sebuah kado yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."
Adrian sedikit terkejut, namun kemudian sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Ia mengira Nora mulai melunak dan sedang merencanakan kejutan romantis untuk membalas hadiahnya. "Aku akan menantikannya, Nora."
"Oh, kau harus menantikannya, Adrian," sahut Nora pelan, hampir seperti bisikan maut. "Karena kado itu akan membayar lunas semua 'pelajaran' yang kau berikan padaku di gudang itu."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Nora melangkah keluar dari kamar rawat tanpa menoleh lagi. Theo mengikuti di belakangnya membawa kotak gaun mewah itu, sementara Adrian tetap berdiri di tengah ruangan yang kini terasa sangat dingin.
Perjalanan menuju kediaman Leone terasa sangat panjang bagi Nora. Di dalam mobil, ia menatap kotak beludru di sampingnya dengan rasa benci yang membuncah. Dua ratus juta dolar. Adrian mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah gaun, sementara ia mengizinkan orang-orangnya menghancurkan dua nyawa yang tak ternilai harganya.
Setibanya di rumah keluarga Leone, suasana tampak sibuk. Dekorasi pernikahan mulai dipasang di setiap sudut. Antonio menyambutnya dengan basa-basi yang memuakkan, namun Nora tidak peduli. Ia langsung menuju kamarnya yang lama, meminta pelayan membawa gaun itu masuk, dan mengunci pintu.
Ia akan membiarkan Adrian merasa menang. Ia akan membiarkan Adrian berdiri di altar dengan rasa bangga sebagai penguasa yang berhasil menaklukkan "tamengnya". Dan saat pria itu hendak menciumnya sebagai tanda kepemilikan, Nora akan menyerahkan kebenaran ini—kebenaran bahwa Adrian adalah pembunuh darah dagingnya sendiri.
Nora menyentuh perutnya yang rata, air matanya jatuh untuk terakhir kalinya.
"Dua hari lagi," bisik Nora pada kesunyian. "Dua hari lagi, dunia Adrian Thorne akan runtuh bersama gaun dua ratus juta dolar ini."
Malam itu, Nora tidur dengan hati yang membatu. Ia tidak lagi takut pada Adrian, tidak lagi takut pada Antonio, dan tidak lagi peduli pada Stella. Ia adalah wanita yang sudah mati di dalam, dan wanita yang tidak lagi memiliki apa pun untuk kehilangan adalah wanita yang paling mematikan.
Di kediaman Thorne, Adrian sedang menatap bintang-bintang dari balkonnya, membayangkan Nora mengenakan gaun berlian itu dan tersenyum padanya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kemilau dua ratus juta dolar itu, sebuah badai sedang bersiap untuk melumatnya tanpa sisa.