NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 06

“Beli buku baru lagi itu?” tanya Devan setelah turun dari motor dan melihat Tara sedang membaca buku novel di teras.

Tara mengangguk. “Iya. Baru beli tadi.”

Devan menghampiri Tara dan meletakkan kantong plastik di atas meja kecil samping Tara.

“Apa itu?” tanya Tara melirik kantong plastik yang dibawa Devan.

“Sop buah.”

“Tumben beliin sop buah? Aku kan nggak pesen.”

“Tadi kebetulan lewat tukang jualan sop buah langganan kamu dulu, terus ingat kamu deh. Makanya aku inisiatif beli.”

Tara menutup buku novelnya. “Mau dimakan disini apa di dalam?”

“Sini aja deh. Lebih seger. Lebih enak juga kayaknya makan sop buah di teras.”

“Oke.”

Tara masuk ke dalam rumah. Meletakkan bukunya di rak khusus buku samping ruang tamu, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil dua mangkok.

“Cerah banget tuh muka. Abis ketemuan sama pacar ya?” sindir Tara sambil menuang sop buah ke dalam mangkok.

Devan menegang sesaat. “Apaan sih.”

Tara mengedikkan bahu. “Kelihatan auramu cerah banget. Padahal biasanya pulang dari mana-mana selalu kecapekan. Lemah, lesu, lunglai.”

“Kamu bisa baca aura orang?” Devan melirik Tara.

“Bisa. Apalagi aura kamu. Gampang kebacanya.”

Tara menyodorkan mangkok yang sudah diisi sop buah ke arah Devan. Setelah itu dia mulai memakan sop buah miliknya. Devan mulai memakan sop buah dengan sikap yang kaku. Cukup terkejut dengan pertanyaan Tara tadi.

“Siapa dia?” tanya Tara tanpa menoleh. Dia fokus menyantap sop buah segar yang lebih menarik perhatiannya daripada melihat ekspresi Devan yang pasti canggung dan salah tingkah mungkin.

“Siapa apanya?” tanya Devan balik.

“Jujur aja lah. Kamu punya pacar kan?”

“Enggak. Ngawur kamu. Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu?”

“Curiga aja. Sikapmu beda,” jawab Tara acuh.

“Apa yang beda? Nggak ada tuh.”

“Ya kamu nggak ngrasain. Tapi aku ngrasain perubahannya. Tapi terserah sih kalau nggak mau ngaku. Aku ingetin aja kalau sampai aku tahu kamu punya pacar dan nglakuin hal hina itu lagi, maka kamu harus lepasin aku.” Tara berbicara tanpa emosi. Dia berbicara dengan santai sambil menikmati sop buahnya seolah kalimatnya barusan tak berarti apa-apa.

Devan meletakkan mangkoknya dan menatap Tara. “Siapa yang mempengaruhi kamu? Apakah Haris?”

Tara menoleh dan mengernyitkan dahi. “Kenapa jadi bawa-bawa Abang?”

“Ya siapa lagi coba. Cuma dia yang berambisi misahin kita. Aneh. Dia yang merestui pernikahan kita tapi dia juga yang paling ingin kita pisah,” ucap Devan tersenyum sinis.

“Wajar bukan kalau seorang kakak ingin melihat adiknya bahagia?”

“Aku selalu berusaha membuat kamu bahagia, Ra. Tiga tahun hubungan kita baik-baik aja. Tapi sekarang tiba-tiba kamu curigain aku. Nggak ada asap kalau nggak ada api. Pasti ada yang mempengaruhi kamu.”

Tara mencebik. “Terserah deh. Aku cuma ngingetin aja kok.”

Devan diam dan memilih untuk menghabiskan sop buahnya lalu masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun lagi. Tara memegang erat sendoknya. Ingin sekali menanyakan tentang seseorang yang bernama Alan itu. Namun dia tak punya keberanian untuk itu. Dia tak mudah percaya dengan kata orang sekalipun itu kata Abangnya sendiri.

Tara harus melihatnya sendiri untuk membuktikan apakah dugaannya benar atau tidak. Semua orang bisa berkhianat. Namun jika dia belum melihat dengan mata kepalanya sendiri, maka dia tak kan percaya sepenuhnya.

***

“Van, dimana lo? Gue udah di lobby sama Bapak dan Ibu,” ucap David lewat sambungan telepon.

“Iya tunggu, Mas. Gue keluar. Jangan kemana-mana. Nyasar nanti.”

“Oke.”

Setelah panggilan terputus, David mengedarkan pandangan mencari keberadaan adiknya yang di wisuda hari ini.

“Dimana Vano, Vid?” tanya Lia.

“Sebentar lagi dia kesini, Bu.”

Lia mengangguk. Lia begitu antusias karena akhirnya Vano bisa menyelesaikan kuliahnya tanpa banyak tingkah. Lia tak tahu saja bagaimana tingkah Vano di dalam kampus. Terutama yang berhubungan dengan perempuan cantik.

Sebenarnya, Lia dan Bram juga ingin David kuliah, namun David menolak. Sekolah SMA saja dia sering bolos dan banyak pacaran. Kalau kuliah, sayang sekali uang orang tuanya dibuang-buang karena David tak suka sekolah.

“Mas, Pak, Bu!”

David beserta kedua orang tuanya sontak menoleh. “Lama amat dah,” komentar David merasa kesal karena sedari tadi mereka berdiri di lobby.

“Sorry. Tadi banyak urusan di dalam. Ayo, Pak, Bu, kita ke ruangan wisuda.”

David beserta kedua orang tuanya mengangguk dan mengikuti langkah Vano. Setelah mengetahui tempat duduk mereka, Bapak dan Ibu pun langsung duduk. Sementara David hanya melirik sekilas tempat duduknya dan melangkah ke sisi gedung diikuti Vano. David enggan duduk lama-lama apalagi acaranya belum dimulai. David berdiri bersandar pilar besar sambil bermain ponsel. Sementara Vano juga berdiri di sampingnya sambil bermain ponsel.

“Kak David.”

David menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Vano yang ada di samping sang kakak juga ikut menoleh.

“Kamu…” David menyipitkan mata saat tahu siapa yang memanggilnya. David masih ingat siapa gadis itu.

“Wah bener kalau yang aku lihat itu Kak David,” ucap Rashi dengan mata berbinar bahagia.

Vano menatap Rashi bingung. “Kamu kenal dengan Masku, Shi ?”

Rashi melihat Vano. “Masmu? Jadi, Kak David adalah kakakmu?”

Vano mengangguk dan melihat David yang hanya diam saja. “Mas kenal sama Rashi?”

“Ya ampun, Kakak kemana aja? Aku cari di Tokonya Kak Devan nggak ada. Katanya Kakak udah nggak kerja lagi disana,” celetuk Rashi.

David menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. Tak menyangka akan bertemu dengan gadis ini lagi. “Ehm… itu… iya.. aku keluar.”

“Tunggu dulu. Kerja di Toko? Toko apa, Mas? Mas kan punya bengkel,” sahut Vano bingung.

“Dia ini sepupunya yang punya Toko ponsel. Sepupunya Devan, suami Tara,” ucap David.

Vano sontak terkejut. “Jadi, kalian sudah saling kenal lama?”

“Enggak,” jawab David singkat. David hanya tahu gadis itu dari Tara dan nggak kenal sama sekali.

Vano menatap Rashi yang sedari tadi terus memandangi David sambil senyum-senyum sendiri. Vano mencebik. Sama dia saja, juteknya minta ampun. Giliran sama kakaknya, full senyum sayang walau tanpa diminta.

“Sayang banget sih Kak David nggak kerja lagi disana. Tapi semenjak Kak David pergi, Kak Tara juga jarang ke Toko. Aku penasaran deh. Apa kalian dulu diam-diam selingkuh?”

David mendengus. “Nggak ada perselingkuhan.”

“Tapi kalian mesra banget loh waktu di Mall dulu,” ucap Rashi saat tak sengaja melihat David memijit kaki Tara di kursi sebuah Mall setelah mereka berbelanja untuk kebutuhan toko.

“Biasa aja sih. Ehm.. Sudah ya. Aku mau menemui Bapak dan Ibu dulu.”

David pun melangkah pergi tanpa menunggu jawaban. Dia tak kenal dengan Rashi jadi tak perlu basa basi.

Vano menghela napas jengah saat melihat Rashi masih menatap punggung David yang menjauh.

“Rashi,” panggil Vano.

Rashi menoleh. Dan ekspresinya pun langsung berubah. Vano terpana dengan senyuman manis Rashi yang ditujukan padanya.

“Duh.. senyummu manis kali, gadis cantik,” ucap Vano ikut tersenyum manis.

Rashi melangkah mendekati Vano. Masih dengan senyuman manisnya, Rashi berucap pelan,” Comblangin aku sama Kak David dong.”

Vano terbelalak, terkejut. “What?”

Bersambung ….

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!