Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23.
Lampu jalanan mulai menyala satu per satu, membiaskan cahaya remang-remang di sepanjang trotoar stasiun bus yang mulai sepi.
Arkan baru saja hendak melajukan mobilnya melewati jalanan itu ketika sudut matanya menangkap siluet yang sangat ia kenali.
Tasya. wanita yang dia kenal tadi siang. kini duduk meringkuk di bangku stasiun dengan bahu yang berguncang hebat.
Arkan menginjak rem mendadak. Ia menepi dan turun dari mobil menghampiri Tasya.
Suara isak tangis wanita itu terdengar sangat tersedu-sedu, seolah-olah seluruh beban dunia baru saja dijatuhkan ke pundaknya.
Tanpa suara, Arkan duduk di sampingnya dan menyerahkan selembar sapu tangan sutra berwarna abu-abu. Tasya tersentak, dia mendongak dengan mata yang sangat sembab dan wajah merah padam karena malu Arkan melihatnya dalam kondisi seperti ini.
"Ikut aku." Ajak Arkan.
"Aku tahu tempat yang bagus untuk menenangkan pikiran."
Tasya tidak menolak. Ia merasa terlalu lelah untuk sekadar bertanya ke mana mereka akan pergi.
Arkan membukakan pintu mobil dan Tasya masuk kedalam.
Sesampainya di sebuah titik pandang yang sepi di puncak bukit, Arkan mematikan mesin mobil. Tasya keluar dan langsung duduk di atas rerumputan sembari menunduk memeluk lututnya. Isak tangisnya belum berhenti, bahkan kini terdengar semakin sesak dan sesenggukan.
Arkan bersandar di badan mobil beberapa menit dengan tangan dimasukan ke saku celana sembari memerhatikannya sejenak sebelum akhirnya dia mendekat dan duduk di samping Tasya.
"Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arkan pelan.
Tasya hanya menggeleng kuat-kuat, tangannya semakin erat memeluk lutut.
"Tidak mau cerita?"
Tasya masih menggeleng, air matanya terus mengalir membasahi celananya.
"Apa kamu selalu begini? menyimpan semuanya sendiri sampai dadamu rasanya mau meledak?" Arkan menghela napas.
"Hei.... kamu butuh teman curhat. Apa perlu aku panggil Kiara ke sini sekarang?"
"Jangan!" Tasya akhirnya bersuara, meskipun serak dan terputus-putus.
"Jangan panggil Kiara. Aku... aku tidak pernah berbicara tentang rasa sakitku pada siapa pun. bebannya terlalu berat Arkan. Aku tidak ingin kesedihanku membuatnya ikut sedih. Dia sudah punya masalahnya sendiri."
"Pikiranmu salah." potong Arkan dengan serius.
Tasya menatap wajah Arkan sejenak, lalu kembali menaruh dagunya atas lututnya.
"Kiara tidak mungkin berpikir kamu menyusahkannya. Justru dia akan sangat sedih jika tahu sahabatnya menutupi luka sedalam ini sementara dia merasa kalian sangat dekat. Itu namanya berbagi beban." Kata Arkan.
Tasya menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa menyempit.
"Hanya sedikit sesak. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. mengingatnya saja sudah membuat air mataku jatuh tanpa izin." Balas Tasya.
"Mulailah dari awal. Aku tidak akan memotong. Aku di sini hanya untuk mendengarmu." ujar Arkan, menatap Tasya dengan binar mata yang jauh lebih dewasa dari dia yang biasanya.
Tasya menyeka pipinya dengan sapu tangan Arkan yang kini sudah basah. Ia mulai bercerita dengan suara yang bergetar.
"Semuanya dimulai saat aku kelas 5 SD dan adikku yang masih berlatih caranya jalan. Ayahku... dia menikah lagi secara diam-diam dan pergi meninggalkan kami begitu saja demi wanita lain. Ibuku hancur, tapi dia tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Dia bekerja mati-matian di kota besar agar aku dan adikku bisa sekolah."
Tasya berhenti sejenak, menelan kepahitan memorinya.
"Ibu masuk ke sebuah perusahaan besar dengan gaji lima juta sebulan. bagi kami saat itu, itu uang yang banyak. Ibu mengirimkan separuh gaji itu ke bibiku, saudara Ayah, untuk biaya hidup kami karena kami tinggal dengan Nenek dari pihak Ayah. tapi kenyataannya? Bibiku jahat. kami hanya diberi separuh dari jumlah itu. kami makan seadanya sementara mereka bersenang-senang dengan uang keringat Ibuku."
"Aku sangat membenci mereka hiks...... hiks..... Aku benar-benar tidak mau memaafkan satupun dari mereka." Tangis Tasya.
Arkan mengerutkan kening, tangannya terkepal di samping tubuh.
"Lalu saat aku masuk SMP. Ayah tiba-tiba kembali membawa wanita itu. Dia membeli sebuah rumah dan meminta kami tinggal bersamanya. Aku pikir keadaan akan membaik, tapi ternyata itu neraka baru. wanita itu sangat manipulatif. di depan Ayah dia bersikap manis tapi di belakangnya dia memperlakukan kami seperti orang asing. aku sering bertengkar dengannya dan Ayah? dia selalu percaya padanya. selalu......"
Tasya terisak lagi, dadanya benar-benar sesak.
"Sekarang hubunganku dengan Ayah sangat buruk. kami tidak bicara selama beberapa tahun terakhir. meskipun pernah di bawah satu atap yang sama. setelah aku lulus sekolah, Ibu akhirnya memutuskan untuk mengurus hak asuh di pengadilan. tapi karena kelicikan mereka. hak asuh adikku jatuh ke tangan Ayah dan hanya aku yang jatuh ke tangan Ibu."
"Jadi sekarang kamu tinggal dengan Ibumu?" tanya Arkan lembut.
Mendengar pertanyaan itu, tangis Tasya pecah lebih hebat dan menyakitkan dari sebelumnya.
"Ibuku... Ibuku sudah meninggal setahun lalu. Dia pergi karena sakit dan kelelahan."
Arkan tertegun. Ia tidak menyangka luka itu sedalam ini.
"Ibu bilang dia menyesal menikah dengan Ayah... tapi dia tidak pernah menyesal melahirkan kami. kata-kata itu... itu sangat sakit diingat setiap hari." isak Tasya.
Tanpa ragu, Arkan menarik Tasya ke dalam pelukannya. Ia mendekap wanita itu erat, membiarkan Tasya menangis di dadanya.
"Adikku... dia sering meneleponku, menangis bilang hidupnya tidak baik di sana. Ibu tiriku menyiksanya secara mental. Aku bingung Arkan. Aku hanya staf biasa. Aku tidak punya cukup uang untuk menyewa pengacara dan merebut hak asuh adikku. Aku ingin aku yang membiayai sekolahnya. Aku ingin dia tinggal bersamaku tapi ayahku tidak mengizinkannya." Keluh Tasya benar-benar tidak sanggup menanggung bebannya.
Arkan melepaskan pelukannya sedikit, memegang kedua bahu Tasya dan menatapnya tajam.
"Dengarkan aku. perusahaan kami punya divisi hukum yang kuat. Aku akan mengatur jalur hukum untukmu dengan pengacara terbaik yang kami miliki."
Tasya tertegun, matanya membelalak tak percaya. "Memangnya bisa? Aku... aku hanya staf biasa dan bukan siapa-siapa."
"Tentu saja bisa," tegas Arkan.
"Kami memprioritaskan mental dan kesejahteraan karyawan kami. apalagi ini menyangkut perlindungan anak." Tambahnya.
"Benar-benar bisa? Kau tidak sedang menghiburku kan?"
Arkan mengangguk mantap. Tasya langsung memeluk Arkan kembali, kali ini dengan rasa terima kasih yang teramat sangat.
"Terima kasih Arkan... terima kasih banyak."
"Sekarang berhenti menangis!" Arkan mencubit hidung Tasya pelan, mencoba mencairkan suasana.
"Matamu jadi jelek karena bengkak begitu."Kata Arkan membuat Tasya tertawa kecil di sela sisa isaknya.
"Berdiri. Aku akan mengantarmu pulang atau... kau mau berteriak dulu untuk membuang sisa sesaknya?" tawar Arkan.
"Boleh?" tanya Tasya ragu.
"Jelas boleh. teriaklah sekeras yang kamu mau. anggap saja kamu sedang memaki beban hidupmu."
Tasya menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak sekuat tenaga ke arah hamparan lampu kota di bawah sana.
"AAAARRRRGGGGHHHHH!!!!" Teriaknya beberapa kali.
Setelah berteriak, Tasya mengembuskan napas lega. Ia menoleh ke arah Arkan dan memberikan senyuman tulus pertamanya malam itu.
Keduanya kemudian berjalan kembali ke mobil dengan perasaan yang jauh lebih baik.
Arkan mengantar Tasya sampai ke depan kos-kosannya. sebelum masuk, Tasya berdiri di depan pintu gerbang dan melambaikan tangannya pada Arkan yang masih menunggu di dalam mobil sampai Ia masuk dengan aman.
"Sial! dia benar-benar cantik." Gumam Arkan ingin menyatakan perasaannya pada Tasya sesegera mungkin.
Mungkin Tasya akan jadi pacar pertamanya. setelah dia mengoleksi berbagai wanita, dia pikir dia sudah jatuh hati dengan wanita itu pada pandangan pertama mereka.
Bersambung...
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭