NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 035

"Ziva ada sama gue, Bang," jawab Aksa santai, suaranya sangat stabil dibandingkan suara Abian yang sudah mencapai oktaf tertinggi.

​Di seberang telepon, Abian terdiam sejenak. "Lah? Kenapa suaranya cowok? Bentar... Aksa?! Ini lo?!"

"Kenapa, Bang?" tanya Aksa lagi, tangannya sibuk menuangkan jus jeruk ke gelas Ziva tanpa sedikit pun terlihat panik.

​"Abang lo bilang?! Sejak kapan gue jadi abang lo, hah?! Jangan sok akrab ya lo kulkas dua pintu!" semprot Abian frustrasi. "Balikin adek gue sekarang! Lo culik dia ke mana?!"

​Aksa melirik Ziva yang sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tampak sangat ingin menghilang dari muka bumi. Sudut bibir Aksa terangkat sedikit. "Kenapa... Kakak Ipar?" jawab Aksa singkat, padat, dan jelas.

Hening.

​Satu detik... dua detik...

​"APA LO BILANG?! KAKAK IPAR?!" teriak Abian di seberang sana, terdengar suara benda jatuh—sepertinya Abian baru saja menyenggol gelas jusnya sendiri karena kaget. "Lah, malah ngelunjak nih anak! Aksa, lo beneran ya! Gue belum kasih restu, ya! Belum!"

Dengan gumaman pendek, matanya tetap terfokus pada Ziva yang kini menatapnya dengan pandangan horor.

​"Hmm. Cuma kasih tau," jawab Aksa irit bicara, seolah memberi pengumuman bahwa matahari terbit dari timur—sesuatu yang absolut dan tidak bisa diganggu gugat.

​"Gak ada ya, gak ada Aksa! Pokoknya gue belum restuin! Lo pikir gampang dapetin adek gue? Langkahin dulu kaki gue!" semprot Abian berapi-api.

Aksa tidak membalas makian itu. Sambil tetap menempelkan ponsel Ziva di telinganya dengan bahu, sebelah tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel miliknya sendiri. Jemarinya menari lincah di atas layar, mengirimkan sesuatu yang jauh lebih efektif daripada ribuan kalimat argumen.

​Hening sejenak di seberang sana. Ziva bisa mendengar suara notifikasi masuk dari ponsel Abian lewat speaker ponselnya sendiri.

​"Aksa... lo... lo... lo serius sama adek gue?" Suara Abian mendadak berubah. Tidak ada lagi teriakan, hanya ada nada bicara yang bergetar antara haru, kaget, dan tidak percaya.

​"Hmm," sahut Aksa pendek.

​"Oke."

​Tut.

​Sambungan diputus begitu saja oleh Abian. Ziva melongo, menatap layar ponselnya yang kini kembali ke wallpaper.

Di Kediaman Winata

​Abian menatap layar ponselnya dengan mata berbinar-binar. Sebuah notifikasi transfer masuk dari m-banking miliknya baru saja muncul. Sebuah angka yang membuat harga diri Abian sebagai kakak pelindung mendadak goyah dalam satu kedipan mata.

​"Wah, maafin Abang ya, Ziva... Hehe, lumayan nambah uang jajan nih dari calon adek ipar," gumam Abian sambil senyum-senyum sendiri.

​"Hahahaha!" Tawa Abian meledak di ruang tengah yang sepi itu. "Lima puluh juta?! Gila!

Hahaha!" Ia kembali tertawa sambil memeluk ponselnya, merasa bahwa merestui Aksa adalah keputusan finansial terbaik dalam hidupnya tahun ini.

Kembali ke ​Apartemen Aksa

​Ziva masih mematung di kursinya, menatap Aksa yang sekarang dengan santai meletakkan kembali ponsel Ziva di atas meja makan.

​"Lah? Begitu aja? Kamu nggak bicara aneh-aneh kan, Aksa? Kok Abang langsung setuju?" tanya Ziva penuh selidik. Ia merasa ada yang tidak beres. Abian itu tipe kakak yang protektifnya minta ampun, tidak mungkin dia menyerah hanya dengan gumaman "hmm" dari Aksa.

​Aksa menarik kursi di samping Ziva, lalu menyodorkan sendok ke tangan gadis itu. "Rahasia, sayang. Ayo lanjut lagi makanannya, katanya mau pulang kan?"

Ziva memicingkan matanya penuh curiga, menatap Aksa yang tampak terlalu tenang setelah "menaklukkan" Abian. "Aksa, jujur ya. Kamu nggak ngancam Abang Abi kan?"

​Aksa tidak bergeming. Ia justru dengan telaten memotong daging wagyu di piring Ziva menjadi potongan-potongan kecil agar gadis itu mudah memakannya. "Udah, nggak usah curiga gitu. Nih, udah aku potong dagingnya. Makan yang banyak, hmm?"

​"Cih, mengalihkan pembicaraan," jawab Ziva ketus, namun tetap menerima potongan daging itu. Bagaimanapun juga, perut laparnya tidak bisa diajak kompromi.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya diisi suara denting alat makan. Setelah merasa kenyang dan tenaganya pulih, Ziva meletakkan serbetnya. "Ayo antar aku pulang, Aksa."

​"Hmm, aku ambil kunci mobil dulu," sahut Aksa.

​Ziva menunggu sejenak sambil merapikan gaun peach-nya. Tak lama, Aksa kembali dan mereka berjalan keluar menuju lift. Di dalam kotak besi yang bergerak turun itu, keheningan kembali menyergap. Ziva yang masih penasaran kembali membuka suara.

​"Aksa, kamu beneran nggak ngomong apa-apa kan sama Bang Abi?" tanya Ziva, mencoba memecah keheningan di dalam lift.

Aksa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih tangan Ziva, menggenggamnya, lalu mulai memainkan jemari lentik gadis itu dengan gemas, seolah itu adalah mainan favorit barunya.

​Ziva mendengus, merasa diabaikan. "Iiih, Aksa! Aku bicara sama lo ya!"

​Aksa menghentikan gerakannya sebentar, matanya melirik Ziva tajam namun teduh.

"Sayang... 'aku-kamu', bukan 'lo-gue'. Paham?"

​"Bodo amat!" jawab Ziva ketus sambil memalingkan wajah.

​"Bilang apa tadi?" pancing Aksa, suaranya merendah satu oktav, memberikan kesan intimidasi yang manis.

​"Bodo amat!" teriak Ziva keras, tepat saat pintu lift berdenting terbuka.

Ting!

​Dan—

​Cup.

​Sebuah kecupan singkat mendarat tepat di bibir Ziva. Hanya sekilas, namun sukses membuat semua kata-kata makian di tenggorokan Ziva tertelan kembali.

​Aksa menarik dirinya, menjauhkan wajahnya sedikit dari Ziva dengan seringai tipis yang sangat menyebalkan sekaligus mempesona. Ia menatap Ziva yang kini matanya melotot sempurna dengan bibir yang sedikit terbuka.

​Ziva membeku. Dunia seolah berhenti berputar. Jantungnya bukan lagi berdegup, tapi meronta-ronta tak karuan seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Udara di dalam lift mendadak terasa tipis.

​"A-ksa... kamu... kamu... itu... itu first kiss gue!" gagap Ziva dengan wajah yang sudah meledak merah padam hingga ke leher.

​"Bagus dong," jawab Aksa singkat, suaranya tenang tanpa dosa. Ia menarik tangan Ziva keluar dari lift menuju parkiran bawah tanah. "Berarti aku orang pertama yang tandain kamu mili aku."

Perjalanan menuju kediaman Winata terasa jauh lebih panjang bagi Ziva. Ia duduk menyamping, menempelkan dahi pada kaca jendela mobil yang dingin, mencoba meredam panas yang masih menjalar di pipinya. Pikirannya benar-benar kacau.

Sebagai Zura di kehidupan sebelumnya, ia pikir ia sudah cukup berpengalaman menghadapi laki-laki, tapi Aksa... Aksa adalah variabel yang tidak masuk akal.

​First kiss gue... di dalam lift? batin Ziva meronta. Dan dia bilang 'bagus dong'? Cowok ini beneran nggak punya urat malu atau gimana sih?

​Sesekali Ziva melirik ujung sepatu gaun peach-nya, lalu beralih melirik tangan kiri Aksa yang memegang setir dengan santai. Jemari panjang itu, yang beberapa menit lalu menggenggam tangannya dengan gemas, kini terlihat begitu tenang.

​Sementara itu, di balik wajah "kulkas dua pintu" yang tetap terjaga, gejolak di dada Aksa tidak kalah hebatnya. Ia menginjak pedal gas dengan perasaan yang sulit didefinisikan.

​Shitt, Aksa memaki dirinya sendiri dalam diam. Ia melirik Ziva lewat sudut mata, melihat gadis itu tampak seperti udang rebus yang sedang berusaha bersembunyi di balik rambut terurainya.

​Aksa tahu tindakannya di lift tadi sangat impulsif. Ia bukan tipe orang yang bertindak tanpa perhitungan, tapi melihat bibir Ziva yang mengerucut saat meneriakkan "Bodo amat", pertahanannya runtuh begitu saja.

Sensasi lembut dan manis yang meski hanya berlangsung sepersekian detik itu terus membayangi pikirannya. Ada keinginan liar untuk mengulanginya, namun Aksa segera menarik napas panjang, mencengkeram setir sedikit lebih kuat.

​Tahan, Aksa. Jangan bikin dia takut. Lo udah dapet statusnya, jangan sampe dia kabur gara-gara lo terlalu agresif, batinnya memperingatkan.

​Mobil SUV hitam itu akhirnya memasuki kawasan perumahan elit tempat tinggal Ziva. Suasana sore yang mulai temaram membuat lampu-lampu taman di sepanjang jalan mulai menyala.

​"Kita hampir sampai," ucap Aksa memecah keheningan. Suaranya sedikit lebih serak dari biasanya.

​Ziva tersentak, membetulkan posisi duduknya dan merapikan gaunnya yang sedikit kusut. "Eh? Iya. Turunin di depan pager aja, biar aku jalan sendiri."

​"Nggak," tolak Aksa mutlak. "Aku antar sampai depan pintu."

*

*

*

​Mobil SUV hitam itu akhirnya berhenti dengan sempurna di depan gerbang megah kediaman Winata. Mesin mobil menderu halus sebelum akhirnya mati, menyisakan kesunyian yang justru terasa lebih canggung bagi Ziva. Ia meremas ujung gaun peach-nya, masih merasa bibirnya sedikit kebas karena kejadian di lift tadi.

"Udah sampai," ucap Aksa datar.

​"I-iya..." Ziva menjawab pelan. Ia hendak meraih gagang pintu, namun Aksa bergerak lebih cepat.

Aksa keluar dari mobil, memutari mobil SUV-nya yang angkuh, dan membukakan pintu mobil untuk Ziva.

"Ayo," Aksa mengulurkan tangannya, telapak tangannya terbuka lebar menunggu sambutan Ziva.

​Ziva menatap tangan itu sejenak, lalu perlahan menyambutnya. Begitu jemari mereka bertaut, rasa hangat kembali menyetrum saraf Ziva. Ia keluar dari mobil dengan langkah yang masih sedikit kaku karena luka di lututnya, namun genggaman Aksa yang stabil membuatnya merasa aman.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan tiga detik.

​Tepat di depan pintu masuk, Abian sudah berdiri dengan tangan bersedekap di dada. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai marmer teras dengan ritme yang tidak sabar.

​"Oh, akhirnya lo bawa balik juga ya adek gue," celetuk Abian dengan nada menyindir.

Aksa sama sekali tidak terlihat terintimidasi. Ia bahkan mengabaikan keberadaan Abian seolah-olah pria itu hanyalah pajangan pot bunga di teras. Perhatiannya sepenuhnya terfokus pada gadis di sampingnya.

​Aksa melepaskan tangan Ziva, lalu mengusap puncak kepala gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut. "Sana masuk. Jangan lupa mandi, terus makan lagi yang banyak."

​Ziva mengangguk kecil, wajahnya memerah di depan Abangnya sendiri. "Iya, Aksa. Aku duluan ya... kamu hati-hati pulangnya."

​Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Ziva segera berlari masuk ke dalam rumah, melewati Abian begitu saja tanpa menoleh.

​Abian melongo, menatap punggung adiknya yang menghilang di balik pintu kayu jati.

"Wah, nggak bener nih gue! Dari tadi gue berdiri di depan mereka seolah-olah gue ini patung apa?" gumam Abian tak percaya.

"Dan apa tadi? Aku-kamu panggilannya? Ckckck, dunia beneran mau kiamat."

​Aksa berbalik, melangkah menuju pintu kemudi mobilnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, langkahnya tertahan ketika Abian menghadang jalannya.

​"Heh, Kulkas! Tunggu dulu!" Abian mencengkeram bahu Aksa. "Lo nggak macem-macem kan sama adek gue selama di tempat lo tadi kan?"

Aksa melirik tangan Abian di bahunya, lalu menatap mata pria itu dengan sorot yang sangat tenang. "Gak."

​"Bener ya? Kalau sampe dia nangis, gue nggak peduli berapa digit yang lo transfer tadi, gue tarik restu gue!" ancam Abian, meski suaranya sedikit goyah karena teringat saldo m-banking-nya.

​"Gue balik," sahut Aksa singkat sambil menepis tangan Abian dengan halus. Ia membuka pintu mobilnya.

​"Ya udah sana balik! Pergi lo dari rumah gue!" usir Abian ketus.

​"Jam tujuh malam gue kesini lagi," ucap Aksa sebelum masuk ke dalam mobil.

​Abian mengerjapkan mata, bingung. "Lah? Ngapain lagi lo kesini malem-malem?"

​Aksa menurunkan kaca mobilnya sedikit. "Ketemu papa lo. Gue mau izin."

​Abian berkacak pinggang, tawanya meledak sinis. "Izin apaan dah? Kalau mau izin tuh sama guru di sekolah, bukan sama bokap gue. Bokap gue nggak ngurusin absensi lo!"

​Aksa mendengus pelan, ekspresi wajahnya menunjukkan betapa ia merasa lawan bicaranya ini sedang sangat lemot. "Bukan itu."

​"Lalu apa kalau bukan itu?" desak Abian penasaran.

​Aksa tidak menjawab. Ia justru menyalakan mesin mobilnya, menutup kaca, dan menjalankan SUV hitam itu begitu saja meninggalkan pekarangan rumah Winata. Ia merasa berdebat lebih lama dengan Abian hanya akan menghabiskan sisa energinya yang harus ia simpan untuk menghadapi Baskara nanti malam.

​Abian berdiri mematung di pinggir jalan, menatap asap knalpot mobil Aksa yang perlahan menghilang. "Lah? Apaan sih? Nggak jelas amat tuh anak!"

​Ia menendang kerikil di depannya dengan kesal. "Main pergi aja! Emang dasar menantu nggak ada sopan-sopannya!" Abian tersentak dengan ucapannya sendiri. "Eh? Menantu? Amit-amit jabang bayi!"

1
CaH KangKung,
astaga...ikut deg"an aq....aksaaaaa....
ana Ackerman
salting brutal gue thorrr
W: hehe 🤭
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak💪
ana Ackerman
serius kak bab ini ngk bisa nahan tawa anjir🤣
ana Ackerman
lanjut kak💪
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
mom_nurul
aku masih stay disini kak,ga mau berpaling 🤭
di tunggu selalu update nya👍
W: siap👌
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!