Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. WATACI
Semua terperangah tak percaya saat vas bunga terlempar ke arah Nike. Namun, sebelum vas itu sempat mengenai tubuhnya, siku Adnan menangkisnya terlebih dulu.
Prank!
Vas porselen menghantam keras ke arah bahu hingga pecat berserakan di lantai.
"Bara! Apa yang kamu lakukan?" pekik Kirana.
Nike yang sempat terpejam membuka matanya perlahan. Ia sempat terpaku beberapa detik saat mata jernih itu menatap netranya.
Adnan berbalik ke arah Bara. Ia tak marah ataupun bereaksi berlebihan. Ia tenang seolah tak terjadi apa pun padanya.
Dia tahu statusnya, dia hanya pengacara yang punya hutang budi pada keluarga Aryasatya. Dia bukan orang yang tak tahu rasa berterima kasih, hingga walau Bara melukainya, ia tetap menahannya.
"Maaf Tuan Bara. Saya mohon jaga sikap Anda. Ini sangat merugikan bagi Anda, jika sampai Ibu Direktur terluka, Anda bisa saja masuk penjara," jelasnya mencoba memberi pengertian.
Nike menatap punggung bidang pria di depannya. Ia maju selangkah hingga sejajar dengan Adnan.
Tatapannya dingin saat Nike menoleh ke arah Adnan. "Kau tidak perlu ikut campur, Tuan Andan. Saya bisa atasi ini sendiri."
"Lelaki seperti dia memang kadang perlu merasakan dinginnya hidup di balik jeruji besi. Biar dia tahu, hidup tak selalu tentangnya. Orang yang sangat tak berguna," tambah Nike.
Ia dengan langkah santai segera meninggalkan ruangan. Meninggalkan ketegangan yang masih terasa menyesakkan.
"Sialan! Kau semakin berani denganku, hah!" teriak Bara, ia hendak menyusul Nike namun, Adnan menghalangi.
"Sudahlah Tuan Bara. Saya peringatkan agar Anda jangan berbuat macam-macam. Amanat Tuan Wiguna sudah begitu jelas, saya hanya tidak ingin Anda nanti menyesal," ungkap Adnan.
Bara yang masih dalam pengaruh alkohol berjalan ke arahnya dengan tubuh sempoyongan. "Kalian, kalian semua sengaja bersekongkol untuk merebut hartaku, hah! Liatlah Ma, mereka sudah berani padaku. Kau, Adnan. Kalau bukan karena keluarga Aryasatya kau bukan apa-apa."
Bara menunjuk-nunjuk dada Adnan dengan kasar, seakan menekankan jika tanpa bantuan dari Aryasatya dia tak akan pernah jadi seperti sekarang ini.
Menjadi pengacara terkenal dan memiliki jabatan penting di Arta Dirgantara Group. Menjadi penasehat hukum bagi perusahaan besar ayahnya.
"Untuk apa kau membela wanita jalang yang tak tahu terima kasih itu, hah! Kau nanti hanya akan dimanfaatkan olehnya, lebih baik kau bela aku. Bantu aku untuk mengambil alih semua aset milik ayahku, yang memang seharusnya itu untukku. Bagaimana?" bisik Bara, tangannya melingkar di bahu lebar Adnan.
Adnan hanya menyeringai tipis. "Maaf Tuan Bara. Saya tidak mungkin menghianati amanat ayah Anda. Saya hanya menjalankan amanat darinya."
"Untuk apa? Untuk apa kau menuruti perkataan orang mati," sahut Sasmita. Ia berjalan mendekat ke arah Adnan.
Dengan mendongak angkuh ia menambahkan. "Ini semua pasti rencana licik anak jalang itu. Ibunya aja seorang pelakor, pasti mereka sudah lama merencanakan ini."
Mata Sasmita memicing ke arah Kirana yang tak sanggup berkata-kata. Kirana hanya diam sambil memeluk Eliano putranya.
"Jangan asal bicara kalian! Ibu dan kakakku tidak pernah melakukan hal jahat seperti itu," seru Eliano, ia menggenggam erat pergelangan tangan ibunya.
"Tau apa kau bocah. Kau itu hanya anak haram yang dikandung ibumu, kau bukan anak Wiguna, tau!" timpal Sasmita.
"Sudah cukup! Jangan pernah kamu menuduhku seperti itu, itu semua tidak benar!" pekik Kirana dengan mata berlinang.
Namun, Sasmita seakan enggan berhenti. Kebencian di dalam hatinya sudah mendarah daging semenjak kehadiran Kirana di rumah mereka.
Adnan hanya bisa menggeleng pelan. Seakan pusing dengan semua perdebatan yang tak berujung.
"Sudah cukup semuanya! Keputusan ini diambil jauh sebelum beliau wafat. Jadi saya mohon tolong terima, jika ingin menuntut silahkan datang ke pemakaman, dan bicarakan sendiri dengan Beliau," ujar Adnan, ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Tugas saya sudah selesai di sini. Jadi saya pamit."
Sebelum melangkah pergi Adnan kembali berbalik. "Oh iya, satu lagi. Tuan Bara dan Nyonya Sasmita, silahkan tinggalkan rumah ini. Jika ingin tinggal di kota ini, Anda harus tinggal terpisah, silahkan pilih rumah lain selain rumah ini."
Adnan segera berlalu begitu saja meninggalkan mereka.
Sasmita hanya bisa menyentakkan kakinya dengan kesal. Sementara Bara hanya menatap dengan tatapan kosong seakan tak percaya dengan keputusan sang ayah.
Kirana dan Eliano pun bergegas meninggalkan ruangan, takut menjadi sasaran kemarahan anak dan ibu itu.
Di bawah pencahayaan lampu meja yang hangat, Nike terlihat sedang meletakkan kedua tangannya di pelipis, matanya menatap tajam namun kosong ke kejauhan.
Meja kerjanya penuh dengan tumpukan dokumen hitam dan sebuah laptop yang menyala. Namun, pikirannya bergulat dengan amanat yang baru saja ia dengar.
"Sampai kamu mati pun. Kamu tidak melepaskan aku, Yah. Sebegitu bencikah kamu padaku?" gumam Nike sambil memijit pelan keningnya.
Bahunya merosot di sandaran kursi kebesarannya. Tatapannya redup dan sayu, seolah melepas semua lelah di pundak yang selama ini ia emban.
Ia ingin menjalani hidup sesuai keinginannya, namun sang Ayah tak pernah mengizinkan. Hidup disiplin dan terencana sudah menjadi wejangan dari ia masih kecil.
Saat ia mengira akan bebas, justru ayahnya semakin mencekiknya. Disaat gulatan batinya tengah bergemuruh, tiba-tiba ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
Ia menoleh menatap tajam ke arah pintu. "Masuk!"
Sosok di balik pintu sempat membuatnya membelalak sejenak.
"Untuk apa kau ke sini? Bukannya semuanya sudah jelas," ucap Nike dingin.
Adnan melangkah dengan tenang. Dari dalam tas ia mengeluarkan sebuah amplop coklat yang masih tersegel.
"Ini untukmu dari Tuan Wiguna. Dia ingin Bu Direktur membacanya saat sendiri, saya pun tidak tahu apa isinya," ungkapnya.
Adnan mundur beberapa langkah ke belakang. "Tugas saya sudah selesai, jadi saya akan pergi karena masih ada masalah yang harus saya urus."
Tanpa menunggu jawaban Nike, Adnan segera berbalik dan menghilang dari balik pintu yang kosong. Sementara Nike hanya fokus dengan surat yang ada di tangannya.