NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Cahaya matahari pagi yang menyusup melalui celah-celah genteng rumah Agus terasa seperti jarum panas yang menusuk matanya yang merah. Agus baru saja berhasil terlelap selama dua jam setelah pulang dari pasar induk subuh tadi, namun tubuhnya dipaksa bangun oleh rasa nyeri yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Pergelangan kaki kirinya kini sudah tidak bisa lagi disebut sebagai bagian tubuh yang normal, ukurannya hampir dua kali lipat dari ukuran aslinya, kulitnya meregang kencang hingga mengkilap, dan warnanya berubah menjadi ungu kehitaman yang mengerikan.

Ia mencoba menggeser posisinya di atas kasur lantai, namun gerakan sekecil apa pun langsung mengirimkan gelombang rasa sakit yang menyentak hingga ke pangkal paha. Agus menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan erangan agar tidak pecah dan membangunkan ayahnya di ruang tengah. Keringat dingin mulai membasahi kaos kusamnya yang sudah berbau debu pasar dan sisa keringat semalam. Di dalam kamarnya yang pengap dan hanya berukuran dua kali tiga meter itu, Agus merasa terjebak dalam tubuhnya sendiri yang mulai menyerah.

"Gus... kamu sudah bangun, Nak?" suara ibu agus terdengar sangat pelan dari balik pintu kayu yang sudah lapuk.

Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi derit yang memilukan. Ibu agus masuk dengan membawa sebuah baskom plastik berisi air hangat yang mengepulkan uap tipis, serta sebuah kain kompres yang sudah mulai pudar warnanya. Wajah ibunya tampak sangat lesu, guratan-guratan di dahinya terlihat lebih dalam di bawah cahaya pagi yang remang-remang. Matanya menunjukkan jejak tangis yang panjang setelah melihat kondisi anaknya yang pulang dalam keadaan hancur subuh tadi.

"Ibu... tolong bantu Agus duduk," bisik Agus dengan suara yang pecah dan serak. Kerongkongannya terasa sangat kering, seolah-olah ia telah menelan debu jalanan sepanjang malam.

Ibu agus meletakkan baskom itu di lantai, lalu dengan tenaga yang tersisa, ia membantu menyandarkan tubuh Agus pada dinding papan rumah yang dingin. Saat kain sarung yang menutupi kaki Agus tersingkap, ibu agus seketika menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh tanpa permisi. "Ya Allah, Gus... kaki kamu sudah hancur begini. Kamu tidak boleh keluar rumah lagi hari ini. Biar Ibu yang cari pinjaman sisa lima puluh ribunya ke rumah Pak RT atau siapa saja yang bisa bantu."

"Jangan, Bu. Jangan minta-minta lagi. Kita sudah terlalu banyak berhutang budi pada tetangga," Agus bersikeras, meskipun napasnya tersengal menahan perih. Ia mencoba menggerakkan kaki kanannya yang masih sehat untuk mencari tumpuan berdiri, namun kepalanya langsung terasa berputar. "Agus masih punya waktu sampai jam empat sore. Mas Totok bilang begitu semalam."

"Kamu gila, Gus! Apa uang tiga ratus ribu itu lebih berharga daripada nyawamu? Kalau kakimu ini sampai membusuk atau harus diamputasi, bagaimana nasib kita?" ibu agus mulai menangis kencang, sebuah tangisan keputusasaan yang selama ini ia coba sembunyikan di depan suami dan anaknya.

Di ruang tengah, suara batuk bapak agus yang berat terdengar menyela perdebatan itu. Suara itu kering dan menyesakkan, sebuah bunyi yang selalu mengingatkan Agus bahwa waktu ayahnya tidaklah banyak. Rupanya, bapak agus sudah mendengar semuanya sejak tadi.

"Gus... kemari, Nak," panggil bapaknya dengan suara yang parau, nyaris berbisik.

Dengan sisa harga diri yang masih ia miliki, dan menggunakan sebilah kayu jemuran panjang sebagai penyangga darurat, Agus merangkak keluar dari kamarnya. Setiap geseran tubuhnya di atas lantai semen yang retak terasa seperti siksaan abadi. Ia sampai di ruang tengah dan mendapati bapaknya sedang duduk bersandar pada kursi panjang kayu. Bapaknya menatap kaki Agus dengan mata yang berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang membuat hati Agus terasa lebih sakit daripada pergelangan kakinya.

Bapak agus merogoh sesuatu dari bawah bantal kusamnya. Sebuah benda kecil yang dibungkus dengan kain hitam beludru yang sudah mulai botak permukaannya. Dengan tangan yang gemetar hebat karena usia dan penyakit, ia membuka bungkusan itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin emas polos yang sudah mulai pudar warnanya, namun masih memancarkan sisa-sisa kejayaan masa lalu.

"Ini... satu-satunya harta yang Bapak punya. Cincin kawin Bapak dan Ibu dulu," bapak agus menyodorkan cincin itu pada Agus. "Bapak simpan ini bertahun-tahun untuk keadaan paling darurat. Tadinya, Bapak ingin memberikan ini sebagai modal maharmu nanti saat kamu menemukan wanita pilihanmu. Tapi sepertinya, keadaan sekarang jauh lebih darurat daripada pernikahanmu nanti."

Agus menggeleng kuat-kuat. "Jangan, Pak. Itu simbol cinta Bapak dan Ibu. Agus tidak mau mengotorinya dengan hutang koperasi. Agus akan cari jalan lain."

"Ambil, Gus! Jangan keras kepala!" suara bapak agus meninggi, namun seketika ia tersedak oleh batuknya sendiri. "Daripada kamu kehilangan masa depanmu karena kaki yang cacat, lebih baik kita kehilangan emas ini. Emas bisa dibeli lagi, tapi tubuhmu tidak ada penggantinya."

Agus tertunduk dalam-dalam. Air matanya jatuh mengenai lantai semen yang dingin. Ia merasa menjadi laki-laki paling tidak berguna di muka bumi. Ia tidak bisa melindungi harta satu-satunya milik orang tuanya, dan ia bahkan tidak bisa melindungi kesehatan tubuhnya sendiri. Akhirnya, dengan tangan yang gemetar, ia menerima cincin itu. Logam dingin itu terasa sangat berat di telapak tangannya, seberat beban moral yang kini ia pikul.

Setelah ibu agus pergi menuju toko emas di pasar desa untuk mengurus cincin itu, Agus duduk sendirian di teras depan. Ia menyandarkan kayu penyangganya pada tiang rumah yang sudah mulai dimakan rayap. Udara pagi itu terasa lembap, membawa aroma tanah basah dan asap dapur dari rumah tetangga. Agus meraih ponselnya yang layarnya retak melintang. Ia melihat belasan notifikasi pesan dari Nor Rahma yang masuk sejak semalam.

Nor Rahma (08.30): "Mas Agus, kenapa ponselmu dimatikan? Aku benar-benar khawatir. Apa kerjamu seberat itu sampai tidak bisa mengirim satu pesan singkat saja? Tolong kabari aku segera setelah kamu bangun."

Nor Rahma (09.15): "Mas, aku merasa kamu sedang sengaja menjauh. Apa karena kiriman vitamin kemarin? Kalau itu membuatmu merasa tidak enak atau tersinggung, aku benar-benar minta maaf. Aku hanya ingin menjadi orang yang berguna untukmu, tidak lebih."

Agus menatap barisan kalimat itu dengan pandangan yang kosong. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya melihat perhatian Rahma, namun rasa hangat itu segera berganti dengan rasa perih yang luar biasa. Ia merasa sangat bersalah. Di saat Rahma memberikan kasih sayang yang tulus dari dunianya yang bersih, Agus justru menghilang di dunianya yang kotor, bertaruh nyawa di tengah tumpukan karung kol demi uang receh.

Ia mulai mengetik balasan dengan jempol yang masih menyisakan noda tanah pasar yang sulit hilang.

Agus: "Halo, Rahma. Maafkan saya. Semalam ponsel saya mati total karena kehabisan baterai dan saya lupa membawanya saat berangkat kerja sampingan. Saya sama sekali tidak marah soal vitamin itu, Rahma. Malah saya sangat berterima kasih. Saya hanya sedang sangat sibuk mengejar target pekerjaan di lapangan. Maaf ya sudah membuatmu cemas seharian ini."

Hanya dalam hitungan detik, status Rahma di aplikasi itu langsung berubah menjadi Online. Jantung Agus berdegup kencang.

Nor Rahma: "Syukurlah kamu membalas, Mas. Aku hampir saja nekat ingin mencari alamat lengkapmu ke desa kalau sampai siang ini kamu tetap hilang. Mas, aku serius soal undangan Ibu semalam. Hari Sabtu besok, bisakah kamu datang ke rumah untuk makan malam bersama kami? Ibu sangat ingin bertemu secara langsung dengan laki-laki yang belakangan ini sering membuatku melamun sendiri."

Agus merasa dunianya seolah berhenti berputar sejenak. Sabtu? Itu berarti hanya tiga hari dari sekarang. Bagaimana mungkin ia bisa datang ke rumah seorang wanita terhormat dengan kondisi kaki yang membengkak parah dan dompet yang hanya berisi uang kembalian beli obat? Namun, ia juga sadar bahwa menolak undangan ini untuk ketiga kalinya akan membuat Rahma benar-benar merasa tidak dihargai dan mungkin akan pergi selamanya.

Agus: "Sabtu malam ya? Saya akan usahakan sebaik mungkin untuk bisa datang, Rahma. Tapi tolong sampaikan permohonan maaf saya pada Ibumu, saya hanyalah orang biasa, orang lapangan. Saya tidak ingin beliau memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi saat melihat saya nanti."

Nor Rahma: "Mas Agus, berhentilah bicara soal kasta atau ekspektasi. Datang saja dengan apa adanya kamu. Pakai kemeja biru yang waktu itu kita bertemu di taman juga tidak apa-apa, aku suka melihatmu memakainya. Aku menunggumu ya, Mas."

Pesan itu diakhiri dengan emotikon senyum yang tulus, namun bagi Agus, itu terasa seperti sebuah tenggat waktu hukuman mati yang sudah ditetapkan.

Pukul tiga sore, ibu agus pulang dengan wajah yang tampak kosong. Ia menyerahkan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah ke tangan Agus. Uang itu terdiri dari hasil penjualan cincin kawin yang dihargai dua ratus lima puluh ribu, ditambah sisa uang yang Agus kumpulkan dengan memeras tenaga di pasar semalaman.

"Ini, Gus. Segera bayarkan ke kantor koperasi sebelum Mas Totok datang lagi ke rumah membawa surat peringatan kedua. Ibu tidak kuat kalau harus melihat dia marah-marah lagi di depan tetangga," ucap ibu agus. Suaranya terdengar datar, seolah sebagian dari jiwanya telah hilang bersama cincin emas yang baru saja ia lepaskan di toko emas tadi.

Agus menerima uang itu dengan hati yang remuk redam. Ia memaksakan diri untuk berdiri, menahan jeritan di dalam tenggorokan saat kaki kirinya terpaksa menyentuh tanah. Dengan bantuan kayu penyangga dan langkah yang diseret pelan, ia berangkat menuju kantor koperasi yang terletak di komplek balai desa. Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu lima menit dengan motor, kini terasa seperti perjalanan ribuan kilometer. Setiap langkah adalah siksaan fisik yang nyata, keringat dingin mengucur deras di punggungnya, dan wajahnya memucat menahan perih.

Sesampainya di kantor koperasi yang pengap, Mas Totok sedang duduk santai di depan meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan berkas. Ia sedang menghisap rokok kreteknya sambil sesekali membolak-balik daftar penagihan.

"Ternyata kamu datang juga, Gus. Saya pikir kamu akan lari," ucap Totok sambil melihat ke arah kaki Agus yang terbungkus perban kain kusam. "Saya dengar dari orang-orang pasar, kamu kerja rodi semalaman ya? Sampai segitunya hanya untuk membayar cicilan."

Agus tidak menjawab satu kata pun. Ia meletakkan tiga lembar uang seratus ribuan yang masih bersih di atas meja kayu yang lecet. "Ini cicilan pokok dan denda keterlambatan untuk bulan ini, Mas. Tolong dicatat di buku anggota saya dan berikan tanda terimanya sekarang."

Totok menghitung uang itu dengan cepat, lalu memberikan cap LUNAS pada buku catatan Agus. "Sudah selesai untuk bulan ini, Gus. Tapi saran saya, bulan depan jangan sampai telat lagi. Bunga denda di sini jauh lebih kejam daripada beban semen yang kamu panggul setiap hari. Kamu tahu itu, kan?"

Agus menerima bukunya kembali tanpa sepatah kata pun. Ia segera berbalik, keluar dari ruangan ber-AC yang dingin itu menuju udara luar yang mulai menggelap. Ia merasakan kelegaan yang aneh karena satu beban telah terangkat, namun hatinya tetap terasa kosong. Hutang bulan ini selesai, tapi ia harus membayar dengan cincin kenangan orang tuanya, dan ia harus membayar dengan kesehatan kakinya yang kini terasa semakin berdenyut hebat.

Saat ia berjalan pulang menyusuri jalanan desa yang mulai sunyi, ia melihat bayangannya sendiri terpantul di aspal jalan yang terkena cahaya lampu jalan. Bayangan seorang laki-laki muda yang pincang, menggunakan kayu jemuran sebagai tumpuan, dengan pakaian kotor dan masa depan yang masih sangat kabur. Ia memikirkan tentang jamuan makan malam hari Sabtu nanti di rumah Nor Rahma.

Ia membayangkan sebuah meja makan panjang yang penuh dengan hidangan lezat, piring-piring keramik mengkilap yang harganya mungkin setara dengan upah kerjanya sebulan, dan keluarga Rahma yang terhormat duduk di sana menantinya. Sementara itu, di dalam saku kemejanya saat ini, tidak ada satu rupiah pun yang tersisa. Bahkan untuk membeli perban baru atau sekadar bensin motor pun ia sudah tidak punya.

Agus berhenti sejenak di bawah pohon mahoni besar, menyandarkan tubuhnya yang kelelahan pada batang pohon yang kasar. Ia mengeluarkan ponselnya sekali lagi, menatap foto profil Nor Rahma yang tampak begitu bahagia dan tenang di dunianya yang sempurna.

"Rahma... andai kamu tahu, kemeja biru itu bahkan sudah tidak memiliki kancing yang asli lagi. Aku menjahitnya dengan benang sisa di tengah kegelapan," bisiknya lirih pada angin malam yang mulai berhembus dingin.

Agus menyadari bahwa ia baru saja berhasil menutup satu lubang besar dalam hidupnya, namun di depannya, sebuah jurang yang jauh lebih dalam dan curam sedang menantinya. Hari Sabtu bukan sekadar tentang makan malam bersama, tapi tentang pertaruhan harga diri seorang laki-laki miskin yang mungkin tidak akan pernah sanggup ia bayar lunas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!