NovelToon NovelToon
TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*


Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.

Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.


Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.


Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Cemburu Pertama.

Beberapa hari berlalu.

Malam ini di gelar Acara Gala Tahunan Ben Holding, di salah satu hotel bintang 5 di Jakarta.

Junee berdiri di depan cermin kamar hotel yang telah di siapkan khusus untuk dirinya.

Gaun hitam sederhana, rambut di sanggul rendah, dan riasan tipis.

Wanita itu tidak terbiasa berdandan seperti ini. Rasanya seperti memakai kostum orang lain.

“Siap, Bu?” Tanya Mbak Rina sembari memasangkan kalung mutiara di leher Junee.

“Siap, mbak. Tapi aku sangat gugup.” Ucap Junee sembari meremat pinggiran gaunnya.

“Tenang. Ibu itu istrinya Pak Ben. Tidak ada yang akan berani berbuat macam-macam.” Ucap mbak Rina.

Istri.

Junee tersenyum kecut. Kata itu masih terdegar aneh di telinga wanita itu.

Pintu kamar hotel terbuka. Ben masuk dengan menggunakan tuxedo hitam.

Pria itu menatap Junee sejenak.

“Cantik.” Ucapnya kaku. Pria itu tidak pernah memuji seoarang wanita sebelumnya.

Junee tersenyum kecil. “Terima kasih, Ben.”

Pria itu mengulurkan tangannya. “Kita keluar bersama. Ingat, tersenyum. Jangan banyak bicara. Kalau ada yang bertanya tentang panti, katakan saja ‘masih dalam proses’.”

Junee mengangguk paham. Ia juga tidak ingin berinteraksi dengan para kolega sang suami yang tak di kenalnya.

Tangan wanita itu terasa hangat dalam genggaman tangan Ben.

‘Bisakah aku menggenggam tangan ini selamanya?’ Monolog batin Junee.

Tiba di Ballroom Hotel.

Lampu kristal menyala dengan terang. Musik klasik mengalun pelan. Suara gelas kaca bersentuhan di mana-mana.

Bisik -bisik tamu undangan mulai terdengar, ketika Ben dan Junee melangkah masuk dengan tangan yang saling bertaut.

“Itu Nyonya Pratama?”

“Cantik juga. Padahal katanya hanya seorang guru di panti asuhan.”

“Iya, tapi ada yang mengatakan kalau hanya istri kontrak.”

“Katanya ditukar dengan panti asuhan supaya tidak digusur.”

Junee memejamkan matanya. Berpura-pura tidak denger. Ia mencoba mempertajam senyumnya pada orang-orang yang mengajak berkenalan.

“Aku kesana sebentar.” Pamit Ben untuk menemui seorang kolega dari luar negeri.

Junee mengangguk pelan. Ia pun hanya berdiri canggung bersama istri kolega Ben yang lain.

Mencoba mendengar dan memahami pembahasan para istri orang - orang kaya.

Hingga tanpa sengaja pandangannya menangkap keberadaan Vania.

Wanita itu memakai gaun merah ketat, berdiri tepat di samping Ben. Kemudian mereka foto bersama dengan kolega dari luar negeri.

Sesekali Vania teretawa, lalu memegang lengan Ben, hingga berbisik sesuatu. Ben pun terlihat menganggapi dengan senyum tipis.

Junee merasa ada yang aneh di dada. Bukan amarah, tetapi terasa sangat menyesakkan.

Ben kemudian menghampiri sang istri.

“Ben, sepertinya Vania sangat dekat dengan kamu?” Tanya Junee pelan, agar tidak terdengar oleh tamu lainnya.

Ben melihat ke arah Vania.

“Dia sekretaris aku 5 tahun ini. Tidak ada hubungan apa-apa.” Jelas pria itu.

“Tapi dia memegang lengan kamu.” Tukas Junee.

Ben mengangkat alisnya. “Kamu cemburu?”

Junee tertegun. Kemudian menggeleng dengan cepat.

“Tidak. Aku hanya bertanya.”

Ben tersenyum tipis. “Katakan kalau kamu cemburu. Aku suka.”

Junee tidak menjawab. Ia meminum wine-nya beberapa teguk. Padahal tidak pernah menyentuh minuman itu sekalipun.

Rasanya sangat pahit. Dan panas di tenggorokan.

---

Junee pergi dari keramaian dan memilih menyendiri di luar Ballroom. Terlalu banyak pasang mata yang melihat padanya. Membuat Junee merasa tidak nyaman.

“Bersembunyi dari suami sendiri?”

Suara Vania terdengar di belakang tubuhnya. Membuat Junee menoleh. Sekretaris sang suami itu membawa dua gelas wine. Dan memberikan satu gelas pada Junee.

Junee pun menerima gelasnya.

“Tidak perlu berdusta, Bu. Saya tau Ibu tidak suka saya dekat dengan Pak Ben.” Imbuh wanita itu.

“Saya tidak berhak ikut campur.” Ucap Junee pelan.

“Benar. Ibu tidak berhak.” Ucap Vania langsung. Tanpa basa-basi.

“Saya sudah 5 tahun sama pak Ben. Saya yang menenami dia lembur sampai jam 2 pagi. Saya yang tau dia tidak bisa tidur kalau belum minum susu hangat. Ibu tau apa?” Imbuh wanita itu.

Junee tidak berniat untuk menjawab.

“Pak Ben menikahi Ibu cuma karena panti dan sakit hatinya. 1 tahun selesai. Lalu Ibu keluar. Dan saya tetap di samping pak Ben.” Vania tertawa mengejek.

Ucapan wanita itu sungguh menusuk ke dalam hati Junee. Ia pun minum wine-nya hingga tandas.

Vania kembali menyunggingkan sudut bibirnya. “Terima kasih ya, Bu. Sudah membantu Pak Ben menyalurkan naf-su. Masalah hatinya, biarkan saya yang mengurus.”

Junee tak menanggapi dan memilih pergi, namun langkahnya sedikit limbung. Hingga bertabrakan dengan Ben di pintu masuk.

“Junee? Kenapa kamu di luar sendirian? Wajah kamu merah sekali.” Ucap pria itu.

“Ben apa kamu tidak malu ya, membawa aku ke sini hanya untuk pajangan? Sementara selingkuhan kamu menempel terus?” Junee menjawab ucapan sang suami dengan kalimat lain.

Ben mengerutkan keningnya.

“Vania bukan selingkuhanku.” Tegas pria itu.

“Lalu aku apa? Istri kontrak? Alat transaksi?” Suara Junee mulai pecah. Minuman beralkohol membuat wanita itu tak bisa menjaga ucapannya.

“Kalau kamu memang sayang, kenapa kamu tidak pernah membela aku saat Vania bicara kasar?” Imbuh wanita itu.

Ben menangkup kedua bahu Junee pelan.

“Junee, tenang. Banyak orang mendengarnya.”

“Aku tidak perduli!” Junee mendorong dada Ben pelan. “Aku lelah menjjadi orang yang selalu mengalah!”

Beberapa tamu mulai melihat ke arah mereka.

Ben pun langsung membawa Junee ke arah koridor yang sepi.

“Dengarkan aku.” Ben menghimpit tubuh Junee pada dinding.

“Aku tidak pernah menyentuh Vania. Dia hanya karyawan. Kalau kamu tidak percaya, aku akan memecat dia besok.” Ucap Ben dengan tegas.

Junee melihat tepat pada mata Ben. Tidak ada kebohongan disana.

“Lalu aku apa?” tanyanya pelan.

Ben terdiam sejenak.

“Kamu istri aku. Bukan istri kontrak. Bukan alat transaksi. Istri.” Tegas Ben.

Kalimat itu membuat Junee terdiam.

Ia tidak tau kenapa, tapi wanita itu percaya pada Ben.

“Ben, kepala ku pusing.” Ucapnya sembari memegang kepalanya.

Ben langsung mengangkat tubuh wanita itu. “Kamu mabuk.”

Pria itu membawa sang istri ke kamar hotel, tempat wanita itu besiap tadi. Kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

Ben duduk di pinggir ranjang. Ia mengusap rambut Junee dengan pelan.

“Maaf untuk Vania. Aku akan tegas sama dia besok.”

Junee memegang tangan Ben.

“Ben… kalau kontraknya selesai, kamu akan mengusir aku ‘kan?”

Ben mengerutkan keningnya.

“Siapa yang mengatakan itu?”

“Logika saja. Aku sudah tidak ada gunanya. Dan panti pun sudah selamat.” Ucap Junee.

Ben menghela nafas kasar.

“Junee, tidak mau kamu pergi. Setelah malam - makam yang telah kita lewati, aku tidak mau kamu pergi.”

Junee menatap Ben dengan serius.

“Lalu bagaimana?”

Ben tidak menjawab dengan ucapan. Pria itu menunduk, mencium Junee dengan pelan, lembut, dan tidak terburu - buru.

Junee pun membalasnya. Tangan Ben perlahan naik ke pipi wanita itu. Terasa hangat. Membuat Junee memejamkan matanya.

“Kamu bawa pengamannya?” Bisik Ben dan sang istri pun mengangguk pelan.

“Di tas aku.” Ucapnya dengan nafas tersengal.

Ben mengecup kening Junee. Kemudian bangkit untuk mengambil pengaman yang di simpan di dalam tas wanita itu.

1
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Hennyy exo
wow awal yg bagus thor
Naufal Affiq
gak usah dengar ocehan si arga ini ya jun,ingat jun ada ben yang selalu mencintaimu
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
jangan di ingat masa lalu yang penyakit kan,entar timbul masalah baru ben,ingat ben masa depan lebih indah dari pada masa lalu
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
semoga kedepan nya hubungan mu dengan suami mu lebih baik lagi ya junee
merry yuliana
crazy up ya kak
Author Amatir🍒: Satu bab lagi masih nyangkut kak..
total 1 replies
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor seru ceritanya
ardiana dili
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!