NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Mirza sedikit melunak mendengar suara istrinya yang mulai bergetar. “Apa yang ditakutkan?”

“Aku tidak kenal siapa-siapa di sana.”

“Kamu ada Umi Salma.”

“Itu pesantren besar…” suara Amira mengecil. “Aku takut salah sikap.”

Mirza mengusap wajahnya pelan sebelum berkata, “Tidak usah terlalu dipikirkan.”

Lagi-lagi kalimat itu. Amira menahan napas.

Mirza lalu menggenggam amplop tadi lebih erat. “Lagipula…” lanjutnya pelan, “kalau hubungan kita baik dengan keluarga Kyai, mungkin nanti aku juga bisa dapat kesempatan mengajar di sana.”

Amira langsung menoleh. Dan untuk pertama kalinya malam itu ia benar-benar merasa ada sesuatu yang berbeda dari suaminya.

***

Malam itu Amira akhirnya pulang dari klinik bersalin. Langit sudah gelap ketika mobil yang mereka Charter berhenti di depan rumah sederhana milik mereka. Udara dingin selepas hujan masih terasa lembap.

Mirza turun lebih dulu, lalu membantu Amira keluar perlahan. Tubuh Amira masih lemah. Setiap langkah membuat bekas jahitannya terasa nyeri, tetapi rasa sakit itu kalah jauh dibanding sesak di dadanya.

Lampu teras rumah menyala terang. Dan di depan pintu, ibu mertuanya sudah menunggu. “Mira…” Perempuan paruh baya itu langsung menghampiri begitu melihat Amira turun. Tangannya memegang lengan Amira hati-hati, seolah Amira bisa pecah kalau disentuh terlalu keras. “Pelan-pelan, Nduk.”

Amira mengangguk kecil. Begitu masuk ke dalam rumah, aroma masakan langsung memenuhi hidungnya. Meja makan penuh. Ada sayur bening daun katuk, ikan gabus kuah kuning, ayam kampung, telur rebus, sampai wedang jahe hangat yang masih mengepul.

Amira terdiam beberapa detik melihat semuanya.

Ibu mertuanya tersenyum tipis. “Ibu masak banyak buat kamu.”

“Bu…” suara Amira langsung serak.

“Kamu harus banyak makan.” Ibu mertuanya membimbing Amira duduk perlahan. “Biar cepat pulih.”

Amira menunduk pelan. Biasanya pemandangan seperti ini akan membuatnya bahagia. Makanan bergizi. Perhatian keluarga. Suami di rumah.

Seharusnya malam ini ada bayi kecil di sampingnya. Tangis kecil. Popok. Dan obrolan gugup tentang menjadi orang tua baru. Namun rumah itu justru terasa terlalu rapi. Terlalu sepi.

Ibu mertuanya menuangkan sayur ke mangkuk Amira sambil terus berbicara lembut, berusaha menguatkan. “Jangan terlalu larut dalam sedih.”

Amira diam.

“Allah pasti sudah menyiapkan yang lebih baik.”

Mirza duduk di sebelah mereka sambil memainkan ponselnya sesekali, mendengarkan tanpa banyak bicara.

“Kamu harus bahagia,” lanjut ibu mertuanya. “Jangan stres terus nanti malah sakit.”

Amira memaksakan senyum kecil. “Iya, Bu.”

“Ikhlaskan ujian Allah.” Kalimat itu lagi.

Amira tahu semua orang berniat baik. Tidak ada yang salah dengan nasihat itu. Tetapi setiap kali mendengarnya, rasa kehilangan di dadanya justru semakin nyata. Karena mengikhlaskan bukan berarti berhenti sedih. Apalagi baru beberapa jam lalu ia melahirkan anak yang tak sempat menangis.

“InshaAllah nanti cepat dikasih keturunan lagi,” kata ibu mertuanya sambil mengusap tangan Amira pelan.

Amira menunduk semakin dalam. Cepat dikasih lagi. Seolah anak yang pergi tadi bisa diganti begitu saja. Ia tahu ibu mertuanya tidak bermaksud menyakitinya. Tetapi malam ini, setiap kalimat penghiburan justru terasa seperti membuat lukanya semakin terbuka.

Dan di tengah aroma daun katuk yang memenuhi rumah dada Amira tiba-tiba terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa ia keluarkan lewat air mata lagi.

***

Esok paginya rumah kecil itu sudah ramai sejak selepas subuh. Sebuah mobil hitam dari pesantren terparkir di depan rumah. Sopir dan seorang khadimah perempuan menunggu dengan sopan di teras.

Sementara di dalam rumah, Amira masih duduk diam di tepi ranjang. Tas kecil berisi pakaian sudah disiapkan sejak tadi malam. Namun hatinya belum siap pergi. Tangannya meremas ujung mukena yang masih ia pakai setelah salat subuh. Pandangannya kosong menatap lemari kecil di sudut kamar. Di sana masih tersimpan baju-baju bayi yang belum sempat dipakai.Dadanya kembali terasa nyeri.

“Sudah siap?” Suara Mirza terdengar dari ambang pintu.

Amira menoleh pelan lalu mengangguk kecil, meski sebenarnya tidak.

Mirza masuk sambil membenarkan pecinya. “Jangan terlalu sedih begitu.” Nada suaranya terdengar ringan pagi ini. “Kamu kan cuma membantu sementara. Aku juga akan datang mengunjungi sekali sepekan. Atau kalau kamu benar-benar kangen, aku akan datang dua kali sepekan."

Amira tidak tahu kenapa kata itu terdengar samar. Karena sejak semalam ia merasa hidupnya seperti sedang didorong masuk ke sesuatu yang belum jelas ujungnya.

Mirza mengangkat tas kecil mereka. “Ayo. Jangan bikin orang ndalem menunggu.”

Amira berdiri perlahan sambil menahan nyeri di tubuhnya. Begitu keluar kamar, ibu mertuanya sudah menunggu di ruang depan. Perempuan tua itu langsung mendekat dan memegang tangan Amira erat.

“Makan yang teratur ya di sana.”

Amira mengangguk pelan.

“Kalau capek bilang.”

“Iya, Bu.”

Ibu mertuanya tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi urung. Tatapannya sekilas beralih pada Mirza sebelum kembali ke Amira. Sebenarnya sejak tadi malam hatinya belum tenang. Bagaimanapun, ia merasa aneh membiarkan menantunya menyusui bayi keluarga lain. Apalagi keluarga kyai besar. Namun setiap kali ia mencoba menyampaikan keberatannya, Mirza selalu punya jawaban.

“Ini kesempatan baik.”

“Tidak semua orang bisa dipercaya keluarga ndalem.”

“Kalau aku bisa mengajar di sana, hidup kita bisa berubah.”

Kalimat-kalimat itu terus diulang anaknya sejak semalam. Dan sebagai ibu ia tahu persis kenapa Mirza begitu tergiur. Karena mereka terlalu lama hidup susah.

Sejak suaminya meninggal bertahun-tahun lalu, ia sendirian membesarkan Mirza. Menjual gorengan, mencuci baju tetangga, sampai berutang sana-sini demi menyekolahkan anak laki-lakinya sampai sarjana agama.

Ia berharap setelah lulus hidup mereka membaik. Tetapi Mirza tetap memilih jalan yang sama. Menjadi ustaz kampung. Mengisi pengajian kecil dengan bayaran seadanya. Kalau diberi amplop lima puluh ribu, Mirza tetap pulang dengan wajah bersyukur.

“Buat bekal akhirat, Bu,” begitu katanya setiap kali sang ibu mengeluh.

Kalimat yang terdengar mulia tetapi tidak pernah cukup untuk membayar kebutuhan hidup. Karena itulah sekarang ibu Mirza tidak mampu benar-benar melarang. Bagaimana kalau ini memang jalan rezeki anaknya? Bagaimana kalau hidup mereka akhirnya berubah?

Perempuan tua itu mengusap tangan Amira pelan. “Jaga diri baik-baik di sana.”

“Iya, Bu.” Dan entah kenapa, kalimat itu terdengar lebih seperti pesan hati-hati daripada sekadar pamit biasa.

Di luar, pintu mobil sudah dibukakan. Amira melangkah pelan keluar rumah. Sebelum masuk ke mobil, ia menoleh sekali lagi ke rumah kecil itu. Rumah yang baru kemarin ia bayangkan akan dipenuhi tangis bayinya sendiri. Namun hari ini ia justru pergi untuk menjadi ibu susu anak orang lain.

***

Perjalanan menuju pesantren ternyata tidak selama yang Amira bayangkan. Hanya sekitar sepuluh menit dari rumahnya. Namun selama perjalanan itu, dada Amira terus berdebar tidak tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!