Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Kotak beludru putih itu akhirnya ditutup rapi oleh staf toko perhiasan. Evans menerimanya tanpa banyak bicara, lalu menyerahkannya pada asistennya yang sejak tadi menunggu di sudut ruangan.
Namun sebelum mereka benar-benar pergi, Evans kembali meraih tangan Xerra.
“Tunggu.”
Xerra menoleh. “Kenapa, Om?”
Evans membuka kembali kotak kecil berisi kalung berlian tipis itu. Tanpa bertanya, ia berdiri di belakang Xerra.
“Aku ingin melihatnya langsung.”
Xerra menegang pelan ketika Evans menyibakkan sedikit rambutnya. Ujung jarinya menyentuh kulit lehernya yang terasa hangat,penuh kehati-hatian.
Klik.
Kalung itu terpasang.
Evans menatap pantulan mereka di cermin etalase kaca,pria dewasa berwibawa berdiri di belakang gadis muda dengan mata menunduk malu.
“Sekarang pas,” gumamnya rendah.
Xerra menyentuh kalung itu dengan jari gemetar. “Om… cantik sekali…”
Evans tidak menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik terlalu lama.
“Kalau ada yang bertanya,” katanya akhirnya, “katakan itu hadiah dari calon suamimu.”
Xerra tersedak napas sendiri. “Om…”
Evans tersenyum tipis bukan senyum menggoda, tapi senyum tenang penuh kepastian.
“Mari pulang.”
*****
Sore mulai turun ketika mobil hitam itu kembali melaju di jalanan London. Cahaya keemasan menembus kaca jendela, memantul dari kalung di leher Xerra.
Xerra memeluk tas kecil berisi perhiasan dan gaun di pangkuannya, masih seperti tidak percaya dengan semua yang terjadi hari ini.
“Capek?” tanya Evans tanpa menoleh.
Xerra menggeleng. “Tidak… hanya… rasanya seperti mimpi.”
Evans meliriknya sekilas. “Kalau mimpi, jangan bangun.”
Xerra tersenyum kecil.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang nyaman, sebelum Xerra memberanikan diri bertanya.
“Om… kenapa Om melakukan semua ini dengan begitu… detail?”
Evans menghela napas pelan.
“Karena aku tidak ingin ada satu pun hari pentingmu yang kau lalui dengan rasa kurang.”
Ia menoleh, menatap Xerra dengan serius.
“Aku ingin kau merasa aman. Dipilih. Diinginkan.”
Jantung Xerra berdegup kencang.
“Aku… merasa begitu,” jawabnya jujur.
Evans mengangguk kecil, seolah itu cukup.
*****
Saat mobil berhenti di depan hotel tempat mereka menginap, Evans turun lebih dulu, lalu kembali membukakan pintu untuk Xerra seperti sebelumnya.
Tangan besar itu kembali terulur.
“Pegang.”
Xerra menggenggamnya tanpa ragu kali ini.
Begitu mereka melangkah masuk ke lift privat, pintu menutup perlahan, menyisakan ruang kecil yang sunyi.
Xerra berdiri di samping Evans, bahunya hampir bersentuhan.
“Om…”
“Hm?”
“Terima kasih… untuk hari ini.”
Evans menoleh, lalu mengangkat tangan Xerra dan mengecup punggungnya singkat,sopan, lembut, tapi cukup membuat wajah Xerra memanas.
“Biasakan mengucapkannya nanti,” katanya pelan.
“Karena ini baru permulaan.”
Lift berhenti.
Pintu terbuka.
Dan Xerra tahu…
Persiapan pernikahan ini bukan hanya tentang gaun, perhiasan, atau venue.
Ini tentang bagaimana Evans, perlahan tapi pasti, sedang membangun dunianya
dengan Xerra jadi pusatnya.
Restoran fine dining di lantai atas hotel itu diselimuti cahaya temaram keemasan.
Alunan piano mengalun pelan, jendela kaca besar memperlihatkan panorama malam London yang berkilau.
Evans menarikkan kursi untuk Xerra.
“Duduk.”
Xerra menurut, sedikit kikuk tapi tersenyum manis.
Meja mereka dihiasi lilin kecil dan vas bunga mawar putih. Jarak antar meja dibuat renggang—privasi terjaga sempurna.
“Om… tempat ini romantis sekali,” ucap Xerra lirih.
Evans menuangkan air ke gelasnya dengan tenang.
“Aku memesannya khusus.”
Xerra terdiam, jantungnya berdetak tak beraturan.
Saat hidangan utama datang, Evans memotongkan steak untuk Xerra tanpa diminta. Gerakannya tenang, penuh perhatian, seolah itu hal paling wajar di dunia.
“Kau tidak perlu terburu-buru,” katanya lembut.
“Nikmati.”
Xerra menatapnya, lalu tersenyum kecil.
“Om selalu memperlakukanku seperti… aku ini penting.”
Evans berhenti sejenak.
Tatapannya turun ke mata Xerra.
“Karena kau memang penting.”
Xerra menunduk, pipinya memanas. Lilin kecil di meja memantulkan cahaya di kalung yang dikenakannya,hadiah dari Evans.
Tanpa mereka sadari…
Di sudut lain restoran, seorang perempuan muda memperhatikan mereka dengan mata menyipit.
Liona.
Sepupu Xerra.
Ia duduk bersama pacarnya, namun fokusnya sama sekali bukan pada makan malam di depannya.
“Lio, kamu kenapa?” tanya sang pacar.
Liona menyeringai tipis.
“Kamu lihat perempuan itu?”
Ia mengarahkan dagunya ke arah Xerra.
“Sepupuku.”
Pacarnya mengernyit. “Yang sama pria itu?”
“Iya.”
Nada Liona mengandung campuran iri dan sinis.
“Dan lihat pria itu… jelas bukan kalangan biasa.”
Evans saat itu menyeka sudut bibir Xerra dengan ibu jarinya,gerakan kecil, sangat intim.
Klik.
Liona diam-diam mengangkat ponselnya.
Satu foto.
Lalu satu lagi.
Sudutnya sempurna.
Xerra terlihat lembut, polos, duduk manis di hadapan pria dewasa berwibawa dengan jas mahal.
Tanpa konteks.
Tanpa penjelasan.
“Ini menarik,” gumam Liona.
Ia mengetik cepat di ponselnya.
“Dunia memang lucu. Ada yang hidupnya sederhana, tiba-tiba makan malam romantis dengan pria kaya raya. Simpanan atau apa ya?”
Lalu ia kirim ke group keluarga
Disusul unggahan story dengan emoji samar dan caption ambigu.
Di meja utama, Xerra sama sekali tidak menyadari apa pun.
Evans sedang mengatakan sesuatu pelan.
“Setelah ini kita pulang. Kau pasti lelah.”
Xerra mengangguk.
“Iya… tapi aku senang.”
Evans menatapnya lama.
Namun, dari sudut matanya, ia menangkap kilatan cahaya ponsel kamera.
Tatapannya langsung berubah.
Dingin.
Tajam.
Ia menggeser pandangan, menemukan sosok Liona yang buru-buru menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya.
Evans tidak berkata apa-apa.
Tapi satu hal pasti
Ia tidak menyukai permainan kotor.
Dan Xerra…
tidak pantas disentuh oleh gosip murahan.
Makan malam itu berakhir tetap elegan.
Namun badai kecil sudah mulai bergerak—
diam-diam, licik, dan mengarah tepat ke Xerra.
Keesokan paginya, suasana mansion Evans masih tenang.
Xerra duduk di ruang makan kecil sambil memegang ponselnya, berniat membaca pesan dari teman kampus nya namun jemarinya berhenti.
Satu notifikasi masuk.
Lalu dua.
Lalu belasan.
Alisnya berkerut.
Ia membuka salah satu pesan.
Tangannya langsung gemetar.
Foto itu.
Dirinya dan Evans.
Duduk berhadapan di restoran mewah.
Evans menyentuh sudut bibirnya.
Tampak… terlalu intim.
Caption di bawahnya membuat napas Xerra tercekat.
“Cewek polos ternyata pintar cari pria kaya. Simpanan om-om atau apa ya?”
Xerra menutup mulutnya.
“Ini… ini apa…?”
Pesan lain masuk dari teman-teman kampus nya
“Xerra kerja apa sih kok bisa makan malam sama orang sekaya itu?”
“Anak perempuan kok berani begitu…”
Ponsel itu terlepas dari tangannya.
Dadanya sesak.
Bukan karena ia merasa bersalah
tapi karena ia sadar…
ia sedang diserang.
Langkah kaki berat terdengar.
Evans muncul di ambang pintu.
Sekali melihat wajah Xerra yang pucat, ia langsung tahu.
“Apa yang kau lihat?” tanyanya tenang.
Xerra mengangkat ponsel dengan tangan gemetar.
Evans mengambilnya.
Satu detik.
Dua detik.
Udara di ruangan berubah dingin.
Wajah Evans tidak menunjukkan amarah
justru terlalu tenang.
Berbahaya.
“Siapa yang menyebarkan ini?” tanyanya.
Xerra menelan ludah.
“…Sepupuku. Liona.”
Evans mengangguk pelan.
“Baik.”
Hanya satu kata.
Namun nada itu membuat bulu kuduk Xerra berdiri.
Evans menyerahkan kembali ponsel itu, lalu menunduk di hadapan Xerra.
Tangannya mengangkat dagu gadis itu dengan lembut.
“Dengarkan aku.”
Xerra menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kau tidak salah,” lanjut Evans.
“Kau tidak perlu menjelaskan apa pun pada siapa pun.”
Ia mengusap pipi Xerra dengan ibu jarinya.
“Biarkan aku yang mengurusnya.”
Beberapa jam kemudian.
Di sisi lain kota London—
Liona sedang duduk santai di kafe, tertawa bersama temannya sambil men-scroll ponsel.
“Story mu rame banget,” kata salah satu temannya.
“Banyak yang nanya.”
Liona tersenyum puas.
“Biarin. Fakta kan tetap fakta.”
Ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkatnya dengan malas.
“Halo?”
Suara di seberang dingin. Profesional.
“Selamat siang. Apakah saya berbicara dengan Liona Harrington?”
“Iya.”
“Kami dari firma hukum Blackwood & Co. Kami mewakili Tuan Evans Pattinson.”
Senyum Liona membeku.
“A...apa?”
“Kami ingin menginformasikan bahwa unggahan Anda mengandung unsur pencemaran nama baik, fitnah, dan pelanggaran privasi.”
Napas Liona mulai tidak teratur.
“Dalam waktu tiga puluh menit, semua konten harus dihapus. Jika tidak, tuntutan hukum akan diajukan hari ini juga.”
Telepon ditutup.
Belum sempat Liona bereaksi
ponselnya kembali bergetar.
Grup keluarga.
Sebuah pesan baru muncul.
Dikirim oleh akun resmi Pattinson Group.
Pengumuman.
Kami mengonfirmasi bahwa Nona Xerra adalah tunangan resmi Tuan Evans Pattinson. Pernikahan akan dilangsungkan secara terbuka. Setiap bentuk fitnah atau spekulasi tidak bertanggung jawab akan diproses secara hukum.
Disertai satu foto.
Xerra berdiri di samping Evans.
Gaun sederhana.
Kalung huruf E terlihat jelas.
Evans menggenggam tangannya tegas dan terbuka.
Liona menjatuhkan ponselnya.
Wajahnya pucat.
Di mansion, Evans menunjukkan unggahan itu pada Xerra.
“Aku tidak ingin menyembunyikanmu,” katanya pelan.
“Aku ingin semua orang tahu.”
Xerra menatap layar, lalu menatap Evans.
“…Aku takut.”
Evans menarik Xerra ke dalam pelukannya.
Kuat. Aman.
“Selama kau bersamaku,” bisiknya di rambut gadis itu,
“tidak ada satu pun gosip yang bisa menyentuhmu.”
Di luar sana, nama Xerra kini tidak lagi disebut sebagai simpanan
melainkan
calon istri Evans Pattinson.
Dan permainan kotor itu…
berakhir bahkan sebelum benar-benar dimulai.