Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 : Perut yang sakit menjadi berkah
Seusai jam sekolah, Rio bergegas untuk pulang. Dia gak pulang ke apartemen, tapi ke rumahnya terlebih dahulu. Entah lupa atau dia memang merindukan ibu dan adiknya.
Sementara Risa terlihat tak bersemangat untuk pulang karena berpikir Rio pasti di apartemen juga. Tapi suka tak suka dia harus pulang, karena hari ini entah kenapa dia merasa sangat lelah.
Di dalam mobil, dia sempat menelepon dua sahabatnya untuk datang ke rumah, tapi keduanya menolak dengan alasan gak mau ganggu momennya dengan Rio.
"Aarrgh menyebalkan! Semua gara-gara Rio!" Wanita itu menggeram dan menyalahkan Rio tanpa sebab.
Disaat sedang marah-marah, Risa mendadak merasakan perutnya sangat sakit.
Awalnya ia berpikir itu hanya sakit perut biasa habis makan mie ayam pedas di sekolah. Tapi rasa nyerinya semakin menjadi yang membuatnya tidak tahan lagi.
Tanpa sadar Ia memencet nomor Rio yang ada dikontaknya.
"Rio, hah..., apa ka-kau bisa ke sini, hah..., hah...." Risa berbicara dengan suara lemah.
"Bu Risa kenapa?" Rio kayaknya menyadari ada yang tidak beres terjadi.
"A-aku gak ada waktu menjelaskan, tapi perutku, hah..., sakit sekali Rio, to-tolong kemari...." Risa nyaris saja menjerit kalau tak ditahannya suaranya itu.
"Bu Risa di mana? Saya ke sana sekarang."
"Aku masih di parkiran sekolah, hah..., hah..., ce-cepatlah Rio...."
Pemuda itu langsung mematikan kontak begitu tahu keberadaan Risa. Sepertinya sih dia sudah langsung putar balik untuk kembali ke sekolah.
Benar saja, dia sudah masuk ke gerbang sekolah, tak butuh waktu lama karena dia memang masih belum jauh dari lingkungan sekolah.
Ia bergegas turun dari motor yang dia parkirkan begitu saja di pos satpam sekolah dan berlari menuju area parkir.
"Bu Risa!" Suara pemuda itu terdengar panik. Ia mengetuk jendela kaca mobil saat melihat Risa bersandar di kursi mobil dengan lunglai.
"Rio...." Risa melirik ke arah jendela dan mendapati pemuda itu sudah ada di sana. Risa menekan tombol pintunya agar terbuka.
Cklek...!
Rio segera menghambur ke kursi saat pintu mobil sudah terbuka.
"Bu Risa kenapa? Sakit banget? Mau Rio bawa ke UKS?" Ia berjongkok di depan Risa yang kesulitan untuk bergerak.
"Enggak tahu, perutku sakit...," jawab Risa sambil memegangi perutnya.
"Rio bawa ke klinik aja ya? Dekat sekolah ada klinik, cuma 20 menit, mau?"
Risa hanya bisa mengangguk kecil setelah mendengar pertanyaan dari Rio.
"Tunggu sebentar ya, Bu...."
Pemuda itu berlari sesaat menuju pos satpam. Entah apa yang dia bicarakan tapi si satpam langsung memasang wajah serius dan terlihat mengangguk beberapa kali.
Setelah itu Rio kembali berlari menemui Risa bersama si satpam.
"Kunci mobil ibu di mana?"
"Hah..., ada di tas..., hah..., hah...." Risa menunjuk sebuah tas kecil berwarna putih yang diletakkan tak jauh darinya.
"Maaf ya, Bu." Rio mengambil tas tersebut dan mengambil kunci mobil milik Risa.
"Ka-kamu mau apa Rio...."
"Mau anter ibu ke klinik, mobilnya mau dikunci dulu biar aman, kita pakai motor saja ya, Bu. Biar Rio jagain Ibu di belakang, pak satpam yang bawa motor."
Degh...!
Satu kalimat yang diucapkan Rio barusan seperti anak panah yang masuk ke hatinya. "Biar Rio jagain Ibu...." Kalimat itu terdengar spontan tapi sungguh sangat manis, meski mungkin Rio mengucapkan itu tanpa sadar.
"Ayo Bu, saya bantu."
Rio dan si satpam membantu Risa untuk keluar dari mobil yang tertatih-tatih karena menahan rasa perih.
"Pegangin Bu Risa sebentar, Pak," ucapnya sambil mengambil tas milik Risa dan mengunci pintu mobil.
"Udah, Bapak langsung bawa motornya kemari, Bu Risa sama saya."
"Oke!"
Satpam penjaga itu bergegas melepaskan Risa dan membiarkannya bersandar pada Rio. Ia menghampiri motor tersebut dan langsung menaikinya.
"Sabar ya Bu," ucap Rio berusaha menenangkan Risa yang sedang kesakitan.
"Ayo naik," ucap si satpam yang sudah berhenti di depan mereka.
"Maaf ya Bu, Rio gendong...."
Risa agak terkejut karena Rio benar-benar menggendong tubuhnya. Wajahnya agak memerah karena sadar kalau tubuhnya itu cukup berat. Ia mendudukkan Risa di atas jok motor dengan posisi menyamping.
"Ibu pegangan dulu ke Pak Rahmat," ucap Rio memberi arahan.
Risa tak bisa menolak meski dia merasa sedikit canggung tiba-tiba harus memegang pinggang orang lain.
Setelah dirasa posisinya sudah pas, Rio langsung ikut naik ke atas motor.
"Sini Bu, senderan aja kalau mau."
Risa terdiam sesaat dan memperhatikan pemuda itu dengan seksama. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu, rasa sakit di perutnya sedikit teralih. Ia malah fokus memperhatikan bahu lebar dan dada bidang Rio.
"Mikirin apaan gue? Lagi sakit gini malah mikir aneh-aneh, aduuuh perut gueee!"
Kesadaran Risa kembali ketika rasa sakit di perutnya mulai meronta lagi.
Risa gak pikir panjang langsung memilih untuk bersandar.
"Ayo pak, cepet ya!" Rio menepuk pundak si satpam dan motor itu pun melaju cepat keluar gerbang sekolah.
...****************...
Sepanjang jalan Risa menyandarkan kepalanya dengan nyaman ke dada pemuda itu. Ditambah Rio menggunakan tangan kirinya merangkul punggung Risa, secara gak langsung menjadikan tangannya itu sebagai sandaran kedua, sementara tangan satunya ia gunakan untuk berpegangan dan menjaga keseimbangan. Risa baru pertama kali merasakan penjagaan yang maksimal.
"Mas Rio, kita sampai nih." Pak Rahmat memberhentikan motornya tepat di depan klinik yang terlihat seperti rumah biasa pada umumnya, hanya di sana ada papan klinik 24 jam.
"Pelan-pelan Pak, saya turunin Bu Risa dulu." Rio melirik ke arah Risa yang kayaknya udah posisi enak nyender, sampai gak sadar kalau motor sudah berhenti sejak tadi.
"Bu, kita sudah sampai, ayo turun," ucapnya dengan nada pelan.
"Tapi perut Ibu sakit, enggak bisa gerak, Rio...." Risa setengah merengek sambil meringis.
"Rio gendong sampai ke dalem biar gak sakit," jawab Rio lagi tanpa mikir.
Risa akhirnya bisa diajak kerjasama. Ia menjauhkan kepalanya dan berusaha untuk duduk tegak dengan kedua tangan yang berpegangan kepada si satpam yang masih duduk di atas motor.
Rio turun duluan dan setelahnya dia berdiri di depan Risa, bersiap untuk membantu wanita itu turun dari motor.
"Pegangan ke pundak Rio, Bu."
Risa gak banyak bicara, dia mengangguk dan berpegangan pada bahu murid yang telah menjadi suaminya kemarin.
"Ibu bisa turun sendiri," ucap Risa yang gak mau menyusahkan dan dia masih merasa sedikit gengsi.
Tapi baru saja dia mau turun, tubuhnya langsung oleng dan nyaris jatuh. Untung Rio sigap menahannya.
"Tuh 'kan, jangan bandel dulu deh, nanti kalau kenapa-kenapa sama Ibu gimana?"
Ah, Risa paham, perkataan pemuda itu memiliki makna ganda. Selain itu ditujukan untuk dirinya, tapi kemungkinan Rio juga sedang khawatir dengan janin yang sedang dikandung Risa.
"Gak, Ibu gak mau digendong, bantu Ibu jalan saja ke dalam." Risa masih bersikeras.
"Ya udah, tapi nanti kalau sakit banget bilang ya?"
Risa kembali mengangguk. Pelan-pelan ia turun dari motor dengan menjadikan pundak Rio sebagai tumpuannya.
Setelah berhasil turun Rio langsung memapahnya masuk ke klinik. Pak Rahmat memarkirkan motor ke samping dan bergegas ikut bersama keduanya ke dalam klinik.
Apa yang terjadi pada perut Risa dan apa hasilnya dari klinik? Apa terjadi sesuatu dengan janin yang baru tumbuh itu?
.
.
.
BERSAMBUNG....