Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 – Undangan Berdarah
Malam turun perlahan di atas rumah keluarga Kazuma. Langit tampak muram, dan udara membawa aroma laut dari kejauhan. Di luar, lampu-lampu taman berpendar lembut di antara bayangan pepohonan pinus yang menjulang. Kenji baru saja tiba dari sekolah, langkahnya pelan tapi pikirannya terus melayang ke percakapan terakhir dengan ayahnya. Sejak malam itu, setiap kali pulang ke rumah, udara terasa semakin berat seakan dinding-dinding tua rumah ini menyimpan rahasia yang tak henti berbisik. Ia membuka gerbang kecil dan berjalan menuju pintu depan. Namun, sesuatu menghentikan langkahnya. Di bawah cahaya redup teras, sebuah amplop hitam tergeletak di lantai tanpa pengirim, tanpa segel, hanya sebuah tulisan halus di permukaannya:
“Kepada keluarga Kazuma mari kita bicarakan masa lalu yang belum selesai”.
Kenji menunduk, jantungnya berdegup pelan namun kuat. Ia mengambil amplop itu dan membukanya. Di dalamnya, selembar kartu putih dengan tinta merah bergaris halus:
Pelabuhan Selatan, Gudang No.7. Besok malam pukul 22.00.
tertanda R.H.
Melihat inisial yang terdapat di surat tersebut Kenji langsung menyimpan surat tersebut. Dan kali ia sudah sudah tahu siapa yang pengirimnya sudah pasti ia Ren Hirato.
“Permainan ini belum selesai rupanya,” gumamnya pelan.
Beberapa jam kemudian, di ruang kerja, Kazuma menatap kartu undangan yang Kenji dapat itu dengan mata tajam. Asap rokok mengepul dari tangannya, membentuk kabut tipis di udara.
“Undangan dari keluarga Hirano?” kata Kazuma dengan suara datar, tetapi nadanya menahan amarah.
Ryo berdiri di sampingnya, ekspresinya serius. “Mungkin jebakan, Boss. Mereka tahu Tuan muda sering keluar sendiri belakangan ini.”
Kazuma menatap ke arah Kenji yang sedang berdiri diam di seberang meja kerjanya. Ia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Kenji.
“Kau tidak akan pergi, semua ini biar aku akan urus ini sendiri,” kata Kazuma dengan tegas.
Kenji menatap ayahnya lama. Ada banyak kata di dadanya, tetapi hanya satu yang keluar.
“Baik, Papa.”
Di mata Kenji, ada sesuatu yang tidak Kazuma sadari tekad dingin yang perlahan menyala seperti bara. Karena bisa dilihat ada rasa ingin membalas dendam yang sudah lama dipendam oleh Kenji.
Keesokan harinya, suasana sekolah Emerald berjalan seperti biasa, tapi hanya di permukaannya. Di koridor, Kenji berjalan melewati Mira yang sedang berbicara dengan Ren. Keduanya tampak seperti sepasang teman biasa, namun bagi Kenji, pemandangan itu terasa menyesakkan. Ia tahu di balik senyum sopan Ren tersimpan sesuatu yang lebih gelap.
“Kenji!” panggil Mira, tetapi Kenji hanya menoleh sebentar dan melanjutkan langkah.
Ren melirik ke arahnya, senyumnya nyaris tak terlihat. “Kau masih marah soal kemarin?” katanya pelan pada Mira.
“Dia cuma berubah, Ren. Aku tidak tahu kenapa dia bisa berubah seperti itu”
Ren hanya menjawab, “Kadang, perubahan itu bagian dari takdir. Dan takdir … sering kali berdarah.”
Nada dingin di kalimat terakhir itu membuat Mira merinding, namun Ren hanya tersenyum lembut seolah tak terjadi apa-apa. Malam datang cepat. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lebih lima puluh. Di rumah besar itu, semua lampu lantai bawah telah padam. Hanya satu jendela yang terbuka kamar Kenji. Ia berdiri di depan kaca, mengenakan jaket hitam polos dan sarung tangan.
Ia menatap amplop hitam yang kini tersimpan di saku. “Maaf, Papa … tapi aku harus tahu siapa sebenarnya yang mulai semua ini.”
Ia melangkah keluar lewat jendela, menuruni dinding dengan tali pendek yang disiapkan dari seprai. Di halaman belakang, seekor anjing penjaga menggonggong pelan, mendengar itu Kenji bergerak cepat menembus kegelapan hingga akhirnya menghilang di balik gerbang besi.
Pelabuhan Selatan tempat yang sudah lama ditinggalkan sejak insiden kebakaran sepuluh tahun lalu. Udara disana berbau karat dan garam laut. Kenji berjalan perlahan menyusuri jalur besi berkarat menuju Gudang No.7. Lampu jalan berkelap-kelip, dan setiap langkahnya bergema aneh di antara deretan kontainer tua. Di depan pintu gudang, simbol naga merah tergores samar di dinding logam lambang lama keluarga Hirano.
Kenji menghela napas. “Jadi ini memang jebakan—”
Ia menyalakan senter kecil dan melangkah masuk. Di dalam, suasana sunyi. Hanya bunyi tetesan air dari atap bocor. Kenji mengamati sekitar tumpukan peti, rantai besi, dan bekas minyak terbakar di lantai.
“Kenapa aku merasa … tempat ini pernah kulihat?” bisiknya.
Langkahnya berhenti di tengah ruangan. Di sana, di atas meja tua, ada sebuah foto lama dan disana ada mamanya, Misaki, berdiri di depan rumah lama mereka dan di pojok foto, bayangan pria yang wajahnya tak terlihat. Kenji mendekat, jarinya bergetar saat menyentuh foto itu.
“Kau akhirnya datang…” Terdengar sebuah suara itu datang dari balik kegelapan.
Dalam sekejap, lampu di atas menyala satu per satu, menyingkap sosok pria tinggi berjubah hitam di sisi ruangan. Wajahnya tidak terlihat jelas hanya siluet dengan senyum samar.
“Siapa kau?” tanya Kenji, matanya waspada.
Sosok itu tertawa pelan. “Kau tak perlu tahu. Tapi aku sudah tahu siapa Mamamu … dan siapa yang menyalakan api malam itu.”
Kenji menegang. “Apa maksudmu?”
Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya melemparkan sesuatu ke lantai sebuah liontin perak berbentuk bunga sakura. Liontin yang sama seperti milik mamanya.
“Jawabannya … ada di darah mu sendiri,” jelas orang itu.
Sebelum Kenji sempat bereaksi, ledakan kecil mengguncang ruangan. Api meletup dari arah pintu masuk, membuat peti-peti kayu terlempar ke udara. Gelombang panas menghantam tubuh Kenji hingga ia terjatuh ke lantai. Asap tebal memenuhi ruangan. Ia mencoba bangkit, tapi kepalanya berdenyut hebat.
“Gawat ini jebakan …” kata Kenji yang sedang menahan batuk. “Tetapi … siapa?” Sebuah suara berat terdengar di telinganya, samar tapi familiar.
“Maaf, Tuan Muda … tapi Anda terlalu cepat menemukan kebenarannya.”Sebelum sempat menoleh, sesuatu menghantam kepalanya dari belakang.
Pandangannya kabur, tubuhnya melemah. Dalam kabut asap dan api yang menari di dinding, Kenji melihat bayangan seseorang berjalan mendekat. Bukan Ren sosok ini lebih tinggi, dengan luka panjang di pipinya. Siluet itu menunduk, dan sosok tersebut menyeret tubuh Kenji keluar dari reruntuhan.
Langit di luar berwarna merah kehitaman karena pantulan api. Sebelum segalanya gelap, Kenji sempat mendengar suara itu berbisik di telinganya:
“Bangunlah, Kenji Kazuma. Kau masih punya peran yang belum selesai,” bisik orang tersebut dan ia membawa Kenji pergi dari gedung tersebut.
Dan setelah itu, hanya suara ombak dan sirine pelabuhan yang terdengar seolah malam menelan segalanya. Sementara api melahap gudang, seseorang dari jauh menatap kejadian itu melalui monitor. Siluetnya hanya tampak sebagian, di tangannya tergenggam foto Kenji dan Ren di sekolah. Suara rendah dan datar keluar dari bibirnya.
“Dua pewaris sudah bergerak. Langkah berikutnya … waktunya membangunkan Orion.”