NovelToon NovelToon
CINTA SANG PEMBURU

CINTA SANG PEMBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Misteri / Horor / Tumbal / Mata Batin / Cintapertama
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Hendriyan Sunandar

Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Kalau begitu, aku jadi yakin. Pasti rokok itulah penyebabnya. Dan bah Lemud lah yang bisa menyembuhkan bik Iroh. Awas kau ya bah"

Gumam Tumang di hatinya sembari melirik bik Iroh yang tampak diam namun seperti menatap kosong.

Entah mengapa kecurigaan pada bah Lemud itu datang begitu saja di pikiranya. Seperti ada sebuah dorongan yang kuat. Sehingga bukan tidak mungkin jika kecuriganya itu di katakan terang terangan pada semua orang, mungkin salah satu dari warga itu akan ada yang tidak setuju karena menuduh tanpa bukti yang kuat bukanlah sesuatu yang baik.

Sehingga atas alasan itulah Tumang dengan sengaja tidak mengatakan pada semua orang jika bah Lemud lah penyebab semua itu.

Kendati demikan. Sekalipun tuduhan itu tak di katakan langsung, namun kebanyakan warga paham ke mana arah pembicaraan Tumang ketika itu.

termasuk mang Darman yang juga paham dan mewanti wanti agar Tumang segera melakukan sesuatu tanpa memperbesar permasalahan yang menimpa istrinya itu.

Bagi mang Darman dan bah Caca, siapapun yang jadi penyebab dan apa motifnya, semua itu tak perlu di kali lebih jauh. Yang terpenting bagi mang Darman yaitu istrinya bisa kembali sembuh seperti sedia kala.

Menyadari hal itu, tentu saja Tumang pun mengangguk dan meminta mang Darman dan semua warga untuk diam dan mengrahasiakan semua kecurigaan itu. Biarlah dirinya saja yang akan menyelidiki dan mencarikan jalan kesembuhan untuk bik Iroh.

"masuk akal juga sih Le ucapannya itu. Tapi menuduh tanpa bukti itu tak di benerkan Le. Apalagi ini sipatnya sesuatu yang tak kasat mata. Susah Le kalo mau cari bukti secara nyata"

ujar pak de Tarmin ikut mengingatkan Tumang lantas meminta Tumang untuk menjelaskan langkah selanjutnya. Sehingga Tumang pun yang paham semua itu, pada akhirnya berniat menemui bah Lemud. Hanya saja sebelum dirinya melakukan itu, tumang berniat menemui Ustad Somad yang terkesan menyembunyikan sesuatu sampai sampai sekedar menjenguk saja dirinya tak berkenan.

"ya sudah Mang kalo begitu paman ikut ke rumah pak Ustad. Penasaran juga sama sikap beliau itu.Mamang juga yakin kok. pasti ada alasan yang kuat mengapa pak Ustad bersikap begini"

Imbuh mang Darman yang juga bingung pada sikap pak Ustad. Tak biasanya sosok panutan itu tak berkenan hadir jika di pintai tolong oleh warga di sekitarnya. Apalagi ini soal orang sakit bahkan sakitnya juga tak wajar. Jangankan di pinta, beberapa hari tak melihat datang ke surau saja, biasanya pak Ustad selalu menanyakan kabar warga itu.

Tak lama setelahnya dan semua orang sudah sepakat, akhirnya Tumang dan mang Darman bertamu ke rumah Ustad Somad.

apalagi ke adaan bik Iroh saat itu sudah tampak tenang. namun begitu menghawatirkan. Bik Iroh diam membisu dan terkadang tiba tiba melelehkan air mata tanpa bisa di tanya apalagi merespon orang di sekelilingnya.

Singkat cerita, di siang itu Tumang dan mang Darman pun sudah datang ke rumah pak Ustad Somad. Bahkan pak Ustad Somad ketika itu terlihat baik baik saja dan tengah menganyam bilik bambu di samping rumahnya.

"coba kau lihat itu Mang. Katanya lagi sakit pak Ustad itu. Tapi masa ia lagi sakit malah bekerja sama kelihatanya segar begitu"

Bisik Mang Darman pada Tumang sebelum keduanya mengucapkan salam pada Ustad Somad.

"walaikumsalam. Eu.. Eu.. Ma... Ma... Mang Darman. Tumang ? Ma... Ma... Mari silahkan masuk mang"

Balas Ustad Somad sembari menyalami kedua tamunya itu. sikapnya samar rampa samar polah alias seperti orang gugup. Bahkan ucapannya yang mempersilahkan masuk itu seperti tak di pikirkan terlebih dahulu. Jika dirinya saja ketika itu sedang berada di luar rumah.

"masuk ke mana pak Ustad ? Apa maksud ke sini maksudnya?"

Sahut Tumang sengaja mencandai pak Ustad dengan cara hendak masuk pada gulungan salah satu bilik yang memang di ikat dan di letakan di sekitar tempat itu.

"aduh maaf jang maaf. Iya ya kok saya malah nyuruh kalian masuk ya. Maksud saya ngobrolnya di rumah saja yuk. Jangan di sini ah tempatnya berantakan begini soalnya. Gimana kabar kalian Mang. Sehatkan? "

Imbuh Ustad Somad seperti salah tingkah dan malah mendahului menanyakan kabar kedua tamunya. Yang padahal kedatangan Tumang da mang Darman ke tempat itu yaitu untuk menjenguk Ustad Somad dan memiliki keperluan lain.

Setelah ketiganya berada di dalam rumah bahkan kedatangannya di sambut juga oleh istri pak Ustad layaknya ketika kedatangan tamu, ketiganya pada akhirnya berbincang dan saling bertanya kabar. Terlebih Tumang yang mengatakan sengaja datang untuk menjenguk pak ustad yang di kabarkan sakit itu. Lalu topik pembicaraan pun beralih pada kabar bik Iroh yang masih dalam ke adaan tak wajar. Tak lupa juga dengan ucapan tanpa mengurangi rasa hormat, mang Darman dan Tumang mempertanyakan alasan pak Ustad Somad tak berkenan hadir ke rumah mang Darman.

Selain dari pada itu, Tumang juga bertanya pada sisi cerita pak Ustad yang katanya sempat sakit karena melihat sosok itu. dan menceritakan semua maksud dan alasan mengapa kedua datang ke rumah Ustad Somad.

"nah jadi begitu pak Ustad maksud kedatangan kami ke sini. saya butuh pandangan dari ustad. Apa salah kalau saya punya rasa curiga pada bah Lemud?"

Ucap Tumang pada Ustad Somad setelah menceritakan semua maksud, pengalaman, kejadian yang di alami, termasuk rencana akan mengikuti saembara itu. Tentu saja Istad Somad yang mendengar semua itu, dirinya berkali kali meminta maaf lalu pada akhirnya menarik nafas dalam.

Ya. Seakan dirinya tak ada pilihan lain untuk tidak mengatakan sesuatu pada kedua tamunya itu.

Ustad Somad ketika itu mengatakan, jika alasan dirinya tak bisa datang ke rumah mang Darman, yaitu karena di malam sebelumya dirinya di datangi sosok lain. Di mana ketika dirinya tengah tidur, antara sadar dan tidak sadar dan terasa seperti mimpi, dirinya tiba tiba kedatangan sosok mahluk yang bertubuh tinggi besar.

Mahluk itu tiba tiba menyergapnya dan memberikan sebuah peringatan yang terkesan itu adalah bagian dari ancaman.

sosok yang menyeramkan dengan taring dan kuku runcing serta memiliki bola mata merah menyala itu mengatakan, jika tak lami lagi Ustad sSomad akan kedatangan seseorang yang akan meminta tolong padanya. Dan jika Ustad somad masih ingin hidup, maka dirinya harus menolak itu tanpa mendekati apalagi berusaha mengobati. Atau diri dan anggota keluarganya akan ada yang celaka.

Dan untuk memastikan jika yang di alaminya itu bukanlah mimpi semata, di dalam mimpinya itu Ustad Somad di beri sepotong ranting kecil yang di masukan ke dalam saku baju oleh mahluk itu.

Sampai di pagi harinya, ketika Ustad Somad sudah terbangun, tiba tiba ia di kejutkan oleh penemuan ranting itu di dalam saku bajunya. dan ranting itu sama persis seperti yang di lihatnya di dalam mimpi. Bahkan tak lama setelah itu, lagi lagi Ustad Somad di kejutkan oleh tangisan anak bungsunya yang menjerit di samping rumahnya ketika hendak menuju sumur yang letaknya persis di samping rumahnya itu. Dan setelah di lihat sembari setengah berlari, pak Ustad mendapati anak bungsunya itu menangis karena telapak kakinya tak sengaja menginjak ranting tajam. Dan yang membuat Ustad Somad semakin bingung, ranting yang tak sengaja di injak anaknya itu adalah jenis kayu yang sama seperti ranting yang ada di dalam saku bajunya sebelumnya.

Tentu saja Ustad Somad yang sebelumnya masih bingung memikirkan mimpinya itu, seketika terkejut dan perlahan meyakini jika ancaman sosok itu bukanlah mimpi biasa. Terlebih jenis kayu yang menusuk kaki anaknya itu adalah ranting kayu besi atau warga biasa menyebutnya 'kayu ulin'. Dan bisa di pastikan pohon kayu itu tak ada di sekitar rumahnya.

"ini mang ranting kayunya kalo mamang tidak percaya. Mamang juga tau sendirikan, kayu ini tak ada di sekitar kampung kita. Jangankan ada di sekitar rumah saya, di dalam hutan sana pun tak ada yang pernah menemukan kayu ini"

Ujar Ustad Somad menyudahi ceritanya dan meletakan dua ranting kecil di hadapan mang Darman dan Tumang.

Sampai pada akhirnya sekitar jam 09.15, Ustad Somad kedatangan warga yang memintanya untuk segera datang ke rumah mang Darman karena istrinya kerasukan.

1
Akbar Aulia
setan silemin iku opo thor
Hendriyan Sunandar: ya itu ka. semacam siluman dan sebangsanya. atau mhluk tak kasat mata.
total 1 replies
Hendriyan Sunandar
amin. terima kasih atas apresiasinya. semoga menghibur dan ada sedikit sedikit hikmah yang bisa di petik dari kisah ini.
Mắm tôm
dahsyat ttg cerita ini, semoga terus sukses author!
Hendriyan Sunandar: amin ya Allah. terima kasih ka. semoga bisa menghibur dan kiranya bisa bantu promokan cerita ini ya. semoga Allah melimpahkan rejeqi yg barokah pada kk. amin
total 1 replies
Rowan
Aku udah ngebayangin situasi karakter-karakter disini ke kehidupan nyata, bisa ngeri ngeri sedap gitu loh!
Hendriyan Sunandar: terima kasih ka sudah berkenan singgah. semoga terhibur dan ada kimha yang bisa di petik di dalamnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!