Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Semangat Anak Remaja
Malam pun tiba. Angin pantai mulai terasa sejuk, aroma asap dan bumbu panggangan memenuhi udara. Di sekeliling api unggun kecil, mereka duduk melingkar. Lampu gantung yang digantung seadanya di antara dua pohon kelapa berayun lembut ditiup angin.
Juliet sibuk membolak-balik daging di atas panggangan sambil sesekali menggoda siapa pun yang berdiri terlalu dekat dengan snack.
“Awas, ini buat semua, bukan buat kamu doang!” serunya pada salah satu temannya yang mencoba mencuri sosis panggang.
Tawa pecah.
Sementara itu, salah satu anak lelaki, jay duduk sambil memegang marshmallow setengah meleleh. Wajahnya serius, matanya menyipit dramatis.
“Kalian tahu nggak…” katanya tiba-tiba, membuat semua sedikit diam.
“Dulu di pantai ini, katanya pernah ada perempuan yang hilang. Malam-malam, dia jalan sendiri karena berantem sama pacarnya. Tapi… dia nggak pernah pulang.”
Suasana mendadak hening.
“Orang bilang, tiap malam Jumat, dia suka muncul nyariin pacarnya… sambil nangis…”
Beberapa anak mulai merapatkan jaket. Lyla melirik Noah sambil menggigit bibir, antara takut dan tertawa.
Tiba-tiba—plak!
Gagang capit dari panggangan mendarat pelan tapi pas di kepala Jay.
“AW!” Jay kaget.
Juliet berdiri di belakangnya, menatapnya sinis.
“Jangan rusak acara dengan cerita hantu mu, dasar pengacau,” katanya ketus, tapi suaranya terdengar geli.
Semua langsung pecah tertawa.
Jay cemberut, mengelus kepalanya. “Aku serius, lho!”
“Serius makan marshmallow aja dulu,” sahut Juliet, melemparkan satu tusuk ke arahnya.
“Woy, jangan melempar makanan!”
Tawa semakin keras. Suasana jadi lebih hangat.Api unggun menyala, menghangatkan malam penuh cerita dan kebersamaan itu.
**
Suasana malam di penginapan tepi pantai mulai sunyi. Angin laut berhembus pelan, membawa suara debur ombak yang menenangkan.
Di dalam kamar, Lyla sudah bersiap untuk tidur bersama teman-teman cewek lainnya. satu per satu teman-temannya mulai terlelap, termasuk Juliet yang sudah membungkus dirinya dalam selimut.
Tiba-tiba, suara notifikasi pelan dari ponsel Lyla membuatnya melirik cepat. Layarnya menyala.
Satu pesan masuk.
Noah:
“Aku ada di luar.”
Lyla tak bisa menahan senyumnya. Ia melirik sekitar, memastikan semuanya tertidur. Juliet tampak diam, seolah sudah berada di alam mimpi. Dengan pelan, Lyla menarik sweater dari tasnya dan mulai melangkah dengan hati-hati, berjinjit menuju pintu.
Namun dari balik selimut, mata Juliet menyipit, mengintip Lyla yang berjalan perlahan seperti pencuri. Ia hanya mendecak pelan dan berbisik sendiri,
“Dasar, lagi kasmaran...”
Lalu menutup matanya kembali tanpa peduli.
Begitu keluar dari kamar, udara malam langsung terasa dingin . Lyla. Ia berdiri sebentar di beranda kecil, menoleh ke kanan dan kiri, namun tak ada siapa pun.
“Hah?” gumamnya pelan, alisnya mengernyit. “Jangan-jangan dia bohong?”
Saat Lyla hendak membalikkan badan untuk kembali ke dalam, tiba-tiba.
“Kangen, ya?” bisiknya
Sebuah suara familiar muncul begitu dekat.
Lyla terlonjak kaget. Noah muncul tiba-tiba dari arah belakang, wajahnya menyeringai nakal.
Lyla memukul pelan bahu Noah, menahan senyum. “Kenapa suka banget muncul kayak hantu, sih!”
Noah tertawa pelan. “Biar kamu nggak sempat nyiapin hati.”
Lyla mencibir pelan, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
*
Lyla dan Noah berjalan pelan di sepanjang garis pantai, di bawah cahaya rembulan yang menggantung sempurna di langit malam. Angin laut bertiup lembut, membelai rambut Lyla yang sedikit berantakan.
Di sisi lain, debur ombak menjadi latar yang menenangkan, seakan menyanyikan lagu diam-diam untuk dua hati yang sedang jatuh cinta.
Mereka masih saling menggenggam tangan, langkah mereka beriringan, seolah waktu ikut melambat untuk memberi ruang pada kebersamaan itu.
Noah melirik ke arah Lyla yang hanya mengenakan sweater tipis.
“Kamu bisa masuk angin kalau pakai sweater setipis itu,” gumamnya sambil berhenti melangkah.
Tanpa menunggu jawaban, Noah melepas jaketnya sendiri, lalu memakaikannya ke bahu Lyla dengan gerakan lembut.
“Gak usah, kamu nanti malah kedinginan,” ucap Lyla pelan, mencoba menolak.
Noah menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Pakai saja. Aku nggak apa-apa,” katanya, suara rendahnya terdengar hangat namun tegas.
Lyla akhirnya membiarkan jaket itu melingkupinya. Ia menunduk, menyembunyikan senyumnya yang malu-malu.
Aroma khas dari jaket Noah langsung menyeruak—wangi parfum maskulin yang lembut, seperti parfum khas remaja puber. Harum yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Noah...” gumam Lyla tanpa sadar.
Noah menoleh cepat. “Hm?”
Lyla menggeleng sambil tersenyum. “Enggak. Cuma... makasih, ya.”
Noah hanya tersenyum kecil, lalu kembali melangkah, kali ini lebih pelan. Tangan mereka kembali bertaut, dan angin malam terasa lebih hangat dari sebelumnya.