Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 6》
Dengan segera, mereka sampai di sebuah restoran Cina, Emily memandang sekitar ketika memasuki tempat itu.
Ia melihat bahwa tempat itu cukup mewah dari bayangannya selama ini, ia kemudian menghitung meja makan dan hanya mendapati 10 buah meja dengan beberapa kursi saja.
"Apa kita makan disini?"
Ini pertama kalinya ia pergi makan bersama Albert, jadi ia tidak terlalu tau bagaimana selera lelaki itu.
"Ya, duduklah," jawab Albert mempersilahkannya duduk.
Kai sendiri sudah mengambil tempat duduk berhadapan dengan Emily.
"Kakak ipar, apa kau tau? Kita perlu reservasi dulu jika ingin makan disini, tapi karna kami orang yang cukup terpandang jadi.. Argh!"
Albert memukul kepala Kai cukup keras.
"Coba tutup mulut mu itu sebentar," ucap Albert.
Begitu Albert duduk, Emily dapat melihat seorang pria dengan tanda pengenal bertuliskan manager menghampiri meja mereka.
"Apa Tuan tidak ingin makan di ruangan saja?" tanya Manager itu, namun Albert menggelengkan kepala dan mengulurkan tangan untuk meminta buku menu yang di bawa oleh pria itu.
Setelah menuliskan makanan yang kami pesan, ia langsung pergi bekerja kembali.
"Kakak Ipar, apa aku bisa tinggal bersama kalian? Aku malas bosan di rumah terus," ucap Kai mengedipkan mata padanya.
"Jangan bercanda, itu tidak akan terjadi"
Albert yang menjawab Kai dengan pandangan tajam padanya.
Emily hanya tersenyum melihat mereka berdua, toh bukan dia pemilik mansion besar itu, dan lagi mereka hanya menikah karna kontrak, jadi ia tidak punya hak untuk memutuskan.
Tak lama kemudian, beberapa pelayan datang membawa makanan, ada banyak hidangan disana, dan semuanya terlihat sangat lezat bagi Emily.
Mereka langsung menyantap makanan itu, Emily terlihat senang begitu merasakannya, sayangnya ia baru saja sakit jadi ia tidak bisa makan banyak.
"Albert, apa kita boleh membawa ini pulang jika tidak habis?" tanya Emily sambil menunjuk pada salah satu hidangan laut yang tadi ia makan.
"Hem," jawab Albert singkat.
Emily kembali makan, namun tiba-tiba ia tersedak, mungkin karna ia makan terlalu cepat.
Uhuk uhuk..
Emily menundukkan kepala, tangannya memegang dada nya berusaha membuat dirinya agar tenang.
Semakin ia batuk, dada nya semakin sakit.
"Kaka ipar, kau tidak papa?"
Kai yang melihat dan tidak tau harus berbuat apa, ia panik.
Albert mengangkat kepala Emily dan membantunya agar dia duduk lebih tegak, Albert dapat melihat sedikit air mata yang mengalir di pipi Emily.
"Tenang, tarik nafas perlahan, cobalah berkonsentrasi"
Emily hanya bisa mendengar suara Albert sambil memfokuskan diri untuk menghirup udara dengan perlahan.
"Bagaimana?" tanya Albert begitu ia merasa gadis itu sudah tidak terbatuk lagi.
"Kakak ipar kau menakuti kami, ini minumlah dulu"
Kai memberikan segelas teh hangat pada Emily untuk di minum.
Beberapa saat kemudian Kai menerima sebuah telepon lalu pamit dari sana, ia pergi menggunakan taksi karna tadi ia ikut bersama mereka di mobil.
"Emily" Panggil Albert.
"Ya?" Emily masih menunggu Albert menghabiskan makanannya.
"Apa kau ingin melakukan pemeriksaan menyeluruh?" tanya Albert, ia ingin tau apakah ada penyakit serius pada Emily, tentu saja bukan karna ia jatuh cinta, ia hanya ingin memastikan kontrak pernikahan mereka berjalan dengan baik.
"Tidak usah, aku hanya terkena angin dingin saja," ujar Emily, lagi pula ia sudah tau akhir kisah dari tokoh ini, mati karna penyakit yang tak bisa disembuhkan, memeriksakan diri ke dokter dan berobat juga tidak ada gunanya, malah menghabiskan uang saja.
Emily lebih memilih menghabiskan uang itu untuk menyenangkan dirinya sebelum benar-benar mati nanti.
Kring Kring..
Albert mendapatkan sebuah panggilan telpon, ia berdiri dan menjauh dari Emily, namun gadis itu masih bisa sedikit mendengar percakapannya.
"Sepertinya masalah keluarga" gumam Emily, ia tak penasaran lagi dan setelah itu mereka kembali pulang.
Di hari berikutnya, Albert kembali pada mode gila pekerjaan, ia tidak pulang ke mansion hampir tiga hari, namun itu tidak masalah bagi Emily.
Ia bersenang-senang di rumah, apalagi sekarang ia punya kesibukan baru yaitu menyirami kebun yang sudah di buat.
"Nona, jangan terlalu lama di luar, saya takut Nona jatuh sakit lagi"
Bibi Vei menjadi sangat memperhatikannya mulai dari ia pulang dari rumah sakit.
"Baik Bibi, aku akan segera masuk," jawab Emily, ia juga tidak mau sakit lagi, apalagi sekarang sudah memasuki musim dingin, ia bisa masuk angin.
Begitu ia masuk, ternyata Albert baru tiba, ia bergegas mendekati pria itu.
"Apa kau ingin makan?" tanya Emily.
Albert tak menjawab, ia hanya berjalan menuju meja makan lalu duduk disana.
Emily tersenyum dan ikut duduk di sampingnya.
"Bagaimana pekerjaan mu?" tanya Emily, ia sudah makan tadi, jadi ia hanya menemani Albert disana.
"Cukup sibuk," jawab Albert dengan singkat.
"Oh ya, besok ikutlah bersama saya, kita akan berbelanja"
Mendengar kata berbelanja membuat Emily bersemangat, karna Albert yang mengajaknya, maka sudah pasti ia yang akan membayar.
Ternyata Albert mengajaknya berbelanja karna sebentar lagi mereka harus menghadiri pertemuan keluarga yang di lakukan sebulan sekali.
"Mana yang bagus?" tanya Albert pada penjaga toko emas, mereka berada di sana bukan karna Emily yang meminta, Albert yang menyuruhnya memilih satu set perhiasan untuk di pakai saat pertemuan nanti.
"Apa ini harus di pakai? Aku benar-benar tidak butuh," Emily melihat perhiasan yang di pilihkan oleh penjaga itu dan merasa bahwa itu sangat mahal.
"Tidak papa, yang lain pasti memakai yang lebih mewah dari itu"
Albert sudah tau bagaimana watak keluarganya, banyak yang datang hanya untuk memamerkan kekayaan dengan menggunakan barang mewah atau branded.
Albert melakukan pembayaran setelah Emily menentukan pilihannya.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Emily, mereka sudah berputar-putar di mall selama beberapa jam dan sudah banyak barang yang mereka beli.
Tas belanjaan mereka sudah banyak dan membuat sekretarisnya kewalahan.
"Biar aku bawa sedikit..," Emily mencoba mengambil beberapa tas belanja namun di tolak oleh sekretaris itu.
"Jangan Nona, nanti Tuan Albert bisa marah," ucapnya.
Emily melirik Albert yang ternyata masih mencari dasi.
"Bukankah dasi milik mu sudah banyak?"
Emily mengingat bagaimana Albert selalu memakai dasi berbeda setiap pergi ke kantor, ia tak perlu pergi ke kamar Albert untuk mengetahui hal ini.
"Ya, tapi saya mau beli lagi"
Sekarang Emily pasrah, ternyata pria yang jarang berbelanja itu, sekalinya keluar bisa menghabiskan banyak uang.
Ia tak peduli lagi, hal yang ada dipikirannya sekarang adalah pulang dan tidur, badannya sudah capek di gunakan berjalan seharian di mall.
"Apa sudah selesai?" tanya Emily begitu Albert menghampirinya.
"Ya, ayo kita pulang"