Zhefinca yang dua tahun telah menikah dengan Giovano, ia hanya bertemu satu kali saat pernikahan, dan setelah itu keduanya hidup dengan masing-masing namun status tetap menjadi suami istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Zhefinca
Malam ini Zhefinca begitu sulit tidur, karena ia harus berbagi tempat tidur bersama suaminya. Sedangkan Giovano sudah terlelap dengan dengkuran kecilnya.
Zhefinca hanya membuka media sosial miliknya, lalu membaca pesan-pesan yang masuk termasuk pesan Rosa.
“Apa dia masih tidak menyadari kalau aku Zhefinca?” batinnya.
Giovano membuka matanya, ia merasa haus. Kemudain ia menatap ke samping, melihat Zhefinca yang membelakanginya dan terlihat asik dengan ponselnya yang kecerahan layarnya di redupkan supaya tidak mengganggu.
Merasa ada pergerakan, Zhefinca segera menoleh kearah Giovano. Dia berjalan keluar kamar, lalu masuk dengan membawa gelas minumnya.
Zhefinca berusaha bersikap waspada karena menurutnya Giovano sering melakukan hal tiba-tiba diluar prediksinya.
“Kenapa gak tidur?” tanya Gio sambil kembali merebahkan tubuhnya.
“Belum ngantuk”
“Bukannya biasanya jam 10 sudah tidur”
Deg!
“Dia tahu dari mana?” batin Zhefinca.
“Iya biasanya, hari ini tidak.”
Giovano masih melirik kearah Zhefinca, wajahnya yang terlihat jelas karena mendapat cahaya dari layar ponselnya, begitu terlihat cantik, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis membuatnya terlihat begitu sempurna.
Srek!
Giovano menarik tubuh Zhevinca ke pelukannya. Sementara Zhefinca yang tidak siap dia terhuyung begitu saja.
Tangan Giovano mengusap pelan bahu Zhefinca, yang lama kelamaan membuatnya begitu rileks dan mengantuk. Hingga akhirnya Zhefinca memejamkan matanya, dan terlelap dalam pelukan Giovano.
Pagi hari saat sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui celah tirai kamar, membuat Zhefinca mengerjap dan membuka matanya.
Posisi Zhefinca dan Giovano masih sama, ia tetap berada di pelukan suaminya tersebut. Matanya menatap kearah suaminya, wajahnya terlihat begitu teduh. Seperti begitumudah di gapai, namun kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan.
Pikiran Zhefinca mulai mengarah kepada bab buku yang ia tulis. Ia kembali menatap wajah tampan suaminya tersebut. Kemudian mulai meyakinkan dirinya, jika dia akan bersaing dengan Rosa dengan sisa waktu 10 bulan yang ia punya sebelum kontrak berakhir.
Zhefinca bangun dengan perlahan, kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan keluar menggunakan bathrobe dengan handuk di kepalanya.
Melihat waktu sudah menunjuk pukul 7.30. Zhefinca mendekat kearah tempat tidur, lalu menyentuh lengan Giovano dengan jarinya.
“Hmm” ucap Giovano dengan mata terpejam.
“Sudah jam setengah delapan” ucap Zhefinca sembari memutar badannya dan menuju lemari untuk mengambil pakaian.
Sementara Giovano membuka matanya dengan berat, lalu meraih ponsel dan membuka pesan dari Arka untuk mengetahui kegiatannya hari ini.
“Kamu hari ini kemana?” tanya Giovano.
“Pergi ke kantor Pak Roy”
“Jam?”
“Jam 10”
“Nanti dijemput Arka, biar dia yang antar”
“Iya”
Giovano berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Zhefinca yang tengah sibuk sendiri dengan pakaiannya.
Setelah memastikan Giovano masuk, ia melepas bathrobe yang menutupi tubuhnya, lalu segera memakai pakaiannya dan bersiap.
Zhefinca juga kembali memeriksa pekerjaanya, bahkan ia tidak menyadari jika Giovano sudah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Glek!
Zhefinca menatap Giovano yang sedang mengambil kemejanya. Matanya tertuju pada tubuh Giovano yang sangat atletis.
“Seperti di film-film” batin Zhefinca.
Giovano menatap Zhefinca dan tersenyum tipis, lalu ia mendekati istrinya yang sedang memperhatikannya itu.
“Mau pegang?” Goda Giovano.
Kembali teringat dengan buku yang ia tulis, Zhefinca justru menatap Gio dengan tatapan melawan.
Tangannya terangkat begitu saja menyentuh perut pria yang ada di depannya. Giovano sedikit terkejut, karena Zhefinca begitu berani. Hingga pia berfikir atau Zhefinca memang seperti ini.
“Kenapa mundur?” tanya Zhefinca.
“Sepertinya kamu sudah terbiasa skin touch”
Zhefinca menyeringai, kemudian ia berdiri mendekati Giovano. Menatap dengan lekat dan dengan rasa penuh percaya diri.
“Aku tidak sembarangan menyentuh laki-laki” bisik Zhefinca.
Kemudian Zhefinca meninggalkan Giovano, namun Giovano lebih cepat menghalangi Zhefinca hingga tubuh wanita itu kini berada dalam perlukannya.
“Oh ya? Tubuh siapa yang pernah kamu pegang?”
“Kamu, barusan”
“Laki-laki itu?”
“Aku tidak tertarik dengan milik orang lain”
“Tapi aku milik Rosa” sanggah Gio dengan cepat.
“Kamu milikku, aku istri sah kamu. Aku tidak pernah menganggap ada keberadaan wanita itu. Yang aku tahu, kamu milikku” tegas Zhefinca dengan mengusap lembut lengan Giovano.
Darah Giovano mengalir cepat, tubuhnya terasa memanas karena mendapat sentuhan lembut dari Zhefinca.
Tangan Giovano menyibakkan rambut Zhefinca, memandangi paras ayu istrinya, leher yang jenjang, tubuh yang sempurna.
“Mmpph”
Zhefinca begitu terkejut ketika bibir Giovano mendarat di bibirnya. Tidak ingin melawan, ia justru membuka bibirnya dan membalas ciuman suaminya.
Ciuman pertama milik Zhefinca, kini sudah direnggut oleh Giovano. Tangan Zhefinca mengalungkan di leher Giovano, seperti tengah menikmati ciuman panas tersebut, meskipun ia merasa begitu takut.
Hingga ciuman itu berhenti karena Zhefinca menghentikan dengan mendorong tubuh Giovano. Dengan posisi masih saling memeluk, tatapan mereka begitu lekat satu sama lain, dan ketika Giovano hendak mendekat, jari Zhefinca sudah mendarat di bibir suaminya.
“Jam 8” ucap Zhefinca yang kemudian melepas pelukannya.
Sementara Giovano yang masih bertelanjang dada hanya tersenyum tipis, kemudian dia berjalan mendekati lemari pakaiannya, dan segera bersiap untuk bekerja.
Suasana hati Giovano mendadak baik seketika setelah kejadiannya dengan Zhefinca, Arka yang sedang fokus dengan mobil yang ia kemudi sedikit heran dengan Giovano.
“Arka, jam 9.30 harus sudah sampai apartemen. Antarkan Zhefinca ke kantor produser film” ucap Giovano.
“Baik Pak”
Arka tersenyum tipis ketika mendengar jika Zhefinca berada di apartemen milik Giovano, ia merasa lega, karena hubungan keduanya memang baik-baik saja.
“Sampai dimana pengintaian kamu?”
“Lukas datang kesini karena ada sedikit kemarahan Pak, karena kemarin Bu Rosa sempat ingin mengelabuhinya soal pembelian hotel yang di batalkan” jawab Arka.
“Kamu tahu dari mana?”
“Waktu Pak Gio meminta saya untuk mengakuisisi hotel tersebut, saya memberitahukan kepada Lukas tentang rencana Bu Rosa”
“Oh jadi karena itu Rosa membatalkan”
“Benar Pak. Apapun yang menjadi milik Bu Rosa, harus menjadi milik berdua. Dan selama ini Bu Rosa membantu Lukas dengan menguras uang Pak Gio”
Giovano mengangguk, dia kembali teringat dengan Rosa yang menginginkan uang dari rekening pribadinya, dan ia benar-benar menolak dibantu Arka ataupun aistennya.
“Dan saat ini, Bu Rosa tengah hamil”
“Hamil?”
“Benar Pak, sebelum ke Canada Bu Rosa sempat ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit milik Pak Gio, dan dokter mengatakan jika memang Bu Rosa tengah hamil”
*FLASHBACK ON*
“Baby, tapi hari ini aku sedang datang bulan. Aku tidak bisa memuaskanmu”
“Tidak masalah Rosa, tidak harus dengan berc*nta”
*FLASHBACK OFF*
“Rosa, kamu sudah sejauh ini menipuku” batin Giovano dengan rahangnya yang mengeras.
Sementara dirumah, Zhefinca masih syok karena mengingat apa yang sudah ia lakukan bersama Giovano.
“Aku sudah melangkah Gio, dan aku tidak akan berhenti. Apapun hasil akhirnya” ucap Zhefinca dengan penuh keyakinan.