Mu Yongsheng adalah jenderal Kekaisaran Dalu yang sangat setia. Tiba-tiba kekaisaran Dalu yang tenang itu menjadi kacau dengan kematian sang putri dan pengkhianatan yang di lakukan oleh sang perdana mentri.
Saat Mu Yongsheng membantu sang kaisar menyelamatkan diri dari kekacauan itu, dirinya terjatuh di dasar jurang hitam, hingga akhirnya bertemu dengan Zhaoyang seorang pendekar suci.
Pertemuan itu mengubah jalan hidupnya.
Bagaimana kisahnya?
Simak terus PENDEKAR PEDANG DARI TIMUR, dan dukung penulis dengan:
👉Like,
👉Rite dan
👉koment.
🙏Terima Kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhistira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Menyeberangi Sungai Yu
Pertempuran menjadi sedikit berimbang dengan kehadiran Jendral Shilin.
Pemimpin pasukan pembunuh bayaran begitu kesal. Dirinya tidak pernah menyangka bahwa akan ada pasukan tambahan yang membantu Yongsheng dan Huanran.
"Argh.." teriaknya begutu kesal saat melihat pertempuran itu berubah kacau, di mana anak buahnya satu-persatu dirobohkan dengan mudah oleh Yongsheng dan Huanran.
Yongsheng dan Huanran semakin bersemangat. Sabetan pedang dan tusukan tombak merobohkan musuh satu persatu sehingga membuat sang pemimpin pasukan bayaran menarik pasukannya.
"Mundur!" Perintah Sang Pemimpin sambil berusaha meninggalkan tempat itu.
"Sudah datang, tapi ingin pergi Jangan harap," ucap Yongsheng dan Huanran bersamaan lalu mengejar dan menyerang pasukan pembunuh bayaran itu dengan beringas.
Sang Pemimpin merasa tindakannya sia-sia, justru memecah kekuatan kelompoknya akhirnya kembali lagi dan bertempur dengan kekuatan penuh.
Kini hanya tersisa tujuh pendekar termasuk sang pemimpin. Lima diantaranya adalah pendekar tingkat raja dan dua diantaranya adalah pendekar tingkat Kaisar.
"Kalian adalah organisai sampah yang yang benar-benar merepotkan," ucap Yongsheng memancing kemarahan mereka.
"Hah, kalian adalah sampah ke kaisaran Dalu. Aku akan menghanyutkan kalian di sungai Yu ini."
Sang pemimpin pasukan pembunuh bayaran itu lalu menyerang Yongsheng dan Huanran dengan ganas.
"Saudara Huanran, tangani wakil pemimpin bersama Jenderal Shilin, dan serahkan Sang Pemimpin busuk ini padaku. Aku ingin melihat kehebatan seorang pendekar tingkat kaisar yang dia banggakan itu." ucap Yongsheng sambil tersenyum sinis pada sang pemimpin.
Kata-kata yang lontarkan oleh Yongsheng benar-benar memancing kemarahan sang pemimpin pembunuh bayaran.
"Argh..." raungannya menggema lalu mencabut sebuah pedang berwarna hitam pekat yang terlihat memiliki kekuatan kegelapan.
"Aku ingin melihat kehebatan Sang Pemimpin pembunuh bayaran bambu hitam, Maaf maksudku bambu busuk yang telah termakan rayap."
Sekali lagi kata-kata yang dilontarkan oleh Yongsheng, berhasil membuat urat berwarna biru muncul di kening sang pemimpin.
Slash... tebasan angin pedang melesat ke arah Yongsheng.
Boom... Ledakan keras mendorong kedua pendekar tersebut terlempar hingga berapa meter.
"Apa! Bagaiamana mungkin dia mampu menahan serangan pedang bambu hitam."
Sang Pemimpin merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dalam pertukaran serangan pertama sebelumnya dirinya dapat terlempar hingga tiga meter karena menahan dua serangan, tetapi dirinya tidak menyangka bahwa Yongsheng ternyata mampu mengimbangi kekuatan nya.
Perlahan namun pasti, nyali sang pemimpin itu menjadi ciut, tetapi dia tidak ingin kehilangan wajah, terlebih lagi dengan provokasi yang terus dilontarkan oleh Yongsheng benar-benar membuatnya tidak ingin menarik diri.
Tangan Yongsheng bergetar dan terasa kebas. "Sungguh serangan yang sangat mengerikan. Jika Aku menggunakan pedang biasa sudah dapat dipastikan bahwa pedang itu akan hancur," batinnya.
Saat sebelum sang pemimpin melancarkan serangan, Yongsheng terlebih dahulu telah menukar pedang peraknya dengan pedang sucinya.
Yongsheng segera berdiri sambil menggenggam erat pedang suci yang baru saja dibelinya di kota Cao itu.
"Hahaha, ' ternyata serangan seorang pendekar tingkat Kaisar tidak ubahnya seperti serangan seorang pendekar tingkat raja, maaf maksudku tingkat prajurit."
"Kau ini mencari kematian, maka akan kuberikan." Sang Pemimpin melesat ke arah Yongsheng sambil menebaskan pedangnya.
Trangk... suara pedang beradu hingga menggetarkan udara yang berada di sekitar tempat itu.
Pertempuran dua pendekar Pedang itu pun berlangsung dengan sengit. Mereka berdua telah bertukar puluhan jurus hingga Yongsheng terlempar beberapa meter.
"Oh ternyata sudah ada peningkatan, tetapi itu membuatku semakin bersemangat," ucap Yongsheng sambil mengeluarkan kekuatan penuhnya dan menyerang dengan ganas.
Dalam pertarungan sebelumnya dirinya hanya melawan dengan kekuatan seadanya tanpa menggunakan kekuatan penuh, tujuannya jelas yaitu untuk menguras tenaga sang pemimpin pembunuh bayaran tersebut. Selain itu, provokasi yang dilancarkan oleh Yongsheng berhasil memancing kemarahan sang pemimpin sehingga dirinya terus-menerus menggunakan kekuatan penuh.
"Penebas malam," ucap Yongsheng sambil melepaskan tebasan dengan kekuatan tenaga dalam penuh.
Trangk..trangk.. pedang itu beradu dengan keras hingga membuat tangan sang pemimpin merasa kebas.
"Oh tidak aku telah terpancing," ucap Sang Pemimpin menyadari kesalahannya ketika tenaganya telah terkuras.
Ambisinya untuk membunuh Yongsheng secepat mungkin membuatnya menggunakan kekuatannya secara penuh, sehingga membuatnya kehilangan fokus.
Slash...
"Ah... " ucapnya tiba-tiba saat pedang yang digenggamnya terbang dan terlebih lagi rasa sakit tiba-tiba bergelayut pada bahunya.
"Oh tidak,"
Sambil menahan rasa sakit, Sang pemimpin itu lalu segera mundur untuk melarikan diri, dirinya tidak percaya bahwa tanganya telah terpotong. Malang nasibnya dari arah samping Huanran tiba-tiba muncul dan menombaknya dengan keras.
Tanpa dapat menghindar, tombak tersebut mengenai nya denga telak.
"Ah..." teriaknya saat tombak itu menancap tepat di jantungnya.
"Tidak ..." ucapnya lirih.
Pandangannya tiba-tiba menjadi nanar sambil berusaha tersadar. Dirinya tidak menyangka bahwa organisasi yang telah didirikannya lenyap dalam sehari bahkan bersama dengan dirinya.
Dengan perlahan tubuh itu roboh.
Huanran dan Yongsheng menghampiri tubuh yang tergeletak itu lalu memastikannya.
"Dia benar-benar sudah mati," ucap Huanran lalu mencabut tombaknya.
"Sepertinya ini adalah pedang yang bagus," ucap Yongsheng sambil meraih pedang yang digunakan sang pemimpin pembunuh bayaran lalu menyimpannya.
"Oh tidak, Yang Mulia Kaisar," ucap Yongsheng.
Mereka saling berpandangan lalu meninggalkan tempat itu.
"Ke barat," ucap Yongsheng bergerak dengan cepat.
Kelompok tersebut lalu bergerak menyusul Komandan Lian yang telah membawa kaisar Hongli sebelumnya.
Ketiga jederal itu terus bergerak ke arah barat dengan kecepatan tinggi.
Sambil berlari, Yongsheng terus memindai daerah itu dengan kesadarannya.
"Berhenti!"
"Saudara Yongsheng, ada apa?" tanya Jenderal Shilin bingung.
"Aku dari tadi tidak dapat merasakan keberadaan mereka, tetapi di depan kita adalah jurang."
Mereka saling berpandangan.
"Oh tidak, apakah mereka ... " ucap Jenderal Shilin panik.
Tujuh prajurit yang tersisa dari kelompok Jenderal Shilin datang dengan nafas tersengal-sengal.
"Jenderal Shilin ada apa?"
"Kalian tunggu dulu disini," ucap Shilin lalu melompat kedalam jurang menyusul Yongsheng dan Huanran yang telah terlebih dahulu memasuki jurang itu.
Prajurit yang tersisa itu saling berpandangan.
"Sebaiknya kita tunggu saja mereka," ucap salah satu prajurit lalu mencari tempat untuk memulihkan diri.
****
Di dasar jurang.
Yongsheng dan Huanran terus menyusuri kedalaman jurang mencari keberadaan Kaisar Hongli beserta rombongannya.
"Saudara Yongsheng, Apakah kau merasa keberadaan mereka?"
Yongsheng hanya menggelengkan kepalanya.
Tidak Berapa lama kemudian Shilin muncul dengan tergesa-gesa.
"Saudara Yongsheng dan Huanran, bagaimana?"
"Begini saja, kita akan bergerak pada tiga arah yang berbeda. Aku akan ke barat, saudara Shilin ke arah selatan dan saudara Huaran ke arah utara. Setengah batang dupa kemudian, kita akan berkumpul di tempat ini." Yongsheng memberi arahan.
Dengan segera ketiga jenderal itu bergerak pada arah yang berbeda.
***
Seberang Sungai.
Komandan Lian membawa Kaisar Hongli beristirahat di bawah pohon.
"Yang Mulia Kaisar, kita akan beristirahatlah di tempat ini."
"Baik. 'Aku harap Yongsheng dan Huanran dapat mengatasi para pembunuh bayaran itu ..." ucap Hongli lirih.
"Aku akan memastikan keberadaan mereka," ucap komandan Lian lalu memerintahkan dua prajurit untuk kembali ke seberang sungai.
"Kalian berdua pergi dan cari keberadaan Jenderal Yongsheng dan Huanran!"
"Baik, Komandan." jawab kedua prajurit itu lalu bergerak dengan cepat.
Catatan :
Membakar Dupa merujuk pada periode waktu yang singkat bisa 5-30 menit.
krn cintanya tertuju pd jia li
sungguh mengharukan