NovelToon NovelToon
The Kings And The Woman

The Kings And The Woman

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lilly✨

Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.

"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Cahaya remang dari lampu kristal di langit-langit kamar mandi memantul lembut di permukaan air hangat yang beriak pelan. Uap tipis memenuhi ruangan, membiaskan bayangan Selena yang duduk di tepi bak mandi, jari-jarinya menyentuh air dengan gerakan lambat. Gaun tidurnya yang longgar melorot sedikit dari bahunya, memperlihatkan kulit pucatnya yang seakan bersinar di bawah temaram cahaya.

Di punggungnya, sesuatu yang indah namun mengundang rasa gentar terukir dengan sempurna—bunga Nyx. Kelopaknya menjuntai anggun, seolah berayun dalam kegelapan malam, dengan warna pekat yang hampir seperti bayangan sendiri. Setiap helai kelopak tampak seperti dilukis oleh kegelapan, berbaur dengan kulitnya seakan menjadi bagian dari dirinya.

Konon, bunga Nyx adalah pemberian sang dewi malam kepada mereka yang ditakdirkan untuk berjalan di antara bayangan dan cahaya. Tidak ada yang bisa memilikinya, kecuali mereka yang darahnya telah menyatu dengan malam itu sendiri.

punggungnya memperlihatkan ukiran bunga itu yang tampak nyaris berpendar di bawah redupnya lilin. Sekilas, kelopaknya terlihat seperti terbentuk dari kegelapan itu sendiri, seolah-olah malam pernah menyentuhnya dan meninggalkan tanda yang tak bisa dihapus.

"Hm?ada apa?."tanya nya kepada seorang pelayan yang memperhatikan nya .

"itu -Anda memiliki tato yang indah..."kata nya

dia termenung sejenak dan menarik sudut bibir nya,dia tertawa kecil dan bersandar,"Indah?ya mungkin..."kata nya sembari menutup mata nya.

pelayan itu tidak mengerti maksud nya,dia hanya kebingungan.

Berendam dalam kehangatan air, Selena membiarkan kepalanya bersandar di tepi bak. Uap yang berputar di udara terasa seperti selubung tipis yang memisahkan dirinya dari dunia nyata. Tatapan biru safirnya menerawang, kosong namun dipenuhi sesuatu yang sulit diartikan—seperti kenangan lama yang samar, atau bayangan yang enggan pergi.

Pelayan yang berdiri di sampingnya, masih memegang pakaian yang telah disiapkan, melirik punggungnya sekilas lagi sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya, "Nona... jika boleh bertanya, apa arti dari bunga itu?"

Selena membuka matanya perlahan, pupilnya tampak dalam, seakan menelan cahaya yang mencoba menyentuhnya. Ia mengangkat tangannya dari air, menatap tetesan yang mengalir di ujung jarinya sebelum menjawab, "Bunga Nyx... adalah lambang dari mereka yang berjalan di antara kegelapan dan cahaya. Itu bukan sesuatu yang bisa dimiliki sembarang orang."

Nada suaranya datar, namun ada sesuatu yang tak terucapkan di baliknya—sesuatu yang membuat pelayan itu merasakan hawa dingin merayap di punggungnya.

Pelayan itu menunduk, merasa ia telah bertanya terlalu jauh. Ia buru-buru menata kembali pakaian di tangannya dan berkata, "Saya akan menyiapkan teh untuk Anda, Nona."

Selena tersenyum tipis, entah mengiyakan atau membiarkan pelayan itu melarikan diri dari percakapan yang terasa begitu menekan. Saat pintu kamar mandi tertutup di belakangnya, Selena kembali menatap permukaan air.

Bayangan bunga Nyx yang terpantul di dalamnya tampak bergetar bersama riak air, seperti sesuatu yang hidup. Ia menghela napas pelan.

"Indah, ya?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi, seperti malam... keindahannya hanya bisa dilihat oleh mereka yang tahu bagaimana hidup di dalamnya."

Lalu, dengan gerakan ringan, ia menyelamkan dirinya ke dalam air, membiarkan keheningan menyelimuti seluruh tubuhnya—seolah mencari sesuatu di kedalaman yang tak bisa dijangkau oleh siapa pun.

Setelah mandi, Selena mengenakan jubah tidurnya dan membiarkan rambut emasnya yang masih basah terurai di punggung. Cahaya lilin berpendar lembut di kamar yang temaram, menciptakan bayangan samar di dinding. Ia baru saja duduk di tepi ranjang ketika ponselnya yang tergeletak di meja bergetar, menampilkan dua nama yang sudah lama tidak ia lihat di layar.

—Dante & Valeria

Alisnya sedikit terangkat. Selena menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat telepon.

"Halo?" Suaranya lembut, tetapi terdengar sedikit terkejut.

"Selena! Akhirnya kau mengangkat!" Suara seorang wanita, Valeria, terdengar ceria di seberang sana. "Kau masih di Swiss, kan?"

Sebelum Selena sempat menjawab, suara laki-laki lain menyusul, lebih dalam dan tenang. "Kami ingin bertemu denganmu. Sudah tiga tahun, Selena."

Selena tersenyum tipis. "Dante... Valeria… Aku tidak menyangka kalian akan meneleponku tiba-tiba seperti ini."

"Kami juga tidak menyangka kau akan menghilang begitu lama," Dante terkekeh. "Kami di Italia sekarang. Kau harus datang! Tidak ada alasan untuk menolak."

"Benar! Kau selalu sibuk sejak kembali ke Inggris. Setidaknya beri kami kesempatan untuk menghabiskan waktu bersamamu sebelum kau menghilang lagi," Valeria menimpali dengan nada setengah memohon.

Selena menghela napas kecil, matanya menerawang ke luar jendela.

Italia, huh?

Ia bisa saja menolak, tapi ini Dante dan Valeria—dua orang yang selalu ada untuknya selama masa universitas dulu. Sudah lama sejak terakhir kali mereka bertemu, dan jujur saja, bagian kecil dalam dirinya merindukan kebersamaan mereka.

"...Baiklah," akhirnya Selena menjawab. "Aku akan ke Italia besok."

Teriakan kecil dari Valeria terdengar di seberang telepon. "Ya Tuhan, akhirnya! Kau tidak akan menyesal, Selena. Kami akan mengatur semuanya!"

Dante tertawa pelan. "Sampai bertemu di Italia, Selena."

Selena menutup telepon dengan senyum tipis.

Italia, huh?

Mungkin ini akan menjadi perjalanan yang menarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!