Anna tanpa sengaja menghabiskan malam panas dengan mantan suaminya, Liam. Akibat pil pe-rang-sang membuatnya menghabiskan malam bersama dengan Liam setelah satu tahun mereka bercerai. Anna menganggap jika semua hanya kecelakaan saja begitu pula Liam mencoba menganggap hal yang sama.
Tapi, semua itu hilang disaat mendapati fakta jika Anna hamil setelah satu bulan berlalu. Liam sangat yakin jika anak yang dikandung oleh Anna adalah darah dagingnya. Hingga memaksa untuk menanggung jawabi benih tersebut meskipun Anna sendiri enggan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Mobil mewah menyusuri perjalanan kota Jakarta yang sangat ramai dan padat. Didalam mobil tersebut ada dua orang yang belum mengerti dengan perjalanan hidup yang mereka ambil. Terlebih Anna terus saja memikirkan dan menyakinkan apakah ia sedang bermimpi atau tidak. Kembali dalam satu mobil berdua dengan Liam, sudah satu tahun berpisah tidak juga membuat takdir menjauh memihak dirinya.
Tiada henti tangan Anna mencubit pipinya sendiri, berharap jika semuanya hanya mimpi. "Pasti aku sedang mimpi, pasti!" Sampai Anna sengaja menguatkan cubitan di pipinya, bukan mimpi yang ia dapatkan melainkan rasa sakit. "Astaga, sakit sekali!" Anna memukul tangannya sendiri yang telah menyakiti pipinya.
Tanpa Anna sadari sebenarnya Liam sesekali memperhatikan setiap ulahnya, hanya saja pria itu tetap diam fokus pada benda pipih ditangannya.
"Kau tidak bermimpi, An. Kehamilanmu sangat nyata, 2 hari di Rumah Sakit tidak bisa membuatmu sadar juga?" Tanya Liam meski fokusnya pada benda pipih ditangannya.
Anna melirik tajam pria di sampingnya itu, menyebalkan sekali rasanya. Tangan Anna saling melipat didada, memikirkan sesuatu hal yang sangat menarik yang mungkin saja bisa menjadi perdebatan antara dirinya dengan Liam.
"Kau tidak takut, jika suatu saat aku dan anakmu ini bakal ketahuan oleh Emma?" Sejujurnya Anna takut bertanya seperti itu hanya saja ia ingin mengetahui sedikit informasi.
Disaat Liam menyimpan ponselnya di saku celana semakin membuat jantung Anna berdegup kencang. "Selamatkan aku, Tuhan.." Gumamnya di dalam hati, didalam jiwa takut tapi ekspresi wajah Anna terlihat biasa saja.
"Seperti peraturan yang telah kita sepakati, berhenti untuk tidak ikut campur urusan satu sama lain." Jawaban Liam yang sama sekali tidak sesuai dengan apa yang Anna bayangkan dan harapkan.
"Aku hanya bertanya_"
"Berhenti bertanya apapun, An. Tugasmu hanya membesarkan anakku saja, memberikan kehidupan pada anakku selama sembilan bulan."
Anna terdiam, dadanya terasa sangat sakit mendengar kata pedas itu tapi tetap berusaha mengabaikan. "Setelah anakku lahir sesuai sepakatan kita berdua.. bahwa kau akan pergi jauh dariku maupun anakku." Sambung Liam lagi tapi kali ini sedikit penuh penekanan hingga Anna tidak bisa berkata apapun.
Liam memastikan jika Anna tidak akan protes apapun, dan ya wanita itu bersandar pada jendela mobil pastinya tidak akan berkata apapun lagi. Menanyakan hal-hal tidak perlu yang hanya memancing keributan, Liam sangat menghindari hal itu.
"Semua sudah kau beres apa yang aku minta tadi?" Tanya Liam kepada Ezra yang menyupir.
Sedikit banyaknya Ezra mendengar perdebatan yang terjadi, ia sedikit menyayangkan sikap ketus Tuannya tadi. Tapi, apa yang bisa dilakukan Ezra kecuali hanya diam menerima perintah selanjutnya.
"Sudah, Tuan. Pelayan akan datang malam nanti, semua barang-barang Nona Anna juga sudah saya pindahkan ke Apartemen."
Sontak Anna langsung kembali duduk tegak, ia menatap tajam Liam yang tetap diam menatap lurus kedepan. "Kau memindahkan semua barang-barangku?"
"Apa salah?" Liam bertanya sangat tenang seolah tidak melakukan kesalahan apapun pada kehidupan Anna.
"Jelas salah! Kau tidak berhak memindahkan semua barang-barangku, Liam!" Anna protes, kini ia dan Liam saling tatap satu sama lain. "Aku ingin tetap bekerja, jadi_"
"Kau tidak boleh bekerja apapun, An. Ikuti kelas kehamilan lalu istirahat, semua itu demi kebaikan anakku." Sela Liam, ia seakan tidak mau mendengar alasan apapun.
Anna sungguh tidak percaya dengan keputusan sepihak yang menekan dirinya ini. Bagaimana bisa Liam memutuskan semua ini dengan cara tidak adil dan sangat egois.
"Lalu, dimana untuk kebaikan aku?!" Tanya Anna dengan berteriak, ia sudah terlalu lelah dengan semuanya.
Tidak ada jawaban apapun dari Liam, kembali fokus pada perjalanan yang terlewati. Mengabaikan Anna yang menatapnya penuh rasa dendam dan amarah, ia tidak memperdulikan semua tatapan itu. Yang Liam pikirkan semua yang ia lakukan dan berikan adalah demi kehidupan terbaik untuk Anna dan anaknya.
"Kau egois! Kau sama seperti Ibumu, kalian selalu saja menyiksaku!" Teriak Anna, ia menjauh dari Liam karena rasa amarah dihati.
Liam sedikit melirik Anna dari samping, ia dengan jelas melihat wanita itu menahan tangisnya. Kedua tangan saling mengepal erat menahan amarah dihati, tapi Liam kembali mengabaikan.
"Sedikit cepat, Ezra!"
~
~• Apartemen Jakarta Sky Garden
Dan kini Liam sudah berhasil membawa Anna menuju Apartemen mewah miliknya. Semua perabotan terlihat mahal dan sekitar ruangan yang terlihat mewah meskipun hanya sebuah Apartemen saja. Anna menatap datar semua ruangan, ia akan tinggal seorang diri di tempat mewah itu.
"Padahal aku memiliki apartemen yang sederhana, aku rasa_"
"Aku tidak mau anakku tumbuh dalam lingkungan yang tidak baik, Apartemen ini sangat baik untuk kalian." Lagi dan lagi Liam memotong pembicaraan Anna.
Kembali Anna terdiam, memang apartemen miliknya bukanlah berada di hunian mewah seperti ini. Hanya sebuah tempat tinggal yang sangat aman dan nyaman untuk Anna, itupun terkadang ia sedikit sulit membayar semuanya karna terkadang pekerjaan tidak berjalan sesuai apa yang ia harapkan.
Anna terduduk disofa berhadapan dengan Liam yang juga sama duduk di samping Ezra yang berdiri tegak.
"Kamarmu di lantai atas, An. Sesekali aku akan datang dan pastinya tidak akan menginap, aku sibuk banyak hal yang harus aku lakukan." Jelas Liam, ia menyerahkan kunci kamar ditangan Anna.
"Agar kau merasa aman dan yakin jika aku tidak akan masuk ke kamarmu. Simpan kunci itu baik-baik," Ucap Liam, ia bangkit dari duduknya menuju dapur mengambil minum sepertinya.
Tangan Anna meremas erat kunci kamar tersebut, ia lega setidaknya pernikahan sirih yang sempat Liam rencanakan sepertinya tidak akan terjadi.
"Pelayan itu kapan sampai, Ezra?" Tanya Anna, bagaimanapun ia sedikit takut hanya tinggal seorang diri di ruangan yang luas.
"Malam nanti, Nona." Jawab Ezra sesingkatnya karena menghargai Liam, tidak mau banyak bicara pada cinta Tuannya sendiri, waktu dulu tidak sekarang.
Anna beroh saja, suara langkah kaki Liam mengalihkan fokusnya. Pria itu datang memberikan segelas minum padanya, tahu saja kalau Anna haus selama perjalanan tadi.
"Jangan sering keluar tanpa izin dariku, tetap didalam agar tetap aman."
"Iya, Liam. Aku tahu.." Rasanya telinga Anna panas karena Liam selalu saja mengatakan banyak hal.
Setelah menghabiskan minumnya Anna rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi bersama dengan Liam. Maka Anna bangkit menuju kamarnya yang berada di lantai atas, pastinya setiap langkah Anna diperhatikan oleh Liam.
Anna ragu-ragu mau membuka pintu kamar tersebut, tapi ia terlanjur penasaran apakah benar ada barangnya disana. Tepat disaat pintu terbuka Anna hanya melihat sebuah ruangan kamar yang cukup luas dan berbagai banyak barang Anna di Apartemennya dulu.
Langsung Anna berlari masuk, ia melihat sebuah buku untuk ia menggambarkan setiap desain pakaian terbaru.
"Apakah semua mimpiku akan kandas hanya karna aku hamil?" Anna bertanya-tanya sendiri, ia tidak berani menanyakan semua itu pada Liam tapi tidak dipungkiri Anna juga sangat sedih banyak hal yang hilang hanya karna kehamilannya.
"Kau masih bisa menggambar setiap desain, tapi untuk bekerja aku tidak akan pernah mengizinkan." Ucap Liam secara tiba-tiba, membuat Anna terkejut saja. Bahkan pena di tangannya langsung terjatuh, terus menggelinding hingga tepat di kaki Liam.