NovelToon NovelToon
CEO Posesif Untuk Putri Agresif

CEO Posesif Untuk Putri Agresif

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Chicklit
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Riri__awrite

MAAF KARYA INI di REVISI. BARU SAMPAI BAB 6

Mauren adalah seorang putri dari keluarga kaya yang sedang tergila-gila menyukai adik dari seorang CEO berhati dingin dan tampan.

Suatu hari dia sengaja mengikuti adik sang CEO ke suatu night club. Maureen bertemu dengan Sean, sang CEO.
Mereka berdua beradu mulut, karena sang CEO tidak menyukai sikap Maureen kepada adiknya.

"Berhenti!" Maureen menghentikan seorang pelayan yang membawa dua gelas wine. "Kalo kamu bisa menghabiskan segelas wine ini, aku akan pergi dari sini tanpa mengganggu adikmu," tantang Maureen.

"Tapi, Nona. Wine ini milik-"

"Nanti saya ganti!"

Sang pelayan meneguk saliva-nya kasar. Tugasnya mengantarkan minuman yang berisi obat perangsang untuk seseorang gagal total.

Mau tau kelanjutan ceritanya? Yuk mampir dulu di cerita aku. Ini hasil karya original.
"CEO Posesif untuk Putri Agresif"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri__awrite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stay

Maureen membuka jendela mobil ketika Sean telah memberhentikan mobilnya, mereka telah sampai di tempat tujuan. Kaki jenjangnya yang memakai high heels berwarna putih terlihat sangat serasi dengan rok berwarna lilac. Kakinya dengan anggun keluar dari mobil dan menjejak di atas halaman sebuah rumah mewah berlantai dua.

Setelah Maureen dan Sean check out dari hotel, mereka segera menuju ke sebuah rumah yang sudah Sean beli saat dia berumur dua puluh tiga. Sedangkan umur pria itu sekarang adalah dua puluh lima. Pria itu sebenarnya ingin menempati rumah ini sejak lama, namun rumah yang dia beli ternyata terlalu luas untuk dirinya tempati sendiri sambil menunggu kepulangan Alice. Oleh karena itu, dia lebih memilih tinggal di apartemennya daripada di rumah ini.

Mereka berdua memasuki rumah itu dan langsung disambut oleh dua orang wanita dan dua orang pria. Mereka berempat langsung menunduk hormat saat Sean dan Maureen membuka pintu.

"Mereka akan bekerja di rumah ini sebagai pembantu. Perkenalkan diri kalian masing-masing," ucap Sean sambil menatap satu persatu orang yang dikatakan pembantu itu.

Pria yang berada tepat di depan Sean langsung mengangguk dan memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan nama saya Kemal. Saya adalah pria, eh, maksud saya, saya akan bekerja menjadi supir di rumah ini. " Seorang pria paruh baya itu menunduk dan meringis ketika salah mengucapkan kata akibat dirinya yang gugup.

"Saya bapak Sunipin, biasa dipanggil Ipin dari kecil. Tuan dan Nyonya panggil saya Mang Ipin saja. Tugas saya bekerja sebagai tukang kebun. "Pria berkumis tipis yang berada di sisi kanan Kemal memperkenalkan diri.

"Ipin?" gumam Maureen. Dia sepertinya tidak asing dengan nama panggilan itu. Mungkin nama seorang artis pelawak. Eh, bukan. Nama salah satu tokoh kartun kembar botak itu ternyata.

"Saya Asih dan ini teman saya, Tuan, Nyonya. Namanya Atik. Kami bekerja sebagai ART yang dipilih Nyonya Besar Sima secara langsung,", ucap Asih.

"Kita juga dipilih langsung, bukan cuma kamu," sahut pak Kemal membuat semua orang menatapnya, kemudian dia menunduk, meminta maaf saat matanya malah tidak sengaja melirik Sean yang menatapnya dengan dingin. "Maaf, Tuan."

Maureen terkekeh melihat wajah lucu pak Kemal. Meskipun pria itu sudah agak tua, tapi entah kenapa wajahnya selalu membuat orang tertawa, apalagi dengan tingkahnya.

"Bawakan semua barang-barang yang ada di dalam bagasi," suruh Sean.

Pak Kemal dan Mang Ipin dengan bergegas menuju mobil Sean yang terparkir di depan rumah, mereka berdua membuka bagasi dan mengeluarkan dua koper besar beserta barang-barang lain yang di bawa Maureen dan Sean.

Sebelum berangkat menuju rumah ini, Maureen menyempatkan mampir ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengemas pakaian dan perlengkapan make up-nya serta barang-barang yang menurutnya penting.

"Taruh aja di kamar, Pak, Mang. Nanti biar Maureen yang ngerapiin sendiri," ucap Maureen.

"Siap, Nyonya!" jawab mereka serempak dengan Pak Kemal yang menempelkan tangan pada dahi membentuk hormat.

Maureen terkekeh pelan, lagi-lagi Pak Kemal membuat moodnya naik.

"Kamar kamu ada di atas sebelah kanan." Sean melangkah mendahului Maureen.

Apa katanya? Kamu? Bukan kamar kita? batin Maureen.

Dia tidak memikirkan hal itu lagi, kemudian dengan langkah santai Maureen memilih untuk berkeliling di rumah barunya bersama Sean. Kandungannya yang masih satu bulan masih tidak terlalu membebaninya, hanya saja morning sickness yang masih kunjung datang.

Ruang makan bernuansa gold ini langsung terhubung ke dapur yang mengingatkan Maureen dengan rumahnya sendiri. Namun, bedanya terletak dari meja makan yang terlihat lebih kecil, dan satu hal lagi. Tidak ada cermin besar yang menempel tepat berada di belakang kursi.

"Ini." Maureen terkejut ketika Sean tiba-tiba berada di belakangnya. "Kuncir rambutmu," ucapnya.

Maureen mengerutkan keningnya, dia terheran karena kuncir rambut kesayangannya itu berada di tangan Sean.

"Kenapa bisa ada di kamu?" tanyanya.

Sean hanya menatap datar Maureen. "Terselip di saku kemeja, karena semalam-" Ucapan Sean terpotong tatkala Maureen tiba-tiba menempelkan jari telunjuknya di bibir Sean.

"Iya,, gak usah diceritain," serobot Maureen.

Sean memegang telunjuk Maureen. "Katakan padaku, sudah berapa pria yang kamu kencani?" tanya Sean tiba-tiba.

Maureen melihat jari-jari kirinya, kemudian berhitung. "Satu, dua, tiga ..., empat. Kenapa?"

"Sepertinya kamu sudah terbiasa ditinggalkan dan meninggalkan orang-orang. Jadi, jika aku tiba-tiba meninggalkanmu maka kamu harus bisa menerimanya."

Maureen menatap tak percaya pria yang sedang berada di depannya. "Jika seandainya anak ini sudah lahir. Maka kamu orang pertama yang akan ku buat dia membencimu seumur hidup," ucap Maureen, kemudian beranjak pergi dari hadapan Sean.

Sungguh sial nasibnya yang harus terpaksa menikahi pria seperti Sean. Jika saja dia tidak hamil, mungkin Maureen tidak akan pernah tahu rasanya tak pernah di anggap.

...****************...

Sean berdeham kecil saat matanya menatap kosong layar laptop yang berada di depannya. Dia berusaha mengembalikan fokus yang sudah hilang beberapa menit yang lalu.

"Aku ... merindukannya,"

Entah mengapa lirihan Maureen terus menggema di telinganya. Maureen yang entah kenapa membuat dirinya bingung, karena tiba-tiba memeluknya. Wanita itu sempat mengalami sesak napas ringan, hingga membuat Sean setengah panik.

"Aku tidak perlu obat, ini akan hilang dengan sendirinya,"

Siapa yang tidak panik jika orang di sekitarnya tiba-tiba mengalami sesak napas dan anehnya tidak mau meminum obat. Sean sampai menggendong Maureen ala bridal style ke ranjang agar wanita itu sedikit tenang dan bisa mengatur napasnya.

Maureen terus meracau jika dirinya rindu seseorang. Sean yang tidak mengerti malam itu hampir menelepon orang tua Maureen. Namun, niatnya dia urungkan ketika Maureen malah menyuruh Sean untuk tidur di sampingnya.

"Mama selalu nemani aku tidur kalo sesakku kambuh ... dan mama biasanya mengelus pelan kepalaku."

Entah itu semacam kode atau memang mama Maureen melakukan hal seperti itu, Sean langsung tidur di samping Maureen. Dia memberikan lengannya sebagai bantal agar Maureen tidur dengan tenang. Tangan kekarnya mengelus pelan kepala Maureen.

"Foto ini ... pasti penyebabnya." Sean menatap lamat-lamat sebuah foto. Dugaannya tidak salah lagi, gadis berseragam putih abu-abu bersama seorang pria itu pasti Maureen. Dan yang tengah dirindukan Maureen adalah sosok pria ini.

Tapi Sean masih tidak mengerti, mengapa di bawah foto tersebut terdapat tulisan peringatan kebencian?

Sean tidak ambil pusing, dia berusaha bersikap tidak peduli kepada Maureen, karena perjanjian itu sudah diterapkan. Dia akan menikahi Maureen dengan satu syarat. Urusanku adalah urusanku dan urusan adalah urusanmu.

Jam telah menunjukkan pukul dua belas malam, namun Sean masih tetap tidak bisa memejamkan matanya barang sedikitpun. Ponsel yang dia letakkan di atas nakas sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda notifikasi muncul. Dia mencoba menghubungi Alice. Namun, tunangannya itu, ralat. Mantan tunangannya itu tidak menjawab chat ataupun panggilan-panggilan darinya.

Mata Sean sudah terasa berat. Dia sudah berada di antara sadar dan tidak sadar. Rasa kantuk perlahan menyerang matanya.

Ting

Suara notifikasi dari ponselnya membuat Sean langsung bangkit dari tidurnya. Matanya yang tinggal lima Watt tiba-tiba berubah menjadi seratus Watt. Pasti Alice sudah membalas pesannya.

IM4: Menangkan Vespa Primavera, iPhone 14, dan Pulsa IM4 di Jelajah Pandji Nusantara, cek sekarang! im4.id/jn

Sean melempar ponselnya ke atas kasur. Dia geram karena bukan notifikasi pesan dari Alice yang muncul, melainkan promosi dari operator nomor teleponnya. Apakah operator itu tidak tahu jika Sean tidak membutuhkan semua hadiah itu?

Sial. Umpatnya dalam hati, kemudian Sean menarik selimut dengan kasar hingga lehernya.

1
YouTube: hofi adawiyah
aku mampir thor 🥰 mampir juga yuk ke novelku judulnya Sahabatku Berkhianat
Cokies🐇
jangan galak" bang
Cokies🐇
kelakuan
El
loh kok berhenti mendadak
padahal aku udah sayang sama Sean 😭
El: wkwkwk
maaf yaa baru bisa mampir 🤗🤗🤗
total 2 replies
El
aku udah tegang padahal😭
El
si kampret
El
nah kan rasain
El
nanti nyesel
El
akan aku tunggu kebucinanmu Sean 🤨
El
gak Sean, gak Devan kelakuannya bikin pengen nonjok 😤
El
aku senang saat Sean menderitaaaa 🤣
El
hajar aja
hajarr aku dukung 😤
meilin
seru bgt ka..... semangat up nya
raazhr_
ada loh Van, kmu aja yg blum rasain😔
raazhr_
aku mampir kak, aku baca pelan-pelan ya ceritanya bgus auto ku save 😉🌷
raazhr_
waduh, Maureen are you gwenchana?🥺
raazhr_
to the point bgt ya Maureen🤣
〈⎳ FT. Zira
setangkai 🌹mendarat untukmu thor.. buruan update yaa
〈⎳ FT. Zira
mau ketawa takut dosa.. tpi aku gak tahan🤣🤣🤣
Silvi Aulia
ceritanya makin seru 🤗

aku mampir lagi nih bawa like and subscribe 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!