Nathan adalah seorang petani stroberi dengan pribadi yang taat dan takut akan Tuhan. Ia selalu berdoa agar segera menemukan seorang istri dalam hidupnya.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Bella, seorang penghibur pria hidung belang sehingga membuatnya sangat membenci dirinya sendiri. Ia merasa memiliki hidup yang berantakan, sehingga membuat Bella merasa tidak pantas untuk mencintai Nathan. Namun siapa sangka, Nathan hadir dengan ketulusan tanpa memandang masa lalu Bella.
Meski memiliki perasaan yang sama terhadap Nathan, Bella kerap dihantui rasa oleh bersalah jika ia bersama dengannya. Hal tersebut membuat Bella kerap mengalami konflik batin hingga memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Nathan.
Namun, sejauh apa pun Bella pergi dan menghindarinya, Nathan selalu menemukannya kembali. Seberat apa pun cobaan yang Bella hadapi, Nathan selalu berusaha untuk meyakinkannya dengan segenap cinta yang dimilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Setiap kali datang, Nathan hanya menanyakan pertanyaan yang sama, namun dengan cara yang berbeda. Dia sama sekali tidak menyerah, dia bahkan lebih bertekad di setiap kunjungannya.
Kunjungannya yang terakhir kali, Morgan datang dua kali untuk mengetuk pintu dan akhirnya berteriak melalui celah pintu bahwa, menyuruh Nathan mengenakan pakaiannya dan keluar jika dia tidak ingin mendapat masalah.
Padahal kenyataannya Nathan bahkan belum membuka kancing bajunya sama sekali. Dan dia mengatakan hal yang sama yang selalu dia katakan sebelum dia pergi. “Ayo ikut denganku. Menikahlah denganku."
“Aku sudah bilang tidak. Tidak tidak. TIDAK!"
"Kamu tidak bahagia di sini."
"Aku tidak akan lebih bahagia denganmu."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Aku tahu."
“Pakai jaketmu dan ikut denganku, sekarang. Jangan berpikir apa-apa. Lakukan saja dan pergi denganku."
“Morgan mungkin ingin mengatakan sesuatu kepadamu,” ucap Bella, ia melihat dengan jelas Nathan sama sekali tidak takut pada Morgan. Bella kemudian bertanya-tanya seperti apa jadinya bila hidup dengan pria seperti ini, yang sepertinya tidak takut pada apapun.
Tetapi kemudian, ia teringat pada Tuannya yang juga tidak takut pada apa pun, dan ia juga tahu kehifupan orang yang tak takut dengan apa-apa. "Untuk terakhir kalinya, Tidak," ucapnya tegas dan meraih kenop pintu.
Nathan menangkap pergelangan tangan Bella. "Apa yang menahanmu di sini?" ia menarik pergelangan tangan Bella mendekat padanya.
"Aku suka tinggal di sini." Bella menarik pintu dan terbuka. “Sekarang, kau bisa keluar!"
"Sampai jumpa besok," ucapnya dan pergi keluar.
Bella membanting pintu dan bersandar di sana. Kepalanya terasa sangat sakit setiap kali Nathan pergi. Malam itu Bella duduk di ujung tempat tidurnya dan menekankan jari-jarinya ke pelipisnya, mencoba meredakannya nyeri.
Rasa sakit yang semakin memburuk saat pertanyaan Nathan bergema di benaknya. Apa yang menahannya di sini? Kenapa tidak keluar pintu begitu saja? Tangannya Bella mengepal. Ia harus mendapatkan uang gajinya dari madam, walau pun dia tahu wanita itu tidak akan memberikan semuanya sekaligus. Sedikit demi sedikit, itulah yang akan dia dapatkan, hanya cukup untuk keperluan pribadinya saja, tapi tidak cukup untuk hidup. Bella tidak ingin mengambil risiko pergi bersama Nathan, ia tak ingin pria itu terkena masalah dengan Madam dan juga Morgan.
****************
Keuangan Nathan kian menipis, ia hanya punya kesempatan satu kali lagi. 'Tuhan, buat dia mendengarkan!' gumamnya sembari menaiki tangga, ia berpapasan dengan Rebecca.
Rebecca meletakkan tangan di lengan Nathan sembari tersenyum padanya. “Jangan repot-repot mengunjungi Angel malam ini. Dia bilang kau lebih menyukaiku.” ia menatapnya.
"Apa lagi yang Angel katakan?"
"Dia ingin kau tidak lagi mengganggunya."
Nathan menggertakkan giginya dan melepaskan tangan Rebecca. "Terima kasih sudah memberitahuku." ia pergi menuju kamar Angel.
Nathan Berdiri di depan pintu kamar Angel, ia mencoba mengendalikan amarahnya. Yesus, apakah kau mendengarkan? Apa yang aku lakukan di sini? Aku mengeluarkan semua uang yang kupunya tapi dia tidak menginginkan apa yang aku tawarkan padanya. Apa yang harus aku lakukan?
Nathan mengetuk pintu dua kali, suaranya terdengar dari balik pintu. Angel membuka pintu, memandangnya sebentar, dan berkata, “Oh. Kamu lagi."
"Ya, ini aku lagi." Nathan masuk dan membanting pintu di belakangnya. "Aku kemari tidak akan mendapatkan apa-apa kan?"
"Bukan salahku kau menyia-nyiakan uangmu," ucap Bella pelan. “Aku sudah memperingatkan kamu pada malam pertama kamu kemari. Ingat?" Bella duduk di ujung tempat tidur. "Aku tidak salah dong.”
"Aku harus kembali ke Bogor dan menyelesaikan beberapa pekerjaan."
"Silahkan, aku tidak melarangmu," wajah Bella mendadak pucat dan kaku.
“Tapi, aku tidak ingin meninggalkanmu di sini!”
"Itu bukan urusanmu."
"Itu menjadi urusanku begitu aku melihatmu untuk yang pertama kalinya."
Kaki Bella mulai berayun anggun bolak-balik, bolak-balik, menandai waktu. Ia menyender pada tiang tempat tidurnya. "Kamu ingin berbicara lagi?" Bella menutup mulutnya kerena menguap dan kemudian mendesah. "Kalau belum, teruskan. Aku mendengarkan."
"Apakah aku membuatmu mengantuk?" Nathan mendekati Bella dan duduk di sampingnya.
"Sebenarnya aku memiliki masalah dengan jam tidur, aku sering insomnia."
Nathan mengusap punggung Bella yang mungil. “Dan semua pembicaraan ini membuatmu mengantuk? Dan Kamu akan lebih suka jika aku bergabung denganmu di tempat tidur, begitu kah?"
Bella mengangguk. “Setidaknya kamu bisa pergi dengan perasaan bahwa kamu akhirnya mendapatkan sesuatu untuk semua uang yang telah kamu keluarkan."
Jantung Nathan berdetak keras dan cepat, dia beranjak dari tempat tidur Bella dan berjalan ke jendela. Ia menarik tirai ke belakang, dia melihat keluar. "Apakah kamu senang melihat pandangan dari atas sini, Angel? Lumpur, bangunan-bangunan kumuh, para laki-laki mabuk dan berjudi."
Nathan membiarkan tirai jatuh ke belakang "Mungkin kamu memang suka dengan pemandangan ini, sehingga kamu menyuruh temanmu untuk mengatakan kau tidak ingin aku menganggumu lagi."
“Tidak, aku tidak pernah meminta temanku untuk bicara denganmu." Bella menangkap ada luka di mata Nathan. “Aku hanya ingin melihatmu meninggalkan kota dengan senyum di wajahmu.”
“Kau ingin melihatku tersenyum? kalau begitu sebut namaku."
"Siapa namamu? Aku lupa." Bella menarik Nathan ke tempat tidur.
“Nathaniel Artado.” ucapnya sembari menangkup wajah Bella. Seketika ia merasakan kulit Bella yang terasa lembut membuatnya hampir lupa diri dan mencium Bella. Namun kemudian ia menurunkan tangannya dari wajah gadis itu dan langsung membuka kancing kemejanya dan menyelipkan tangannya dan berkata. "Yesus,” ucapnya. "Yesus, hampir saja!"
Bella tertegun menatapnya Nathan, ia melihat Nathan menggenggam kalung salib dan terus memanggil nama Tuhan seolah ia telah melakukan kesalahan besar, yang padahal Nathan belum sama sekali menciumnya. “Bagaimana kau bisa, di usiamu yang menginjak dua puluh delapan tahun tapi tak pernah menyentuh wanita?" tanya Bella heran.
"Aku sudah berkomitment untuk tidak menyentuh wanita mana pun sebelum aku menikah dengan wanita yang tepat."
"Dan kamu benar-benar mengira aku wanita yang tepat?" Bella menertawakannya.
“Kamu petani stroberi yang bodoh."
Seketika Bella menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Astaga, apa akuntelah membuatnya tersinggung, tapi aku hanya ingin dia menyadari bahwa aku bukan orang yang tepat untuknya.
Akhir yang bahagia, kamu berhak mendapatkannya Bella.