SPIN OFF "SUGAR AUNTY"
Layu sebelum berkembang, mungkin itu istilah yang pas untuk menggambarkan keadaan Amanda.
Belum sempat perasaannya tumbuh berbunga-bunga, ia malah melihat surat undangan pernikahan, di mana ada nama Saga, lelaki yang dicintainya, di sana.
Habis sudah perasaannya harus ia cabut paksa sampai ke akar saat dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan pesta pernikahan pria pujaannya.
Dan tepat pada hari itu juga, dia merasakan sebuah kesialan karena harus bertemu dengan pria menyebalkan. Seorang pria yang ternyata akan menjadi Boss di tempat magangnya.
Bagaimana kisah mereka akan berlanjut, apakah Amanda mampu bertahan dengan Bossnya yang super galak dan melupakan cintanya terhadap Saga si asisten tampan? Cus kepoin ceritanya di FIERCE BOSS OR HANDSOME ASSISTEN 🤗
Follow Ig @nitamelia05
Salam Anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Mabuk
Setelah mengantarkan Ziel pulang ke mansion. Saga tak langsung membawa mobilnya menuju apartemen. Perasaan kacau setelah melihat foto Donita bersama pria lain, membuat dirinya tak tentu arah.
Saga mendesaahkan nafas kasar, sementara tangannya senantiasa berada di atas setir, entah ingin membawa kendaraan ini ke mana-mana.
Yang jelas dia ingin memadamkan api amarah yang berkobar di dadanya. Jika ditanya tentang cinta, sudah tentu Saga masih sangat mencintai Donita.
Namun, melihat kelakuan wanita itu di belakangnya sungguh membuat dia tak bisa berpikir dengan jernih.
"Argh!" teriak Saga dengan sekuat tenaga. Sekarang dia sadar apa yang membuat Donita berpaling darinya. Pria lain yang entah siapa. Sebab Saga belum sempat melihat wajahnya.
"Mudah sekali ya kamu mempermainkanku?" gumamnya dengan bibir bergetar.
Hingga saat hari sudah gelap tiba-tiba Saga membelokkan mobilnya ke sebuah club malam. Entahlah yang ada di pikirannya sekarang hanyalah tentang minuman.
"Lupakan, Saga. Dia tidak pantas untukmu!" cetus pria tampan itu seraya menenggak minuman keras langsung dari botolnya. Tak lupa dia juga menyulut rokok, sebagai temannya malam ini.
Dia menggunakan layanan VVIP, jadi tak ada yang mengganggunya sedikit pun.
Hingga pada pukul 11 malam, Saga keluar dari tempat itu dengan tubuh yang sedikit sempoyongan. Dia terlihat cukup mabuk, tetapi dia tidak berniat untuk menghubungi siapapun.
Sehingga dia mengemudikan mobilnya sendiri menuju apartemen.
Tiba di tempat tinggalnya, Saga langsung naik dengan menggunakan lift. Namun, karena setengah sadar, dia malah menyambangi unit apartemen Amanda.
"Cih, ada apa dengan pintu sialan ini?" gerutu Saga karena passwordnya salah. Dia terus mencoba tetapi hasilnya sama, hingga Amanda yang saat itu baru saja tidur, kini kembali membuka mata.
"Siapa di luar? Kenapa iseng sekali?"
Amanda memberanikan diri untuk turun dari ranjang dan memeriksa keadaan di luar unit apartemennya. Dia berjalan mengendap-endap, dan di saat ia membuka pintu, dia dibuat terperangah karena melihat Saga yang sudah terduduk di lantai sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Kak Saga?!" panggil Amanda dengan mata yang terbelalak lebar.
Amanda langsung menghampiri pria itu, sementara bau alkohol langsung menyeruak. Amanda mengerutkan hidungnya sambil menatap penampilan Saga yang nampak sangat berantakan.
"Kakak baru pulang?" tanya Amanda, karena melihat setelan kerja Saga. Namun, yang ditanya malah diam saja.
"Hem, Kakak pasti mabuk ya dan salah masuk unit?"
Lagi, tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Saga. Hingga akhirnya Amanda memutuskan untuk memapah tubuh kekar pria itu.
"Astaga, berat sekali," keluh Amanda dengan nafas yang ngos-ngosan, karena bobot tubuh Saga hampir dua kali lipat dari bobot tubuhnya.
"Hei," seru Saga dengan suara serak, Amanda langsung menoleh, tetapi Saga kembali menutup matanya. Dengan susah payah gadis itu membantu pria pujaannya, dan sekarang kendalanya adalah password unit apartemen Saga.
"Haduh, Kak, bangunlah dulu. Apa password-nya?" tanya Amanda seraya menepuk-nepuk pipi Saga. Karena tidak mungkin dia membawa pria itu masuk ke dalam kamarnya.
Amanda hampir putus asa, tetapi tiba-tiba jari Saga reflek menekan password hingga pintu berhasil terbuka. Amanda langsung bernafas dengan lega, sementara Saga mulai mengoceh.
"Heuh, aku kurang tampan ya? Atau aku kurang kaya?" tanya Saga asal.
"Mana ada, Kak. Kamu tampan kok, dan sebagai asisten Kak Ziel, kamu tidak mungkin miskin."
Seperti tak ada kerjaan Amanda menimpali ucapan orang mabuk. Padahal tubuhnya ikut terhuyung ke sana ke mari, hingga saat dia sudah berhasil berada di depan pintu kamar Saga, dia langsung membawa pria itu masuk dan merebahkannya di ranjang.
Karena merasa kasihan, Amanda juga membantu Saga untuk melepas sepatu dan baju kemejanya yang sedikit basah.
Namun, tanpa diduga tiba-tiba Saga menarik tangan Amanda, hingga Amanda jatuh terjerembab di dada bidang pria itu.
"Astaga, Kak," cetus Amanda sambil mengangkat kepalanya, kini wajah dia dan Saga hanya memiliki jarak beberapa centimeter saja.
"Jangan pergi, di sini saja," rengek Saga seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang Amanda.
Tepat pada saat itu Amanda langsung menahan nafas, karena selain bau alkohol yang kurang dia sukai, jantungnya juga mendadak tak aman.
"Tapi, Kak, aku tidak mungkin tidur di sini—argh!" Amanda berteriak saat Saga membawanya berguling ke samping dan dia semakin terperangkap. Tak bisa ke mana-mana.
"Aku tidak akan melepaskanmu," gumam Saga lagi, sementara yang ada dalam bayangannya Amanda adalah Donita. Karena saat ini otaknya benar-benar tak bisa digunakan dengan baik.
"Ya Tuhan ... inikah jalanmu untuk mendekatkan kami? Kalau iya, baiklah, aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin."
Setelah berkata seperti itu, Amanda tak lagi berusaha untuk meloloskan diri dari pelukan Saga. Dia justru menengadah dan memperhatikan wajah Saga yang terlelap.
Dia berpikir bahwa Saga tak mungkin melakukan sesuatu yang lebih dari ini.
"Ck, kenapa kamu tampan sekali, Kak?" puji Amanda seraya menggerakan jarinya untuk memainkan bibir pria tampan itu.
Hingga akhirnya malam itu mereka tidur bersama. Benar-benar hanya tidur.
***
Yang baik diambil, yang jelek jangan ditiru 😌😌