NovelToon NovelToon
Pesona Rumput Tetangga

Pesona Rumput Tetangga

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:495.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Merpati_Manis

Dijodohkan dengan laki-laki dewasa dan mapan, nyatanya tak lantas membuat Aulia bahagia. Hidup wanita muda itu bagai terpenjara karena sang suami ternyata begitu pelit dan perhitungan, juga banyak menuntut.

"Penampilan kamu yang berhijab dan kedodoran itu kuno, Lia! Itu kenapa, aku malas mengajak kamu keluar untuk bertemu dengan rekan-rekanku! Sangat memalukan!" hina Handoyo pada sang istri.

"Kamu lihat, dong, Cynthia! Dia selalu berpenampilan menarik dan wajahnya bersinar, tak seperti kamu yang selalu terlihat kucel!" lanjut laki-laki berahang tegas itu yang terdengar sangat ketus.

Sanggupkah Wanita muda itu bertahan di sisi sang suami, yang selalu membandingkan dirinya dengan wanita lain?

Terlebih setelah Aulia mengetahui, bahwa ternyata sang suami selingkuh dengan tetangganya sendiri?

Ikuti perjalanan hidup Aulia,
dalam Novel ; Pesona Rumput Tetangga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merpati_Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengikuti Seminar

"Kota lamanya sebelah mana, Mbak?" Suara bariton sopir taksi yang bertanya, membuat Aulia melupakan sejenak tentang sang suami yang berselingkuh dengan tetangganya sendiri.

"Maaf, jika pertanyaan saya membuat Mbak terkejut," lanjut sopir taksi seraya menoleh sekilas ke belakang. "Saya lihat dari tadi, Mbak bersedih. Apa Mbak sedang ada masalah?" tanyanya, kemudian.

Begitu larut dalam kesedihan sampai-sampai Aulia tak menyadari, bahwa sang sopir taksi sedari tadi memperhatikan dirinya melalui pantulan kaca spion.

Wanita muda tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, Pak. Saya cuma lagi kangen saja sama almarhum ayah," balas Aulia.

Ya, tiba-tiba saja, Aulia sangat merindukan sang ayah yang telah berpulang hampir tiga tahun yang lalu ketika dirinya mengandung anak pertama.

Ayah yang perhatian dan sangat menyayangi Aulia, yang tidak pernah tahu tentang kesulitan yang dialami sang putri bungsu. Sebab, ketika sang ayah masih hidup, Handoyo memperlakukan Aulia dengan baik, meski tak semanis suami-suami yang sayang sama istri.

Setidaknya, Handoyo tidak pernah berbicara ketus, meski tetap pelit. Suami dewasanya tersebut juga tidak pernah mempermasalahkan penampilan Aulia, serta tidak pernah membanding-bandingkan dengan wanita lain.

"Mbak." Suara sopir yang kembali memanggil, mengurai lamunan Aulia.

"Iya, Pak. Di perumahan Asri," jawab Aulia. "Pak, perempatan depan nanti berhenti sebentar ya. Di toko kue," pintanya kemudian.

"Baik, Mbak," balas sopir tersebut.

Tepat di depan toko kue yang dimaksud Aulia, taksi yang ditumpangi bundanya Ammar itu berhenti. Gegas Aulia turun untuk membeli brownis kesukaan adiknya Luna dan lapis legit, kegemaran mamanya sang sahabat.

"Sudah, Mbak?" tanya sopir taksi tersebut, seraya menoleh ke belakang.

.

"Sudah.Silahkan jalan kembali, Pak," pinta Aulia setelah dirinya duduk dengan nyaman.

Taksi berwarna biru tersebut kembali melaju, berbelok ke arah perumahan yang disebutkan oleh sang penumpang.

"Bapak tunggu sebentar ya, saya cuma mau menjemput anak saya," pinta Aulia yang bergegas turun, setelah taksi tersebut berhenti di halaman luas kediaman mamanya Luna.

Tak berapa lama, Aulia telah kembali bersama sang putra yang diiringi oleh seorang wanita paruh baya.

"Kapan-kapan, ajak Ammar main ke sini lagi ya, Nak Lia," pasan wanita anggun tersebut sebelum Aulia masuk ke dalam taksi.

"InsyaAllah ya, Ma," balas wanita berhijab tersebut seraya tersenyum tulus.

Aulia kemudian menyalami mamanya Luna. "Kami pulang dulu ya, Ma," pamit Aulia. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," balas wanita tersebut dengan senyuman yang terus mengembang di bibir, membuat hati Aulia menjadi adem untuk sejenak.

Taksi yang ditumpangi Aulia dan sang putra kembali melaju, membelah jalanan ibukota propinsi untuk menuju ke rumah penumpangnya.

Sepanjang perjalanan, suara Ammar sangat mendominasi. Bocah laki-laki tersebut menceritakan banyak hal, seputar kegiatannya tadi sewaktu ditinggal oleh sang bunda.

Ammar nampak sangat bahagia berada di dekat orang-orang yang menyayanginya seperti mamanya Luna dan Ririn, adik bungsu Luna.

"Ammal cenang deh, Nda, cama Oma baik. Enggak sepelti nenek yang dalak cama Ammal," ucap Ammar dengan jujur.

Putra Aulia tersebut memanggil mamanya Luna dengan sebutan oma baik karena memang begitulah mamanya Luna yang sangat baik pada Aulia dan juga sangat menyayangi Ammar.

"Nak, Ammar enggak boleh bicara seperti itu, ya. Nenek bukan galak sama Ammar, kok. Mungkin, nenek lagi kesel sama makanya nenek bicara dengan nada tinggi," terang Aulia mencoba memberikan pengertian positif pada sang putra.

"Enggak, Nda. Nenek memang dalak!" kekeh Ammar.

Aulia hanya bisa menghela napas panjang, dia tak dapat lagi membantah jika sang putra sudah bersikukuh karena memang Aulia akui, mama mertuanya sering berbicara dengan nada tinggi pada Ammar, seolah bocah laki-laki yang keluar dari rahimnya tersebut bukanlah bagian dari keluarga Pak Tarno.

Aulia mengusap puncak kepala sang putra. "Kita cerita hal lain saja ya." Ibu muda satu anak tersebut mengalihkan pembicaraan.

Ammar kembali banyak bercerita, hingga tanpa sadar, taksi yang mereka tumpangi telah berbelok menuju komplek perumahan di mana rumah Handoyo yang cukup megah, berada.

"Setelah pertigaan depan, ada pagar tinggi itu ya, Pak," ucap Aulia memberitahukan pada sopir taksi dimana mereka akan turun.

Wanita cantik itu segera mengulurkan sejumlah uang untuk membayar ongkos taksi, tak lupa Aulia memberikan satu 𝘱𝘢𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘨 berisi brownies panggang pada sopir taksi tersebut.

"Untuk keluarga di rumah ya, Pak," ucapnya tulus.

Ya, selain membelikan oleh-oleh untuk Ririn dan mamanya, Aulia juga membeli untuk sang putra serta sopir taksi tersebut.

Meski uang belanja yang diberikan suami sangat jauh dari kata cukup, tetapi Aulia tetap menyisihkan sebagian untuk membahagiakan orang-orang di sekitarnya.

Tak jarang, Aulia memberikan uang jajan pada bibi yang bekerja di kediaman mertuanya, meski jumlahnya tak seberapa. Namun, ketulusan serta keihklasan Aulia, membuat bibi asisten tersebut merasa sangat senang setiap kali menerima pemberian wanita berhati mulia itu.

"Aduh, Mbak. Terimakasih banyak, semoga Mbak senantiasa dalam lindungan Allah dan bahagia selalu," ucap sopir taksi tersebut dengan tulus, seraya menerima pemberian dari Aulia.

"Aaamiin ...." Dia aminkan do'a tersebut, dengan penuh harap.

Gegas, Aulia mengajak sang putra untuk masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti ketika dia baru saja menginjakkan kaki di halaman rumahnya yang cukup tinggi dan mendengar suara tangis yang tidak asing di telinganya.

Wanita muda yang terkenal ramah tersebut segera menoleh ke arah sumber suara, di samping rumahnya.

Dari tempat Aulia berdiri, dia dapat melihat dengan jelas halaman rumah tetangga yang lebih rendah dari halaman rumahnya.

"Nda, Yasmin nanis, Nda. Itu suala Yasmin," celoteh Ammar seraya menarik-narik tangan sang bunda.

Aulia mengangguk pada sang putra.

Dia kemudian menatap laki-laki yang tengah menggendong seorang anak perempuan yang masih terus menangis tersebut, seraya tersenyum ramah.

"Yasmin kenapa, Mas?" tanya Aulia dengan mengeraskan sedikit suaranya agar laki-laki tersebut dapat mendengar dengan jelas.

Aulia kemudian menuntun Ammar, berjalan lebih mendekat ke arah pagar rumahnya. Dia melihat anak kecil yang berada dalam gendongan sang ayah, keningnya di kompres dengan kompres penurun panas.

"Demam, Dik. Sudah sejak kemarin, tetapi demamnya masih juga tinggi," balas laki-laki tersebut dengan wajah kusut. Mungkin, laki-laki itu kelelahan karena mengurus sang putri seorang diri.

"Memangnya, Mbak Tia kemana, Mas?" tanya Aulia pura-pura tidak tahu kemana tetangganya itu pergi.

"Cynthia mengikuti seminar peningkatan kapasitas pendidikan anak pra sekolah sejak kemarin, Dik. Nanti sore baru pulang," balas suami Cynthia, yang tidak tahu tentang kelakuan istrinya tersebut.

'Bukan, Mas! Istrimu sedang tidak mengikuti seminar apapun, tetapi dia lagi bersenang-senang dengan suamiku,' batin Aulia, getir.

'Ya Allah ... kok ada ya, ibu yang tega meninggalkan anaknya yang sedang demam hanya untuk bersenang-senang dan menuruti nafsunya semata.'

💖💖💖 bersambung ...

1
Siti Nur
ya karna kamu bnyak maunya..boros lagi..tukang selingkuh /Pray//Pray//Pray/ya
Siti Nur
aku sampai nangis d bab ini
Merpati_Manis (Hind Hastry): sini, Kak. peyuk 🤗
total 1 replies
Siti Nur
Alhamdulillah ketemu PK supir bsok hati
WaTea Sp
hayo lo cynti......
WaTea Sp
ya lempar batu sembunyu tangan si cyintia
WaTea Sp
bahagia jika kuta di ratujan oleh suami
WaTea Sp
telat woiiii cari mantan sekarang
WaTea Sp
jawab aja ya
WaTea Sp
dah jadiin husen sm lia
WaTea Sp
ye cyntia gak tau ksli ya si handoyo peliy
WaTea Sp
Luar biasa
WaTea Sp
betollllllll lia
WaTea Sp
gila lo
WaTea Sp
wah ada pelakor
WaTea Sp
ugh....gile bener tuh si han mo enak sendiri
WaTea Sp
lah enak banget kasoh uang aja pas pasan
niken babyzie
belum tw si keong itu klo husein dh naik jabatan 😂
Merpati_Manis (Hind Hastry): klo tahu, bakalan pindan mereka, Kak 😅
btw, mksh hadirnya 🥰🙏
total 1 replies
niken babyzie
duo keong parit
Merpati_Manis (Hind Hastry): 😁😁😁 bisa aja kasih julukan buat mereka
total 1 replies
zee_
kewreeennn
Merpati_Manis (Hind Hastry): mksh apresiasinya, Kak 🥰🙏
total 1 replies
niken babyzie
rasain kw doyooooo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!