Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bareng
Setelah makan bersama tadi dengan kehangatan yang begitu nyata, satu persatu keluarga eyang mulai pamit untuk pergi, hanya tinggal saudara sepupu jauh Keandra yang masih berada di sana.
Dari pengamatan Jeviza. Keandra tidak begitu dekat dengan sepupunya itu. Mereka mengobrol seperlunya saja.
"Jeviza juga kuliah di sini?" tanya sala satu cowok yang juga masih berkumpul di sana.
Mendapati pertanyaan itu, Jeviza menganggukan kepalanya.
"Iya, satu kampus juga sama kak Kean, beda fakultas," terangnya.
Cowok yang tadi bertanya itu mengangguk, melirik Keandra yang terlihat tampak tidak nyaman berada di sana. Begitu juga dengan Jeviza yang menyadari ketidak nyamanan Keandra sedari tadi.
"Betah di Jogja?" tanyanya menambah topik.
Rasanya tidak rela obrolan berakhir begitu saja, sementara di depannya ada gadis cantik yang bahkan ramah dengan semua pertanyaannya.
Cowok itu ingin mengenal lebih, jujur saja dari awal tadi melihat Jeviza dengan segala keanggunan dan kesopanannya, ia tidak bisa melepaskan begitu saja, setidaknya ada usaha meski entah hasilnya akan seperti apa nanti.
"Betah, di sini orangnya ramah-ramah," ujar Jeviza dengan seulas senyum.
Tidak tahu saja Jeviza, jika di sebelahnya, tangan kekar Keandra sudah mengepal, dadanya panas hanya dengan melihat interaksi Jeviza dan saudara jauhnya itu.
"Eyang, aku ke kamar ya? Capek," ujar Keandra diangguki eyang.
Mendengar itu Jeviza terperangah, ia menatap kepergian Keandra yang tega sekali meninggalkannya.
Mau ikut langsung pamit tetapi tidak enak, bertahan juga Jeviza tidak nyaman karena kepergian Keandra. Ia di sana tamu yang dibawa oleh Keandra, harusnya Keandra tidak pergi begitu saja.
"Kamu mau istirahat juga? tidak papa nak, pasti capek tadi diajak eyang keliling seharian."
Ucapan eyang itu seperti angin segar untuk Jeviza, ia tersenyum kikuk dan mengangguk dengan sopan.
"Maaf ya eyang, saya juga mau langsung istirahat," pamitnya pada eyang, lalu pada semua yang masih duduk di sana.
"Jeviza, kalau ada waktu, besok ngobrol lagi ya?" teriak cowok yang tadi.
Jeviza hanya menoleh, tidak memberi anggukan apa lagi jawaban, ia kembali melangkah menuju ke kamarnya.
"Dia, bukan pacar Kean, kan eyang? tidak ada romantisnya sama sekali?" tanya cowok yang tadi.
Eyang menghembuskan napas panjang. "Kalau bukan pacar, nggak mungkin ikut ke sini."
Cowok itu tercekat dengan jawaban eyang. Tetapi ada benarnya juga apa yang eyang katakan.
Saat Jeviza melangkah untuk menuju kamar tamu yang sudah dibersihkan untuknya, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik dari arah berlawanan. Jeviza menoleh, mendapati Keandra dengan wajah muram, tetapi sorot mata itu kian tajam, dan penuh kabut yang menggumpal di netra hitam itu.
"Kak Kean," lirihnya.
Untuk seperkian detik, mereka saling beradu pandang tanpa suara. Sebelum akhirnya Keandra mendorong tubuh Jeviza untuk masuk ke dalam kamar yang seharusnya hanya ditempati oleh Jeviza saja, tetapi kini sosok Keandra juga berada di sana, di dalam ruangan yang sama dengan Jeviza.
Jeviza tidak bisa lagi menahan getaran pada ujung jari yang merambat hampir setiap tubuhnya saat jemari Keandra memaksa mengisi sela-sela jarinya. Lalu mengunci tangan Jeviza di atas kepala, tubuh Jeviza sudah menempel dinding, dengan deru napas yang tidak kalah cepat dari getaran aneh yang merambat di sekujur tubuh tadi.
"Kak," cicitnya terkejut dengan tindakan lebih agresif Keandra.
Seakan tidak mengidahkan ucapan Jeviza. Seringai justru terlihat dari wajah tampan yang sekarang terlihat menakutkan bagi Jeviza.
Entah bagaimana bisa Keandra tiba-tiba berubah seperti sekarang ini.
"Gue nggak suka lo ngobrol sama dia."
Mata Jeviza memicing, menatap Keandra tidak percaya.
"Tapi dia sepupu lo kak."
"Sepupu jauh," ralat Keandra.
Mata Jeviza sudah menggenang, ingin menangis rasanya melihat sikap Keandra yang tiba-tiba berubah.
Melihat wajah takut Jeviza karena ulahnya. Keandra melepas tautan tangan mereka, menghela napas dalam sebelum akhirnya memberi jarak.
"Je, sorry, gue kasar," sesal Keandra.
Sebelumnya Keandra tidak pernah selepas ini, bahkan saat melihat Januar yang mencoba mendekati Jeviza. Keandra masih bisa menahan, tetapi untuk malam ini, entah kenapa emosinya tidak bisa dikendalikan.
Interaksi Jeviza dengan cowok tadi membuat Keandra tidak bisa menahan lagi, dan hampir saja membuat Jeviza ketakutan karena kebodohannya.
"Lo jahat," ujar Jeviza tidak membuat marah Keandra.
Justru rasa bersalah Keandra semakin besar. Ia menghela napas dan menarik Jeviza ke dalam dekapannya.
Anehnya
Jeviza sama sekali tidak menolak, membiarkan tubuh tinggi itu merengkuh tubuh kecilnya, bahkan saat Keandra membawa Jeviza ke ranjang, gadis itu sama sekali tidak menolak, rasa lelah menghadapi emosi Keandra tadi menguras tenaganya.
Keandra seperti ancaman untuknya, tetapi juga penenang dalam waktu yang bersamaan, lihat saja, entah sadar atau tidak, keduanya sama-sama memberi ketenangan dan kehangatan dengan dekapan yang masih bertahan. Bahkan saat rasa kantuk mulai menyerang Jeviza, gadis itu bukannya mendorong Keandra malah mencari posisi nyaman di atas dada bidang itu.
Hingga tanpa disadari, setelah pertikaian kecil yang terjadi tadi. Keduanya tidur di atas ranjang yang sama tanpa beban, seakan rasa sesak dan amarah yang tadi sempat melingkupi menguap begitu saja.
...****************...
Sudah pukul setengah 7 pagi. Eyang yang sedari subuh tadi sudah berkutat dengan mbok Nah di dapur menoleh ke belakang. Barang kali ada pergerakan dari cucu dan pacar cucunya itu. Tetapi baik pintu kamar Keandra ataupun Jeviza masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
"Mbok Nah, tolong bangunin mas Kean, tadi malam bilang mau jalan pagi di sini."
Mbok Nah mengangguk, mencuci tangannya dan mengelapnya dengan tisu dapur, sebelum akhirnya melangkah menuju ke kamar Keandra.
Beberapa ketukan tidak membuat si penghuni kamar merespon, mbok Nah mulai khawatir takut terjadi hal yang tidak diinginkan dengan tuan mudanya itu.
Ia kembali ke dapur, melapor pada eyang jika kamar Keandra tampak sepi seakan tidak berpenghuni.
"Ya sudah, biar saya saja yang bangunin." Eyang melangkah mendekati kamar Keandra.
Sama seperti yang mbok Nah tadi lakukan, beliau mengetuk beberapa kali dengan harapan Keandra segera muncul, tetapi eyang tidak sesabar mbok Nah, beliau langsung membuka pintu dan mendapati kamar tersebut kosong, tidak ada penghuni.
"Apa sudah keluar dari tadi ya?" gumam eyang berpikir mungkin saja Keandra sudah berjalan-jalan di kampung halaman mamanya.
Lalu beliau melangkah menuju kamar Jeviza. Ada keraguan ketika beliau berdiri di depan kamar tersebut. Mau bagaimanapun Jeviza adalah tamu, rasanya kurang pantas jika eyang yang membangunkan, tetapi beliau khawatir jika Jeviza tidak segera dibangunkan sekarang, yang ada gadis itu akan lebih malu jika terlalu siang.
"Mbak, mbak Jeviza bangun nak, sudah mau jam 7," ujar eyang dengan ketukan pada pintu kamar.
Tidak ada respon dari dalam, sama seperti kamar Keandra. Beliau pikir Jeviza juga sedang ikut Kean jalan pagi di kampung.
Dengan helaan napas beliau berbalik, tidak membuka kamar Jeviza seperti yang beliau lakukan pada kamar Keandra, tidak sopan saja rasanya sekalipun itu rumah beliau sendiri. Jeviza tetaplah tamu.
Sudah 1 jam berlalu sejak eyang tadi membangunkan dua remaja yang sedang berkunjung ke rumah beliau. Tetapi belum ada tanda-tanda kepulangan mereka. Beliau menunggu di teras depan dengan perasaan mulai tidak tenang.
"Kok sampai siang gini? Nyasar apa gimana?" gumam beliau beranjak.
Tanpa diminta, beliau membuka kamar Keandra yang masih sama seperti tadi, sepi dan masih rapih, lalu melangkah ke kamar Jeviza. Membukanya sama seperti yang beliau lakukan di kamar Keandra, tetapi saat itu juga, jantung beliau hampir saja lepas dari tempatnya saat melihat dua remaja itu berada di satu ranjang yang sama, saling mendekap dan bahkan wajah Jeviza sembunyi di dada bidang Keandra.
"Eyang ada ap-" suara mbok Nah terhenti begitu saja melihat pemandangan di dalam kamar.
"Ya ampun mas Kean," cicit beliau menutup mulutnya.
"Mbok, ambilkan hp saya," titah eyang langsung diangguki mbok Nah.
"Anak ini, sudah kelewatan," decak eyang memukul dada yang hampir saja meregang nyawanya sendiri.
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣