NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kekacauan yang belum usai

Lily dan Javin mulai berlari mengelilingi pekarangan rumah yang luas itu. Setelah empat puluh menit berlalu, mereka baru berhasil menyelesaikan lima belas putaran.

Matahari mulai meninggi dan membakar kulit. Lily akhirnya menjatuhkan tubuhnya di atas rumput halaman, tak sanggup lagi melangkah. Jangankan untuk melanjutkan berlari, sekadar menopang tubuhnya saja kakinya sudah gemetaran tak kuat.

Javin menghentikan langkahnya. Ia menghampiri Lily lalu berjongkok di hadapan gadis itu dengan napas terengah. “Masih kuat enggak, Ly?”

“Masih, Kak... Ini cuma istirahat sebentar,” balas Lily seraya menyeka peluh yang membasahi dahi. “Udah, mendingan Kakak selesaikan hukuman Kakak aja. Lily tahu dari tadi Kak Javin sengaja lari kecil cuma buat nungguin Lily, kan?”

Javin menatap cemas wajah gadis di depannya. “Kakak panggilin Papi kamu ya?”

“Enggak usah, Kak! Hukuman tetap hukuman. Papi enggak bakal kasih keringanan cuma gara-gara Lily mengeluh. Udah, mending Kakak duluan aja,” pangkas Lily terkekeh pelan.

Mendengar desakan itu, Javin akhirnya mengangguk dan kembali melanjutkan larinya. Setelah Javin menyelesaikan satu putaran lagi, Lily memaksa tubuhnya untuk bangkit. Ia mencoba berlari kecil di belakang laki-laki itu. Namun, belum sempat menyelesaikan satu putaran penuh, persendiannya serasa meloloskan diri. Tubuhnya kembali ambruk ke atas rumput.

“Masih kuat enggak, Ly?” tanya Javin refleks memutar badan, raut khawatirnya makin jelas.

“Lily! Jangan malas-malasan!” seru suara tegas Jaya menggelegar dari balkon lantai dua.

Lily mendongak kaku ke arah sumber suara, lalu mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. “Iya, Pih!” sahutnya lemas.

Javin berjongkok di samping Lily, menggeleng pelan. “Udah, istirahat dulu! Jangan dipaksain, muka kamu udah pucat banget ini.”

Lily tak mengindahkan peringatan Javin. Ia ngotot berusaha untuk berdiri kembali. Namun, baru saja tubuhnya tegak setengah jalan, pandangannya mendadak berputar hebat dan kepalanya terasa seberat batu.

Bruk!

Tubuh Lily ambruk begitu saja. Beruntung, dengan sigap Javin melangkah maju dan menangkap tubuh lemas gadis itu sebelum menghantam ubin semen.

Di saat yang sama, Owen yang sedari tadi mengamati pergerakan adik kecilnya dari balik jendela dapur mendadak panik luar biasa. Tanpa berpikir panjang ia langsung meluncur keluar rumah.

Jaya yang menyaksikan putrinya pingsan dari lantai atas pun tak kalah histeris. Ia berlari kencang menuruni anak tangga menuju halaman.

“Kakak kan udah bilang!” umpat Javin panik setengah mati seraya menopang punggung Lily.

Lily memejamkan mata rapat-rapat, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. “Cuma pusing dikit kok, Kak...” gumamnya lirih seraya berusaha untuk duduk.

“Udah, jangan dilanjutin lagi! Biar Kakak yang bilang ke Om Jaya kalau sisa hukuman kamu biar Kakak yang tanggung semuanya,” ujar Javin tegas. Namun, Lily menggeleng lemah.

“Kak Owen... kenapa kesini?” tanya Lily heran tatkala mendapati Kakaknya berlari kencang menghampirinya dengan napas memburu.

Tanpa banyak bicara, Owen langsung merengkuh dan mendekap tubuh lemas adiknya erat-erat. “Udah, jangan dilanjutin lagi! Kamu udah pucat banget, Ly... Lagian kamu kan belum sarapan dari tadi!” cerocos Owen dengan nada suara yang campur aduk antara marah dan cemas.

Melihat Jaya dan Owen berlari panik ke halaman luar, seluruh anak bujang yang sedang bersantai di ruang tengah ikut tersentak dan berbondong-bondong menyusul ke luar rumah.

“Udah, berhenti! Jangan dilanjutin lagi!” seru Papi Jaya napasnya tersengal-sengal begitu sampai di tempat kejadian. Tanpa aba-aba, ia menyelinapkan tangannya dan menggendong putri tunggalnya menuju kamar utama di lantai atas.

Sesampainya di kamar, Jaya dibantu Owen merebahkan tubuh Lily dengan sangat perlahan di atas kasur empuk.

“Lily... sebenarnya masih kuat kok, Pih...” bisik Lily dengan suara yang kian lirih.

Papi Jaya menatap putrinya penuh penyesalan. Ia menggeleng cepat, meremas pelan jemari Lily. “Maafin Papi ya, Ly... Papi terlalu keras sama kamu.”

Owen yang berdiri di samping tempat tidur melipat tangan di dada, melemparkan tatapan kesal pada sang papi. “Papi emang selalu keras! Lily bahkan belum sarapan sama sekali dari pagi, Pih, tapi malah disuruh lari keliling rumah sampai pingsan begini!”

Papi Jaya hanya bisa terdiam membisu, tak sanggup menyangkal ucapan putra sulungnya.

Tak lama kemudian, Javin menerobos masuk membawa segelas air hangat. “Ini, Ly, minum dulu pelan-pelan.”

Papi Jaya dengan cepat mengambil gelas tersebut lalu membantu Lily menyandarkan tubuhnya untuk meneguk air itu sedikit demi sedikit.

“Kamu mau makan sesuatu?” tawar Owen lembut.

Lily menggeleng pelan, raut wajahnya meringis. “Enggak deh, Kak... perut Lily rasanya mual banget.”

“Ya udah kalau gitu kamu istirahat dulu ya. Yang lain pada keluar sana, jangan bikin makin bising!” perintah Papi Jaya mengusir anak-anak laki-laki yang berkerumun di ambang pintu.

Uhuk! Uhuk!

Suara batuk yang cukup keras tiba-tiba terdengar dari tenggorokan Wafa. Laki-laki itu cepat-cepat berbalik, memisahkan diri dari kerumunan di depan kamar Jaya, bergegas menuju kamar mandi di dalam kamarnya sendiri.

Melihat gelagat aneh itu, Malik dan Sean yang menyadari sesuatu langsung bertukar pandang panik, lalu mengekor ketat dari belakang.

Uhuk! Uhukkk!

Wafa terus-terusan terbatuk hebat di depan wastafel, mencoba menahannya sekuat tenaga agar tidak menimbulkan kegaduhan.

Kedua sahabatnya menatap punggung Wafa dengan raut wajah penuh kesedihan dan keputusasaan.

“Waf... udah separah ini. Lo beneran enggak mau cerita ke keluarga?” tanya Malik mendekat, menyentuh bahu Wafa pelan.

“Iya, Waf... Siapa tahu masih ada jalan,” timpal Sean, matanya berkaca-kaca menahan khawatir.

Tanpa mereka sadari, Rafa rupanya diam-diam menyusul langkah ketiga bocah itu. Berdiri di ambang pintu kamar mandi, Rafa sudah mendengar seluruh potongan percakapan mencurigakan tersebut.

“Wafa! Apa yang sebenarnya Lo sembunyiin dari kita semua?!” tanya Rafa tegas, namun ada getaran cemas yang amat sangat dalam intonasinya.

Wafa menyeka bibirnya cepat, menyunggingkan senyum santai yang dipaksakan seraya menyembunyikan kedua tangannya ke belakang tubuh. “Ini, Bang... gue cuma lagi agak kurang sehat aja. Udah semingguan batuknya enggak sembuh-sembuh, padahal cuma batuk biasa.”

“Jangan bohong!” pangkas Rafa melangkah maju, memotong jarak. “Kenapa tangan kamu disembunyiin di belakang gitu?” cecar Rafa penuh curiga.

Malik yang tak tahan lagi hampir membuka suara. “Jadi sebenarnya Wafa itu—”

“Udah deh, jangan pada lebay berlebihan!” potong Wafa cepat, memutar bola matanya sok acuh. “Gue cuma batuk berdahak biasa, sumpah.”

“Lihat tangan Lo coba!” desak Rafa tak bisa dibohongi lagi.

Wafa merapatkan tubuhnya ke wastafel, enggan menunjukkan tangannya. Tak ada cara lain, Rafa langsung mencengkeram pergelangan tangan Wafa dan menariknya paksa ke depan. Karena tenaga Rafa jauh lebih kuat, Wafa tak sanggup bertahan.

Seketika itu juga, jemari Wafa yang terkepal terbuka.

Di atas telapak tangannya, cairan merah pekat menggenang segar berbercak di antara jari-jarinya.

Mata Rafa membelalak sempurna, napasnya tertahan. “Darah...?! Wafa, ini darah?!” seru Rafa dengan perasaan yang mendadak berkecamuk hebat.

Di dalam kamar utama, suasana mendadak hening dan hangat.

“Maafin Papi ya, Sayang...” usap Jaya lembut pada puncak kepala Lily. Pria itu terduduk di tepi ranjang, menatap putri tunggalnya dengan raut penuhan penyesalan.

Lily menatap langit-langit kamar sejenak sebelum beralih memandang wajah sang papi. “Pih... ada yang ingin Lily tanyain ke Papi.”

Jaya tersenyum tipis, mencoba tetap tenang. “Mau tanya apa, Sayang?”

“Semalam... Papi minum-minum lagi karena apa?” tanya Lily berhati-hati, sekadar membuka percakapan.

“Cuma lagi banyak pikiran dan kerjaan di kantor aja, Nak,” jawab Jaya singkat, dengan intonasi yang seolah memberi isyarat bahwa ia ingin menyudahi topik tersebut.

Namun, Lily belum puas. Dengan sedikit keraguan di dadanya, gadis itu kembali berbisik, “Terus... noda di leher Papi itu noda apa?”

Gerakan tangan Jaya di rambut Lily seketika terhenti. Pria itu diam membisu selama beberapa detik, otaknya berputar cepat mencari kebohongan yang masuk akal.

“Oh... itu,” kekeh Jaya kaku, menggaruk tengkuknya. “Jadi... semalam Papi kangen banget sama Mami kamu. Papi buka-buka lagi barang-barang peninggalan Mami di lemari. Nah, mungkin karena Papi lagi mabuk dan enggak sadar, lipstik Mami yang Papi pegang malah kecoret ke leher sendiri.”

Lily menyipitkan matanya samar. 

'Tapi... kok bentuknya sama sekali enggak kayak kecoret ya?' batin Lily penuh kecurigaan yang kian menebal. Namun, melihat raut wajah papinya, ia memilih menyimpan rapat pertanyaan itu.

“Udah, kamu tidur gih. Istirahat ya,” bisik Jaya lembut, menyelimuti tubuh lemas Lily hingga batas dada.

Lily mengangguk pasrah, lalu perlahan memejamkan matanya yang terasa amat berat.

Melihat Lily yang mulai bernapas teratur, senyum di wajah Jaya perlahan luntur, berganti raut wajah mengeras dan kesal. 

'Hana bener-bener ya... Ngapain coba pakai acara nyium leher gue segala?!' umpat Jaya membatin penuh jengkel, sembari jemarinya tetap bergerak perlahan mengelus kepala sang putri.

“Pih... makan dulu gih ke bawah. Jangan sampai nanti Papi ikut-ikutan sakit,” tegur sebuah suara berat dari arah ambang pintu. Owen berdiri di sana, bersandarkan kening pada bingkai pintu wood.

Jaya mendongak, lalu mengangguk pelan. Sebelum bangkit dari ranjang, ia membungkuk sekilas untuk mengecup kening Lily penuh kasih sayang, lalu melangkah keluar mengekor putra sulungnya.

Di meja makan yang sunyi, Owen mendampingi Jaya yang mulai menyantap makan siangnya dengan canggung.

Owen menatap sang papi lekat-lekat, lalu membuka suara dengan nada tenang namun sarat ketegasan. 

“Besok-besok... jangan terlalu keras lagi sama Lily ya, Pih. Papi kan tahu sendiri gimana kondisi fisik Lily. Dia itu memang lemah dan gampang banget kelelahan dari kecil.”

Jaya menghentikan suapannya. Ia menurunkan sendoknya, menunduk dalam-dalam seraya menghela napas panjang penuh rasa bersalah.

“Iya, Kak... Papi paham,” jawab Jaya lirih, suaranya parau. “Papi benar-benar minta maaf. Tadi Papi terlalu terbawa emosi...”

Owen menatap papinya yang tertunduk lesu. Kekesalan yang tadinya membumbung perlahan mereda, berganti menjadi rasa khawatir yang teramat sangat. Pria paruh baya di hadapannya ini terlihat begitu lelah dan rapuh.

“Bukan cuma soal Lily, Pih,” ujar Owen pelan, memecah keheningan di meja makan.

Jaya mendongak perlahan, menatap putra sulungnya dengan raut bertanya. “Maksud kamu, Kak?”

“Soal Papi sendiri,” potong Owen tegas. Ia memajukan posisi duduknya, menatap lurus ke dalam bola mata sang papi. “Papi janji sama kita semua satu tahun lalu buat berhenti minum, kan? Kita semua senang banget waktu Papi berubah. Tapi semalam... kenapa, Pih? Ada masalah besar apa di kantor sampai Papi harus pelariannya ke alkohol lagi?”

Jaya mengepalkan tangannya di atas meja, menghindari kontak mata. “Papi cuma... kecapekan, Owen. Tekanan di kantor lagi tinggi-tingginya.”

“Papi tahu sendiri kan, kalau Papi minum, ketenangan rumah ini yang jadi taruhannya?” nada suara Owen makin dalam, sarat akan beban sebagai anak tertua. 

“Anak-anak shock tadi pagi. Lily sampai nangis semalam gara-gara ngeliat kondisi Papi yang kacau begitu.”

Jaya helah napas berat, memijat pelipisnya yang kembali berdenyut. “Papi tahu... Papi salah, Kak. Papi bener-bener khilaf semalam.”

Owen mengamati lekuk wajah papinya yang tampak menyimpan rahasia besar. Firasatnya sebagai anak tertua mengatakan ada hal lain yang disembunyikan.

“Papi... beneran cuma karena kerjaan?” desak Owen penuh selidik. “Nggak ada hal lain yang lagi Papi tutupin dari kita?”

Jaya tersentak kecil, namun dengan cepat menguasai mimik wajahnya agar tak terbaca. Ia mengulas senyum tipis yang dipaksakan. “Enggak ada, Kak. Kamu ini mikir apa sih? Papi murni cuma stres masalah investasi proyek baru di kantor.”

Owen menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menghela napas panjang. Ia tahu sang papi sedang berbohong, tapi ia memilih tidak memaksanya bicara lebih jauh sekarang.

“Ya udah kalau gitu. Tapi Owen mohon, Pih... tolong jangan diulangi lagi,” ucap Owen dengan intonasi yang melunak. 

“Kalau Papi ada masalah, cerita sama Owen. Owen udah dewasa, Owen bisa bantulah sikit-sikit. Jangan ditanggung sendiri, terus larinya ke hal-hal kayak gitu lagi. Lily sama adik-adik butuh figur Papi yang sehat.”

Mendengar ucapan kedewasaan putra sulungnya, dada Jaya berdesir hangat sekaligus dihantam rasa bersalah yang makin menghujam.

“Iya, Kak... Terima kasih ya, udah selalu bisa diandalkan buat jagain adik-adik kamu,” bisik Jaya parau, menepuk pelan bahu Owen. “Papi janji, ini yang terakhir.”

Owen mengangguk pelan. “Yaudah, habisin makanannya, Pih. Habis ini Papi istirahat juga, muka Papi enggak kalah pucat sama Lily.”

Belum sempat suasana rumah menjadi tenang, tiba-tiba seseorang menerobos masuk dengan tergesa-gesa.

1
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!