Menjadi duda di usia muda membuat hati sang CEO menjadi dingin, apalagi trauma masa lalu mengenai rumah tangga membuatnya menutup diri untuk yang namanya Cinta.
Simak kelanjutan kisahnya, tapi disarankan sebelum membaca ini agar terlebih dahulu membaca karya Lepaskan Aku, agar bisa semakin faham jalan ceritanya, karena karya ini adalah lanjutan dari kisah penuh lika liku rumah tangga dari cerita tersebut.
Jadi, tunggu apalagi. Yuk cap cus, baca dan nikmati kisah nano nano yang ada di cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💘 Nayla Ais 💘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Hasil penyelidikan
Atika dan Sintia menatap heran dengan kepergian Ara.
" Lun, ada apa dengannya. Apa kalian berdua ada masalah. " Tanya Atika.
Luna menggeleng karena dia juga tidak tau apa- apa, tiba-tiba saja sikapnya Ara berubah.
" Entahlah Tik, aku juga tidak tau. Tiba-tiba saja Ara begitu. "
Sintia masih penasaran, tidak pernah sekalipun sahabatnya bersikap seperti itu selama ini.
" Tika, apa jangan- jangan Ara punya masalah lagi sama keluarganya. "
" Bisa saja Tia, atau ada masalah lain. Luna, apa tadi ada yang Ara katakan sama kamu sebelum Ia murung begitu. "
Luna mencoba mengingat- ingat kejadian beberapa menit yang lalu.
" Tadi Ara nanya aku kenapa berangkat duluan, padahal katanya Dia kekontrakan menjemput aku disana tapi aku sudah berangkat lebih dulu. "
Atika dan Sintia masih merasa aneh
" Tik, sepertinya ada masalah lain. Tidak mungkin hanya karena itu Ara jadi semarah itu. "
Tika membenarkan apa yang di ucapkan Sintia, sudah biasa hal itu terjadi dengan mereka tapi tidak pernah Ara sampai sejutek itu.
" Apa ada lagi Lun yang di bicarakan atau di tanyakan Ara padamu. "
Kembali Luna mencoba mengingat- ingat lagi semua yang terjadi tadi.
" Ah iya, tadi Ara nanya aku pergi sendiri atau di jemput lagi sama Mas Abi seperti kemarin. Aku jawab pergi sama Mas Abi karena memang aku kemari di antar Mas Abi. "
Atika dan Sintia saling pandang dengan pertanyaan berkecamuk di benak mereka.
" Tia, apa kamu sepemikiran dengan yang aku pikirkankan saat ini. "
Tia membalas dengan anggukan, Luna menjadi bingung melihat ketiga sahabatnya yang tiba-tiba bertingkah aneh.
" Kalian kenapa sih, kok jadi ikutan aneh begini. "
Atika dan juga Sintia kompak menarik tangan Luna karena sudah waktunya mereka masuk.
" Buruan Lun, ini mata kuliahnya Dosen killer. Apa kamu mau dapat hukuman, aku mah ogah. "
Ketiganya nampak sedikit berlari karena takut mendapat hukuman dari Dosen yang bisa di bilang tampan tapi mengerikan itu.
Tika dan juga Sintia sikut- sikutan melihat Ara yang sejak tadi diam bahkan Ia tidak menjawab ketika di sapa oleh mereka.
" Atika...... Sintia....... ! " Terdengar suara memanggil nama keduanya.
Tika dan Sintia sontak menoleh dan terkejut setelah mengetahui suara itu berasal dari si Dosen killer, yang kebetulan saat ini sudah berdiri di belakang kursi mereka tanpa mereka sadari.
Tika dan Sintia kesulitan meneguk salivanya sendiri ketika melihat dimana arah tatapan mata Dosen killer itu.
Sintia dengan cepat menutup dua bola bundar di depannya menggunakan kedua telapak tangannya.
" Satu kali saya lihat anda berdua tidak pokus dengan mata kuliah saya, maka kalian bisa datang keruangan saya. "
Atika dan juga Sintia menarik nafas panjang dan membuangnya kembali. Keduanya kembali fokus, untung hari ini nasib mereka baik dan Dosen Killer itu berbaik hati memberi mereka peringatan.
...----------------...
Pintu ruangan Alwi di ketuk dan luar, seperti biasa Alwi langsung menyerukan tamunya untuk masuk.
" Masuk. "
Joan masuk dan memberikan hasil penemuannya pada Alwi, namun Alwi memintanya untuk membacakannya saja apa yang Ia berhasil dapatkan.
" Bacakan saja Joan. " Joan mengangguk.
" Namanya Luna Anggraini, umur empat bulan lagi genap delapan belas tahun. Ia berasal dari desa x, sejak kecil Ia hidup bersama Ayahnya yang juga tidak di ketahui asal usulnya. Ayahnya sering di panggil Abah yang adalah seorang juragan sapi di desa x, Luna sendiri adalah seorang gadis yang pandai, semua di lihat dari banyaknya piagam yang Ia raih setiap ada perlombaan yang Ia ikuti. "
Joan membacakan semua yang tertulis disana beserta beberapa bukti yang menguatkan ucapannya.
Beberapa foto memperlihatkan Luna kecil hingga besar dengan berbagai macam piagam yang Ia raih, beserta kandang sapi dan juga Abah dengan jenggot dan kumis menutupi wajahnya hingga tidak ada siapa pun yang bisa memgenalinya.
" Wow. " Lagi- lagi Alwi berdecak kagum.
" Apa ada lagi selain ini. " Tanya Alwi lagi.
Semua belum memberikan hasil seperti yang Ia inginkan.
" Ada Pak, tapi ini soal Braman group. " Joan mengatakannya dengan hati- hati.
Alwi mengerutkan keningnya, kenapa Joan menyinggung nama perusahaan itu dan apa hubungan perusahaan itu dengan pencarian mereka saat ini.
" Ada apa dengan Bramana grup. "
" Luna ternyata sekampung dengan pemilik Bramana grup. "
" Lalu. " Alwi semakin penasaran ingin tau kelanjutan nya.
Meskipun Ia was- was kalau ternyata Luna adalah Putri dari Abraham, itu berarti Adiknya telah salah pilih teman.
" Apa Luna adalah Putri dari Pak Abraham. "
Joan menggeleng dan entah kenapa Alwi merasa lega melihat tanggapan Joan.
" Putra dari pemilik Bramana grup itu sepertinya menaruh hati pada Nona Luna, dan seperti Nona muda juga pernah bertemu dengannya. "
Joan memberikan beberapa foto sebagai bukti kedekatan Abi, Luna dan juga Ara.
" Oke, terima kasih Joan. Kamu boleh pergi sekarang. Untuk komisinya seperti biasa, tetap pantau Putra dari Abraham itu, jangan sampai Ara terlalu dekat dengannya. "
Joan pun mengangguk dan berlalu pergi.
Alwi mengetuk- ketuk meja sambil memperhatikan beberapa foto yang ada di atas meja.
Ia mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang.
Drettt ~ dreettt !
Yang empunya hanya melihat sekilas dan kembali mengobrol bersama teman-temannya. Ponsel kembali berdering hingga mengganggu kenyamanan mereka.
" Lun, ponsel mu. Sejak tadi berdering, coba di angkat dulu, siapa tau penting. " Saran Atika.
Luna tetap tidak mengindahkannya karena nomornya tidak terdaftar alias tidak ada nama.
" Nomor tak di kenal, malas aku. " Jawab Luna.
Ponsel kembali berdering dan kali ini Ara yang mengangkatnya karena Ia juga bosan mendengar bunyi ponsel Luna.
" Iya hallo, assalamu'alaikum. Maaf ini dengan siapa, tolong kalau tidak penting jangan ganggu. "
Ara mentap ketiga sahabatnya yang mengacungkan kedua jempol mereka padanya.
" Dek, kok kamu yang angkat. Teman mu mana. "
Ara, Atika dan Sintia langsung melongo, mereka menutup mulut mereka masing-masing setelah tau siapa yang menelpon.
" Ah Mas Alwi, kirain siapa. Nih...... nih orangnya ada kok. "
Ara langsung memberikan ponselnya pada Luna sambil mengulum senyum, tiba-tiba saat ini moodnya baik kembali.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu