Kisah cinta antara Fatimah, seorang gadis cantik yang periang dan ramah, dengan Arshaka, CEO muda tampan yang pendiam tetapi sangat menyayangi seluruh keluarganya. Dan juga kisah cinta sang kakak, Keinan dengan seorang dokter cantik yang memiliki nama yang hampir sama dengan dirinya, Keisha.
Berawal dari sama-sama saling menyukai secara diam-diam, sampai akhirnya Arshaka nekat mengajak Fatimah untuk menikah dengan dirinya, demi keselamatan Fatimah dan juga keluarganya yang lain.
Sementara Keinan yang merasa sedikit minder untuk mengejar cintanya, mengingat status sosial mereka berdua yang berbeda. Tetapi sang gadis justru terus berusaha untuk meyakinkan Keinan bahwa status sosial bukan halangan bagi mereka. Sampai akhirnya Keinan pun berusaha dengan keras untuk membuktikan kepantasan dirinya.
Bagaimanakah perjalanan kisah cinta kedua pasangan adik dan kakak ini? Apakah mereka akhirnya mampu untuk meraih kebahagiaan di dalam kehidupan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Tidak Sengaja Memergoki ( 2 )
Siang ini Fafa dan Angkasa sedang mengantarkan nenek mereka, Oma Wulan, untuk periksa ke rumah sakit. Seperti kebanyakan orang lanjut usia pada umumnya, Oma Wulan sering mengalami gangguan tulang dan sendi. Itu kenapa Oma Wulan harus check up rutin setiap bulan ke rumah sakit.
Fafa dan Angkasa saat ini sedang duduk menemani Oma Wulan di kursi tunggu, menunggu antrian panggilan untuk periksa dari perawat yang sedang bertugas di belakang meja pendaftaran.
Tiba-tiba saja, ketika Fafa sedang menoleh ke arah samping kanan, Fafa melihat sosok seorang wanita yang sangat familiar bagi Fafa. Fafa berpikir sejenak, mengingat-ingat tentang siapa wanita itu. Dan akhirnya Fafa pun berhasil mengingat tentang siapa wanita itu.
"Claire? Bukankah itu Claire yang bertengkar dengan Kak Rayyan dulu itu ya? Untuk apa dia ke rumah sakit? Dan kenapa gerak-geriknya sangat mencurigakan gitu ya? Seperti sembunyi-sembunyi dan tidak ingin diketahui oleh orang lain. Apa jangan-jangan ---"
Fafa tidak melanjutkan kata batinnya sendiri. Merasa sesuatu yang tidak beres sepertinya akan terjadi, maka Fafa pun kemudian memutuskan untuk mengikuti Claire secara diam-diam.
"Kak Angkasa, kakak temenin Oma dulu sebentar ya. Aku mau ke toilet dulu," izin Fafa kepada kakaknya, Angkasa.
"Oh, oke deh, Fa," balas Angkasa.
"Oma sama Kak Angkasa dulu, ya. Fafa mau ke toilet dulu sebentar," izin Fafa juga kepada Oma Wulan.
"Iya, Fa," balas Oma Wulan juga.
Setelah mendapat persetujuan dari Angkasa dan Oma Wulan, Fafa pun kemudian segera bergegas untuk menyusul kemana perginya Claire tadi. Dan untunglah Fafa tidak kehilangan jejak Claire.
Secara diam-diam Fafa mengikuti Claire dari belakang. Sampai akhirnya, beberapa saat kemudian, Claire nampak berhenti di sebuah lorong rumah sakit yang cukup sepi karena terletak di bagian belakang dari bangunan rumah sakit tersebut.
Ternyata disana Claire bertemu dengan seorang laki-laki dengan pakaian perawat. Fafa bersembunyi di balik dinding di dekat lorong rumah sakit tempat bertemunya Claire dengan perawat laki-laki tersebut.
"Bagaimana, Nona? Hasil kerja saya memuaskan bukan?" tanya perawat laki-laki itu yang masih bisa didengar oleh Fafa dengan jelas.
Merasa percakapan antara Claire dengan perawat laki-laki itu sepertinya adalah sesuatu yang sangat penting dan rahasia, Fafa pun kemudian mulai menghidupkan perekam suara yang terdapat pada ponselnya.
Kali ini Fafa ingin berjaga-jaga, seandainya pembicaraan Claire kali ini adalah sesuatu yang penting seperti yang pernah didengar oleh Fafa ketika berada di dalam toilet mall beberapa hari yang lalu itu.
"Bagus. Gue puas dengan hasil kerja Lo. Hasil laporan tes DNA yang Lo buat sesuai dengan apa yang gue harapkan," jawab Claire, yang sudah mulai direkam oleh Fafa saat ini.
"Tentu saja, Nona. Tidak mudah untuk bisa merubah hasil dari laporan tes DNA antara Tuan Rayyan dengan anak kecil itu. Saya harus bekerja keras dan hati-hati agar tidak sampai dicurigai oleh atasan saya. Jadi saya harap, Nona juga bisa mengapresiasi hasil kerja keras saya ini dengan baik," kata perawat laki-laki itu.
"Tenang aja, gue pasti akan bayar Lo sesuai dengan yang udah gue janjikan kemarin. Apalagi kalau nanti Rayyan udah beneran pisah sama istrinya itu, gue pasti kasih Lo bonus juga," ucap Claire.
"Wah, terima kasih banyak, Nona. Kalau gitu saya bantu do'akan semoga Tuan Rayyan dan istrinya itu bisa benar-benar segera berpisah dan bercerai," balas perawat laki-laki itu sumringah dan mendo'akan sesuatu yang buruk untuk Rayyan dan Arnelle.
Fafa begitu terkejut mendengar pembicaraan antara Claire dengan perawat laki-laki itu. Fafa bahkan sampai menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya sendiri saat ini saking kagetnya.
Ah, ternyata memang benar apa yang dipikirkan oleh Fafa sebelumnya. Pembicaraan antara Claire dengan perawat laki-laki itu memang merupakan sesuatu yang sangat penting dan rahasia. Dan rekaman milik Fafa ini pasti bisa menjadi bukti tentang rencana jahat Claire yang ingin memisahkan Rayyan dan Arnelle.
"Ini bayaran Lo untuk hasil kerja Lo yang udah ngerubah hasil laporan tes DNA kemarin itu," kata Michelle kemudian seraya mengulurkan sebuah amplop coklat tebal yang sepertinya berisi uang.
"Wow, terima kasih banyak, Nona. Terima kasih," ucap perawat laki-laki itu begitu senangnya setelah menerima amplop berisi uang dari Claire tersebut.
Fafa sedikit mengintip. Fafa melihat Claire yang sedang menyerahkan satu buah amplop yang sepertinya berisi uang kepada perawat laki-laki itu. Secepat kilat Fafa pun kemudian mengaktifkan kamera ponselnya dan memfoto kejadian tersebut.
Fafa memfoto ketika Claire menyerahkan amplop berisi uang itu kepada perawat laki-laki tersebut. Dan ketika perawat laki-laki itu membuka amplop tersebut lalu mengeluarkan banyak sekali uang dari dalam amplop tersebut, Fafa pun juga sempat memfotonya.
"Semoga rekaman dan foto ini nanti bisa menjadi bukti untuk rencana jahat Claire itu. Nanti aku harus segera memberikan bukti rekaman dan foto ini sama Kak Rayyan," kata batin Fafa.
"Senang bekerja sama dengan Anda, Nona. Lain kali kalau Nona perlu bantuan saya lagi, saya siap kapan pun juga untuk membantu Anda, Nona," lanjut perawat laki-laki itu meyakinkan.
"Hmm. Lain kali kalau gue butuh bantuan Lo lagi, gue pasti akan langsung hubungi Lo. Soalnya kedepannya nanti gue emang masih perlu bantuan Lo untuk menyabotase data Rayyan dan Mark lagi," kata Claire.
"Baik, Nona. Saya pasti akan selalu siap untuk membantu Nona kapan pun itu," balas perawat laki-laki itu dengan mantap.
"Yaa Allah, benar-benar jahat sekali Claire itu," ucap batin Fafa lagi.
Dan tiba-tiba saja, tanpa Fafa sadari, kaki Fafa menyenggol sebuah tempat sampah yang berada di dekatnya.
Gubrak!
Fafa seketika membulatkan kedua matanya seraya menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya sendiri, sangat kaget dengan ketidaksengajaan yang sudah dia perbuat itu.
Begitu juga dengan Claire dan perawat laki-laki itu yang seketika langsung mengalihkan perhatian mereka berdua ke arah dinding di ujung lorong rumah sakit tersebut.
"Siapa itu disana?" teriak Claire.
Fafa semakin terkejut.
"Gawat. Aku nggak boleh sampai ketahuan. Aku harus segera pergi dari sini secepat mungkin. Bukti ini harus tetap aman," ucap batin Fafa, sedikit merasa takut juga.
Fafa pun kemudian segera bergegas untuk pergi meninggalkan tempat persembunyiannya di balik dinding tersebut.
"Hei, siapa itu?" teriak perawat laki-laki itu juga.
Merasa ada yang sudah menguping pembicaraan mereka berdua, Claire dan perawat laki-laki itu pun kemudian bergegas untuk menghampiri dinding di ujung lorong tempat mereka berdua sedang bertemu saat ini.
Untungnya Fafa sudah beranjak dari balik dinding tersebut. Tetapi tetap saja, Claire dan perawat laki-laki itu sempat melihat sekelebat bayangan tubuh Fafa yang sedang berlari menjauh itu.
"HEI BERHENTI, LO!" teriak Claire keras.
Fafa yang merasa semakin ketakutan pun justru semakin mempercepat larinya dan tidak menoleh ke belakang lagi.
"WOEY, BERHENTI LO!" teriak perawat laki-laki itu juga seraya hendak mengejar Fafa.
Namun Claire segera saja menghentikan perawat laki-laki itu yang sudah hampir berlari saat ini.
"Nggak usah dikejar. Nggak ada gunanya, dia udah jauh. Gue akan minta sama orang-orang gue untuk mengecek CCTV yang ada di sekitar sini. Gue pastiin siapapun orang itu, gue pasti bisa segera menemukannya," kata Claire.
"Baiklah kalau begitu, Nona," balas perawat laki-laki itu.
Claire mengumpat dalam hatinya.
"Sialan. Siapa itu yang udah nguping pembicaraan gue? Gue harus bisa segera dapetin orang itu. Takutnya kalau orang itu juga ngerekam atau fotoin apa yang udah terjadi antara gue sama perawat laki-laki ini. Bisa gawat nanti. Haish, bener-bener apes banget sih gue hari ini," gerutu batin Claire.
Sementara Fafa terus saja berlari dan bergegas untuk segera kembali menemui kakak dan neneknya di ruang tunggu dokter salah satu poli di rumah sakit tersebut.
Fafa sampai di ruang tunggu dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.
"Kak, Oma. Huft, huft, huft," panggil Fafa seraya berusaha untuk mengatur nafasnya sendiri.
"Fafa, kamu kenapa? Kok ngos-ngosan gitu?" tanya Oma Wulan bingung.
"Lo kenapa, Fa? Apa yang sudah terjadi?" tanya Angkasa yang juga merasa khawatir itu.
"Hehe, Fafa nggak pa-pa kok Kak, Oma. Cuma tadi agak sakit perut aja, makanya agak lama di toiletnya. Maaf, ya," jawab Fafa yang terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat kakak dan neneknya itu merasa semakin khawatir lagi.
"Terus kenapa ngos-ngosan gini?" tanya Angkasa lagi.
"Tadi Fafa lari-lari balik kesininya, Kak. Takut kalau Oma udah dapet giliran dipanggil untuk periksa ke dalam. Fafa takut nggak sempet ngejar buat nemenin Oma masuk ke dalam, makanya Fafa lari-lari," jawab Fafa yang tidak sepenuhnya berbohong kali ini.
"Haish, kamu ini, Dek," keluh Angkasa seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Dasar kamu itu," ucap Oma Wulan juga seraya menoyor pelan pipi cucu perempuannya itu.
Angkasa dan Oma Wulan memang sudah sangat hafal dengan sifat Fafa yang terkadang sering konyol dan selalu bisa membuat orang lain menjadi tertawa itu.
"Hehehe, maaf," sesal Fafa dengan tertawa menyengir.
Ketiganya pun kemudian tertawa kecil bersama-sama. Angkasa dan Oma Wulan masih terlihat menggelengkan kepala mereka masing-masing. Sementara Fatimah merasa lega karena kakak dan neneknya itu tidak merasa curiga sama sekali.
"Huft, untung aja Oma sama Kak Angkasa nggak curiga. Aku harus segera menceritakan masalah ini dan menunjukkan bukti rekaman dan foto yang aku dapatkan tadi ke Kak Keinan secepat mungkin," ucap batin Fafa.
ternyata papa dan opa nya Darren mengetahui semua apa yang di lakukan Darren dan apa yang Darren lakukan ke shila
Darren bener" gak ada otak ya bisa" nya acara keluarga shila saja dia sampai lupa dan dia lebih mentingin Evelyn
selamat buat kesya dan shila ya
wah wah shila sama Darren udah beneran menjadi suami istri kah ini