Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Gavin Merasa Frustasi
"Tuan Gavin, Nona Aluna pingsan karena syok berat, tetapi saat ini kondisi fisiknya sudah aman."
Di luar kamar rawat inap, Gavin langsung menatap tajam dokter di hadapannya. Matanya menyipit dengan ekspresi berbahaya. "Lalu kenapa sampai sekarang dia belum sadar?"
"Itu..." Dokter itu tampak gugup dan bicaranya mendadak ragu-ragu.
Gavin mengerutkan keningnya. Tanpa peringatan, ia melangkah maju dan langsung mencengkeram kerah baju dokter itu dengan kuat, menekannya hingga sang dokter kesulitan bernapas.
"Ugh..." Dokter itu mengerang kesakitan.
Melihat hal itu, asisten dokter segera bergerak maju untuk menenangkan situasi. "Tuan Gavin, tolong tenang dulu. Masalah ini bisa saya jelaskan....."
Sebelum asisten itu menyelesaikan kalimatnya, ia mendongak dan langsung melihat tatapan mata Gavin yang sangat dingin dan tanpa emosi. Kilat mata Gavin saat itu sangat mengintimidasi, membuat asisten dokter tersebut mendadak merasa kaku dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat karena ketakutan.
Karena area tersebut merupakan lorong VIP rumah sakit, suasana koridor terasa sangat sepi dan sunyi. Wajah dokter pria yang berada dalam cengkeraman Gavin kini sudah pucat pasi karena kekurangan oksigen.
Gavin akhirnya menyentakkan tangannya hingga cengkeraman itu terlepas, lalu mengibaskan telapak tangannya dengan raut wajah jijik. "Sekarang, jelaskan dengan benar."
Di kota ini, reputasi Gavin sebagai pria yang kejam dan bertangan dingin sudah sangat terkenal. Ia tidak hanya kaya raya, tetapi juga dikenal memiliki temperamen yang sulit ditebak dan tidak segan menggunakan cara-cara ekstrem untuk mencapai tujuannya.
Setelah berhasil lolos dari bahaya, dokter itu tidak berani lagi menyembunyikan fakta. Ia buru-buru menjawab, "Nona Aluna belum siuman saat ini karena... secara psikologis, dirinya sendiri yang menolak untuk bangun dan menghadapi kenyataan di hadapannya."
Klek!
Suara yang tajam mendadak memecah keheningan koridor. Dokter dan asistennya spontan menoleh ke arah sumber suara. Mereka mendapati Gavin baru saja mematahkan pulpen plastik yang dipegangnya menjadi dua bagian dengan tangan kosong.
Dokter dan asistennya saling melempar pandangan penuh ketakutan. Mereka tahu betul Gavin bisa melakukan tindakan nekat apa pun jika suasana hatinya memburuk.
"Dia sengaja menolak untuk bangun," gumam Gavin lirih pada dirinya sendiri dengan senyuman tipis yang terkesan dipaksakan.
"Apa aku memang sebegitu menjijikkannya di mata dia?"
Meskipun Gavin tampak tersenyum, sepasang matanya sama sekali tidak menunjukkan emosi apa pun.
Dokter itu sempat ragu selama beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk kembali berbicara. "Tuan Gavin, sebagai dokter, ada satu hal penting lagi mengenai dampak tindakan kemarin yang harus saya sampaikan kepada Anda."
"Katakan."
"Prosedur amniosentesis yang Anda paksakan kemarin memang tidak mengganggu keselamatan janin. Namun, prosedur itu memberikan efek samping dan rasa sakit yang cukup besar bagi fisik ibunya.
Di masa depan, Nona Aluna kemungkinan akan sering mengalami gejala lemas, keringat dingin di malam hari, dan sakit pinggang. Mohon awasi dan jaga kondisinya dengan baik."
Mendengar penjelasan tersebut, tubuh Gavin seketika menegang kaku. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan pandangan kosong.
Aku... akulah yang sudah menyakitinya.
Tiba-tiba, Gavin meloloskan erangan tertahan dari tenggorokannya. Akibat tekanan emosional dan rasa bersalah yang terlalu besar, setetes darah segar tampak merembes keluar dari sudut bibirnya.
"Tuan Gavin!" Dokter itu panik dan berniat melangkah maju untuk memeriksa kondisinya.
Namun, Gavin langsung membentak dengan suara parau, "Keluar dari sini! Semuanya keluar!"
Melihat kemarahan Gavin, kedua tenaga medis itu tidak berani menunda waktu lagi dan segera melangkah pergi meninggalkan koridor dengan tergesa-gesa.
Atmosfer di koridor kembali menjadi sunyi. Gavin berdiri mematung di depan pintu kaca kamar rawat, menatap lurus ke arah Aluna yang masih terbaring kaku di atas ranjang pasien. Bahunya tampak merosot layaknya pria yang kehilangan seluruh energinya.
Gavin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Detik berikutnya, ia mengepalkan tangan dan mulai memukul dinding beton rumah sakit berulang kali dengan frustrasi. Ia meluapkan emosinya secara brutal hingga kulit di buku-buku jarinya robek dan mengalirkan darah segar yang menodai permukaan dinding.
Tepat pada momen itu, seorang pria muda melangkah keluar dari arah tangga darurat dan menyaksikan seluruh aksi merusak diri tersebut. Pria berusia awal dua puluh tahunan itu adalah Bima, asisten pribadi sekaligus orang yang paling dipercayai oleh Gavin.
Hubungan mereka tidak sebatas atasan dan bawahan; di luar pekerjaan, mereka adalah teman dekat. Jika di kantor Bima menyapanya dengan formal, maka dalam situasi pribadi seperti ini ia langsung memanggil namanya.
Melihat kondisi Gavin yang berantakan, Bima tersentak kaget. Ia segera berlari cepat dan langsung menahan tubuh Gavin untuk menghentikan aksi nekatnya. "Gavin! Apa yang kamu lakukan? Tenang!"
Gavin tidak menyahut. Sebaliknya, ia justru melayangkan satu pukulan keras tepat ke arah dada Bima karena merasa gerakannya diganggu.
Hantaman telak itu membuat Bima meringis menahan nyeri di dadanya. Emosi Bima spontan terpancing. "Sialan, kamu pikir hanya kamu yang bisa marah?! Berani-beraninya kamu memukulku? Baiklah, ayo kita selesaikan!"
Tanpa membuang waktu, Bima langsung melempar jas kerjanya ke lantai, menggulung lengan kemejanya, lalu mencengkeram tubuh Gavin untuk mengajaknya berduel fisik. Bima yang sempat mengikuti pelatihan militer selama dua tahun memiliki ketahanan fisik yang lebih unggul dibanding Gavin yang sedang tidak fokus. Dalam beberapa gerakan praktis, Bima berhasil mengunci pergerakan Gavin dan menekan tubuhnya ke dinding.
"Gavin, buka matamu! Apa kamu pikir Aluna akan langsung bangun dari pingsannya kalau kamu menyiksa dirimu sendiri seperti ini?!
Jika kamu memang kamu merasa bersalah dan ingin menebus semuanya, masuk ke dalam! Tetap berada di sisinya dan jangan tinggalkan dia sedetik pun sampai dia membuka mata!" bentak Bima langsung di depan wajah Gavin.
Kalimat tegas Bima seketika menghantam kesadaran Gavin. Seluruh gerakan perlawanan fisiknya mendadak berhenti total.
Bima yang menyadari perubahan respons Gavin segera menurunkan tangannya dan mengambil langkah mundur untuk berjaga-jaga dari pukulan susulan. Untungnya, Gavin benar-benar sudah menurunkan emosinya.
"Hah..." Bima mengembuskan napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. "Gavin, jika kamu ingin melakukan tindakan bodoh, setidaknya jangan merusak fisikmu sendiri. Itu benar-benar tidak berguna."
Gavin perlahan mendongak, menatap Bima dengan pandangan mata yang tampak kosong dan rapuh. "Katakan padaku... apa aku memang seburuk itu?"
"Apa maksudmu?"
"Aku baru menyadari bahwa aku benar-benar tidak pantas untuk mencintainya. Kemarin, aku bahkan tidak memercayai bahwa janin di kandungannya adalah anakku sendiri dan memaksanya melakukan tes itu. Sekarang, setelah hasilnya keluar..."
Kalimat Gavin terputus. Dengan penuh rasa
frustrasi, ia mengangkat tangannya sendiri dan melayangkan sebuah tamparan keras ke pipinya sendiri sebagai bentuk hukuman.
Bima segera bergerak cepat memegang pergelangan tangan Gavin untuk mencegahnya melangkah lebih jauh. Ia menatap temannya itu dengan pandangan serius dan berucap jujur, "Gavin, aku tahu kamu sangat mencintai Aluna. Hanya saja, selama ini caramu memperlakukannya sudah sangat kelewatan dan sepenuhnya salah."