Arumi dharma, terpaksa harus menikah dengan Dewangga Arjuna dirgantara, pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya, ketika Yudha dirgantara, calon suaminya sendiri kabur tanpa kejelasan.
Bagaimana kehidupan rumah tangga tanpa cinta ini? lika- liku apa saja yang harus mereka hadapi? akankah berhasil berlayar atau berhenti di tengah jalan? ikuti kisah cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park alra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab • 16 •
Dewa mengalami kecelakaan dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke tiang listrik, di perkirakan ia melajukan mobil dengan ugal-ugalan hingga mengalami tragedi tersebut. Itulah yang Arumi dengar dari keterangan anggota polisi yang menemukan mobil Dewa dan membawanya ke rumah sakit.
Tentu saja laki-laki itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, Dewa kena denda juga di beri surat peringatan, beruntung ada Nathan yang dengan sigap datang dan mewakili tuannya untuk membereskan masalah ini.
"Terimakasih Nathan."
"Sudah kewajiban saya nyonya."
Arumi menoleh ke brankar di mana Dewa yang masih enggan untuk menatapnya, rahang nya mengeras dengan gigi bergemelutuk, Arumi bisa melihat jelas itu semua. Mungkin kemarahan yang membuat Dewa melampiaskan nya dengan mengendarai mobil serupa kerasukan hingga mengalami kecelakaan seperti ini, beruntung nya tidak ada luka serius selain memar dan lecet juga tangan kanan pria itu yang di perban dan di pakaian arm Sling karena patah.
Dokter kemudian datang, mengatakan jika Dewa sudah boleh pulang setelah memberikan obat-obatan padanya, Arumi mengangguk-angguk mendengar penjelasan dokter tentang apa saja yang harus dilakukan agar luka-luka Dewa cepat sembuh. "Jika kondisi pasien sudah membaik nanti, boleh kembali ke sini untuk di cek lagi dan di buka perbannya."
"Baik dok." jawab Arumi.
"Kalau begitu saya permisi." dokter mengangguk sekilas lalu melenggang pergi dari ruangan VVIP tersebut.
"Aku ingin cepat pulang dari sini!" seru Dewa setelah sejak tadi diam saja.
Arumi menatapnya, laki-laki itu membuang muka membuatnya menghela nafas panjang, lalu malam itu juga mereka pulang, Arumi mencoba membujuknya untuk di rawat setidaknya satu malam karena bagaimanapun ia masih cemas dengan luka-luka Dewa, namun pria itu kekeuh ingin pulang membuat Arumi tak berdaya dengan keras kepalanya.
Sampai di mansion di bantu oleh Nathan, Dewa keluar dengan berjalan agak sempoyongan, sebelah kakinya membiru entah membentur apa pas kejadian apes itu, lalu di susul Arumi yang keluar sambil membawa tas kecil berisi obat-obatan dan perlengkapan pria itu, yang sempat di belinya sebelum sampai ke rumah.
"Saya bisa sendiri." Dengan sedikit kasar Dewa menarik tangannya tidak ingin di papah Nathan, pun dengan para pelayan yang hendak membantu tak pelak mendapat semprotan pedas dari pria itu.
Nathan hanya bisa menghela nafas panjang, pun dengan Arumi yang di buat geleng-geleng kepala oleh tingkah pria itu. " Udah ketauan sakit masih aja sok arogan." batin Arumi.
"Terimakasih ya Nath, kamu sampai repot-repot datang malam-malam begini pasti." di ambang teras Arumi mengantar Nathan yang hendak berpamitan.
"Tidak masalah nyonya, udah saya bilang ini tugas saya."
Arumi tersenyum, laki-laki tak pernah sedikit pun ia melihat wajah keras nya yang melunak. Dia dan Dewa seperti mata uang koin yang berbeda namun berdampingan. Mirip tapi tak sama.
"Kalau begitu saya permisi, besok pagi saya akan kesini lagi untuk melihat kondisi tuan muda." Nathan undur diri.
"Baiklah, hati-hati."
Seusai mengantar Nathan ke depan, Arumi kembali masuk ke dalam, ia melihat Dewa yang kini duduk di sofa dengan meringis menahan sakit, ya tentu saja walaupun tidak parah tapi itu pasti menyakitkan apalagi ia melihat sepertinya sudut bibir Dewa robek.
Polisi juga mengatakan bahwa kap mobil Dewa ringsek parah dan tidak mungkin bisa di perbaiki, sebenarnya apa saja yang dia pikirkan hingga mengendarai mobil secara ugal-ugalan seperti itu?
"Biar aku bantu." tawar Arumi ketika Dewa hendak mengambil air untuk ia minum obat.
"Tidak perlu!" sentak Dewa dengan sinis. "Aku bisa melakukannya meski tanpa bantuanmu."
"Oh ya? baiklah." Arumi mendadak diam, Dewa meliriknya sinis.
Setelah meminum obat Dewa bangkit untuk pergi ke kamarnya, Arumi mengekori di belakang.
"Kenapa kau mengikuti ku?" Dewa berbalik. "jangan sok baik dengan memberikan perhatian palsu mu itu padaku."
"Apa?" Arumi balik bertanya dengan alis berkerut. "Aku ingin ke kamar ku, kenapa kau geer sekali."
Puftt! ingin rasanya Dewa menghilang dari peredaran bumi sekarang, mendadak ia tergagap dengan wajah memerah, bahkan telinganya pun ikut memerah. Lucu sekali, Arumi menutup mulut.
Salah tingkah karena salah menafsirkan, Dewa buru-buru melangkah kan kaki untuk ke kamarnya, Arumi menggeleng lalu menghela nafas.
***
Paginya, Dewa membuat keributan karena tangan kanannya yang tak bisa di gerakkan membuat nya tak bisa bebas bergerak, saat ini mbok Jum dan dua pelayan lain yang baru di rekrut tak bisa mengerti apa yang dia inginkan hingga membuat Dewa semakin kesal.
"Apasih kerja kalian hah?"
Para Art itu bergidik ngeri. "Maafkan kami, tuan."
Arumi lalu datang setelah cukup lama membiarkan keributan yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya Arumi berpura-pura tidak tahu apa yang saat ini terjadi.
Seperti oasis di gurun pasir kedatangan Arumi bagai penyelamat untuk para pelayan itu. "Nyonya syukur lah anda datang, kami tidak tahu apa yang di inginkan tuan, tolong kami."
Arumi menatap Dewa yang lagi-lagi mengalihkan pandangannya seakan tak ingin beradu tatap olehnya, lalu menatap mbok Jum dan dua Art itu.
"Tidak apa-apa, kalian kembali saja."
Mbok dan dua Art itu menghela nafas lega. "Kalau begitu kami permisi Nya."
Setelah kepergian para pelayan itu, Arumi perlahan mendekati Dewa, tinggi tubuh mereka yang tak sama membuat Arumi harus mendongak untuk menatap matanya.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" di lihatnya pria itu yang masih terlihat belum mandi, rambutnya pun masih semrawut khas orang bangun tidur.
"Pergilah aku tidak butuh bantuan mu."
"Sampai kapan kau akan mempertahankan egomu?" tanya Arumi lagi. Laki-laki itu berdecih tak mampu menjawab.
"Kamu ingin membersihkan diri?" ia tahu Dewa sedikit kesulitan untuk mandi apalagi ia belum mengganti perban untuk luka-luka nya.
Dewa diam, Arumi tahu jawabannya, meski masih membuang muka namun Dewa manut ketika Arumi menuntunnya, duduk di sisi ranjang.
Arumi pergi untuk mengambil handuk dan air hangat di baskom, lalu di taruh nya di meja kecil dekat kasur, tak lupa membawa kotak p3k untuk membersihkan luka pria itu.
"Buka bajumu."
"Apa maksudmu?!" Dewa mendesis tajam.
"Aku tak mungkin membasuh tubuh mu kalau kau tidak membuka baju mu."
"Sialan! pergilah sudah ku bilang aku tak butuh bantuan mu." Dewa berdecak.
"Kau yang buka, atau aku yang buka."
Berhasil! karena ancaman itu Dewa membuka bajunya meski agak kesusahan. Arumi tersenyum, jika seperti ini lelaki yang selalu bersikap kasar itu jadi terlihat lucu sekali.
Lalu dengan telaten tangan mungil Arumi membuka perban yang melekat di sepanjang luka pria itu, sesekali Dewa meringis namun berusaha menyembunyikan nya.
Sementara Dewa menatap nya begitu lekat, membuat Arumi mengerjap saat pandangan mereka tak sengaja bertemu.
"Jantung, berhentilah berdetak kencang!"