Apa jadinya seorang Polisi hebat memiliki mata iblis yang dapat melihat apa saja?. Dengan kekuatan yang ia miliki ia membantu Nakamoto Sakurai dalam menyelesaikan kasus undangan berdarah. Kasus yang sangat mengerikan yang dialami oleh Nakamoto Sakurai.
Namun ada misteri yang tersembunyi dibalik identitas Inuzuka Kira yang memiliki kekuatan mata iblis itu. Nama aslinya siapa?. Apakah ia abadi alias tidak bisa mati?. Dan apa maksud kontrak yang terjalin antara Inuzuka Kira dengan Nakamoto Sakurai?.
"Heh!. Aku ini adalah manusia abadi yang memiliki kekuatan iblis. Akan aku lihat semua yang kalian sembunyikan dariku." Kira berkata dengan penuh percaya diri.
Akan tetapi pada saat itu ia terkena tembakan, Sakurai sangat takut karena dokter mengatakan jika Kira telah meninggal. Jantungnya terkena tembakan?. Saat itu Sakurai ingat sesuatu tentang bagaimana caranya menghidupkan kembali Kira. Hatinya yang bergejolak mencoba melakukannya. Apakah Kira memang manusia abadi setelah ditembak seseorang yang tidak dikenal?. Temukan jawabannya dalam kisah ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Retto fuaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16
...***...
Kira on.
Banyak hal yang tersembunyi di dunia ini, dengan perasaan penasaran yang meluap-luap kita ingin mengetahui semuanya. Tapi semua tergantung pada usaha yang dilakukan, apakah memenuhi standar, atau melebihi logika manusia biasa?. Simak dengan baik kisahnya.
Kira off.
...***...
Saat ini Kira sedang berada di lokasi kejadian sepuluh tahun yang lalu. Kira memiliki kemampuan yang tidak biasa, ia memiliki kemampuan melihat kejadian masa lalu, dimana kejadian mengerikan itu terjadi. Kira seperti berada diantara para korban yang telah tewas. Ia menyusuri ruangan itu dengan teliti, melihat dengan jelas apa yang telah disimpan oleh ruangan yang menjadi saksi atas kasus tersebut. Sungguh bulu kuduknya merinding melihat semuanya. Meraka yang meninggal dengan cara yang sangat mengerikan.
"Sakurai senpai." Hatinya terasa miris. "Kau berdiri di sini sambil menyaksikan apa yang terjadi pada hari itu?."
Kira hampir saja menangis terisak, ia melihat raut wajah Sakurai yang sangat terluka melihat siapa semua korban yang berada di dalam ruangan itu. Kira merasakan perasaan sesak, perasaan sedih dari korban yang tewas di sana.
"Sungguh tidak manusiawi sekali orang-orang yang melakukan kejahatan itu." Dalam hati Kira merasakan perasaan sesak.
Bahkan ia melihat sosok-sosok yang meninggal secara tidak wajar di sana berkeliaran minta tolong. Sungguh pemandangan yang sangat menyeramkan. Namun kira mencoba mengabaikannya, karena ia tidak mau terlibat dengan mereka yang telah mati. Kira hanya ingin memastikan siapa saja yang terlibat dalam kasus itu?.
Kakinya terus melangkah menuju bagian belakang dari panggung, juga tempat rantai itu terpasang dengan kuatnya. Matanya melihat ada beberapa orang yang sengaja memasang rantai itu, rantai yang dapat menahan pisau raksasa yang telah memotong puluhan nyawa yang tak berdosa di ruangan itu.
"Yamashita tatsuya, haruki murakami, dan juga takahasi mizuki." Matanya terus mengamati apa yang terjadi di sana. "Mereka terlibat dalam kasus undangan berdarah."
Kira melihat ketiga orang itu sedang berbincang-bincang. Mereka yang telah memasang Pisau jumbo itu. Kira dapat menatap kebencian di dalam diri mereka. Kira mencoba menyelami pikiran mereka masing-masing, ingin mengetahui kenapa mereka melakukan itu?.
Kira menatap mata Yamashita Tatsuya dengan lekat, karena ia ingin melihat motif serta alasan kenapa laki-laki itu melakukannya?. Tentunya ada alasan yang bisa dijelaskan, kenapa kasus itu bisa terjadi?.
Deg!!!.
Seakan-akan terseret oleh ruang dan waktu, Kira masuk ke alam bawah sadar Yamashita Tatsuya. Ia melihat semua yang ada di alam bawah sadar lelaki itu, juga ia melakukan hal yang sama pada Haruki Murakami dan Takahashi Mizuki.
"Bwekh!." Perutnya terasa mual ingin memuntahkan sesuatu.
Ternyata yang dimuntahkan Kira adalah darah. Itu adalah resiko yang ia tanggung jika ia menggunakan kekuatannya terlalu banyak. Apalagi memaksakan diri untuk melihat hal-hal yang sangat tidak wajar. Kembali melihat masa lalu seseorang yang sangat menyakitkan. Tidak sembarangan ia menggunakan kekuatan itu, meskipun sebenarnya ia adalah manusia abadi tetap saja ia memiliki perasaan sakit, menyesuaikan diri dengan keadaan.
Memasuki alam sadar melalui tatapan masa lalu itu sangat menanggung resiko yang sangat besar. Tidak semudah itu menggunakan kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki oleh manusia biasa seperti Kira. Namun demi mendapatkan kebenaran dari kasus ini, ia akan melakukan itu demi membantu Sakurai.
"Kurang ajar!." Umpat Kira dengan kesalnya.
Ia hampir saja melihat sosok yang sangat ingin ia lihat, sosok dalang yang merupakan sumber dari kejadian mengerikan itu. Ia bisa kehabisan tenaga jika terlalu jauh melihat. Karena itulah ia melakukannya secara perlahan-lahan. Akan berbahaya jika nyawanya terancamnya, memaksakan diri untuk melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan. Apa jadinya jika dirinya tewas, sementara Sakurai masih membutuhkan kekuatannya untuk mengungkapkan kasus naas itu.
"Apakah aku tidak bisa melakukannya lebih jauh lagi? Aku masih membutuhkan keterangan lebih lanjut lagi." Kira menyeka keringat yang telah membasahi tubuhnya.
Kira akan terus berusaha untuk melihat siapa dalang dibalik kejadian mengerikan itu. Hatinya tidak akan bisa tenang selama Sakurai masih dibayang-bayangi kejadian itu.
"Uhuk!." Kira terbatuk sedikit keras, perasaan yang sangat sesak membuatnya sedikit lemah tak berdaya. "Sial! Aku tidak bisa masuk lebih dalam lagi." Kira mengumpat kesal. "Aku tidak boleh mati sebelum mengungkapkan kebenaran itu." Dalam hatinya merasakan gejolak yang tidak biasa.
Saat itu juga Sakurai datang mendekatinya, ia memperhatikan keadaan Kira yang aneh.
"Kau kenapa? Apakah kau melihat sesuatu yang menyeramkan di dalam?." Sakurai mengernyit heran. "Kenapa wajahmu terlihat pucat sekali?."
"Aku baik-baik saja." Kira berusaha bersikap biasa-biasa saja. "Aku mau sarapan dulu."
"Kau belum sarapan?." Sakurai merasa jengkel. "Memangnya kau ini seorang bocah harus diingatkan jam berapa harus makan?."
"Memangnya siapa yang menghubungi aku pagi-pagi untuk melihat lokasi kejadian sepuluh tahun yang lalu?." Respon Kira dengan ogah-ogahan.
"Oh? Baiklah, pergilah sarapan." Sakurai pura-pura tidak mengerti. "Kita lanjutkan setelah makan siang." Ia berusaha tenang karena Kira selalu memiliki alasan yang tepat untuk berdebat dengannya.
...***...
Nyonya X sedang menikmati minumannya sambil mengamati pemandangan dari gedung lantai 18 apartemen miliknya. Matanya tertuju pada cahaya di depannya yang sesekali berkedip-kedip seperti memiliki nyawa.
"Kira, nama yang tidak enak didengar." Ucapnya sambil menggoyangkan pelan gelas anggur miliknya. "Aku sangat penasaran, kekuatan iblis seperti apa yang ia miliki?."
"Nyonya."
Saat itu juga Naota Rui datang sambil membawa beberapa dokumen.
"Ada apa? Apakah ada pertunjukan baru?." Ia tersenyum menggoda.
"Ada pekerjaan untuk anda dari pihak kepolisian." Jawabnya dengan helaan nafas pelan.
"Pekerjaan dari pihak kepolisian?." Nyonya X mengernyit heran, ia menerima dokumen itu.
"Mereka ingin anda menyelesaikan beberapa kasus yang kini sedang terjadi di kalangan remaja." Naota Rui melihat keadaan ruangan itu. "Dua hari lagi anda harus berangkat ke lokasi, katanya keadaan mendesak."
"Baiklah, siapkan semuanya." Responnya, ia menutup kembali dokumen itu. "Bukankah kau ikut dalam interogasi sakurai? Apa yang kau lihat?." Ia tersenyum kecil.
"Sepertinya kira memiliki kemampuan memasuki alam dimensi." Naota Rui tampak kesal. "Saya tidak menyadari sama sekali, dia membuat yamashita mengakui perbuatannya hanya dengan tatapan mata."
"Memiliki kemampuan memasuki alam dimensi?." Nyonya X merasa heran. "Kekuatan yang sangat luar biasa sekali." kali ini ia terlihat bersemangat. "Rasanya aku ingin memiliki kekuatan itu."
"Hm." Naota Rui memalingkan wajahnya.
"Apakah kau tidak suka?." Nyonya X memperhatikan perubahan raut wajah Naota Rui. "Apakah kau merasa cemburu?."
"Jika nyonya tidak membutuhkan saya? Maka saya akan pergi." Balasnya dengan raut wajah cemberut. "Atau nyonya bisa membunuh saya sekarang juga."
"Hahaha!." Nyonya X tertawa melihat reaksi Naota Rui. "Kau tenang saja, kau tidak akan tergantikan sama sekali."
"Benarkah?." Naota Rui duduk manja di samping Nyonya X. "Tidak bohong, kan?."
"Mana mungkin aku berbohong padamu." Nyonya X mengelus dada kiri Naota Rui dengan lembut. "Kau yang paling mengerti aku." Ia kecup pipi Naota Rui. "Jangan cemberut lagi, aku tidak suka."
"Baiklah, saya mengerti." Naota Rui tersenyum lembut.
"Temani aku bermain malam ini." Tatapannya begitu nakal.
"Besok kita ada urusan, jangan sampai kelelahan." Naota Rui memalingkan wajahnya. "Tanda yang anda tinggalkan di tubuh saya akan terlihat."
"Hanya sebentar saja." Tanpa peduli protes yang ditunjukkan oleh Naota Rui, nyonya X tetap melakukannya.
...***...
Kira dan Sakurai sedang berada di sebuah rumah makan kecil, namun suasana tetap ramai.
"Apakah kau sudah kenyang?." Sakurai menatap jengkel.
"Sabarlah sebentar." Responnya sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dan membayar apa yang telah ia pesan tadi.
"Hm." Sakurai hanya menghela nafasnya ketika melihat Kira pergi ke kasir.
Setelah itu Kira kembali mendekati Sakurai.
"Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas." Kira tampak sedikit kesal.
"Melihat apa?." Sakurai merasa tertarik dengan informasi yang akan disampaikan Kira.
"Wanita bertopeng itu berada di lokasi kejadian sepuluh tahun yang lalu." Kira mengeluarkan permen ajaibnya.
"Wanita bertopeng yang katakan sebelumnya?." Sakurai mengingat percakapan mereka sebelumnya.
"Ya, benar dia." Kira menghela nafasnya pelan. "Dia memiliki topeng yang sangat tebal, sehingga aku tidak bisa melihat wajah aslinya."
"Sepertinya kau harus mengasah kembali kemampuan gaib mu itu." Sakurai menopang dagunya, menatap bosan pada Kira.
"Hei, kau jangan mengejek aku ya sakurai senpai." Kira merasa jengkel. "Kau harusnya berterima kasih, karena aku telah menemukan petunjuk mengenai kasus sepuluh tahun yang lalu."
"Aku akan membayar mu, maka bekerjalah dengan baik." Balas Sakurai, ia mengambil hp nya dan mengirimkan uang ke saldo Kira.
"Aku telah mengatakan padamu, aku tidak butuh uangmu." Kira terlihat jengkel. "Aku tidak kekurangan uang sama sekali, dan kau jangan anggap aku ini anak kecil miskin."
"Terserah kau saja." Sakurai meninggalkan Kira. "Aku mau lanjut kerja."
"Huh! Seenaknya saja kalau bertindak." Kira mengikuti Sakurai dengan perasaan jengkel.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Kira mampu menyelesaikan masalah 10 tahun yang lalu?. Next.
...***...
sama sama pemalas dan makan gaji buta🤣😤
punya kasus kok malas malas an/Facepalm/