Kyra Andini resmi menjadi Nona di keluarga Wiratama. Namun, gelar itu tak seindah harapannya. Nyatanya pria yang menjadikannya halal, justru membenci kehadirannya.
Setiap hari perlakuan Kaisang Adipta Wiratama tak pernah baik, selalu dingin dan menganggap Kyra hanya patung pajangan saja.
Karena suatu malam terjadi kesalahan, menjadikan Kyra mengandung anak Kai. Meski begitu, Kai masih tetap berlaku kasar. Bahkan, tanpa sepengetahuan istrinya, Kai berselingkuh dengan sekretarisnya di kantor.
Bagaimanakah kelanjutan kisah rumah tangga Kai dan Kyra? Tetap bertahan, atau bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Tanpa Cahaya
Hari-hari berlalu begitu cepat. Tak terasa waktu telah bergulir selama 2 bulan, dan selama itu juga Kyra diperlakukan seperti tahanan. Tidak dibiarkan pergi kemanapun seorang diri, selalu ada pengawal yang mengikuti kemanapun dia pergi. Kai seolah tidak membiarkan Kyra menemukan celah untuk kabur. Pria itu benar-benar menahannya di istana bak neraka.
Namun, selama 2 bulan perlakuan Kai banyak berubah, pria itu tidak sekasar dan sekejam dulu. Meski acuh, tapi tidak memancing perdebatan. Mungkin karena sikap Kyra yang juga berubah, membuat Kai tidak begitu tempramen.
Kyra sekarang lebih diam dan sangat acuh dengan Kai, menunjukan sikap tidak peduli.
Saat ini Kyra sedang melatih diri untuk melupakan pria yang dicintai. Jika anak yang dikandung sudah lahir ke dunia, dia akan menggugat Kai ke pengadilan. Apapun caranya, meski nama baik Kai nantinya akan hancur, dia tidak peduli. Dia benar-benar sudah lelah menjalani kehidupan tanpa cahaya selama satu tahun terakhir. Lebih baik mengakhiri pernikahannya daripada bertahan tapi seperti hidup di neraka.
Dalam keseharian, Kai maupun Kyra jarang berbincang. Setiap kali Kai mengajak bicara, Kyra akan menghindar, jika dipaksa, maka berujung perdebatan. Maka dari itu, Kai jarang mengajak berbicara, hanya mengawasi istrinya itu lewat CCTV yang terpasang di setiap sudut ruangan.
Di sisi lain, si sekretaris dibuat murka dengan Kai yang membuat keputusan sepihak. Pria itu mengakhiri skandal mereka lantaran tak ingin menyakiti Kyra lagi. Tetapi Kai tidak mengatakan alasan jujur itu pada Lidia. Dia justru beralibi, semata-mata takut dengan ancaman Kyra yang akan mengadu pada Bagus tentang hubungan terlarangnya. Untuk itu dia meminta Lidia menjauh dan menjaga sikap.
Kai menatapi bayang Kyra yang baru menjauh dan menaiki anak tangga. Dia ingin menyusul, tapi Kyra mewanti-wanti agar dia dibiarkan untuk sendiri. Dia yang malas berdebat, membiarkan Kyra berlalu.
Tenggelam dalam lamunan, Kai dikejutkan dengan ponsel yang berdering. Ternyata Hana yang menghubungi.
"Kai, kandungan istrimu sudah memasuki bulan ke-9 yang artinya sudah mendekati persalinan. Kamu jagain dia, jangan sampai Kyra mau lahiran tapi kamu tidak ada di rumah. Jangan sampai hal buruk terjadi. Dan untuk urusan kantor, Mami sudah diskusi sama papi, dia setuju menghandle pekerjaanmu sementara waktu," ucap Hana panjang lebar.
"Iya, Mi, Kai tahu. Tapi sepertinya Kyra belum ada tanda-tanda melahirkan," jawab Kai.
"Yang penting nanti waktu Kyra merasa mules, kamu juga harus cepet kabari Mami. Biar Mami bisa langsung dateng," pesan Hana. "Eh, jangan lupa anter Kyra ke dokter buat cek posisi bayinya sudah siap lahir apa ada kendala. Nanti biar dokter yang arahin."
"Kapan Mi?"
"Kok kapan? Tanya Kyra kapan jadwal dokternya ada, nanti langsung aja antar periksa."
"Coba Mami yang tanya langsung sama dia," ujar Kai.
"Eh, kok, gitu. Kenapa? Kalian ada masalah?"
"Sedikit."
"Sedikit?! Walau sedikit, namanya masalah tetap masalah. Ada apa? Jangan buat istrimu stres, Kai. Wanita mau melahirkan itu butuh pikiran tenang."
"Mami tahu sendiri dia keras kepala ...."
"Dan kamu?! Sikapmu juga keras!" sambung Hana cepat. Kai hampir bersuara, tapi lagi-lagi diserobot oleh Hana. "Mami gak bisa ngobrol lama, lagi persiapan diskusi sama karyawan buat menu baru di restoran."
"Please, Mi, ini Weekend. Masih saja ngurus kerjaan."
Di seberang Hana terkekeh. "Hanya sebentar. Nanti Mami bakal hubungi Kyra. Bye, Kai. Cepet baikan, biar weekend gak banyakan bengong."
Kai berdecak, tak lama sambungan telepon terputus. Pria itu beranjak ke kamar karena ingin melihat Kyra sedang melakukan apa. Sampai di sana, dia membuka pintu dan menemukan Kyra berbaring di atas tempat tidur dengan posisi membelakangi pintu. Dia mengira Kyra memang sedang tidur. Akhirnya pergi ke ruang kerja.
Kai menjatuhkan diri di sofa ruang kerjanya, dia mendongak dan menatapi langit-langit ruangan. Akhir ini, dia sudah mulai nyaman dengan hidupnya. Mimpi buruk tentang Revan sudah tidak lagi mengganggu.
Dulu, setiap kali dia menyakiti Kyra, maka malamnya akan di datangi Revan. Dan, setiap bermimpi, rasa bersalah kembali menyelimuti. Untuk itu dia selalu menyalahkan Kyra.
Kai bangkit dan duduk di kursi meja kerja, dia membuka laci dan mengambil kotak persegi. Mengambil satu foto kebersamaanya bersama Revan, detik berikutnya runtutan kenangan mereka seolah kembali di putar. Sungguh, kehilangan Revan bagai kehilangan seorang kakak.
Puas menatapi foto kenangan itu, kini beralih membuka sepucuk kertas yang hampir pudar. Membaca setiap kata yang tertulis membuat jantungnya berdebar. Rasa bersalah juga kebenciannya pada Kyra kembali hadir. Terus saja berpikir, andai Kyra tidak menerima perjodohan, mungkin Revan tidak akan nekad mengakhiri hidup.
"Arrrgghh! Katakan, aku harus bagaimana, Van? Apa aku harus membenci Kyra seumur hidupku agar rasa bersalah yang kau tinggalkan tidak menghantuiku?! Aku lelah. Aku menyukai dia, tapi setiap bersamanya, aku teringat dengan kepergianmu. Aku harus bagaimana? Katakan!" Kai akan stres bila mengingat kematian Revan dan sepucuk surat yang ditinggalkan. Ingin membakar dan melenyapkan surat itu, tetapi tak sampai hati untuk melakukan.
.
.
.
.
.
Teman-teman, bantu like, komen, dan vote, biar akak mei lebih semangat. Oh ya, Akak Mei butuh komen setiap bab, supaya tahu kalian menginginkan cerita kelanjutan yang bagaimana.
Terima kasih.