(Follow Instagram aku ya @rafizqi0202)
Aria Hastuti seorang gadis desa yang pergi merantau ke kota xx untuk mencari pekerjaan.
Aria yang hanya tamatan SMA, sangat sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan di kota.
Karena kecantikan yang ia miliki, Aria diterima bekerja di sebuah hotel ternama di kota xx sebagai OB.
Namun siapa sangka? Kedatangannya ke hotel itu malah menjadi petaka baginya.
Ia melewati malam yang panjang bersama pria yang tidak ia kenal.
Karena pengaruh obat yang mereka minum, mereka melewati malam yang panjang tanpa mereka sadari yang membuatnya hamil diluar nikah.
Bagaimanakah nasib Aria selanjutnya?
Ayo simak cerita ini sampai habis.
Jangan lupa beri Author dukungan dengan memberikan Like, komen dan vote ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan mendalam
"Nenek, maafkan Jifa nek" Ucap Jifa lirih namun masih dapat didengar oleh Aria yang berada disampingnya.
Aria memeluk tubuh anaknya dengan erat. "Ikhlaskan kepergian nenek sayang" Ucap Aria lirih.
Setelah pemakaman nenek selesai, para warga kembali kerumah mereka masing-masing.
Kehadiran Alan ditengah-tengah keluarga Aria menjadi pertanyaan besar bagi para warga disana.
Seorang pria bertubuh atletis yang nyaris sempurna dimata semua orang, serta wajahnya yang tampan dengan bulu mata yang begitu lentik dan alis tebalnya menambah penampilan Alan nampak semakin sempurna sebagai seorang laki-laki.
Bahkan banyak Mata yang terpana akan wajah yang Alan miliki. Serta banyak wanita yang mencoba mendekatkan diri kepada Alan disana.
Namun Alan yang sedari tadi berdiri menatap Aria, tidak menggubris para wanita itu sama sekali.
"Om, kata ibu kalau mau duduk, duduk aja" Ucap Jifa yang sudah menghampiri Alan yang sedari tadi berdiri seperti tamu yang tidak diundang.
Alan menjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan Jifa.
"Jifa, bilang sama ibumu om pergi dulu ya. Nanti besok om kesini lagi" Ucap Alan lembut.
"Iya om" Balas Jifa.
Melihat Alan dan Jifa, para warga nampak berbisik-bisik. Seperti mencurigai sesuatu.
"Jifa kalau dilihat-lihat, mirip banget ya sama pria itu"
"Iya, mirip banget. Hidungnya, matanya hingga wajahnya yang sangat mirip"
Begitulah kira-kira cibiran para warga, Aria yang mendengar itu dengan cepat ia menghampiri Jifa dan membawa Jifa menjauhi Alan. Ia takut jika Alan mendengar percakapan para warga itu, hatinya semakin yakin bahwa Jifa adalah anak nya.
Alan melambaikan tangan kepada Jifa, kala mobilnya sudah mulai meninggalkan halaman rumah Aria. Entah kenapa Alan merasa sangat nyaman berada didekat Jifa, rasanya begitu berbeda, ada semacam perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sementara itu, Aria malah semakin khawatir, jiwanya memberontak, cemas bercampur takut akan sesuatu yang buruk terjadi padanya dan juga Jifa.
Keesokan harinya.
Sesuai janji Alan, dia akan datang menemui Jifa. Kali ini dia kembali menemui Jifa dengan berbagai hadiah yang ia bawa. Mulai dari mainan terbaru dan termahal, serta makanan yang belum pernah Jifa makan sebelumnya.
Jifa sangat senang mendapatkan itu semua, terlebih lagi Jifa tidak pernah membeli mainan sebagus ini, dan ini pertama kalinya Jifa mendapatkan mainan mobil-mobilan yang begitu ia inginkan. Sayang nya, ibunya Jifa tidak pernah memiliki uang lebih untuk membeli itu semua. Jadi, Jifa cukup mengerti akan kondisi ibunya yang mempunyai keterbatasan ekonomi.
"Jifa, main didalam saja nak" Ucap Aria. Jifa menuruti dan membawa semua mainannya kedalam rumah.
"Jangan terlalu berlebihan kepada anakku. Aku tidak menyukainya" Ucap Aria tegas, kala Jifa sudah masuk kedalam rumah.
"Aku tidak berlebihan, aku hanya memberikan apa yang dia suka" Jawab Alan yang tidak kalah tegasnya.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini. Apa kurang cukup aku melepaskan mu yang sudah menyebabkan kematian ibuku" Ucap Aria dingin. Hatinya kembali teriris mengingat ibunya yang sudah tiada.
Alan sedikit diam, "Aku akan tetap kesini karena aku ingin bertemu Jifa" Balas Alan.
"Kamu tidak punya hak untuk bertemu dengan Jifa" Ucap Aria yang sudah meninggikan suaranya.
"Kenapa kamu begitu ingin aku menjauh dari Jifa? Apa dugaan ku benar? Bahwa Jifa adalah anakku" Ucap Alan curiga.
Aria sedikit menoleh kearah Alan yang ada disampingnya, dengan tatapan tajam ia berkata.
"Anakmu atau bukan itu adalah urusan ku. Aku tidak akan mengijinkan kamu untuk bertemu Jifa lagi" Ucap Aria tegas dan pergi meninggalkan Alan dan segera menutup pintu.
Alan menghela nafas berat, "Aku sudah terlanjur nyaman berada didekat mu dan Jifa. Aku akan memperjuangkan kamu Aria dan segera menikahi kamu" Ucap Alan mantap.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,,,,,
Jangan lupa dukung karya saya, dengan like, komen dan vote ya.
Baca juga novel Lainnya:
-Menikahi CEO Yang Kejam
-Menikah Karena Hutang
jadi ga tau kelanjutan nya gimana.
lanjut dong Thor kisah ceritanya ditunggu.
Karena setelah badai selalu akan tampil langit yang cerah.. bahkan dengan indahnya sang Pelangi 🌈