Siapa yang tidak mengenal Rayna Almahyra Farobi. Putri satu-satunya tuan Ardhi Al Farobi dan Tsurayya Ednika Frederick
Rayna, alias Ina memiliki seorang kakak lelaki bernama Rayhan Putra Farobi dan dua orang adik lelaki bernama Rayyan Alvarendra Farobi dan Rayendra Putra Farobi
Kebayang ya.. satu anak perempuan dikelilingi bodyguard-bodyguard kesayangan
Ina, gadis yang lembut, berwibawa, cerdas dengan segudang prestasi.
Lean, putra dari Leon (baca Love Story yaa) yang jatuh cinta pada Ina sejak pandangan pertama
Bagaimana kisah mereka?
Akankah Lean menjadi generasi ke 3 yang kandas percintaannya dengan satu keturunan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qnoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 15
Gengs Cafe terlihat cukup ramai siang ini. Ina dan Ian memilih duduk di kursi bar. Tampak Lean dengan cekatan melayani para pengunjung cafe
"Hai cantik, ketemu lagi." Sapa Ero pada Ina
"Oh hai, Ero kan?" Sapa Ina
Ero mengangguk "Duh senangnya dikenali sama gadis cantik."
Ina tersenyum canggung, sementara Ian sedikit memepetkan badannya ke Ina membuat perhatian Ero teralihkan
"Datang sama teman?" Tanya Ero sambil tersenyum pada Ian. Ianpun tersenyum
"Gue adeknya." Kata Ian
"Oh.." Ero membulatkan bibirnya membentuk huruf O
"Bang Lean tangkas juga ya." Kata Ina sambil mengalihkan pembicaraan
Terlihat Lean membawa dua baki berisi minuman dan makanan. Dengan lincah pemuda itu meletakkan pesanan para pengunjung cafe.
"Andre memang begitu. Harusnya sebagai boss dia bisa saja duduk diam. Tapi berhubung agak rame dan kurang tenaga, jadi dia ikut terjun langsung." Kata Ero
"Abang kayaknya udah kenal banget sama bang Lean." Kata Ina
"Kami satu kelas. Kami juga di satu organisasi yang sama." Kata Ero.
Pemuda itu berbicara sambil meracik minuman-minuman pesanan pelanggan
"Ro, coffee latte 2." Tiba-tiba Lean sudah berdiri di samping Ina. Pemuda itu menatap Ina dan Ian
"Lho, temen-temen gue belum elo kasih makan Ro?" Tanya Lean yang hanya melihat dua cangkir kopi di depan Ina dan Ian
"Iya, mereka nggak pesen apa-apa. Mau pesen apa?" Tanya Ero sambil menatap Ina dan Ian
Baru saja Ina hendak membuka mulut, Ian terlebih dahulu berbicara
"Crispy Chicken kayaknya enak bang. Sama kentang goreng, ya Na?" Kata Ian sambil memandang Ina yang menatap Ian sebal
"Ok, dua crispy chicken ya." Kata Ero sambil berjalan menuju dapur
"Ian ih. Malu-maluin aja." Sungut Ina
"Lah, gue laper Na. Gue perlu makan buat jadi bodyguard kencan elo." Kata Ian pelan
"Sembarangan, siapa yang kencan?!" Kata Ina melotot sambil memelankan suaranya
Ian terkekeh melihat saudari kembarnya salah tingkah
***
Crispy chicken dan kentang goreng sukses meluncur ke perut Ian. Ina dan Lean sesekali mengobrol saat Lean mengambil minuman untuk pelanggan atau sekedar duduk karena pengunjung mulai tidak terlalu ramai
"Bang, disini ada mushola?" Tanya Ian sambil melihat jam tangannya
"Ada, di lantai atas. Atau sholat dikantor juga bisa. Ada AC disana jadi adem." Kata Lean
"Sholat di kantor bang Lean boleh? Ina juga kayaknya mau perbaikin kerudung nih.." kata Ina
Gadis itu sedikit merapikan kerudung dan ciputnya agar anak-anak rambut di dahinya tidak mengintip keluar
Lean mengangguk
"Yuk, lewat sini. Ro, gue sholat dulu." Kata Lean
"Tumben Ndre, biasanya juga jam setengah limaan." Kata Ero meledek Lean yang ditanggapi Lean dengan mengacungkan tinjunya. Ero tertawa
Ruang kantor Lean terbilang cukup rapi dan bersih. Wangi pengharum ruangan kopi menguar dari AC yang terpasang di dinding
"Mau wudhu di kamar mandi situ ya Na." Kata Lean
Ina mengangguk
Lean segera menggelar karpet untuk mereka sholat.
Selepas mereka semua berwudhu,merekapun sholat ashar berjamaah diimami oleh Ian. Setelah beres sholat, Ian dan Ina segera bersiap pulang
"Bang, Ina pulang dulu ya." Kata Ina
"Abang anter?" Tawar Lean
"Nggak usah bang. Pulang sama om Yudi." Kata Ian.
"Lah iya, emang mau boncengan bertiga. Dudulz.." bathin Ian
Lean mengangguk sembari tersenyum
"Kalo gitu, abang mau periksa laporan penjualan cafe aja. Hati-hati di jalan ya Na, Yan." Kata Lean
"Ya bang. Assalamu'alaykum.." Ian dan Lean saling menyatukan tinju mereka, cara salaman anak lelaki kata Ian
"Assalamu'alaykum.." kata Ina
"Wa'alaykumussalam.."
Ina dan Ian langsung pamit. Mereka segera keluar dari kantor Lean sementara Lean masih berada di kantor.
Suasana di luar cafe nampak ramai pengunjung. Segerombol gadis-gadis cantik nampak memesan satu meja panjang.
"Woow.." kata Ian saat seorang gadis dari gerombolan gadis-gadis cantik itu melintas di depannya sambil memberikan senyum manis
"Eh..nunduk. Jaga mata." Kata Ina
"Ya elah, pan gak kedip gua Na..Pandangan pertama rezeki." Kata Ian ngeles
Ina dan Ian segera keluar cafe.
"Yan.. gue lupa jam tangan gue." Kata Ina
"Taro dimana?"
"Di kantor bang Lean. Tadi pas wudhu gua taro di meja." Kata Ina
"Ambil gih, gue panggil om Yudi. Cepet ya" Kata Ian
Ina mengangguk. Segera gadis itu melangkah masuk ke dalam cafe menuju kantor Lean. Di depan pintu kantor, Ina hendak mengetuk pintu, ternyata pintu tidak tertutup rapat. Ina berinisiatif membukanya
"Bang, Ina mau.."
Ucapan Ina terhenti saat melihat Lean tengah duduk di kursinya dan sedang memangku seorang gadis yang tadi berpapasan dengan Ian.
Mereka tengah berci*man mesra
Tak sadar Ina meremas ujung baju sekolahnya. Ada yang sakit di sudut hatinya
"Ehem.." Ina berdehem. Membuat Lean dan gadis itu menghentikan aktivitas panas mereka
"Na.." Lean nampak terkejut melihat Ina berdiri di pintu. Segera pria itu mendorong gadis yang duduk di pangkuannya. Membuat gadis itu berdiri dan hampir terjatuh
"Maaf, Ina nggak tahu. Ina mau ambil jam tangan ini.. ketinggalan." Kata Ina sambil masuk dan mengambil jam tangannya di atas meja.
Keadaan makin canggung. Ina sekilas menatap wajah gadis yang bersama Lean
Terlihat gadis itu masih menempel pada Lean. Wajahnya menyiratkan ketidaksukaan karena aktivitasnya terganggu
"Ehem..maaf ya bang, kak. Permisi.." Ina segera berbalik dan berlari keluar cafe. Dadanya terasa sesak. Perasaan macam apa ini? Pikirnya.
Di luar ia melihat Ian dan Ray. Ia segera berlari menghampiri kedua saudaranya
"Na, om Yudi mau jemput bunda di butik. Gue nebeng bang Marvin ya,elo sama bang Ray." Kata Ian sambil naik ke motor Marvin.
Marvin sedikit terpana melihat Ina. Terakhir kali main ke rumah Ray Ina masih SMP
"Oi, jalan bang." Tegur Ian membuyarkan Marvin
"Eh iya. Duluan ya Ray, Na.." kata Marvin
Ina hanya melambaikan tangan pada Ian. Ray melihat wajah Ina yang murung. Pemuda itu segera turun dari motor dan mendekati Ina
"Kamu kenapa Na?" Tanya Ray
Ina menggeleng
"Pulang yuk bang.." kata Ina pelan
Ray mengusap kepala Ina yang terbungkus kerudung putih. Lalu ia segera naik ke motornya. Ina mengikuti dan duduk di boncengan Ray. Tangannya memeluk pinggang abangnya dengan kepala bersandar di punggung Ray
"Na.. bener nggak ada apa-apa?" Tanya Ray sambil melihat di spion
"Nggak ada apa-apa bang.. Ina cuma capek, pengen istirahat." kata Ina
Kelebat bayangan Lean bersama wanita tadi kembali mengusik Ina.
"Ngajakin Ina pacaran, tapi sendirinya punya pacar. Mana begitu lagi.." bathin Ina. Harusnya ia biasa saja, toh Ina dan Lean hanya sebatas teman, menganggap seperti Ray, Ian maupun Endra
Mengapa melihat Lean bersama wanita tadi Ina merasa ingin meledak. Ingin marah-marah. Ina sendiri bingung dengan perasaannya
Gadis itu menggigit bibirnya.
Ray mendesah melihat kelakuan adiknya.
"Pegangan ya." Kata Ray
Segera ia menstater motornya dan pergi melaju dari Geng Cafe
ga seru klo ga baca novel sebelumnya..
cerita ini sebenarnya sangat bagus
ayo bantu ramaikan
sedih tapi Yo pingin ketawa
mati aku 🤣🤣🤣
ternyata kisahnya sambung menyambung...
aku jadi fans mu sekarang Thor...
cerita mu keren keren...