sebagian dari kisah ini terinspirasi dari kejadian nyata..
Armala Anggun, ingin menguji takdir, sejauh mana takdir mempermainkan kehidupan cintanya.
Menikah dengan seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, apalagi rupanya. tapi dia berusaha menerima laki-laki asing itu sebagai suaminya.
Jemicko Putra Nawar, dan Gama Maziantara Gundala, sama-sama memendam perasaan
kepada Mala. keduanya terus berusaha mendekati Mala.
diantara mereka, siapakah suami Mala yang sebenarnya?
Follow
Ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 14.
"Mala. selamat datang sayang.." Mama memeluk Mala dengan hangat. mata Mala masih sembab.
"kamu pasti terkejut ya..? kalau ternyata Micko itu adalah suamimu?" tanya Mama lagi. mereka sekarang sedang duduk diruang tamu.
Mala yang mendapatkan pertanyaan itu hanya terdiam. menatap sayu kepada Micko yang duduk disebelahnya. dia merasa terpukul, dan merasa dipermainkan oleh Micko.
Mama menceritakan tentang kedatangan Mala tadi malam. dia terkejut sekaligus senang saat melihat Micko datang bersama Mala.
"Mala, Mama harap mulai sekarang kamu bisa tinggal dirumah ini bersama Micko." kata Mama. "ini rumah Micko, dan kamu berhak tinggal disini. lagipula kalian satu kampus, jadi tidak akan terlalu repot. setelah kamu pindah kesini, Mama dan Papa akan kembali ke medan." ujar Mama mengungkapkan rencananya.
Mala melihay Ayah dan Ibu yang duduk dihadapannya, meminta pendapat mereka melalui tatapan.
"iya nak,, karna sekarang kamu sudah tau siapa suamimu, maka tidak ada alasan lagi kamu tinggal di kos sendiri. tinggalah disini bersama suamimu." Ibu menimpali. "itu akan membuat kami tenang, dan juga tidak merepotkan suamimu."
Mala kembali menunduk. dia tidak tau bagaimana cara menjelaskan perasaannya saat itu. rasa bingung dan marah menumpuk dihatinya. berkali-kali ia meremas jari jemarinya sendiri sampai meninggalkan luka di ibu jarinya. dadanya terasa sesak karna amarah.
"mas, bisa kita bicara sebentar." pinta Mala kepada Micko.
Micko mengajak Mala untuk masuk kedalam kamarnya. kamar Micko super luas dengan ranjang berukurang king size yang nampak menonjol karna desain ukiran kayu jatinya. interiornya bernuansa biru dan putih. begitu juga dengan sprei dan gorden jendela. sekilas Mala melihat sebuah foto diatas nakas, foto saat Micko menjabat tangan ayahnya dan sah menjadi suaminya.
setelah mengunci pintu kamarnya, Micko mengambil perlengkapan obat dari laci dan kemudian menyuruh Mala untuk duduk pinggir diranjang. Micko tidak mengucapkan sepatah katapun sampai dia selesai mengobati dan membalut luka di ibu jari Mala.
"kenapa mas Micko tidak pernah memberitahuku?"
"kenapa aku harus memberitahumu? bukankah dulu kau sendiri yang minta?" jawab Micko dingin.
ada apa dengan Micko? tadi dia baru saja bersikap hangat dengan menghapus air mata Mala. dan sekarang dia bersikap sedingin itu lagi kepada Mala.
"mas Micko mempermainkanku. apa mas Micko tau bagaimana perasaanku sekarang?"
"memangnya bagaimana perasaanmu? bukankah kau senang sudah bertemu denganku?"
"kau tau bukan itu maksudku mas."
"lantas? apa kau memikirkan perasaan Dewi? kau masih berniat menjodohkanku dengannya?" walaupun cara bicara Micko pelan, tapi ada ketegasan disana.
Mala menghembuskan nafasnya dengan kasar. dia marah kepada Micko. dan pergi keluar dari kamar itu. sepertinya berbicara dengan Micko saat ini tidak akan berhasil.
"ayah, untuk malam ini, Mala ingin pulang ke kos ya yah..."
semua yang ada di ruang tamu melihat Mala dengan heran. apalagi Micko juga muncul setelahnya.
"Mala, kenapa?" tanya Mama.
"ada apa denganmu?" tanya Micko. tapi Mala tidak menjawab. ia hanya menatap Miko dengan marah.
"ayah... Mala ingin pulang ke kos." Mala melihat ayahnya dengan serius. ada kerutan di antara kedua alisnya. ayah tau itu pertanda Mala sedang marah.
"aku akan mengantarmu." kata Micko.
"tidak usah. aku pulang sendiri saja."
"aku akan mengantarmu.!" Micko mengulangi kata-katanya. kali ini lebih tegas.
"iya nak, kalau kau ingin pulang ke kos, biar Micko mengantarmu." sepertinya ibu mengerti perasaan Mala.
hal ini tentu tidak mudah untuk putrinya itu. menikah dengan orang asing tetap sulit diterima. walaupun Mala sudah mulai mengenal Micko, tapi itu terjadi setelah pernikahan.
Mala tidak peduli dengan tatapan heran dari mertua dan orang tuanya. dia meraih tasnya yang tergeletak di sofa tempat duduknya tadi dan segera keluar dari rumah itu. sementara Micko berlari menyusul Mala.
mau tidak mau, akhirnya Mala diantar juga oleh Micko. sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. tidak ada yang berusaha mencairkan suasana. Mala pura-pura sibuk dengan ponselnya. scroll-scroll media sosial.
ciiitttt...!
tiba-tiba Micko menghentikan mobilnya. Mala hampir saja terbentur dashboard kalau saja dia tidak cepat menahan tubuhnya dengan tangannya. karna Mala tidak mengenakan seatbelt saat itu.
"ada apa denganmu Mala? kenapa kau marah?" tanya Micko. ia memutar badanya untuk menghadap kearah Mala.
"apa kau marah padaku karna aku suamimu? atau apa?"
entahlah, Mala juga tidak mengerti. dia merasa seperti dipermainkan oleh Micko. tapi dia juga merasa malu karna dia sendiri yang meminta kepada ayah untuk tidak memberitahunya tentang pria yang menikahinya. siapa yang menyangka kalau pria itu ternyata adalah Micko.?
"Mala, mau tidak mau kau harus menerimaku. kita tidak bisa lagi berbalik kebelakang. jangan perlihatkan wajah sedihmu itu padaku. aku tidak suka."
dia sengaja mungkin ngawal kamu tuh makanya ngikutin trus balik lg 🤣