Kisah jovan dan alina yang terpaksa menikah karena kesalah pahaman.
mereka menjalani hari-hari pernikahan mereka dengan perasaan biasa, namun perlahan di antara keduanya tumbuh rasa cinta yang seolah sama-sama tidak ingin saling melepaskan.
Namun siapa sangka sebuah kesalah pahaman juga membuat alina ingin berpisah dari jovan.
Apakah yang membuat alina ragu dengan jovan setelah kepulangan jovan dari luar negeri?
Akankah jovan memenuhi keinginan alina untuk berpisah atau tetap akan mempertahankan pernikahan mereka?
===========================
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers.
selamat membaca 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Mdf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Hingga menjelang magrib, alina usai mengerjakan sholat magrib begitu juga dengan jovan mereka menuju ruang makan dan menikmati makan malam yang sudah di siapkan oleh bi mariam. Keduanya menikmati makan malam mereka dengan suasana tenang tidak ada yang mengeluarkan suara.
Usai makan malam, alina membersihkan piring kotor bekas makan meski bi mariam melarangnya namun alina tetap kekeh mengerjakan semuanya jika dia tidak sibuk.
"Non sebaiknya non alina nggak usah repot-repot kerjakan semuanya, masa bibi di sini makan gaji buta non." Kata bi mariam tidak enak dengan majikan perempuannya itu.
"Nggak apa apa kok bi, sekali-sekali alina membantu bibi kan." Sahut alina tersenyum.
Sementara jovan sedang duduk bersandar di headboard tempat tidur membuka leptopnya untuk melihat email yang di kirim oleh sahabatnya.
Jovan sedang berencana untuk merintis sebuah bisnis yang berhubungan dengan farmasi atau toko obat serta perlengkapan medis lainnya, bersama sahabatnya yang berprofesi di bidang farmasi sendiri.
Tak lama alina masuk ke kamarnya, dia berniat akan menyelesaikan tugas kuliahnya malam ini. Alina terlihat sedang mengambil sebuah kertas yang akan di gambar lalu di bawanya keluar kamar, alina akan mengerjakannya di ruang tengah. Mungkin alina tidak ingin mengganggu sang suami.
Jovan tidak menyadari alina dia masih saja fokus dengan leptopnya serta mencari informasi mengenai bisnis yang akan di jalaninya nanti. Jovan merogoh ponselnya lalu menghubungi indra temannya semasa kuliah, jovan akan merintis sebuah bisnis bersama indra sahabat ketika berkuliah.
"Halo brow." Kata jovan ketika sambungan telepon sudah tersambung.
"Ya, besok kita jadi bertemukan? aku ingin membicarakan mengenai bisnis yang akan kita buka. Bagaimana?" Ucap indra di balik telepon.
"Oke besok ketemu di cafe green." Sahut jovan.
"Oke.." Sahut indra, lalu keduanya menutup sambungan telepon.
Sudah waktunya adzan isya, jovan belum melihat alina masuk ke kamarnya. Mungkin alina masih sibuk di dapur. Pikirnya.
Dia pun menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu mengerjakan sholat isya. Tak lama setelah itu alina masuk ke kamar dan berniat akan melaksanakan sholat isya.
Keduanya telah selesai melaksanakan kewajiban, alina berkata pada jovan bahwa dia akan ke bawa untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Jovan pun mengiyakan alina.
Hingga menjelang pukul 22.00 alina sudah sangat mengantuk namun masih saja melanjutkan pekrjaannya. Tak sadar dia pun tertidur di meja dengan posisi kedua lengannya menyanggah kepalanya.
Sedangkan jovan sejak tadi menunggu alina namun tak kunjung masuk ke kamarnya, di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Lama jovan menunggu kemudian dia pun berniat untuk melihat alina ke ruang tengah.
Ketika sampai diruang tengah jovan melihat alina yang sudah tertidur, jovan hanya menggeleng melihat alina ketiduran di meja ruang tengah, dia pun menghampiri alina lalu berniat untuk mengangkatnya ke kamar milik mereka, sebelumnya jovan membereskan peralatan alina.
Jovan pun menggendong alina menuju kamarnya, sementara alina tidak menyadari jika dirinya telah di pindahkan menuju kamar saking sangat pulas tertidur.
Senyum tersemat di bibir jovan melihat alina yang sama sekali tidak terbangun itu. laki laki yang berusia 24 tahun itu pun memandangi setiap inci wajah sang istri yang begitu cantik, wajah yang sudah mulai menarik hatinya.
Tangannya terulur mengusap lembut pipi mulus alina, lalu di kecupnya kening alina kemudian berpindah di kedua mata alina kemudian terakhir jovan mengecup sekilas bibir ranum istrinya itu. Alina melenguh sekilas, dan untungnya alina tidak terbangun.
Maaf ya sayang aku mengambil ciumanmu. Gumam jovan dalam hati seraya tersenyum.
Jovan memperhatikan seluruh wajah alina, entah kenapa dia semakin betah dengan wajah cantik istrinya itu. Selama hampir dua minggu menikah jovan sama sekali belum pernah melihat alina membuka hijab di depannya, namun jovan tidak mempermasalahkan hal itu. Yang penting alina harus merasa nyaman dulu ketika di sampingnya mungkin pelan pelan alina akan memperlakukannya layaknya suami sesungguhnya, jovan akan sabar menunggu saat itu tiba.
Usai menyelimuti alina jovan pun ikut tertidur di samping alina dengan posisi memeluk tubuh mungil istrinya itu. Tak membutuhkan waktu lama jovan memejamkan mata dan sudah berada di alam mimpi.
******
Dua bulan telah berlalu pernikahan alina dan jovan sedikit memiliki kemajuan kini keduanya sama sama saling terbuka dan perlahan keduanya saudah saling mengenal. Jovan yang terkadang suka menjahili alina begitupun juga dengan alina, Terkadang juga keduanya bertengkar seperti adik kakak namun tidak membutuhkan waktu lama jovan dengan segera mengambil kembali hati alina. Dia tidak menyukai alina yang mendiamkannya ketika sedang marah.
Hari ini adalah hari libur jovan dan alina berniat untuk berkunjung ke rumah orang tua alina. Karena sudah lama alina jarang mengunjungi kediaman orang tuanya karena kesibukan kuliahnya, begitupun juga dengan jovan yang terkadang selalu sibuk mengurusi bisnis yang kini sudah berjalan lancar, meskin menjalani sebuah bisnis namun jovan tidak lalai dengan profesinya sebagai dokter. Hingga hal itulah yang membuat jovan jarang mengunjungi kedua orang tua alina.
"Kak jo. Hari ini kita jadi ke rumah orang tuaku kan?" Tanya alin pada suaminya.
"Jadi dong, aku kan sudah janji semalam." Sahut jovan.
"Kalau begitu aku akan bersiap siap." Kata alina semangat.
Jovan mengangguk menanggapi perkataan istrinya.
Sementara bi mariam sedang mempersiapkan sarapan pagi untuk majikannya. Setelah siap bi mariam pun memanggil alina dan juga jovan untuk menikmati sarapan mereka.
Kedua pasangan mudah itupun menikmati sarapan mereka dengan sesekali bertukar obrolan serta candaan yang selalu jovan keluarkan dan membuat alina terkekeh di sela makannya.
Tak membutuhkan waktu lama mereka selesai menikmati sarapan kemudian jovan dan alina pamit pada bi mariam untuk pergi.
"Kak kita mampir di toko kue dulu ya, aku mau beliin kue buat bunda." Pinta alina, ketika sudah berada di atas mobil.
"Hmmm baiklah." Jovan mengiyakan alina.
Ketika sampai di toko kue yang di tunjuk oleh alina jovan dan alina masuk bersamaan. Jovan berjalanan seraya menggenggam tangan alina dengan posesif seolah tidak ingin alina jauh darinya.
Namun tidak sengaja seorang perempuan cantik berambut lurus menabrak jovan dari belakang, seketika jovan kaget menyadari ada seseorang yang menabraknya.
"Eh maaf mas." Kata seorang perempuan itu.
Seorang perempuan yang masih terlihat mudah seperti seumuran dengan jovan, tidak sengaja dia melihat ke arah jovan, seketika gadis itu menyebut nama jovan.
"Jovanka." Ucap gadis itu.
Jovan melihat ke arah gadis tersebut. "Rinaa." Kata jovan kemudian.
"Iya gue rina." Sahut gadis yang bernama rina itu, seketika dia memeluk jovan, tanpa mempedulikan keberadaan alina di samping jovan.
Sementara alina hanya melihat interaksi keduanya.
"Heii, gimana kabar lo sekarang. kapan lo balik dari luar negeri?" Tanya jovan.
"Udah dua hari ini gue disini, dan gue besok udah mulai kerja di rumah sakit kota." Ucap alina.
"Beneran lo kerja di rumah sakit kota, gue juga kerja di sana." Kata jovan.
"Waaah kita bakalan tiap hari ketemu dong." Kata rina antusias.
"Eh kenalin ini...." Namun jovan belum melanjutkan perkataanya rina sudah lebih dulu pamit untuk menerima telepon.
"Gue duluan ya." Kata rina pamit.
"Baiklah." Sahut jovan.
Rina sudah berlalu pergi meninggalkan toko kue tersebut.
Jovan dan alina melanjutkan untuk membeli kue yang ingin di belikan untuk bundanya.
Setelah selesai membeli yang dia inginkan keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan.
"Kak jo, wanita tadi itu siapa?" Tanya alina pada suaminya.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, dan jovan kembali menjalankan mobilnya membelah jalanan, menuju rumah mertua.
"Dia rina temen aku kuliah waktu di luar negeri, dia juga seorang dokter." Sahut jovan.
"Cantik ya kak." Kata alin kemudian, karena merasa kagum dengan kecantikan rina tadi.
Jovan hanya mengangguk mengiyakan perkataan alina.
"Masih cantikan istriku lah." Sahut jovan dengan senyum yang mengembang.
Alina yang mendengar jovan memujinya seperti itu seketika pipinya bersemu merah seraya menampilkan senyum cantiknya.
Jovan yang gemes melihat pipi merah alina, tidak tahan untuk tidak mencium pipi alina, jovan pun dengan spontan mengecup pipi alina.
"Kak jo." Kata alina, matanya membulat dan merasa terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.
"Kenapa? Nggak apa apa kan kalau suami nyium istri" Tanya jovan dengan santai.
Alina menunduk malu, pasalnya ini baru pertama kalinya dia mendapatkan perlakuan seperti ini dari jovan, meskin jovan sudah sering melakukannya ketika alina tertidur, hingga alina menganggap ini yang pertama kali.
"Maaf ya." Kata jovan kemudian, takut alina akan merasa keberatan, lalu tangannya terangkat untuk mengelus pipi alina yang telah di cium.
Alin hanya mengangguk tersenyum, sekilas melirik ke arah laki laki yang sekarang berada di sampingnya itu.
Kemudian jovan kembali fokus untuk melajukan kendaraannya.